Oleh: Wisran Hadi | 4 September 2010

Tokoh Minang “Takah” Minang

Opini Pos Metro

TOKOH MINANG, TAKAH MINANG

Oleh:

Wisran Hadi

Ketika orang-orang Minang yang selama ini hidup di luar Minang tidak mampu lagi memberikan konstribusi pemikiran, kearifan dan budaya ke tengah kehidupan berbangsa dan bernegara karena kalah pamor, kalah bersaing, kalah unggul dari orang-orang dari etnik lain, mereka tidak mampu lagi “duduk sama rendah berdiri sama tinggi” dengan tokoh-tokoh dari etnik lain yang sudah mencuat jauh ke langit “nasional”, mereka jadi gamang dan ragu pada kemampuan dirinya sendiri.  Gamang dan ragu pada budayanya sendiri, apakah mereka masih mampu memberikan konstribusi budaya (seperti yang telah dicontohkan oleh tokoh-tokoh Minang terdahulu, M.Yamin, Moh.Hatta, H.Agus Salim, Moh.Natsir, dllnya). Maka pada ketika itu,  mereka didera oleh sebuah obsesi “ketokohan” yang didambakannya selama ini.

Obsesi ketokohan ini menyebabkan orang-orang Minang yang berada di luar Minang itu berusaha kembali untuk merenggut “ketokohan” itu di kampung, di nagari dan di masyarakatnya.  Sebagaimana layaknya seorang pedagang Minang yang kekurangan modal, lalu pulang ke kampung menjual ini itunya untuk tambahan modal menggalas di rantau.

Merebut “ketokohan” di kampung karena tidak mampu menjadi tokoh di luar Minang, itulah suatu sikap yang dapat menyebabkan berbagai implikasi piskologis dan politis yang dapat menganggu ketenteraman nagari yang sudah sedemikian berat bebannya dalam menanggulangi berbagai masalah.

Dari sisi inilah dapat dilihat bahwa “tokoh-tokoh” Minang yang tengah berusaha berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menyelenggarakan Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) tengah berupaya untuk “manyungkuik jo nan laweh” tokoh-tokoh Minang fungsional yang selama ini secara konsisten berada di nagari, di kampung, di kaum dan sukunya.

Dari satu sisi, KKM dapat saja dilihiat sebagai “permainan” para segelintir intelektual dalam usahanya membuktikan asumsi-asumsi, teori-teori dan metode keilmuan yang pernah dipelajarinya, tetapi persoalan di sebalik itu tidak hanya sampai pada masalah keilmuan. Kasus KKM yang tengah diseret ke ranah politik (melibatkan ketua MPR, ketua DPD-DPRRI, Gubernur Sumatera Barat) itu akhirnya ketahuan juga bahwa sesungguhnya KKM benar-benar merupakan masalah politik. Sedangkan kata “kebudayaan Minangkabau” hanyalah sebagai bungkus atau peti kemasnya saja.

Mereka yang sedang berada dalam perebutan itu semuanya adalah orang Minang. Orang Minang yang berada di luar Minang. Sedangkan orang Minang yang berada di ranah Minang tetap saja berusaha untuk mengamalkan Minangnya dengan segala daya walau diterpa dengan berbagai masalah lainnya. Dengan KKM yang kini jadi kasus (sengaja dibesar-besarkan padahal sesungguhnya tidaklah terlalu besar bagi orang Minang yang di ranah)  terlihat munculnya orang Minang di luar Minang untuk ditokohkan. Padahal sesungguhnya mereka hanya “takah Minang” (seperti-sepertinya orang Minang), bukan “tokoh Minang” (seumpama Hatta, Natsir dan tokoh Minang lainnya).

Oleh karena itu, jika banyak komponen masyarakat Minang di ranah Minang yang begitu cepat menentukan sikap untuk menolak KKM hendaknya dilihat sebagai sebuah kejujuran dari sikap budaya mereka. Artinya, mereka tidak memerlukan “takah Minang” yaitu orang-orang Minang yang terlanjur menganggap dirinya sendiri sebagai “tokoh Minang”. ***

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: