Oleh: Wisran Hadi | 21 September 2008

GENERASI KETUJUH (Bagian Kedua)

2. PERIHAL SEBILAH KERIS

Ando bukannya ingin menggurui, bukan pula mau berkhotbah atau menempatkan diri sebagai seorang bijaksana atau cendekia. Apa yang telah Ando katakan waktu itu pada mereka hanya suatu hal yang Ando rasakan terkeluar begitu saja dari mulut Ando ini. Bahkan kata-kata Ando sepertinya ke luar tanpa dipikirkan sama sekali. Seakan kata-kata Ando meluncur begitu saja dari celah kedua bibir Ando. Hal semacam ini Ando rasakan sebagai sesuatu yang aneh kini menimpa diri Ando. Ando tidak dapat mencegah apa yang harus Ando katakan untuk tidak dikatakan. Ando tiba-tiba seperti sebuah mobil tangki minyak kelapa sawit yang remnya blong menjelang memasuki gerbang tol.

Biasanya Ando sulit untuk bicara, apalagi terhadap sesuatu yang tidak Ando ketahui secara pasti. Ando sulit bicara bila berhadapan dengan orang-orang yang belum begitu Ando kenal. Dengan Sinan saja misalnya, walau Ando setiap hari berjumpa hampir 30 tahun lebih, masih banyak hal-hal yang tak dapat Ando sampaikan pada Sinan. Tapi pada saat itu, saat Ando bersama mereka, Ando merasakan diri Ando jadi lain sekali. Lain daripada biasa. Bila selama ini ada sesuatu hal yang tidak dapat Ando pecahkan sendiri maupun sesuatu yang tidak dapat diterima oleh perasaan, Ando biasanya diam saja dan dalam diam itu Ando diam-diam mencari jawaban. Tapi entah apa sebabnya, pada saat itu, Ando seperti mendapat suatu kekuatan, kejatmikaan, atau katakanlah kebijaksanaan, yang mendorong Ando untuk berkata-kata. Ando sangat sadar betul, bahwa Ando saat itu berkata-kata, bukan seperti biasanya orang-orang sekarang yang selalu kata-katai karena banyaknya makna kata yang tidak terkendali.

Guru mengaji Ando pernah mengatakan, hal semacam yang Ando alami saat itu sering dialami oleh orang-orang yang terbuka ijabnya. Maksud terbuka ijab adalah, Tuhan memberikan rahmat sesaat dengan menyingkapkan tirai batas pandangan seseorang yang dikehendakiNya, sehingga dalam waktu sesaat itu seseorang mampu melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat sebelumnya, sesuatu yang tidak mungkin dilihatnya dengan mata biasa. Terbukanya ijab itulah yang sering Sinan namakan dengan kejatmikaan atau kebijaksaan itu tadi. Ijab seseorang terbuka biasanya hanya berlaku pada orang-orang saleh dan orang-orang suci. Seumpama yang pernah Sinan katakan pada Ando, bagaimana gemuruhnya darah Sinan ketika melihat sebilah keris tertancap di dada seseorang yang telentang kaku bersimbah darah. Gemuruh dengan segala kengerian, keingintahuan, penyesalan dan sekaligus pengertiaan-pengertian yang timbul saat itu terhadap hidup, nasib, untung malang, takdir, qadha dan qadhar.

Begitulah adanya, mereka, orang-orang yang baru Ando kenal itu, menganggap apa yang Ando katakan padanya sebagai ucapan-ucapan yang amat bijaksana, yang biasanya hanya ke luar dari mulut-mulut orang yang berpengalaman luas, mengerti sejarah, memahami adat dan budaya, paham tentang leluhur dan jalur keturunan. Mungkin saja apa yang Ando ucapkan pada mereka adalah sesuatu yang mereka tunggu-tunggu sejak lama.

Tentu saja Ando jadi heran pada diri sendiri, kenapa Ando dapat begitu lancarnya bicara tentang sesuatu yang sesungguhnya tidak Ando ketahui. Padahal Ando tidak bermaksud apa-apa, apalagi untuk berlagak-lagak atau ingin memperlihatkan bahwa Ando lebih tahu dari mereka. Coba Sinan bayangkan sejenak, bagaimana mungkin orang seperti Ando, pada waktu itu, dapat mengatakan pada mereka bahwa sebilah keris adalah sebilah keris! Sebilah keris adalah sebilah keris, hebat tidak? Dengan pasti Ando katakan bahwa sebilah keris sama dengan sebilah keris. Ando tambahkan lagi, tidak ada apa-apa di balik keris itu selain pikiran kita semua dibawa kepada sebuah tragedi berdarah. Mungkin semua pikiran kita dibawa pada suatu bagian yang dramatis dari suatu pembunuhan, pada tikaman yang mematikan, pada darah yang membersit dari dada yang terbunuh, mungkin juga pikiran kita dianjak alihkan pada sebuah kejadian mandi darah di halaman istana sebagaimana yang dialami Hang Jebat di halaman istana raja Melaka dalam Hikayat Hang Tuah atau pada tikaman yang mematikan seperti apa yang dilakukan Ken Arok pada Mpu Gandring si pembuat keris dalam sejarah Singosari. Sebilah keris adalah sebilah keris, walaupun diwariskan oleh siapapun juga. Jika sebilah keris mempunyai nilai sejarah, ya cukuplah keris itu dianggap sebagai benda sejarah. Jangan sampai terjadi, kita lebih percaya pada keris dari pada kenyataan yang ada. Atau, menjadi sangat tergantung pada sebilah keris, terhadap apa yang akan terjadi dengan kehidupan yang akan datang. Sebilah keris hanyalah sebilah keris dan tidak mungkin sebuah benda mati seperti itu dapat menentukan masa depan makhluk yang hidup.

Memang, harus Ando akui juga, bahwa apa yang Ando katakan pada mereka mempunyai tujuan tertentu. Misalnya, Ando tidak ingin, mereka menjadi begitu percaya pada sebilah keris sebagai sesuatu yang dapat menyelamatkan dirinya atau menyelamatkan keturunannya. Ando ingin, agar mereka melihat sebilah keris sebagaimana adanya sebilah keris, sebagai sebuah benda yang disepakati namanya keris. Tidak perlu dikeramat-keramatkan, disakti-saktikan, dijadikan legenda atau dimitos-mitoskan, yang akhirnya nanti tidak ada lagi persoalan yang disisakan bagi akal sehat. Jangan pula dicium-cium, nanti bibir bisa terluka. Kalau bibir sempat luka oleh besi berkarat itu, mungkin kita dapat tetanus yang dapat menyebabkan kematian. Jangan pula diberi bunga-bunga atau diasapi setiap Kemis malam, atau dimandikan seperti memandikan jenazah atau diarak seperti penganten kehilangan pasangan sepanjang jalan menuju pantai selatan yang lengang.

Sebilah keris apapun bentuk dan namanya, berapapun muda atau tua umurnya, yang jelas benda seperti itu bukanlah jelmaan dari suatu apapun selain berasal daripada besi yang sengaja dibuat oleh tukangnya menjadi sebilah keris. Sebilah keris bukan rumah bagi kekuatan-kekuatan gaib atau terminal bagi arwah-arwah yang belum dipanggil naik ke langit. Sebilah keris bukan asrama bagi arwah-arwah yang masih bergentayangan sementara menunggu panggilan ke alam barzah. Sebilah keris itu bukan seperti asrama Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Pasir Gudang Johor menunggu kapal untuk memulangkan mereka kembali ke Bawean atau Sumbawa, atau seperti stasiun kereta api KL Sentral atau seperti terminal LRT Putra di Kualalumpur.

Ando katakan juga pada mereka, sebaiknya keris itu dijadikan saja sebagai jejak dan bukti sejarah, bahwa nenek moyang telah meninggalkan benda pusaka yang bernama keris. Anggaplah sebagai salah satu dari batu-batu kilometer yang bergolek-golek di pinggir jalan dari sebuah perjalanan hidup yang panjang. Atau, jadikan saja sebagai sebuah kebanggaan bahwa kita semua telah diberi warisan berupa sebilah keris. Orang lain mungkin mendapat warisan berupa tanah, sawah, uang, atau mahkota dan kekuasaan, tetapi belum tentu mereka diwarisi sebilah keris. Tidak semua orang mendapat warisan sebuah keris. Walau mungkin seseorang itu pewaris dari seorang jenderal, pendekar atau penjual keris misalnya, tapi belum tentu mereka mendapat warisan sebuah keris. Pewaris keris bukan orang sembarangan dan mewarisi sebilah keris masa lalu bukanlah kerja sambil lalu.

Kepada mereka Ando juga ingatkan, saat seperti sekarang sebilah keris walau diwariskan oleh siapapun, sekeramat apapun, setajam atau seberkarat apapun juga, tidak berguna lagi untuk menaklukkan lawan, sekiranya terjadi perkelahian. Apalagi dalam sebuah peperangan. Perang sekarang bukan perang keris dengan keris, pedang dengan pedang, tetapi siasat, strategi, politik dan ekonomi adalah rudal-rudal yang dengan mudah dapat diluncurkan bahkan sampai ke kamar tidur lawan. Buat apa punya keris keramat yang mungkin dapat menikam bulan sampai berdarah-darah misalnya, sementara pewarisnya menggigil dingin dan lapar, kudisan dan kusta karena kurangnya obat-obatan, diperbodoh orang lain karena kurang pendidikan, dihanyutkan zaman karena tidak punya keyakinan. Ya, banyaklah kata-kata meluncur dari mulut Ando dan semua itu lebih merupakan rangkuman dari perasaan Ando yang tertekan selama ini oleh situasi dan keadaan. Seperti tadi Ando katakan, keadaan sekarang sudah sangat rawan. Rawan sampai ke tulang rawan!

Tapi begitulah. Walau telah beranak berketurunan, hidup makmur dan sentosa di era dunia modern, punya satu komputer untuk setiap rumah, satu mobil untuk setiap nama, handpone untuk setiap telinga, internet dan segala macam peralatan modern lainnya, namun sifat mereka sebagai orang Melayu tidak kunjung hilang. Biar harimau sekalipun di dalam perut, namun kambing jugalah sebaiknya yang harus dinampakkan. Iyakan apa yang dikatakan orang, laksanakan apa yang kita inginkan. Di hadapan Ando mereka mengangguk-angguk membenarkan apa yang Ando katakan, seakan apa yang Ando katakan itu sesuatu yang bertuah, benar adanya dan akan diikutinya. Dan setiap selesai Ando bicara selalu mereka membalasnya dengan ucapan; “Benar Rasulullah” dengan takzim sambil mengangguk-angguk. Saat itu Ando sendiri merasakan apa yang Ando katakan diamini dengan khusyuk. Ando bangga pada apa yang Ando katakan. Ando bangga pada diri Ando. Namun setelah beberapa hari kemudian, barulah Ando sadar, bahwa jawaban mereka mengatakan “benar Rasullah” itu, maksudnya adalah; apa yang dikatakan Rasul Allah memang benar, tetapi apa yang dikatakan manusia belum tentu ada kebenarannya. Artinya lagi, mereka ragu pada apa yang Ando katakan dibanding dengan kebenaran dari pada apa yang diucapkan Rasulullah.

Ando tidak marah, tidak, hanya tersinggung berat. Sakit hati pada diri sendiri, kenapa Ando terlambat menyadari arti dari jawaban “benar Rasulullah” itu. Padahal jawaban demikian selalu menjadi bahan olok-olok dan canda sewaktu Ando masih belajar mengaji di surau. Jadinya, Ando sadar apa yang Ando katakan dengan panjang lebar mereka ragukan, karena yang benar adalah apa yang dikatakan Rasulullah. Mungkin sewaktu Ando berkata-kata mereka asyik melihat bibir Ando bergerak-gerak, bukan terpesona terhadap apa yang Ando katakan. Ya tapi begitulah mereka, dan rumitnya, Ando termasuk pula di dalam rumpun bangsa itu! Sepertinya Ando mengutuki bangsa Ando sendiri, mengutuki diri dan sifat-sifat buruk Ando sendiri.

Akan halnya keris yang menjadi sebab Ando berbicara panjang pendek pada mereka, lalu kini Ando sengaja menyampaikannya pada Sinan untuk beriya-iya dan berbukan-bukan, sebenarnya didorong oleh ketakutan dalam diri Ando sendiri pula. Ando sebenarnya ingin minta pertimbangan Sinan terhadap apa yang Ando katakan. Ando merasa telah terlanjur bicara. Ando merasa telah memamerkan kebodohan Ando sendiri tanpa Ando ketahui di depan mereka.

Yang pertama kali mengetahui bahwa keris itu ada adalah Zaitun, salah seorang dari mereka yang mengundang dan menjemput Ando datang. Zaitun didatangi oleh seorang tua berjubah putih, berjanggut putih, berserban putih beberapa kali dalam mimpi sewaktu sedang berada di Mesir mengikuti suaminya. Orang tua berjubah dan berjenggot putih itu, yang di dalam cerita-cerita rakyat sering dijumpai dan selalu disebut dengan gelarannya Labai Panjang Janggut mengatakan pada Zaitun, bahwa keris raja yang asli kini tersimpan pada salah sebuah peti yang terkubur di samping tangga rumah lama di kampung asal mereka. Segeralah pulang, buat apa berlama-lama di negeri Cleopatra ini, di negeri Firaun ini. Galilah, temukan dan pelihara keris itu, karena keris itulah akan jadi bukti yang tidak akan terbantah lagi bahwa Zaitun adik beradik, Zaitun anak beranak adalah keturunan raja yang sah. Begitu juga sewaktu Zaitun pergi ke Leiden, dia juga didatangi Labai Panjang Janggut dan mengatakan hal yang sama.

Kurma, salah seorang perempuan yang ikut bicara malam itu, yang kemudian Ando tahu dia adalah saudara sepupu Zaitun, berbisik pada Ando agar tidak menyangsikan keberadaan keris itu atau meragukan pernyataan Zaitun. Bila keris itu diragukan akan dapat menimbulkan kekaburan, kesangsian, yang selanjutnya akan dapat menimbulkan krisis kepercayaan. Sebab, katanya lagi, bila kesangsian terus berlanjut dan akhirnya sampai pada kehilangan kepercayaan, wallahualam, entah apa nanti yang akan terjadi, baik pada diri Zaitun, pada mereka anak beranak atau pada keturunan mereka bahkan pada masa depan mereka!

Benarlah agaknya, ketika Zaitun bicara mengenai keris, keadaan dirinya perlahan berubah. Bahasa yang dipakainya, nada suaranya, dan sikap duduknya tidak lagi sebagaimana Zaitun mula-mula Ando kenal dan bersalaman pada petang hari tadi. Zaitun malam itu adalah Zaitun yang lain. Lain sama sekali. Ando juga merasakan kelainan itu. Menurut Kurma perempuan hitam manis dan berwajah agak mulai keriput itu, kalau Zaitun bicara persoalan keris, raja pemilik keris langsung masuk ke tubuhnya. Apakah karena tubuh Zaitun lebih sintal dari Kurma sehingga menggairahkan raja masuk ke dalam tubuh Zaitun, Kurma hanya menjawab dugaan hati Ando itu dengan tersenyum masam.

Menurut cerita Zaitun sepulang dari Leiden, di sana banyak sekali tersimpan benda sejarah, surat-surat, catatan-catatan tentang sejarah. Ando memang pernah mendengar, seorang bekas diplomat, Rusli Amran namanya, dan beliau sudah lama meninggal, atas biayanya sendiri menfotokopi semua arsip-arsip itu dan kemudian menyusunnya menjadi beberapa buah buku. Dalam hubungan cerita Ando ini dengan cerita Zaitun tadi, Ando tidak tahu, apakah Labai Panjang Janggut yang dimaksudkan Zaitun, seorang profesor yang ahli sejarah atau benar-benar manusia atau karena Zaitun terpengaruh oleh bacaannya. Menurut Kurma pula, memang Zaitun ketika sekolah dulu, suka membaca cerita-cerita rakyat. Kalau memang Labai Panjang Janggut itu tampak nyata di Leiden sana, mungkin saja yang dimaksudkan Zaitun adalah salah seorang dari profesor berjubah-jubah yang selalu berkeliaran di lorong-lorong universitas itu. Setahu Ando, selama ini tidak ada seorang Labai yang mau tahu atau peduli dengan sejarah, apalagi sejarah raja-raja yang kait berkait pula dengan sebilah keris. Labai yang panjang janggut atau Labai yang tidak berjanggutpun lazimnya lebih suka menghafal doa-doa untuk dibacakan pada setiap kenduri dan selamatan. Dalam cerita rakyat, Labai itu banyak sekali. Ada yang bernama Labai Malang atau Labai Lantera. Atau, barangkali Labai yang dimaksudkan Zaitun itu Labai yang sering berkeliaran dalam cerita-cerita rakyat yang sangat mempengaruhinya. Pengarang cerita rakyat umumnya suka sekali dengan perlambang-perlambang. Guru-guru agama, guru, ustad, imam, bilal, khatib, kadhi menurut mereka adalah orang-orang bersih dari noda dan daki dunia. Lalu dilambangkanlah kebersihan itu dengan warna putih. Itulah sebabnya di dalam cerita yang mereka karang, orang-orang bersih itu dikatakan janggutnya, jubahnya, serbannya dan entah apa lagi semuanya harus putih. Walaupun janggutnya mungkin masih hitam atau celana dalam Labai itu sudah berubah warna dari putih keabu-abuan, dikatakan juga putih, atau dalam bahasa orang sekarang, orang-orang agama itu selalu diputihkan dan apabila mereka sudah diputihkan akan lebih mudah memberi warna politiknya. Tapi itu terserahlah Sinanlah, mana yang benar dan siapa sesungguhnya Labai Panjang Janggut, yang jelas keris itu kini ada di depan Ando.

Setelah lama Ando merenungi keris yang tergeletak di atas dulang tinggi beralaskan beludru kuning itu, tiba-tiba Ando disuruh Kurma memegang hulunya. Ando disuruh memegangnya karena menurut Kurma, dari pegangan Andolah itu nanti akan diketahui, apakah keris itu benar-benar asli atau tidak. Menurut Kurma lagi, tentu ini berdasarkan pada apa yang dirasakan Zaitun, keris itu kembar. Yang satu lagi berada di negeri asal raja itu.

Mulanya Ando tak mau memegangnya. Ando takut juga dan ngeri. Ando mencoba menolak permintaan Kurma dan terus bertahan untuk terlepas dari persoalan mereka, dari cita-cita dan khayalan mereka. Penolakan Ando itu telah menyebabkan Zaitun dua jam 43 menit menangis menelungkup di depan dulang tempat keris itu diletakkan. Niat Ando untuk bertahan tidak akan memegang keris itu jadi meleleh juga. Cair aku, bisik Ando pada diri sendiri waktu itu.

Ando tentu saja terkesima dengan keadaan yang tiba-tiba seperti itu. Malam itu, mungkin malam Jum’at pula agaknya, bulu tengkuk Ando langsung berdiri. Sesaat, Ando masih sempat berpikir, ah itu kan keris, tidak akan ada apa-apanya. Tapi ketika Ando mulai menyentuh hulunya yang disodorkan Kurma, Ando jadi terpengaruh juga. Sugestikah itu namanya? Atau angin? Menurut Kurma, benda-benda yang punya kekuatan-kekuatan tertentu disebut punya angin. Seberapa kuatnya angin keris itu, maka Andolah yang mereka dijadikan sebagai barometer.

Maka Andopun meraba hulu keris raja itu. Tak ada apa-apanya. Tidak berat dan tidak keramat. Tapi tangan Ando tiba-tiba seperti kesemutan. Hampir saja keris itu terlepas dari genggaman. Sekiranya tangan kiri Ando tidak cekatan menangkapnya, keris itu mungkin sudah terlepas dari tangan kanan Ando. Ando pikir, mungkin karena terlalu lama duduk dan tangan kanan Ando tanpa disadari terhimpit oleh paha Ando sendiri, menyebabkan darah Ando lambat mengalir sampai ke ujung-ujung jari. Kalau sekiranya hari itu tangan kiri Ando terlupa menfungsikannya, mungkin keris itu sudah jatuh ke lantai. Konon, ini menurut Kurma pula, bila keris itu sempat saja jatuh menyentuh lantai, pertanda kehidupan dan masa depan mereka akan jatuh terpuruk sampai tujuh generasi berikutnya. Dengan yakin sekali Kurma meyakinkan Ando, keris itu baru kembali setelah tujuh keturunan. Keturunan ketujuh itu adalah Zaitun atau anak yang sedang dalam kandungan Zaitun. Mereka menceritakan kekesalannya karena selama enam generasi, mereka kehilangan hak sebagai pewaris yang sah. Kini pada generasi ke tujuh ini, mereka akan bangkit. Dengan logika sederhana, dapat dikatakan bahwa apa yang telah Ando lakukan tadi sama artinya Ando telah menyelamatkan tujuh generasi berikutnya. Artinya lagi, tangan kiri Ando telah menyelamatkan masa depan tujuh generasi. Tapi benarkah demikian? Bukankah itu metoda logika dalam pelajaran pertama dari filsafat saja? Jangan tertawakan Ando dulu dengan kesimpulan konyol seperti itu, lalu dengan kekonyolan itu pula Sinan tidak mau mendengar lanjutan cerita Ando. Jangan. Itu hanya pikiran Ando selintas saja, yang baru saja melintas sewaktu Ando bicara ini.

Mereka gempar. Sambil mengucapkan syukur berkali-kali karena Ando telah menyelamatkan keris itu jatuh ke lantai. Zaitun, Kurma dan bahkan juga Palma, saudara dua pupu dari Zaitun meraung memeluk Ando, karena menganggap Ando telah berhasil menyelamatkan generasi dan masa depan keturunan mereka. Bagi Ando sebenarnya hal itu biasa saja. Karena tangan kanan kesemutan, lalu pegangan Ando tidak kuat, maka keris itu terlepas. Lalu, secara instinktif tangan kiri Ando segera bereaksi menyambutnya. Alamiah sekali, bukan? Tetapi sesuatu yang alamiah itu, mereka anggap sebagai suatu kekeramatan. Bahkan mereka menjadi semakin yakin, bahwa keris itu, memang benar-benarlah Zaitun pewarisnya. Tak ada yang lain. Tujuh generasi mereka menunggu dan kini keris itu telah berada dipangkuannya yang sah. Dan Ando? Ando yang mulanya menganggap diri sebagai saksi atas kembalinya keris itu kepada pewarisnya, telah meningkat menjadi orang yang merekomendasi atau orang yang mensahkan pengesahan itu. Mengesahkan bangkitnya generasi ketujuh.

Generasi ketujuh? Inilah persoalannya. Menurut Zaitun, pada generasi ketujuh inilah akan bangkit kembali suatu kekuatan untuk menyelamatkan sejarah dari kekacauannya. Sejarah sekarang ini sudah dibelok-belokkan ke sana kemari. Tugas mereka sebagai generasi ketujuh harus mengembalikan sejarah pada fungsinya. Tidak boleh ada lagi pemalsuan. Keris itu adalah pertanda dan sekaligus sebagai penanda, bahwa mereka, generasi ke tujuh harus menyelamatkan kebenaran sejarah.

Ando tentu saja terheran-heran sendiri atas keterangan yang mereka berikan. Generasi ketujuh? Dari mana mulai hitungannya? Bila merujuk kepada hitungan tahun per generasi adalah 25 tahun menurut purata dalam metode antropologi, maka jarak antara Zaitun dengan pemilik keris itu tentu sudah lebih dari satu setengah abad. Kalau sekarang minggu terakhir bulan Maret tentulah dapat dicari bila raja pemilik keris itu berdaulat. Tapi Zaitun tidak berani memberikan perhitungan pasti, dia hanya membuat perkiraan-perkiraan dan Andopun tidak mau berhitung dengan hal-hal yang serba tak pasti. Yang membuat kepala Ando berdenyut sesaat ketika menghitung pertahunan itu adalah, kenapa peti kayu tempat keris itu disimpan masih baik walau sudah terkubur di dalam tanah satu setengah abad lebih. Tapi memang, Ando memang bodoh. Kalau dibanding dengan jasad Firaun yang masih utuh berumur sampai tiga atau empat ribu tahun, apalah artinya masa 150 tahun. Ya kan? Sebenarnya Ando tidak perlu ikut memikirkan hal-hal semacam itu. Soal generasi ketujuh atau generasi keberapa, tentu Zaitun, Kurma atau Palmalah yang lebih tahu. Ando tahunya apa? Apalagi dengan sejarah keluarga mereka. Ando kan baru saja mengenal mereka.

Begitulah. Ando telah jadi saksi dari sesuatu yang mungkin tidak Ando rencanakan untuk menyaksikan. Ando telah menjadi cap atau stempel dari sebuah pengesahan bangkitnya suatu generasi, bangkitnya suatu kekuatan, bangkitnya seketurunan harimau kumbang yang akan mengaum di lorong-lorong gelap sejarah yang telah dipadamkan lampunya oleh orang-orang sebelumnya. Tapi memang, dalam hidup ini semua bisa saja terjadi. Mulanya mungkin sebuah rahasia. Rahasia akan menjadi kenyataan bila kita telah tahu bersamaan dengan hadirnya suatu kenyataan. Jika Ando katakan pada Sinan, bahwa apa yang baru saja Ando lalui itu dapat disebut sebagai sebuah tikungan, maka Ando benar-benar telah menikung begitu tajam pada sebuah pendakian yang sebelumnya Ando tak tahu berapa radius tikungan itu.

Dengarkan Ando, dengarkan. Jangan Sinan cibirkan bibir seperti itu karena Ando hanya menceritakan yang menurut Sinan mungkin bukan sesuatu yang luar biasa.

Memang, apa yang Ando sampaikan bukan sesuatu yang luar biasa. Hanya persoalan biasa. Persoalan manusia dengan rahasia diri mereka, yang bila mereka lalui, semua itu tidak menjadi rahasia lagi. Kini mereka sedang memegang martil pemecah sebuah rahasia. Benarkah kebangkitan itu akan diawali oleh generasi ketujuh? Mereka ingin pecahkan rahasia itu malam ini dan Andolah martilnya. Mereka ingin tahu segalanya terhadap apa yang akan terjadi dengan adanya keris di pangkuan. Mereka ingin pastikan dan kepastian itu ada pada diri Ando.

Malam itu ternyata Ando tidak hanya sebagai saksi. Itu Ando rasakan pada perlakuan mereka terhadap Ando. Tempat duduk Ando diistimewakan. Ando didudukkan di atas sebuah permadani beralas sutera kuning. Semua keluarga Zaitun, Kurma dan Palma bersimpuh menghadap Ando. Posisi demikian mengingatkan Ando pada upacara adat sebagaimana yang sering dilakukan nenek dahulu di kampung. Nenek selalu duduk dalam posisi seperti Ando duduk sekarang. Di atas kain kuning. Orang-orang bersimpuh menghadapnya dengan takzim. Bagi Ando sebenarnya duduk di atas kain kuning, kain hijau, kain merah atau kain belang-belang, selama ini tidak pernah menjadi perhatian. Kain-kain kuning itu biarlah menjadi urusan nenek dengan adat tradisinya. Ando ini punya dunia sendiri dan tidak perlu terlibat dengan dunia nenek. Tapi, dalam keadaan duduk seperti sekarang ini, timbul pula perasaan yang lain, seperti ada sesuatu yang hinggap tiba-tiba dalam diri Ando. Serasa ada seekor rama-rama putih hinggap dan bertengger di tampuk jantung Ando, padahal rama-rama putih yang sesungguhnya kini hinggap pada ujung keris di atas dulang itu. Ando tidak tahu, apa hubungan rama-rama putih itu dengan tampuk jantung Ando, atau apa pula hubungan tampuk jantung Ando dengan hulu keris itu. Dan anehnya, tiba-tiba Ando seperti seorang yang mengetahui segalanya. Kecerdasan dan pengetahuan Ando jadi bertambah-tambah dan bahkan Ando dapat melihat apa sesungguhnya yang terkandung di dalam keris itu.

Palma perempuan yang lebih tua dari Zaitun dan Kurma lama sekali menatap Ando. Tak lepas-lepas matanya memandang. Mulanya Ando jadi kikuk juga, tapi peduli apa. Mungkin orang tua itu senang karena Ando dianggap sebagai seorang yang akan dapat menyelesaikan persoalan masa depan mereka, persoalan generasi pelanjut mereka. Ketika Ando tanyakan kenapa dia memandang begitu nanar, dengan tersipu dijawabnya, bahwa Ando dilihatnya sebagai jelmaan raja pemilik keris. Ya Allah! Coba Sinan bayangkan, bagaimana perasaan Ando waktu itu. Ando katakan pada Palma, Ando bukan raja. Bagaimana mungkin Ando dapat dilihat sama dengan seorang raja? Namun, Palma dengan bahasanya yang lembut, bahkan dia memanggil dirinya “patik” pula lagi, membuat diri Ando seperti entah berada di mana. Memanggil dirinya sendiri “patik”! Ando tahu, memanggil diri sendiri sebagai “patik” itu menandakan, bahwa lawan bicaranya adalah seorang yang lebih tinggi. Setiap orang yang bicara pada nenek selalu memanggil diri mereka sendiri begitu. “Patik, tuanku.” Dalam cerita-cerita lama yang juga pernah Ando baca, panggilan patik pada diri sendiri dilakukan seseorang bila berhadapan dengan raja. Dan sekarang mereka memanggilkan dirinya patik ketika bicara dengan Ando. Siapakah Ando?

Perlakuan mereka begitu menyebalkan. Ando bertanya pada diri sendiri terhadap kenyataan yang ada. Apa sebenarnya yang kini sedang berlangsung? Ando dijemput ke rumahnya, untuk beramah tamah dan makan malam. Memang sebelum Ando menyetujui untuk datang, Zaitun dan Kurma sudah memberitahu, ada persoalan besar yang akan terungkap bila Ando mau memenuhi undangannya. Ando terpaksa pergi juga dengan beberapa pertimbangan, sebagaimana yang Ando katakan pada Sinan tadi. Ando harus mencegah agar jangan sampai tumbuh sesuatu yang tidak wajar dalam diri mereka, hanya karena sebilah keris.

Kalau disimak kembali apa yang dikatakan Zaitun, keris itu sepertinya datang tiba-tiba. Selama ini, di kampungnya, di rumah asalnya, tidak pernah ada suatu pertanda bahwa akan ada sesuatu yang tersembunyi di samping tangga naik. Rumah di kampungnya, sebagaimana rumah-rumah tradisi lainnya, sebuah rumah panggung dengan tangga di depannya untuk naik ke atas rumah. Di samping tangga itulah mereka melakukan penggalian mengikut petunjuk Labai Panjang Janggut pada Zaitun. Akhirnya mereka menemukan sebuah peti kayu yang tidak melapuk, kayu besi mungkin dan di dalam peti tersimpan keris yang menggemparkan itu.

Sampai pada persoalan penemuan keris itu, Ando tidak dapat berbuat apa-apa. Tidak dipercaya, tidak mungkin. Zaitun, Kurma dan anggota keluarga Palma yang lain sangat yakin akan keris itu. Ando tentu saja tidak akan dapat pula membuktikan, bahwa apa yang mereka ceritakan bukanlah sebuah kebenaran. Andopun tidak mungkin menyangsikan kejujuran mereka. Dari cara mereka bicara, Ando mendapat kesan mereka bukan mengarang-ngarang sebuah cerita untuk mengkeramatkan sebilah keris. Mereka bukan pengarang, bukan sastrawan. Mereka bukan orang-orang yang bergerak dalam dunia kreativitas, artinya apa yang mereka katakan bukan khayal atau fiksi. Jadinya, Ando menyerah dan harus percaya pada apa yang mereka katakan, karena Ando tidak sanggup membantah kebenaran yang mereka ceritakan dengan sebuah kebenaran yang lain dari Ando. Dalam posisi seperti ini Ando merasa serba salah. Mau percaya, akal sehat Ando tidak dapat menerima. Tidak percaya, Ando tidak punya bukti yang dapat diajukan pada akal sehat Ando itu untuk membantah. Ando seperti dihadapkan pada sebuah perbenturan antara akal sehat dengan kenyataan yang ada. Saat ini Ando belum akan meminta pendapat Sinan terhadap apa yang telah Ando ceritakan. Masih ada hal lain yang tertinggal, yang perlu Ando jelaskan sebelum Sinan membuat suatu kesimpulan.

Dari pembicaraan yang cukup lama dengan mereka, akhirnya Ando diberitahu secara berbisik-bisik nama keris dengan segala tafsirannya. Ando sebenarnya tidak peduli apa nama keris itu. Yang jelas kini, ada sebilah keris di depan Ando dan diri Ando berhadapan dengan sebilah keris itu. Antara Ando dan keris itu dianggap sebagai faktor-faktor penentu dari kelangsungan sebuah generasi. Itu yang sangat merisaukan Ando.

Ando gelisah. Duduk begitu lama dan dihadapan Ando tergeletak sebuah keris di dalam dulang berkaki beralas kain kuning. Rama-rama putih itu masih juga belum beranjak dari tempat dia mula-mula hinggap. Palma, Kurma dan Zaitun serta saudara-saudaranya yang lain masih saja duduk menghadap Ando dengan takzim. Apa yang harus Ando lakukan? Beberapa kali Ando menukar posisi duduk dan menarik nafas, memberi isyarat bahwa sudah waktunya pertemuan berakhir, namun isyarat yang Ando berikan tidak mereka pahami.

Beberapa saat Ando pandangi keris itu hanya ingin menguji pikiran Ando sendiri. Apa pulalah kemampuan keris seperti ini yang dapat menyebabkan Ando sampai berjam-jam lamanya tertahan di sini. Ketika Ando menatap keris itu untuk ketiga kalinya, Ando terkejut, nanar. Ando gosok-gosok mata Ando seperti Ando tidak percaya pada pandangan Ando sendiri. Ya Allah! Astagfirullah!

Dia mengerdip!

Tunggu, tunggu Sinan. Jangan memberi tanggapan dulu. Mulut Sinan sudah mulai bergerak-gerak. Ando tahu, Sinan pasti segera akan menanggapi. Tunggulah. Cerita Ando masih panjang perihal keris ini. Ando harap Sinan dapat menahan keinginan untuk berkomentar. Sedikit lagi.

*

Kerdipannya terus jadi persoalan dalam pikiran Ando. Ando tidak ingat lagi apanya yang mengerdip; hulunya, sarangnya atau apa? Entahlah. Kejadian itu benar-benar membuat Ando tidak percaya pada pengetahuan Ando sendiri, tidak percaya lagi bahwa sebuah benda mati itu benar-benar mati, masif, tak bergerak. Tidak percaya lagi bahwa sebuah keris yang biasa menggiring kita untuk tidak mengerdip akan sebuah pembunuhan yang mengerikan, kini justru sipenggiring itu pula yang mengerdip. Sulit Ando menjelaskan bagaimana, seperti apa, berapa lama, kerdipan itu pada Sinan. Sulit. Bahkan boleh dikatakan tidak masuk akal. Tidak dapat dipercaya. Benar-benar suatu kejadian yang tidak mungkin akan terjadi. Mustahil. Nonsens. Namun untuk melengkapi cerita Ando tentang keris, kejadian yang tidak masuk akal itu harus juga Ando ceritakan, tapi Ando tak tahu bagaimana harus menceritakannya.

Agar Sinan mendapat gambaran kejadian yang tidak masuk akal itu, Ando harus menjelaskan dulu semua hal yang masuk akal tentang keris itu, yang mungkin saja dari hal-hal yang masuk akal itu Sinan dapat menangkap, memaknai dan mengira-ngira kenapa, bagaimana, atas alasan apa dia begitu lancang mengerdip. Sebuah alat pembunuh manusia dapat mengerdip manusia!

Hulunya dulu. Hulu keris itu terbuat dari gading yang ditatah sedemikian halus, seumpama tatahan patung-patung Bali saat ini. Sebagaimana komentar Sinan sewaktu pulang dari Ubud tempo hari tentang dampak pariwisata, patung-patung Bali sekarang telah kehilangan kekuatan magisnya, kehilangan nilai spritualnya, kehilangan gregetnya, karena ditatah begitu halus, sensual, seksual untuk kepentingan komersial, padahal dulu patung-patung Bali itu ditatah sedemikian ekspresif dan memancarkan kekuatan-kekuatan magis sebagai layaknya patung-patung Batak, Tana Toraja atau Asmat di Irian Jaya. Hulu keris itu berbentuk seekor gajah duduk dan pada kedua matanya dibenamkan batu permata yang memancarkan warna-warna kemerahan, kebiruan dan keunguan. Ando tidak tahu apa jenis batu demikian, karena selama ini tidak pernah bergaul dengan batu. Kalaupun bergaul juga, paling-paling dengan batu penggiling lada bila Ando memerlukan lada giling untuk memasak gulai kepala ikan.

Tentang gajah, baik dalam bentuk gambar, lambang, patung, lukisan maupun foto-foto, titian ingatan Ando sampai pada berbagai hal tentang gajah. Institut Teknologi Bandung memakai lambang gajah, kaos oblong buatan Medan juga bermerek gajah, kain sarung juga bermerek gajah, rumah gadang di Minangkabau pun ada yang bernama Gajah Maharam, ada pula gelar kehormatan seorang penghulu dengan sebutan Gajah Patah Gadiang, Gajah Tongga Koto Piliang, kemudian penyakit kaki gajah, cendawan yang disebut telinga gajah, daun gelinggang gajah, cerita naif di surau tentang kemaluan gajah yang diambil kuda ketika turun dari kapal nabi Nuh dan banyak lagi hal-hal gajah lainnya dan yang digajahi, bahkan ada sebuah kerajaan dijuluki kerajaan Gajah Putih. Yang membuat Ando terus tertanya-tanya tentang hulu keris berbentuk gajah itu adalah; apakah hulu keris ini ada hubungkaitnya dengan Gajah Mada panglima tentara Majapahit yang meneriakkan sumpah Palapa sebelum menguasai seluruh Nusantara atau ada hubungan intim dengan polisi militer Indonesia karena kesatuan elite itu memakai lambang kepala Gajah Mada, ataukah memang kepala gajah itu sengaja didatangkan dari Thailand, atau Zaitun diam-diam membelinya di luar negeri lalu memasangkannya pada hulu keris itu? Entahlah. Entah kenapa pula pada saat-saat begitu, tiba-tiba saja timbul keinginan Ando untuk mengetahui lebih dalam seluk beluk keris itu dan harus memulainya dari hulu bukan dari ujungnya. Buku-buku tentang kerajaan Thailand yang Sinan bawakan untuk Ando sepulangnya Sinan dari Bangkok tempo hari, Ando coba mengingatnya kembali. Mulai dari anatomi gajah, bagian-bagian yang rawan dari gajah, ukuran dan berat kaki serta telinganya, belalainya dan semua hal mengenai gajah. Bahkan juga asal keturunannya, peranannya dalam kehidupan raja-raja, suku, marga dan kaumnya. Namun Ando tidak menemukan sesuatu yang dapat Ando jadikan pegangan untuk sebuah pengertian yang dapat diyakini, kenapa keris itu berhulu gajah. Waktu itu Ando mengutuki diri sendiri, inilah bahayanya kalau kurang pengetahuan. Saat Ando ingin mengetahui sesuatu, pada saat itu pula Ando merasakan betapa miskinnya Ando dengan pengetahuan. Sedangkan persoalan hulu sebuah keris saja Ando tidak tahu, apalagi persoalan siapa yang memegangnya, berapa lama hulu itu bertahan sebagai hulu sebuah keris, pemilik keris itu siapa dan serentetan pertanyaan yang sulit untuk Ando jawab sendiri. Apalagi tentang gajah, tentang pemilik gajah, tentang yang menciptakan gajah dan banyak lagi. Banyak.

Belum lagi mengenai bentuk kerisnya. Memikirkan bentuk kerisnya membuat Ando semakin bingung. Keris itu tetap bersembunyi di dalam sarungnya, sehingga sulit bagi Ando mengetahui bagaimana bentuk sesungguhnya. Konon kata seorang pakar keris, sebuah keris akan dapat diketahui asalnya dengan mengetahui berapa lekukan yang ada padanya. Kalau lekukan keris itu dapat menggairahkan seperti lekukan tubuh perempuan, mungkin tidak jadi masalah bagi Ando. Ando tahu, perempuan memang banyak lekukan di tubuhnya. Tapi lekukan pada sebilah keris tidak mungkin dapat menimbulkan gairah atau rangsangan, selain kengerian-kengerian akan berbagai pembunuhan. Keris Tameng Sari milik raja Majapahit yang dipakai Hang Tuah untuk membunuh Hang Jebat dalam Hikayat Hang Tuah tidak sama jumlah lekukannya dengan keris Ken Arok raja Singasari yang dibuat Mpu Gandring yang kemudian digunakan Ken Arok untuk membunuh Mpu Gandring. Atau jumlah lekukan keris-keris yang dimiliki nenek tidak sama dengan jumlah lekukan keris-keris yang dijadikan sebagai hadiah, hiasan pinggang para penghulu, atau keris yang benar-benar digunakan untuk membunuh. Dalam hal seperti ini peranan Sinan dalam kehidupan Ando terasa sekali. Sedikit banyaknya Sinan dapat menuntun Ando untuk mengetahui berbagai hal. Bukan mengajari, tetapi menuntun, merangsang pemikiran dan menyodorkan berbagai alternatif pada setiap persoalan yang Ando ajukan.

Ketika menatap keris itu, Ando semakin diserang berbagai pertanyaan karena ada beberapa berapa helai rambut seperti diikatkan pada pangkalnya. Kalau tidak salah, ada tujuh helai seperti rambut yang terikat di sana. Ando ingin tahu, rambut siapa yang tersangkut atau yang diikatkan di sana. Apakah mungkin rambut Zaitun karena membawa keris itu tidur bersamanya, ataukah helai-helai rambut perempuan yang terbunuh oleh keris itu. Tapi menurut perkiraan Ando lagi, mungkin bukan rambut manusia. Barangkali ekor kuda, atau ijuk, atau sesuatu yang merupa seperti rambut. Soal rambut-rambut demikian telah mengantarkan Ando pada cerita Sinan ketika sedang menyusun silsilah raja-raja. Bagaimana takutnya Sinan melihat berhelai-helai rambut berserak di atas kertas silsilah yang sedang terbentang ketika Sinan sedang menulis nama seorang raja perempuan. Wah, berdiri bulu roma Ando mengingatnya kembali. Persoalannya bagi Ando sekarang adalah, apakah rambut yang tujuh helai itu, yang diikatkan di pangkal keris memang benar-benar sudah ada ada sejak dulu, atau di ada-adakan saja, atau memang ada perempuan yang terikat rambutnya di sana. Tapi siapakah perempuan yang rambutnya terikat pada sebilah keris? Perempuan apa yang mengikatkan rambutnya pada hulu sebilah keris? Apakah itu rambut Putri Duyung sebagaimana yang Ando lihat pada gambar-gambar komik, atau rambut Cinderella, rambut anggota musik The Beatle, rambut Alain Delon atau janggut dari Labai Panjang Janggut? Rambut Ando memang panjang seperti rambut pada keris itu, tetapi tentu saja itu bukan rambut Ando. Terpikir juga sesaat waktu itu, bagaimana kalau memang rambut Ando yang terikat di sana. Sebab, gulungan rambut Ando yang gugur, yang selalu Ando simpan dalam plastik pernah hilang. Mungkin saja dan mungkin karena itu pulalah agaknya, Zaitun yakin sekali menganggap Ando punya hubungan dengan keris itu. Ah, tak mungkinlah! Takut Ando jadinya.

Sebenarnya, yang menakutkan Ando adalah kerdipannya. Keris itu mengerdip, gila! Tapi Ando tidak ingat lagi apanya yang mengerdip. Bagian-bagian dari keris itukah atau keris itu secara keseluruhan. Manusia mengerdip dengan matanya, tetapi keris itu mengerdip dengan apanya? Ando jadi bingung juga. Mungkin matanya? Tidak mungkin. Mata keris ada di dalam sarungnya. Mata keris itu dua. Manusia kalau mengerdip hanya memakai satu mata, tentu keris tidak akan mengerdip dengan kedua matanya. Atau, yang mengerdip itu batu permata pada mata gajah itu? Karena pantulan cahaya lalu menimbulkan kesan berkilau-kilau seperti sebuah kerdipan? Bisa jadi juga, keris itu benar-benar mengerdip karena dia tidak suka ada kupu-kupu putih hinggap di hulunya. Tapi apakah mungkin diri Ando sendiri yang merasakan mendapat kerdipannya? Dari pengalaman sehari-hari Ando, bila Sinan mengerdip Ando misalnya, Ando merasakan pasti ada sesuatu yang ingin Sinan sampaikan. Tapi kerdipan keris itu? Ado merasa dikerdip, tetapi Ando tidak tahu pasti apa yang terkandung dalam kerdipan itu? Jangan-jangan yang mengerdip itu pemilik keris itu. Ah, ini menakutkan Ando lagi.

Walaupun menakutkan, namun pikiran Ando terus bekerja dan berlanjut mengenai keris itu. Kadang-kadang mengasyikkan juga memikirkan hal-hal yang menakutkan, walau lebih banyak dapat menimbulkan rasa takut. Jika Ando gabungkan semua yang Ando perhatikan, mulai dari hulunya yang berkepala gajah, rambut yang terikat di pangkalnya, sarung keris yang penuh ukiran warna warni, perkiraan-perkiraan akan jumlah lekuknya, untuk sementara dapat disimpulkan keris itu pasti menyimpan apa-apanya. Tapi apa-apanya itu apa? Itulah persoalannya. Dan yang membuat Ando semakin bertambah takut dan sekaligus bertambah berani untuk pertanyaan-pertanyaan berikutnya adalah bau atau aroma yang dipancarkan keris itu sewaktu Ando memegang hulunya.

Entah dari hulu, dari rambut, dari sarang atau dari dalam sarangnya, menyebar bau atau aroma yang tajam sekali. Mungkin lebih tajam baunya daripada kerdipan matanya. Lain sekali baunya. Lain. Ando jadi ingat akan bau keris milik nenek. Besi hitam karatan itu berganti-ganti baunya pada waktu-waktu tertentu. Kadang-kadang bau darah, kadang-kadang bau bunga melati, kadang-kadang bau besi. Sedangkan keris milik Zaitun itu seperti bau parfum. Dalam pikiran Ando waktu itu, mungkin bau itu jenis parfum baru yang dibeli Zaitun di Paris sana dan merayap sampai ke hulu dan sarung kerisnya. Pada saat itu pula, Ando jadi ragu pada rujukan bau yang Ando miliki. Benarkah bau itu bau parfum? Apakah mungkin ada parfum yang khusus untuk memberi aroma baru pada sebilah keris? Memang saat ini segalanya ada dan mungkin ada dan diada-adakan. Jangankan parfum yang bau keris, parfum yang beraroma mobil baru sudah lama ada, apalagi parfum baru yang bau perawan baru, parfum yang bau mayat baru dan parfum baru yang khusus untuk mayat.

Jangan berkomentar dulu Sinan, jangan. Ando belum sampai lagi pada persoalan yang sesungguhnya. Tetaplah di sana, habiskan dan nikmatilah dinginnya air di dalam kendi itu.

*

Tujuh hari lebih keris itu berputar-putar di dalam kepala Ando, yang membuat kepala Ando sakit, pening dan seakan mencucuk-cucuk kulit kepala Ando dari dalam. Sepertinya Ando harus pakai topi keledar dari dalam untuk menahan sakitnya, bukan dari luar sebagaimana pengendara sepeda motor. Ando segera sadar, bahwa sakit begini sangat berbahaya. Agar tidak terjangkit keris sindrom, Ando harus segera menenteramkan diri dengan cara secepat mungkin harus dapat memberikan jawab atas segala pertanyaan tentang keris itu. Ando harus menjawab pertanyaan Ando sendiri. Ando harus mencari jawab dari kepustakaan pengetahuan Ando dan membuka kembali semua memori. Membongkar kembali semua laci dalam sekian ribu lemari memori, layaknya kita membuka lemari-lemari tua yang sudah bulukan. Bila terbuka laci memori yang menyimpan kenangan manis dapatlah menimbulkan sesuatu yang menyenangkan, tetapi bila terbuka laci yang lain terasa jadi menyakitkan, laci yang lain pula terasa jadi gembira dan banyak juga laci yang menyimpan sesal dan kesal. Ando terpaksa bongkar memori itu untuk mencari rujukan tentang keris. Umur Ando sekarang lebih dari 30, jika setiap tahun Ando mempunyai 12 lemari, dan setiap lemari mempunyai 30 laci, setiap laci punya 24 kenangan dan setiap kenangan punya 60 keris, dan setiap keris punya 60 jenis, bentuk dan bau, Sinan dapat bayangkan bagaimana Ando harus bekerja setiap detik untuk mendapatkan rujukan lengkap tentang sebuah keris.

Dalam waktu bongkar membongkar kenangan itu Ando menemukan tiga bilah keris bermacam bentuk, lima buah pedang bermacam ukuran, tujuh buah besi runcing tajam, sembilan jenis tongkat, 11 jenis stempel, 13 jenis kunci dan 15 macam benda rahasia lain milik nenek yang tersimpan di dalam lemari, di dalam peti, di dalam kotak-kotak besi, dan di atas rak-rak kayu mahoni. Keris-keris dan pedang simpanan nenek ini warnanya hitam, terselamat dari kebakaran tiga puluh tahun lalu. Ketika Ando membersihkan salah sebuah tempat penyimpanan itu, salah sebuah keris yang berkarat tebal itu kata nenek dulunya berhulu kepala gajah. Lalu, langsung saja timbul dalam pikiran Ando, apakah yang dikatakan Zaitun benar, bahwa keris yang kini dimiliknya kembaran dari keris yang dimiliki nenek? Tapi Ando agak curiga juga pada Nenek, karena ketika dia mengatakan hulu dari kerisnya berkepala gajah, saat dia sedang teringat pada kakek yang meninggal setahun lalu akibat penyakit kaki gajah, atau karena pikiran dan perhatian Ando sedang terpaut pada perhiasan-perhiasan nenek yang semuanya terbuat dari gading gajah yang disimpannya di dalam berbagai-bagai bungkusan-bungkusan kain batik bergambar gajah, menyebabkan gajah menjadi satu ketetapan terhadap bentuk-bentuk yang sedang Ando amati. Inilah bahayanya kalau konsentrasi Ando terpecah ketika melihat sesuatu, selalu saja terjadi penyimpangan-penyimpangan; penyimpangan bunyi, penyimpangan bau, penyimpangan bentuk dan penyimpangan pengertian.

Bagi Ando bukan hanya persoalan kembar atau tidaknya keris Zaitun dan kemungkinan kembarannya adalah salah satu dari keris milik nenek, tetapi Ando ingin memastikan, apakah benar keris itu peninggalan raja, keris masa lalu, atau keris sekarang, keris-kerisan yang sengaja dikeramat-keramatkan. Nenek tidak pernah mengatakan dan memperlakukan kerisnya sebagai keris warisan raja, keris keramat atau keris sejarah. Dari cara nenek menyimpan, memperlakukan dan menganggap keris-keris itu tidak lebih daripada sebagai benda-benda yang mau tidak mau harus disimpannya. Nenek meletakkan keris-kerisnya sembarangan saja, berserak ke sana ke mari, kadang-kadang di bawah lipatan baju-baju usangnya, kadang-kadang jadi pengalang pintu bila kunci pintunya tak dijumpai. Ketika beberapa pegawai Dinas Purbakala mau melihat dan memotret keris itu, nenek meminjamkan begitu saja dan kemudian menyimpannya kembali, sebagaimana entengnya dia membuka dan menutup selendang memperlihatkan rambutnya yang putih beruban kepada Ando dengan senyum jenaka bila kami bercanda. Karenanya, terhadap keris-keris nenek itu tidak pernah menjadi sesuatu yang memberikan kesan kuat pada diri Ando.

Akan tetapi kini Ando dihadang oleh sebilah keris. Kalau dipikir-pikirkan benar, dihalus-halusi sampai jauh ke kedalamannya, keris Zaitun itu mungkin hanya sebagai bungkus, peti kemas, ibarat, amsal, iktibar dari apa yang kini tengah berlangsung. Persoalan Palma, Kurma, Zaitun dan anak yang sedang dikandungnya mungkin bukan hanya persoalan kembalinya keris pada generasi ketujuh, tetapi karena adanya dua hal lain yang lebih penting; pertama, persoalan hak warisan siapa yang akan menjadi pengganti raja dan kedua, keraguan dalam diri mereka sendiri, siapa sesungguhnya yang tepat disebut generasi ketujuh. Zaitunkah atau anak yang sedang dalam kandungannya. Persoalan ini akan semakin rumit, seandainya anak yang dilahirkannya kelak perempuan. Sebab, persyaratan utama dari generasi ketujuh yang akan membangkitkan kaum ini adalah anak laki-laki. Setidak-tidaknya, begitu keyakinan Zaitun setelah dikunjungi Labai Panjang Janggut dalam mimpi.

Ando tidak berani memasuki persoalan mereka lebih jauh. Nanti, hitung punya hitung, jangan-jangan generasi ketujuh itu jatuh pada anaknya, bukan pada Zaitun karena Zaitun sendiri meragukan perhitungannya. Jangan-jangan, anaknya yang lahir nanti benar-benar perempuan. Bagi Ando tidak jadi masalah benar, jatuh pada siapa hitungan generasi ketujuh itu. Tapi yang menyebabkan Ando semakin gelisah dengan hal itu adalah karena tiga bulan kemudian, tepatnya minggu ke empat Juli lalu, Zaitun meminta Ando datang dalam acara kenduri cukur jambul anaknya yang baru lahir.

Ini persoalan baru lagi. Ando disuruh mencukur rambut bayinya. Bagi Ando dalam hal cukur-mencukur terasa berat dan membimbangkan. Ando takut memainkan pisau di atas kepala orang, apakah orang itu masih seumur bayi atau yang besok akan mati. Kata Zaitun sewaktu datang mengundang Ando dia membisiki, rambut bayinya tidak mempan dipotong. Sudah dicoba berkali-kali dipotong dengan gunting atau pisau macam apapun, rambut bayi itu tidak putus. Kenduri yang mereka adakan adalah untuk menentukan apakah memang bayinya yang termasuk generasi ketujuh atau tidak, apakah memang rambut bayinya tidak mempan dipotong oleh benda dan oleh siapapun. Ando tentu saja jadi semakin bingung. Kenapa harus Ando pula yang memotongnya?

Orang-orang yang datang menghadiri kenduri itu banyak sekali. Kenduri ini adalah momentum dan akan dijadikan sebagai pertanda kelahiran generasi ketujuh, kelahiran seorang pewaris yang sah. Menurut Kurma, Labai Panjang Janggut datang lagi dalam mimpi Zaitun mengatakan, bukti bahwa anak itu bertuah bila ada seseorang yang sanggup memotong rambutnya. Jadi bukan persoalan apakah anak itu laki-laki atau perempuan. Agaknya Labai Panjang Janggut itu benar-benar telah pikun pula. Dalam mimpi sebelumnya, dikatakan generasi ketujuh itu harus laki-laki, dan dalam mimpi lainnya berdasarkan rambut. Campur tangan Labai itu sangat dalam mempengaruhi pikiran Zaitun. Tentu saja Ando jadi bertanya-tanya juga, apakah memang Labai itu ada atau hanya hidup dalam mimpi-mimpi Zaitun saja.

Acara kenduri itu memang luar biasa. Seri Kandi nama anak Zaitun itu, diusung di atas tandu yang berhias dan beralas belundru. Para pengusung dan pengiring memakai pakaian seragam pengiring raja-raja Melayu masa lalu. Ando katakan saja begitu, karena waktu itu Ando tidak sempat merujuk pakaian raja-raja mana dan masa lalunya bila. Dari pakaiannya yang serba gemerlap dan aneh itu, Ando mendapat kesan bahwa itulah gambaran yang ada dalam citarasa dan pikiran Zaitun terhadap sebuah tatacara kerajaan. Arakan itu diiringi musik rebana. Pemain rebana dan penyanyinya semua perempuan bercadar hitam ala perempuan Iran. Di kiri kanan jalan berbaris semua tetamu, orang-orang yang sengaja datang untuk menyaksikan acara itu saja dan anak-anak berpakaian warna warni. Jika Sinan sempat meminjamkan Ando kamera video waktu itu, pastilah Ando akan merekamnya dan akan memperlihatkannya pada Sinan. Tidak perlu lagi Ando menceritakan arakan itu secara rinci.

Ketika acara cukur rambut Seri Kandi dilangsungkan, orang-orang berdesak ramai sekali. Mereka berdiri mengelilingi Ando, berbisik-bisik. Ada yang sangat percaya bahwa Ando akan berhasil mencukur rambut Seri, tapi lebih banyak mereka yang tidak percaya. Ando cemas juga, bagaimana kalau sekiranya rambut Seri tidak berhasil dipotong? Tentu akan banyak persoalan akan menyusul, tidak hanya pada diri Zaitun terlebih lagi pada diri Ando. Bagaimana pula kalau memang rambut Seri tidak mempan dipotong seperti yang dikatakan Zaitun. Tentulah kenduri itu akan gempar, karena mereka pasti akan menyakini lahirnya generasi ketujuh. Lahirnya pewaris raja yang sah. Itu berarti akan terjadi ketegangan-ketegangan baru antara mereka dengan pihak keluarga diraja sekarang. Memikirkan hal itu Ando jadi gugup. Saat itu Ando benar-benar dihadapkan pada suatu pilihan; pembenaran atau pembatalan terhadap apa yang Ando perkirakan selama ini. Salah Ando sendiri juga, kenapa Ando terseret pada pola dan cara mereka berpikir, yang meyakini bahwa rambut Seri Kandi tidak dapat dipotong oleh pisau apapun.

Ando duduk di kursi yang dihias seperti sebuah singgasana. Sinan jangan tanyakan singgasana sesungguhnya itu seperti apa. Ando tidak punya rujukan singgasana manapun. Bagi Ando, kalau tempat duduk itu dihias, diberi bantal dan sekelilingnya tidak ada kursi lain selain kursi yang berhias itu, itulah yang Ando sebut singgasana. Orang-orang duduk dengan takzimnya setelah Ando duduk di singgasana itu. Lalu Zaitun datang dan duduk bersimpuh di depan Ando sambil menggendong Seri Kandi. Kemudian seorang perempuan tua datang membawa sebuah dulang kecil, berisi berbagai macam pisau. Dia menyuguhkannya pada Ando untuk mengambil salah satu. Dada dan ketiak Ando mulai berpeluh. Sinan dapat bayangkan bagaimana keadaan Ando waktu itu. Sesaat, Ando cubit pangkal susu Ando sendiri. Masih terasa sakit. Itu artinya Ando masih normal, masih berada dalam sebuah kenyataan. Jadi, Ando tidak berada di alam khayal, di alam mimpi, di alam masa lalu, di alam zaman beraja-raja dulu. Ando perhatikan pisau-pisau itu. Ada badik, mandau, siraut, belati, parang kecil, candung, sabit dan entah apa lagi nama alat-alat pemotong itu tersusun di atas dulang.

Entah kenapa dan entah apa sebabnya, timbul saja rasa tidak percaya dalam diri Ando terhadap ketajaman dan kemampuan benda-benda pemotong itu untuk memotong apa yang ingin Ando potong. Sekaligus timbul juga keyakinan, bahwa benda-benda seperti itu tidak akan sanggup memotong rambut Seri. Ando tidak tahu, darimana keyakinan itu timbul. Ando biarkan perempuan tua meletakkan dulangnya di samping Ando. Beberapa saat Ando diam saja. Ando tak tahu apa yang harus diperbuat. Orang-orang berbisik-bisik, peluh Ando sudah terasa membasahi bra.

Mungkin Sinan akan dapat mengatakan bahwa Ando telah berbuat nekad. Mungkin agaknya. Tanpa didukung oleh pikiran dan perasaan, Ando menoleh ke samping, ke arah lemari antik. Di dalamnya terletak keris Zaitun yang pernah diperlihatkannya pada Ando. Ando mengenal pasti kotak keris itu, karena kotak itulah yang jadi tumpuan Ando sewaktu dulu disuruh memegang hulu. Ando seakan digerakkan oleh sesuatu untuk mengambil keris itu. Dalam diri Ando mengalir sebuah kekuatan lain. Tanpa Ando perintah, Ando berdiri dan langsung mengambil keris Zaitun yang ada dalam lemari dan kembali dengan keris terhunus.

Orang-orang terkejut dan perempuan tua itu undur. Zaitun pun memandang Ando penuh keheranan. Sekilas tampak di matanya kilatan kengerian. Dari arah halaman Ando mendengar suara-suara semakin mendekat. Mungkin mereka yang berada di sana juga terkejut apa yang tengah terjadi. Tanpa dikomandokan siapapun, tanpa basa basi, tanpa ucapan-ucapan dari pihak manapun, Ando baca bismillah, Ando berbisik, ya Allah perlihatkanlah hikmahmu kepada kami, lalu Ando jambak beberapa helai rambut rambut bayi itu dan Ando potong dengan keris. Tiba-tiba seorang laki-laki tua berteriak histeris, seorang perempuan tiba-tiba terjerembab jatuh di lantai, berguling-guling. Seri Kandi menangis. Zaitun memegang kaki Ando kuat sekali. Pandangan Ando mengabur. Semakin lama semakin gelap. Gelap sekali. Semua gelap. Semua yang Ando dengar adalah suara bisik-bisik bergalau. Sesudah itu Ando tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Tunggu Sinan. Jangan menuduh Ando begitu. Ando tidak mendramatisir kejadian ini. Tidak. Ando menceritakan sebuah peristiwa. Setelah ini, Ando akan sampaikan bagaimana diri Ando terhadapnya. Sinan kan dulu pernah berkata pada Ando, tidak baik menuduh sebelum mendengarkan seluruh.

*

Bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi Ando mengikuti upacara potong rambut Seri Kandi. Banyak benturan-benturan di dalam diri Ando yang harus Ando hadapi, antara masalah keyakinan, kepercayaan, hukum agama dan pertimbangan-pertimbangan sosial dalam hubungan antar masyarakat. Bagaimana mungkin Ando dapat menerima bahwa sehelai rambut tidak dapat dipotong oleh pemotong apapun, sementara ketika Ando melakukannya begitu mudah. Bagi Ando rambut bayi itu tidak ada bedanya dengan rambut bayi yang lain. Namun disebalik itu pula, peristiwa pemotongan rambut itu menjadikan pengkeramatan yang telah dilakukan Zaitun dan kaum keluarganya terhadap bayi itu menjadi semakin kukuh karena Ando dianggap berhasil memotong rambutnya, karena itulah tanda dari kesahihan bayi itu sebagai generasi ketujuh, sebagaimana petunjuk yang diberikan Labai Panjang Janggut di dalam mimpi Zaitun. Padahal semua itu Ando lakukan karena satu pertimbangan saja, untuk terjalinnya hubungan antara sesama sekaum, sesama seketurunan. Tapi bila semuanya persoalan itu Ando hadapkan pada hukum agama dan keyakinan keagamaan yang Ando anut, Ando telah termasuk pada manusia yang ikut bersekongkol dengan kekuatan-kekuatan lainnya selain kekuatan Tuhan, dan hal ini disebut syirik atau menduakan keesaan Allah. Menggigil jantung Ando bila sudah sampai kepada masalah hukum demikian. Apalagi orang-orang yang syirik tidak akan mendapat ampunan. Dari segi hubungan kemanusiaan mungkin Ando sudah menjalankannya dengan baik, tetapi secara hukum agama Ando mungkin telah ikut menjadi syirik. Ando tidak dapat menolak, membatalkan, lari dari daripadanya. Betapa gemparnya kenduri itu bila pada waktu itu Ando melarikan diri atau menolak untuk mencukurnya. Mungkin Ando akan dituduh telah menghina sebuah majlis yang menurut mereka begitu penting dan mulia.

Mungkin Sinan menganggap Ando tidak sadarkan diri setelah mencukur rambut bayi itu disebabkan keletihan fisik, terlalu lelah diperjalanan dan kurang tidur. Itu kalau Sinan melihatnya secara harfiah, secara fisikal, memang. Tetapi sesungguhnya keletihan itu terjadi karena perbenturan di dalam diri Ando yang tak kunjung terselesaikan dalam waktu yang tepat. Ando pingsan bukanlah karena kekeramatan keris berhulu kepala gajah atau kekeramatan Seri Kandi sebagai seorang keturunan dari generasi ketujuh yang membawa kekeramatan pada dirinya sejak lahir, tidak. Ando tidak percaya akan hal-hal seperti itu. Pada waktu peristiwa potong rambut itu Ando pada hakekatnya tidak pingsan dan Ando berada dalam kesadaran yang penuh, hanya seluruh bagian tubuh Ando tidak dapat diperintah lagi oleh kemauan Ando sendiri. Semua organ tubuh Ando seakan-akan lepas kendali, tidak berada dalam satu komando lagi.

Hal-hal semacam persoalan Zaitun dan Seri Kandi itulah yang semakin Ando rasakan mengancam ketenteraman hidup Ando. Sebelum ini memang, apabila ada hal-hal yang menyangkut masa lalu, sejarah, adat istiadat, kekeramatan-kekeramatan, selalu Ando yang jadi sasaran. Persoalan keris Zaitun, hanya salah satu saja dari persoalan seragam yang Ando hadapi. Ando rasanya mau mengelak, menolak, menghindari, mengasingkan diri atau melarikan diri dari semua yang dihadapkan pada Ando. Setiap persoalan-persoalan itu tiba, Ando serasa dihumban benda-benda berat yang Ando tidak tahu bagaimana menangkisnya. Ando ingin memberontak dari semua itu, tapi pemberontakan itu tidak pernah tercetus dengan baik. Paling-paling Ando mengutuki diri sendiri, menyumpah-nyumpah pada kemampuan diri Ando yang tidak mampu mengelak dari humbanan masalah-masalah. Kadang-kadang, rasanya Ando ini seperti sebuah tiang di tengah sebuah padang, tempat segala orang menggantungkan harapan, tempat semua pengembara mencari arah, tempat semua orang memuntahkan segala kebobrokan hidup. Ando merasa tersiksa dengan apa yang mereka lakukan terhadap Ando dan celakanya, Ando lebih merasa tersiksa lagi kalau menolak apa yang akan mereka lakukan terhadap Ando. Seakan Ando dipaksa, digiring untuk memenuhi apa yang mereka inginkan. Padahal suatu pakasaan bukanlah sesuatu yang menyenangkan, namun pada saat-saat tertentu pemaksaan itu menjadi sebuah kenikmatan.

Bagaimana menurut Sinan? Wajarkah Ando membuat kesimpulan demikian untuk diri Ando? Apa? Kesimpulan sementara? O, jadi Sinan menganggap apa yang Ando rasakan itu sebagai sebuah kesimpulan sementara? Oh, betapa lecehnya Sinan menanggapi persoalan Ando. Tapi tak apa.

Minggu kedua November lalu Zaitun menemui Ando lagi. Dia minta Ando mau menjadi orang tengah atas perselisihan yang terjadi antara dia dengan suaminya. Perselisihan itu hampir sampai pada sebuah perbenturan keras yang dapat menyulitkan posisi keduanya. Keyakinan Zaitun tidak mau pudar menganggap Seri Kandi adalah satu-satunya pewaris dari generasi ketujuh yang sah. Untuk itu, Zaitun menempuh jalan apa saja untuk menyelamatkan anaknya, menyelamatkan generasi, menyelamatkan sejarah sekaligus menentukan masa depan. Sedangkan suaminya sudah merasa sangat terjepit dengan hal-hal pewarisan yang tidak jelas dan penggenerasian yang tidak pernah pasti, sedangkan waktu, tenaga dan biaya cukup banyak terkuras. Suaminya yang selama ini mengalah dan mengikuti saja apa yang diinginkan Zaitun, kini sudah sampai pada batas kesabaran. Dia kembali pada prinsipnya semula, bahwa anaknya Seri Kandi adalah seorang anak yang sama dengan anak-anak lainnya. Soal tuah, kekeramatan atau kelebihannya akan dapat dilihat nanti, bukan sekarang. Bagaimana menentukan sebuah putik mangga, apakah dia akan menjadi mangga yang manis atau mangga yang busuk berulat di dalamnya. Seri Kandi masih dalam taraf putik, belum menjadi buah dalam pengertian yang sesungguhnya.

Zaitun menceritakan pula, sejak rambut Seri Kandi berhasil dipotong tempo hari selalu mendapat sakit. Sering terbangun tengah malam. Berteriak-teriak dan menunjuk-nunjuk ke beberapa arah sambil menangis, seakan melihat sesuatu yang menakutkan tapi karena Seri Kandi belum dapat bicara, dia tidak dapat menjelaskan apa yang dilihatnya. Berkali-kali hal itu terjadi sampai akhirnya dia mendapat sakit seperti sekarang. Zaitun telah mengobati ke berbagai dokter dan rumah sakit sebagaimana yang diperintahkan suaminya, namun tidak tampak perubahan pada diri Seri Kandi, walau biaya sudah banyak dikeluarkan. Ando jadinya merasa serba salah. Seakan karena Andolah Seri Kandi mendapat sakit. Ando minta maaf, tapi Zaitun menolak maaf Ando itu. Zaitun dengan gigih meyakinkan, bahwa sakitnya Seri Kandi tidak disebabkan oleh kejadian memotong rambut itu, tetapi karena ada pihak-pihak lain yang tidak menginginkan Seri Kandi menjadi pewaris. Kecurigaan Zaitun menyebar ke mana-mana. Terlebih lagi pada saudara-saudara sepupu, dua pupu, tiga pupu yang masing-masing punya anak pula. Namun Zaitun tidak berani mengucapkannya, takut, kalau-kalau nanti akan terjadi perbenturan yang lebih besar lagi di dalam kaumnya.

Yang menyebabkan emosi suaminya meletup dan menyebabkan krisis berkepanjangan antara dia dengan suaminya, ketika proses pengobatan yang dilakukan oleh Anak Tempatan seorang dukun yang sangat terkenal, menemui kegagalan. Untuk menyembuhkan Seri Kandi, Anak Tempatan terpaksa mengambil keris simpanannya yang terletak di Gunung Ledang. Mengambil keris itu memerlukan waktu dan uang yang banyak. Suaminya memenuhi semua apa yang diminta Anak Tempatan. Dan memang, sebagaimana yang dijanjikan, keris itu datang dari Gunung Ledang, banyak sekali. Melayang-layang di udara dan hinggap satu persatu di telapak tangan Anak Tempatan, seperti layaknya kupu-kupu kecil. Zaitun dan suaminya kagum sekali dengan kehebatan Anak Tempatan. Salah satu dari keris itu diambil sebagai obat bagi Sari Kandi. Untuk dapat mengambil sebuah keris itu, suaminya harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi. Namun setelah tiga bulan berjalan, Seri Kandi tidak sembuh juga bahkan semakin parah. Suaminya mulai curiga, jangan-jangan apa yang dilakukan Anak Tempatan adalah sulap atau ilmu sihir, bukan kekeramatannya sebagai dukun. Lalu, suaminya memutuskan membawa Seri Kandi berobat ke luar negeri, tapi Anak Tempatan bertahan, bahwa pengobatan yang dilakukannya akan tampak hasilnya kelak setelah lima bulan. Terjadi perdebatan antara suaminya dengan dukun itu. Dulu dijanjikan paling lama dalam masa satu bulan Seri Kandi sembuh, ternyata bulan kedua sampai bulan ketiga tidak juga ada perubahan. Sekarang mau ditunda lagi sampai bulan ke lima. Suaminya naik pitam dan terjadi perdebatan merebak menjadi perdebatan antara antara Zaitun dan suaminya. Yang paling menyakitkan hati suaminya adalah bisik-bisik yang sempat didengarnya bahwa Anak Tempatan telah melakukan hubungan khusus dengan Zaitun yang berbadan sintal itu. Dengan alasan memandikan keris pengobat Seri Kandi, diam-diam Zaitun pergi dengan Anak Tempatan ke Labuan, sebuah pulau yang sangat ramai penuh hotel-hotel berbintang. Selama tiga malam keris Anak Tempatan itu direndam di dalam air kembang yang dipegang Zaitun. Sepulang dari memandikan keris itu, keadaan rumah tangga Zaitun serba tak terkendali. Seri Kandi tak kunjung sembuh, suami sudah tidak percaya lagi pada Anak Tempatan dan Zaitun sendiri, sementara Zaitun tetap menganggap semua itu adalah cobaan-cobaan yang harus ditempuh memasuki gerbang kejayaan bagi generasi ketujuh. Tidak seorangpun yang dapat menyelesaikan persoalan mereka. Kedua-duanya punya pendirian yang kuat dan kedua-keduanya pula tidak mau mengalah apalagi berpisah. Itulah sebabnya Ando didatangi, agar Ando dapat menyelesaikan krisis yang kini melanda mereka. Satu-satunya cara yang harus dilakukan lebih dulu adalah menguji dan membuktikan bahwa keris-keris Anak Tempatan yang dapat terbang dari Gunung Ledang itu benar-benar keris, bukan sulap atau sihir, agar kecurigaan dan kesangsiannya suaminya terbantah.

Ando benar-benar terpurangah dengan persoalan yang kini disajikan. Belum selesai persoalan keris pusaka, rambut Seri Kandi yang dipotong, kini dihadapkan pula dengan persoalan membuktikan sebilah keris benar-benar sebilah keris atau hanya hasil sulap dan sihir. Ando tak dapat menolak, tidak dapat. Bagaimana mungkin Ando menolaknya, sedangkan Zaitun begitu yakin bahwa Anda dapat melakukan. Kadang-kadang, Ando ingin berteriak sekeras-kerasnya di pangkal telinga Zaitun mengatakan bahwa Ando ini tidak tahu apa-apa. Ando bukan azimat, barometer, batu uji.

Tidak Sinan, tidak. Ando tidak menangis. Bukan Ando orangnya yang suka membuang air mata. Kilatan-kilatan cahaya atau genangan-genangan air di sudut mata Ando yang menurut anggapan Sinan Ando kini menangis, hanyalah segenang air yang tertahan untuk menetes. Luahan dari rasa sesal, kesal, mual terhadap persoalan yang begitu tiba-tiba mengurung. Ando datang ke sini dengan niat untuk bersenang-senang dengan bapak anak-anak Ando, tetapi kenyataannya menjadi jauh berbeda. Ando disudutkan dengan persoalan yang membuat Ando tidak dapat memilih.

Coba Sinan bayangkan, Ando akan dihadapkan pada seorang dukun keramat, pada sebuah keris siluman yang konon terbang dari Gunung Ledang. Gunung Ledang itu entah di mana, entah yang mana. Tidak masuk ke otak Ando, ada keris keris beterbangan dan hinggap seperti burung di tangan seseorang. Tapi bagaimana Ando dapat membantah kenyataan itu, Zaitun begitu yakinnya menceritakan pada Ando. Zaitun begitu yakinnya menganggap segala sumber dari perbenturannya dengan suaminya berpunca dari keris yang beterbangan itu.

Ando belum memberi jawaban pada Zaitun apakah akan mau memenuhi kehendaknya untuk membuktikan keris itu benar-benar keris atau tidak. Cukup lama juga Ando terdiam memikirkan putusan yang harus diambil. Zaitun tampak gelisah dan sekali-sekali memandang Ando dengan pandangan penuh harap. Ketika Ando akan memutuskan untuk tidak mau memenuhi keinginannya, pada saat itu pula Zaitun membuka tas tangannya dan mengeluarkan sebuah bungkusan sutra kuning kecil. Dibukanya sapu tangan pembungkus itu, kemudian dia mengeluarkan sebuah keris. Keris? Ya keris. Kecil, kira-kira 21 sentimeter panjangnya, terbuat dari perak atau mungkin besi. Ketika Zaitun menyodorkannya pada Ando, dikatakannya keris itu adalah salah keris yang diambil oleh Anak Tempatan dari Bukit Siguntang, lebih keramat lagi daripada keris yang datang dari Gunung Ledang. Untuk mendapatkan keris itu, Zaitun terpaksa pergi sendiri mengantar berbagai persyaratan dan sejumlah uang ke tempat yang dirahasiakan Anak Tempatan. Keris kecil itu diletakkannya di atas meja di depan Ando. Ando tidak berani memegangnya. Tapi karena Zaitun mendesak juga dan menyuguhkannya pada Ando, keris itu Ando pegang juga. Ando perhatikan keris itu dan Ando tidak merasakan ada apa-apanya. Bahkan pikiran Ando langsung sampai pada tokoh-toko souvenir yang banyak menjual keris semacam ini untuk kenang-kenangan bagi mereka yang berkunjung ke suatu daerah. Mungkin Zaitun mengerti akan kecurigaan Ando terhadap keris itu, dia kemudian menggeser duduknya lebih dekat. Sambil berbisik agar tidak didengar bapak anak-anak Ando, dikatakannya keris inilah yang menjadi sumber kecemburuan suaminya. Nah, Ando semakin merasa dibebani lagi. Keris sekecil ini, yang menurut pengetahuan Ando adalah keris mainan, keris souvenir para turis yang banyak dijual ditoko-toko, tapi bagi Zaitun keris ini dipercaya telah dijemput Anak Tempatan dengan cara yang luar biasa sekali dari Bukit Siguntang. Keris ini adalah obat untuk Seri Kandi dan keris ini pula yang menjadi sumber kecemburuan suaminya. Bagaimana ini?

*

Entah kali keberapa sudah, Ando terpaksa lagi melakukan sesuatu yang tidak Ando sukai, menemui suami seseorang untuk membicarakan persoalan mereka. Tapi bagaimana lagi, Zaitun menghendaki demikian. Dia sangat berharap agar Ando dapat menjelaskan persoalan sebenarnya kepada suaminya, karena Ando dianggap seseorang yang sangat disegani oleh suaminya. Tidak Ando penuhi, rasanya Ando seperti seorang yang jual mahal, yang kikir, yang tidak mau menolong kesulitan orang lain. Ando penuhi, rasanya Ando berlagak-lagak jadi pahlawan, jadi pendamai dari persoalan yang tidak Ando ketahui secara persis. Tapi begitulah keadaan kita dalam kehidupan sosial. Ada hal-hal yang bagi kita tidak penting, tetapi sangat penting bagi orang lain. Semua itu rela atau tidak harus kita lakukan untuk saling menjaga hubungan satu sama lain.

Tiga kali Ando sempat berjumpa dengan suaminya. Dalam perjumpaan itulah Ando sedikit banyak mengetahui apa sebenarnya yang kini sedang melanda keluarga mereka. Zaitun sekarang berada dalam situasi yang serba sulit. Suaminya kurang yakin Zaitun punya hubungan dengan keluarga diraja yang berdaulat sekarang. Kalaupun ada, itupun dapat dikatakan sudah sangat jauh. Dulunya Zaitun juga tidak peduli dengan masalah keturunan, silsilah, ada atau tidaknya hubungannya dengan pihak keluarga istana. Dia berlaku sebagai seorang istri yang baik dan tidak pernah mengkhayalkan atau mengimpikan sesuatu yang besar atau menggemparkan melanda dirinya. Dia ingin hidup sebagai seorang istri yang dengan rela dan pasrah menerima kehidupan sebagaimana adanya. Akan tetapi karena lama tidak punya anak, keadaannya perlahan-lahan jadi berubah. Setelah berobat ke sana ke mari, ke berbagai dokter dan dukun-dukun, hampir saja dia putus asa tidak akan dapat melahirkan. Dalam kondisi yang demikian labil, Labai Panjang Janggut datang dalam mimpi-mimpinya, pada saat-saat seperti itu pula dia hamil. Kadang-kadang cerita suaminya tentang Zaitun mengingatkan Ando pada cerita Cindua Mato. Kehamilan datang setelah kedatangan orang-orang suci di dalam mimpi. Sebaliknya pula, kehamilan Zaitun dapat dikatakan sebagai kehamilan atas mimpi-mimpinya sendiri. Dia hamil karena impiannya, bukan karena kenyataannya sebagai sebagai seorang istri.

Sejak datangnya Labai itu Zaitun berubah. Hal-hal yang selama ini tidak pernah menjadi perhatian, kini dipersoalkannya. Terutama dalam menyangkut masalah keluarga, kaum, keturunan dan hubungan mereka dengan keluarga diraja. Bahkan kadang-kadang, Zaitun berlaku, bertindak dan berpikir seperti dia berada dalam situasi kehidupan istana. Dia ingin tidur dalam kelambu tujuh lapis, punya tujuh dayang-dayang, minum air kelapa nyiur gading, punya seekor kerbau seperti Sibinuang, punya seekor ayam seperti Sikinantan, punya seekor kuda seperti Sigumarang. Sampai batas-batas tertentu, suaminya memenuhi apa yang diingininya. Ternyata permintaan-permintaan Zaitun semakin hari semakin aneh. Dia minta didampingi oleh empat orang menteri. Setiap mentri harus punya tujuh atau sembilan orang datuk. Setiap datuk harus punya empat orang pembantu. Tentu saja hal ini membuat suaminya jadi panik. Bagaimana mungkin memenuhi tuntutan demikian. Yang sangat melelahkan suaminya memenuhi permintaan Zaitun adalah, keinginannya untuk menjadikan segala sesuatunya, apakah itu benda atau kejadian sekecil apapun itu sebagai sejarah. Rambutnya gugur dianggap sebagai sejarah dan rambut itu harus disimpan di atas sebuah talam beralas kain kuning. Setiap peristiwa yang mengandung sejarah itu masing-masingnya harus dapat dijelaskan dan diuraikan maknanya. Setiap makna harus ditafsirkan pula dengan berbagai penafsiran. Hampir setiap malam suaminya tidak pernah tidur pulas, karena harus mendengarkan penafsiran Zaitun tentang segala sesuatunya sebagai sebuah sejarah. Misalnya, kenapa bumbungan rumahnya diterbangkan angin badai pada hari kemis malam tepat pukul 12 malam, saat dia merasakan ada gerakan-gerakan halus di dalam perutnya, gerakan menerjang-nerjang seperti ada kaki-kaki kecil yang ingin melepaskan diri dari selimutnya. Itu adalah sejarah. Maknanya adalah, itulah sejarah tentang terjadinya angin ribut di luar alam dan di dalam alam. Di luar alam kandungan dan di dalam alam kandungannya.

Ando tersenyum-senyum saja mendengar suaminya menceritakan perihal Zaitun. Bagi Sinan tentulah sangat biasa saja bila seorang suami bicara tentang istrinya, memuji-muji, selalu memberikan kesan bahwa istrinya seorang perempuan yang paling setia di muka bumi ini, yang paling hebat, yang paling pintar, paling tabah, ya semua kelebihan ada pada isterinya. Itu biasa. Sudah hukum alam. Siapa lagi yang akan memuji istri sendiri kalau bukan suaminya. Siapa pula yang mau membulatkan tahi kambing kalau bukan kambing itu sendiri. Tapi yang membuat Ando curiga pada pembicaraan suaminya itu adalah, dia selalu mengeluh pada Ando bahwa dia tidak mendapat layanan kemesraan yang wajar dari Zaitun. Suaminya ingin bermesra tujuh, lima atau paling sedikit tiga kali seminggu, tapi Zaitun tidak memenuhinya. Kadang-kadang Ando benci mendengarkan keluhan laki-laki dalam masalah seks, apalagi suami Zaitun terlalu pretensius, bahkan Ando merasakan dari pembicaraannya itu, dia mau menyeret Ando untuk hal-hal yang berada di luar apa yang Ando pikirkan. Pada setiap soal dalam pembicaraan Ando merasakan ada kesengajaan untuk menggiring Ando ikut bersimpati padanya dalam masalah-masalah seks. Sampai-sampai Ando berpikir, apakah pertemuan itu benar-benar untuk bicara soal keris yang dimaksudkan Zaitun, atau keris suaminya sendiri yang tidak kunjung dapat sasaran. Bila pembicaraan sudah sampai pada masalah-masalah demikian, pada saat itu Ando langsung saja minta diri. Akhirnya Ando bersumpah tidak akan menemuinya lagi. Baru berkenalan dua jam saja, tangannya sudah ke mana-mana, memegang tas tangan Andolah, menepuk-nepuk bahu Ando dan dengan beraninya dia memperbaiki selendang Ando, padahal umurnya jauh di bawah umur Ando. Dia panggil Ando kakak tercinta tetapi perlakuannya pada Ando seperti adik tersayang. Tentu saja apa yang diinginkan Zaitun agar Ando dapat meyakinkan suaminya bahwa keris Anak Tempatan itu adalah benar-benar keris dan bukan keris-kerisan atau lambang tidak terlaksana.

Dua bulan kemudian, tepatnya minggu keempat bulan September, Kurma datang. Ando heran sekali, tidak biasanya dia datang sendiri. Kalau datang biasanya dengan Zaitun. Dia menangis, seperti orang baru saja kematian. Dengan tersedu-sedu Kurma mengatakan bahwa keris berhulu kepala gajah itu hilang. Sudah dicari ke mana-mana tidak ditemukan. Keluarga itu kini gempar dan kacau balau. Zaitun mencurigai sumainya, jangan-jangan keris itu dijual suaminya kepada orang asing, karena keris jenis itu sangat langka dan sangat mahal harganya. Kebetulan pula waktu itu suaminya berangkat ke Eropa beberapa hari setelah diketahui keris itu hilang. Zaitun, Kurma, Palma dan semua keluarganya kalang kabut mencari keris itu. Barulah pencarian dihentikan setelah Labai Panjang Janggut memberitahu Zaitun bahwa keris itu merajuk. Dia tidak mau dipersandingkan, diduakan dengan keris-keris yang lain, apalagi dengan keris Anak Dalam yang kini berada pada Zaitun. Hampir saja meledak tawa Ando ketika Kurma mengatakan keris itu merajuk. Memangnya keris itu perempuan yang sedang dimadu. Gila benar dunia ini.

Jika cerita itu hanya sampai di situ saja, sampai pada cerita keris itu merajuk, bagi Ando tidak apa-apa. Bagi Ando bukan merajuk atau tidaknya sebuah keris, tetapi sebuah keris hilang di dalam rumah, tentulah ada yang mengambilnya. Mana mungkin sebuah keris merajuk lalu pergi diam-diam sebagaimana manusia merajuk. Yang tidak dapat merajuk itu adalah keris, bukan manusia. Begitu juga, apakah pencarian keris itu dihentikan berdasarkan perintah Labai, juga bukan persoalan bagi Ando. Yang jadi persoalan adalah, adalah kelanjutan cerita Kurma. Kurma meminta untuk sesegeranya membawa Zaitun ke rumah nenek Ando, karena Zaitun yakin, keris berhulu kepala gajah itu kini sudah berkumpul dengan kembarannya, sebagaimana yang dikatakannya dulu. Diam-diam keris itu mengadakan reuni, kata Kurma mengeluh. Permintaan Zaitun untuk dibawa ke rumah nenek tentu menimbulkan persoalan tersendiri pada Ando.

Ando ingin minta pertimbangan Sinan. Bagaimana sebaiknya? Apakah Ando melanjutkan keterlibatan Ando dalam persoalan Zaitun dengan keris berhulu kepala gajahnya, atau memutuskannya begitu saja. Ando serba susah jadinya. Tapi yang lebih menyusahkan Ando lagi adalah, bagaimana menghapus kepercayaan Zaitun, bahwa keris itu tidak mungkin dapat terbang ke rumah nenek. Sedangkan Zaitun begitu yakin, bahwa keris itu kini telah bersatu. Apalagi Andopun tidak dapat memastikan pula, benar tidaknya keris itu telah berada di rumah nenek. Ando pernah menelepon nenek menanyakan apakah kerisnya bertambah dengan sebuah keris lain, kembaran dari keris nenek yang berserak-serak itu, nenek tertawa terkekeh-kekeh menjawabnya. Bahkan Ando dikatakan nenek sudah tidak rasional lagi, padalah Ando dijuluki nenek sejak dulu satu-satunya cucu perempuan yang hanya punya otak. Bahkan dengan cemoohnya nenek mengajukan pertanyaan siapa bapak dan ibu keris itu yang telah melahirkan anak kembar?

Kecurigaan kepada suami Zaitun semakin menjadi-jadi, apalagi sejak keris itu hilang suaminya tidak pernah pulang lagi. Zaitun pun tidak mau melaporkannya kepada polisi bahwa kerisnya hilang. Kalau nanti terus diselidiki polisi, lalu memang terbukti suaminya yang mengambil keris itu, tentulah dia akan menjadi malu. Bahkan dapat dikatakan sebagai sebuah peristiwa yang tidak masuk akal, seorang yang kaya seperti suaminya mencuri sebuah keris.

Persoalan bagi Ando tentulah menimbang mana yang benar dari semua persoalan yang disampaikan baik oleh Zaitun, suaminya ataupun Kurma. Sebab, Kurma sendiri, menurut Zaitun juga punya kepentingan tertentu. Kurmapun ingin memiliki keris itu, karena diapun punya seorang anak laki-laki yang kini sedang sekolah di sebuah pesantren. Jangan-jangan, generasi ketujuh yang dimaksudkan Labai Panjang Janggut itu anaknya Kurma, bukan anaknya Zaitun.

Sebenarnya, Ando tidak ada alasan untuk marah pada Zaitun atau Kurma. Mereka kini bergulat dengan persoalan kerisnya. Biasalah hal itu terjadi, memang begitu kehidupan manusia, mereka selalu bergelut dengan benda-benda sekelilingnya. Kadang-kadang mereka memperlihatkan kebijaksanaannya, kecerdasannya sekaligus pula kedaifannya, kekonyolan-kekonyolannya, sebagaimana Ando juga selalu lakukan. Tapi Ando sangat marah pada Labai Panjang Janggut itu. Labai itu hanya berani muncul dalam mimpi-mimpi Zaitun. Tidak berani bertanggung jawab terhadap apa yang telah dikatakannya pada Zaitun. Ketika Zaitun panik dan tidak menemukan jalan ke luar, Labai itu tidak muncul-muncul. Dibiarkannya saja Zaitun terlunta-lunta antara impian dan kenyataan. Semestinya Labai itu harus tegas. Menyeret Zaitun ke dalam impian-impiannya atau melepaskannya ke dalam kenyataan-kenyataannya.

Yang sangat menjengkelkan Ando, bukan hanya pada sikap dan kelakuan suami Zaitun, Zaitun, Kurma, Anak Tempatan, Anak Dalam, tetapi juga keris itu sendiri. Coba Sinan bayangkan. Betapa sakitnya hati Ando, sebuah keris kini tanpa berdarah setetespun telah membunuh akal sehat.

*

Dua surat kabar yang terbit pada minggu kedua bulan Februari dalam dua hari penerbitannya pada halaman dua memuat gambar sebuah keris. Pada teks gambar itu dituliskan bahwa keris itu adalah barang bukti terhadap sebuah pembunuhan yang sangat misterius. Keris itu ditemukan sedang tertancap di dada seorang laki-laki tanpa dapat diselidiki polisi siapa yang telah menancapkannya. Laki-laki yang menjadi sasaran keris itu Raja Muda salah seorang calon raja yang kini diam-diam disiapkan untuk muncul saat-saat terakhir pemilihan untuk menggantikan raja yang masih saja berdaulat sampai sekarang.

Yang menyakitkan hati Ando pada pemberitaan itu adalah catatan miring di pojok kanan halamannya, kenapa dalam zaman yang sudah sangat modern ini seorang calon raja tidak dibunuh dengan pistol atau senjata modern lainnya, tapi dengan sebuah keris. Apakah perlu pembunuhan secara tradisional tetap dipertahankan? Apakah tindakan demikian juga termasuk dalam usaha melestarikan nilai-nilai budaya lama? Seakan surat kabar itu lebih suka memancing polemik daripada bersimpati pada sebuah kematian.

Sampai sekarang polisi belum berhasil mencari sipembunuh, sedangkan desakan masyarakat semakin kuat untuk mengetahui apa sebenarnya dibalik peristiwa pembunuhan seorang calon raja. Apakah pembunuhan itu digunakan sebagai trik politik untuk lebih memperkecil lagi kekuasaan raja-raja dalam pemerintahan negara yang sekarang? Apakah pembunuhan itu disengaja atau hanya sebagai pertanda mulanya kampanye baru anti raja? Banyak pertanyaan yang harus dijawab dan jawaban-jawaban itu terpaksa menunggu hasil kerja polisi lebih dulu untuk menemukan sipembunuh.

Untuk mendapatkan sipembunuh, polisi membuat jalan pintas; akan memberi hadiah uang yang banyak kepada siapa saja yang mau memberikan informasi perihal keris pembunuh itu. Menurut pengumuman polisi itu lagi, informasi tentang keris sangat penting, karena dengan demikian akan mudah diketahui siapa yang menjadi pembunuh. Menurut Fajar Sidik seorang pakar sidik jari yang baru saja dipensiunkan, penyelidikan dengan mengumpulkan sidik jari yang melekat pada keris itu tidak akan berhasil, karena tidak ada sidik jari siapapun ditemukan pada keris itu.

Melihat keris itu terpampang sepenuh halaman, Ando langsung ingat pada keris Zaitun. Ando dapat mengingatnya karena keris itu pernah Ando pakai untuk memotong rambut Seri Kandi tempo hari. Ando masih ingat hampir seluruh bagian keris itu; besarnya, panjangnya, beratnya, lekuk-lekuknya, panas dingin hulunya, ketumpulan ujungnya dan ketajaman matanya, bahkan juga baunya. Ando dapat memastikan bahwa keris yang terpancang di dada calon raja itu sama dengan keris yang dimiliki Zaitun. Bergidik bulu roma Ando jadinya. Timbul saja dalam pikiran Ando sebuah cerita atau katakanlah sebuah skenario dari suatu pembunuhan seorang calon raja dengan sebuah keris pusaka.

Menurut skenario yang sedang menyusun dirinya dalam pikiran Ando, pada saat keyakinan semakin mantap dalam diri Zaitun setelah menemukan keris bahwa mereka harus berjuang mati-matian meluruskan sejarah, harus dapat merebut haknya kembali sebagai pewaris yang sah, pada saat itu pula kerisnya hilang dan tiba-tiba berubah menjadi keris pembunuh. Zaitun tidak percaya bahwa kerisnya yang dianggap sebagai penanda bahwa mereka adalah pewaris yang sah akan begitu saja berubah menjadi pembunuh.

Berbagai kemungkinan bisa pula terjadi antara keris Zaitun dengan keris di halaman koran itu. Mungkin keris Zaitun dan keris di halaman itu sama bentuk dan ukurannya, atau memang keris itu keris Zaitun. Jika benar demikian, dapat dipastikan bahwa yang menjadi pembunuh adalah keris Zaitun. Persoalan selanjutnya yang timbul adalah berbagai pengandaian dan bentuk-bentuk kecemasan lainnya, siapa lagi yang akan dibunuh oleh keris itu. Polisi mungkin saja dengan mudah dapat mencari siapa pembunuh seorang calon raja, tetapi polisi pasti tidak akan dapat menentukan apakah keris itu akan membunuh lagi atau tidak. Keris-keris pusaka seperti yang tergeletak di halaman itu atau seperti keris milik Zaitun memang harus diragukan niat baiknya, apalagi dia dapat berjalan-jalan ke sana kemari sesukanya tanpa hirau sudah berapa banyak pembunuhan yang dilakukannya. Keris itu harus dikurung atau dipenjarakan sebagaimana memenjarakan seorang pembunuh. Kalau sekarang keris itu berhasil membunuh seorang calon raja, besok tentu dia dengan mudah pula membunuh calon manusia. Lusa tentu keris itu akan dapat pula membunuh masa depan. Betapa bahayanya sebuah keris kalau tidak dapat dikendalikan sipemiliknya lagi. Sebelum semua terbunuh, keris itu perlu dibunuh lebih dulu. Yang dibunuh tentulah ketajaman-ketajaman kedua matanya.

Dalam saat-saat skenario itu hampir selesai dalam pikiran Ando, Zaitun muncul. Dia tampak gelisah sekali. Setelah menyediakan minuman dan mempersilahkannya duduk, Ando berusaha menenangkannya. Zaitun tanpa menunggu basa basi, langsung merangkul Ando dan menangis. Dia berbisik sambil terisak bangga. Dikatakannya bahwa dia kini dituduh sebagai pembunuh, karena keris pembunuh itu sama persis dengan keris miliknya. Nanti pada minggu keempat bulan Februari Zaitun harus mengaku dan menjelaskan di depan pengadilan bahwa memang dia pembunuh. Ando heran sekali kenapa Zaitun bangga dan bukannya sedih atau marah dan Zaitun tahu akan keheranan Ando. Setelah duduk dengan tenang dikatakannya bahwa dia harus mengaku sebagai pembunuh. Tidak ada jalan lain. Kalau tidak mengaku demikian, seluruh keluarga diancam akan dibunuh, kasus penyelewengan suaminya akan disiarkan pada semua media. Zaitun tidak akan diapa-siapakan lagi. Tapi kalau dia mengaku, berarti dia akan menjadi terkenal dan maksud kaum keluarganya untuk merebut kembali haknya akan dapat diketahui orang banyak. Artinya, Zaitun harus mengaku dan pengakuannya itu sekaligus akan membuktikan bahwa dirinya adalah pahlawan. Pahlawan keluarga, pahlawan sejarah.

Bagaimana menurut Sinan. Apakah persoalan seperti ini tidak akan membuat Ando senewen jadinya? Zaitun begitu yakin, bahwa dengan pengakuannya dia akan jadi pahlawan. Dan dia bangga pula dituduh sebagai pembunuh walaupun dia bukan pembunuh. Semestinya Zaitun memprotes hal itu karena tidak sesuai dengan jalan pikiran umum. Logikanya, sekira benar keris milik Zaitun itu telah membunuh calon raja, tidak berarti bahwa Zaitun sipemilik keris adalah pembunuh. Zaitun pun mau pula mengaku bahwa dia adalah pembunuh calon raja. Pengakuannya itu akan dijadikan bukti bahwa mereka, generasi ketujuh itu, telah bergerak ke permukaan persoalan.

Bagi Ando, apakah yang akan dilakukan Zaitun tentulah menjadi urusan dan tanggung jawabnya sendiri. Tetapi yang hampir saja Ando tertawa terkekeh-kekeh adalah permintaannya agar dia dibuatkan sebuah cerita tentang pembunuhan itu. Dia sengaja meminta Ando membuatkan cerita itu karena menurutnya Ando punya bakat mengarang. Ando mau membuat cerita pembunuhan? Pembunuhan seorang calon raja yang dilakukan oleh Zaitun yang tidak bersalah? Dia dituduh sebagai pembunuh karena kerisnya sama dengan keris pembunuh itu? Ando menolak membuat cerita demikian. Tetapi Zaitun tetap mengharapkan agar Ando dapat melakukannya. Tidak usah panjang dan rumit, kata Zaitun.

Sebenarnya Ando dapat saja membuat cerita seperti itu. Skenario sebuah pembunuhan kini sedang tumbuh dan berproses dalam pikiran Ando. Kini ditambah pula dengan tokoh pembunuhnya, Zaitun. Sebuah cerita fiktif tentang pembunuhan dengan tokoh yang tidak fiktif. Ando tentulah akan bebas membuat cerita demikian, apalagi sebuah cerita yang berisi pengakuan dari seorang pembunuh. Walaupun semuanya sudah tersedia, tema, alur, klimaks, tujuan, lokasi dan waktu, setting serta perwatakan tokoh-tokohnya, namun Ando tidak kunjung dapat membuatnya. Kadang-kadang Ando mengutuki diri sendiri atas ketidakmampuan Ando sendiri. Kalau dimisalkan Ando kini sedang mempersiapkan gulai kepala ikan, kepala ikan dan semua bahannya sudah ada. Tinggal memantik kompornya saja lagi agar semuanya bisa masak. Tapi hal itu tidak dapat Ando lakukan.

Ando diam saja menanggapi permintaan itu. Lalu Zaitun menyarankan, bagaimana kalau cerita itu dimulai dari Anak Tempatan. Zaitun sengaja mengupah Anak Tempatan untuk mengantarkan keris itu ke dada calon raja. Sebab, Anak Tempatan dapat memanggil keris-kerisnya dari penyimpanannya di Gunung Ledang, tentulah dia dapat pula mengirimkan keris ke tujuan dan alamat tertentu. Di dalam dunia pedukunan hal demikian sangat masuk akal, walau bagi masyarakat umum hal itu termasuk sesuatu yang tidak logis. Di dalam zaman modern pun hal itu kembali terjadi. Sebuah peluru kendali dapat dikirimkan ke mana siempunya mau. Mau dikirimkan ke Iraq atau Libia oleh Amerika.

Cerita seperti ini tentulah nantinya akan dianggap benar-benar sebuah karangan, yang dikarang sebagaimana menyusun karangan bunga. Sebab, dalam membuat karangan bunga, hal-hal yang tidak berhubungan dengan bunga itu juga dapat dimasukkan ke sana. Begitu juga karangan cerita pembunuhan. Zaitun dapat saja memasukkan bagian-bagian yang tidak ada kaitannya secara langsung dengan pembunuhan, tetapi dimasukkan, dijalinnya dalam sebuah karangan.

Menurut karangan Zaitun selanjutnya, keris itu padamulanya hilang dibawa suaminya ikut serta dalam pameran keris pusaka seluruh dunia. Tetapi keris Zaitun itu tidak memenuhi persyaratan, karena tidak dapat dirujuk tahun pembuatannya, kepemilikannya, dan untuk apa keris dibuat; untuk hiasan pinggang, untuk berkelahi, untuk membunuh, untuk hadiah atau untuk diperjual-belikan. Karena kecewa, suaminya mencampakkan keris itu ke dalam sungai Times sewaktu mereka lewat London. Beberapa lama keris itu tidak diketemukan, dan ternyata keris itu telah tertancap di dada calon raja.

Banyak sekali kelemahan dari karangan Zaitun. Ando membiarkannya saja dia mengembangkan imajinasinya. Sejauh mana imajinasi dapat dikembangkan oleh sebuah keris. Tetapi tanpa diduga, Zaitun membuat tambahan unsur lain dari karangannya. Dikatakannya, bahwa keris itu datang dalam mimpinya, basah kuyup dan kedinginan karena sudah lama berendam di dalam sungai Tames. Untung saja ada seorang pemancing yang tersangkut kailnya pada keris itu. Keris itu diangkat ke luar dan dikeringkan. Sewaktu keris itu akan dibawa ke tempat penjualan benda-benda bersejarah, sebuah pasar gelap yang sangat laris, keris itu menyelinap pergi, setelah mendengar panggilan Anak Tempatan. Dalam perjalanan pulang itulah, keris itu membuat kejutan, merubah statusnya dari keris yang tak diakui menjadi diakui, walau sebagai keris pembunuh. Keris itu kecewa berat dan sebab itulah dia mencari konpensasi dengan menjadi pembunuh, kata Zaitun berapi-rapi.

Kini Sinan dapat membayangkan betapa kacaunya hubungan imajinasi antara Ando dan Zaitun. Ando membuat skenario lain, Zaitun telah membuat karangan lain. Karangan Zaitun memang sah sebagai karangan, dia benar-benar mengarang, sebagaimana mengarang bunga. Banyak hal-hal lain, unsur-unsur atau persoalan lain dimasukkannya ke dalam sebuah persoalan keris. Sedangkan Ando merencanakan membuat skenario itu adalah sebuah cerita yang seakan nyata dan benar walaupun tidak ada kebenarannya. Kalau ditimbang-timbang secara moral, tentu Ando lebih jahat daripada Zaitun. Zaitun mengarang dan dia telah mengarang. Sedangkan Ando mau membuat sebuah kebenaran tanpa dapat dibenarkan.

Bagaimana Sinan? Kenapa diam saja?

*

Dalam kunjungannya beberapa hari lalu, Raja yang sedang berdaulat dalam sebuah acara diberi hadiah yang luar biasa. Menurut kepala berita halaman satu koran pagi itu, hadiah itu berupa penggalan dari sejarah masa lalu dalam bentuk sebilah keris. Keris sejarah dan sejarah keris, judulnya. Keris itu tidak luar biasa sangat, tetapi cerita yang terkandung di sebaliknya sangat menggemparkan. Dari laporan pandangan mata yang ditulis wartawan surat kabar itu, dikatakan bahwa keris hadiah itu sangat keramat. Jika ujungnya dihadapkan ke langit malam, bulan seakan tercucuk keris. Tertikam tanpa darah. Wartawan itu juga menceritakan kekeramatan-kekeramatan lainnya, seperti dikatakan bahwa jejak ditikam mati juga. Dengan tersenyum dan antara percaya tidak, Ando membaca laporan itu. Ando sangat terkejut karena ciri-ciri keris hadiah itu sama dengan ciri-ciri keris milik nenek. Menurut laporan wartawan itu lagi, keris itu ada kembarannya dan kini raja sedang giat menyiasat, di mana kini kembaran keris itu berada. Kepada masyarakat dan para pakar dalam bidang keris diminta membantu mencarikan dan jika berjumpa akan diberi hadiah sebuah keris emas. Mencari keris dengan hadiah keris. Namun sampai sekarang, belum ada seorangpun yang menjumpai kembaran keris itu. Raja kini gundah dan sebentar lagi mungkin gering, begitu menurut judul surat kabar yang terbit kemarin pagi.

Tentu saja Ando semakin tertanya-tanya tentang sebilah keris. Banyak hal yang kini bercampur baur dalam pikiran. Sekarang sudah ada lagi keris kembaran dari keris nenek. Keris Zaitun juga diakui sebagai kembarannya. Kenapa banyak sekali kembaran dari keris itu? Apakah kata “kembar” memang sudah beralih makna, bukan dua, tetapi banyak. Tapi betul juga, sekarang ini ada kembar tiga, kembar lima atau kembar tujuh. Bahkan juga ada Kembara, nama merek mobil baru Zaitun yang hilang sewaktu diparkir di halaman sebuah supermarket. Ando jadinya ingin sekali melihat keris itu, atau mungkin fotonya saja jadilah. Namun setelah Ando menghubungi wartawan yang menulis laporan itu, Ando jadi ragu akan kebenaran laporannya. Menurut dugaan Ando, wartawan itu sangat terpengaruh pada bentuk keris misterius yang dulu disiarkan gambarnya di surat kabar lain, keris yang dikatakan telah membunuh seorang calon raja. Dan setelah Ando bertelepon dengan wartawan itu sebanyak tiga kali, dugaan Ando semakin kuat, bahwa wartawan itu sebenarnya seorang penyair yang kecewa kemudian jadi pengimpi dan sebagai pengimpi dia menginginkan peristiwa-peristiwa besar akan terjadi akibat dari tulisannya. Ando jadi heran juga, kenapa wartawan seperti itu masih saja dipakai oleh sebuah surat kabar yang konon mau mendidik masyarakat modern yang berpikir logis.

Sekarang Ando semakin sangsi, jangan-jangan redaksi koran itu yang membuat ulah. Berusaha menyeret pendapat masyarakat bahwa keris yang membunuh calon raja tempo hari, sesungguhnya adalah keris yang dihadiahkan kepada raja. Artinya raja sengaja melakukan hal itu untuk menghilangkan jejak sebagai pembunuh. Hampir saja kesangsian Ando menjadi suatu keyakinan, tapi untunglah tidak, karena setelah Ando selidiki, ternyata wartawan itu tidak pernah sama sekali ikut dalam rombongan raja-raja.

Ando segera menelepon Zaitun. Menanyakan apakah kerisnya sudah kembali atau masih hilang. Apakah pencarian keris itu sudah dihentikan. Apakah keris itu sudah dianggap tidak ada lagi karena tidak tahu ke mana perginya. Tidak ada jawaban selain isak tangis Zaitun di seberang sana. Ando tentu saja semakin penasaran. Kesimpulan sementara yang Ando peroleh adalah, bahwa keris Zaitun masih hilang, keris itu kemudian muncul sebagai pembunuh, lalu dijadikan hadiah sebagai lambang persahabatan. Gila. Bagaimana menurut Sinan konklusi Ando akan hal itu? Wajar tidak? Ha? Ya, sudahlah. Ando lanjutkan sedikit lagi.

Tujuh hari tujuh malam Ando bergulat dengan keris dan kembaran-kembarannya. Bahkan Ando juga pergi ke beberapa perpustakaan mencari buku-buku yang memuat tentang berbagai keris. Tidak banyak buku yang membahas tentang keris dibanding dengan jumlah pemakainya. Dalam pencarian itu Ando menemukan sebuah buku berisi pengakuan seorang bekas menteri, bagaimana dia menyeludupkan 200 bilah keris ke luar negeri untuk diperjualbelikan. Keris-keris yang Ando temui dalam beberapa buku itu persis sama bentuk, ukuran dan warnanya dengan keris nenek. Ada tujuh keris dalam buku itu yang dikatakan sebagai kembaran dari keris seperti keris nenek. Gambar kulit sebuah majalah pernah pula mengagetkan Ando, sebuah keris yang pada setiap lekuknya tumbuh bunga ros, bunga melati, bunga kecubung dan entah bunga apa lagi. Kemudian Ando tahu bahwa majalah itu sudah tidak terbit lagi, sebuah majalah dari kumpulan orang-orang pencinta bunga.

Juga Ando mencarinya di dunia maya. Banyak sekali laman web yang memperkenalkan berbagai macam keris, seperti; http//www.keris.ind, http//www.karih.min, http/www.kerisan.flw, http//www.kerisraja.gov.my, http//www.ke_ris.pol, http//www.kerisex., http//www.kerisis.pol , http//www.kerisiko.org, http/www.kerismu.ego, http//www.karihang.min , http//www.kerisauan.jiwa, http//www.keriskuning.my, http//www.kerise.piaman.

Berulang-ulang Ando layari dunia maya itu. Sepertinya Ando sedang melayari sebuah dunia yang entah di mana akan berakhirnya. Seperti menghasta kain sarung. Dilayar, dilayar, sampainya di situ juga. Dilayar, dilayar, kembalinya ke laman itu juga. Seakan dunia ini penuh dengan keris. Keris. Keris. Keris. Dan semua keris itu bentuknya sama. Berbentuk keris! Ando sampai muak membuka setiap laman web yang selalu saja keris tergeletak pada skrin pertamanya, seperti perempuan-perempuan telanjang yang selalu muncul dalam setiap situs porno. Bahkan ada pula web yang bila dibuka sarung keris itu secara pelahan melorot sendiri, kemudian muncul sebilah keris yang berkilat-kilat mandi darah dan bergerak-gerak ujungnya. Seperti keris itu baru saja melakukan ekstase. Kerispun bisa jadi porno di dunia maya itu! Uh, Ando benar-benar tersiksa.

Yang membuat Ando hampir pingsan karena sebilah keris adalah; ketika semua pikiran dan emosi Ando tercurah pada keris dan bahkan sampai membuat mata Ando tidak dapat dipejamkan karena terhalang oleh keris-keris itu, pada saat itu pula Ando dikejutkan dengan sebilah keris tergeletak di atas meja rumah Ando yang Ando temui menjelang subuh. Keris siapakah ini? Apakah ini benar-benar keris ataukah karena seluruh diri Ando dikurung dan tertikam oleh berbagai persoalan keris?

*

Ketika Ando pergi menonton sandiwara bangsawan, Ando dikejutkan lagi oleh sebuah keris yang dipakai oleh salah seorang pemain sandiwara itu. Menurut ceritanya, keris itu adalah keris keramat. Warisan dari masa lalu, bahkan itulah keris yang dapat dijadikan sebagai bukti manusia purba mengenal besi pertama kali. Keris itu sangat luar biasa, kata raja dalam bangsawan itu. Jejak ditikam mati juga, teriak seorang pemain. Kalau sudah dihunus pantang disarungkan sebelum menyentuh darah manusia, teriak pemain yang lain pula. Takkan keris hilang di bumi, bisik seorang penonton yang duduk di sebelah Ando.

Ando tidak dapat mengikuti sandiwara bangsawan itu sepenuhnya, karena pikiran Ando tertumpu pada keris yang sedang dipermainkan. Namun tak satupun darah yang memercik dari tubuh pemain yang kena tikam, tetapi mereka tetap tersungkur. Kekeramatan keris itu diperlihatkan lagi dengan pantulan-pantulan cahaya blitz pada setiap lekuk mata keris itu. Ando berbisik pada diri Ando sendiri, apakah keris itu dari terbuat dari platina, kaca atau plastik. Kalau tidak, tidak mungkin keris itu dapat memantulkan cahaya blitz begitu kuat. Dalam gelapnya gedung pertunjukan itu, Ando terseyum sendiri. Ando cubit lengan Ando. Masih terasa sakit. Itu artinya Ando masih berada dalam kesadaran yang penuh bahwa kini Ando sedang nonton sandiwara, bukan menonton kekeramatan sebilah keris. Tapi kan ini bangsawan, teater yang realistik, tidak apa memang ada teater yang benar-benar realisik di dunia ini. Keris itu keris mainan, bukan keris sesungguhnya, orang-orang yang tergeletak itu bukannya mati, tapi pura-pura mati, raja itu raja mainan, bukan raja sesungguhnya, bahkan istananya istana mainan, bukan istana sesungguhnya, juga kehidupannya, kehidupan mainan, mainan kehidupan.

Saat Ando terlena dihanyutkan oleh kekeramatan keris itu dalam permainan bangsawan, Ando menganggap semua kejadian itu adalah sesungguhnya. Apa yang Ando tatap adalah sebuah kehidupan, di mana sebuah keris berperan penting di dalamnya. Namun Ando kemudian sadar, bahwa Ando sedang dipermainkan oleh keris mainan yang dipermainkan oleh pemain-pemain yang berpura-pura sebagai raja, pahlawan, musuh, perebut kekuasaan, penjual keris dan juga pembuat keris. Kesal sekali Ando pada kesadaran yang telah membuat Ando tidak nikmat lagi melihat keris-keris yang silih berganti datang dalam kehidupan ini.

Ando semakin bertambah kesal dengan timbulnya kesadaran di dalam diri Ando saat mengikuti permainan sandiwara bangsawan itu, karena setiap keris yang dianggap sebagai alat pembunuh, namun tidak seorangpun yang mati karenanya. Kesadaran Ando menjadi semakin kukuh ketika Ando teringat pada keris yang telah membunuh Raja Muda tempo hari. Ternyata foto pembunuhan itu adalah trik fotografi yang sengaja dibuat sedemikian rupa oleh seorang wartawan yang penyair itu untuk mengacaukan pengertian kata “mati”, “pura-pura mati”, “gambar yang sesungguhnya”, “gambar yang dibuat untuk menteror pandangan mata”.

Kini Ando menjadi ragu pada keris, pada fungsi keris, pada kegunaan dan pada keberadaannya, pada keaslian atau kepalsuan. Keraguan Ando pada keris menyebabkan Ando menjadi ragu pula pada setiap hal yang kemudian disodorkan pada Ando. Yang menyakitkan jiwa Ando kini adalah; Ando menjadi semakin ragu pada hal-hal yang berada sekeliling Ando. Terus terang Ando akui, jangan Sinan sampai marah karena kejujuran Ando ini, akibat keraguan Ando pada setiap keberadaan sebilah keris, Ando pun jadi ragu pula pada keberadaan Sinan. Ando ragu, apakah Sinan memang seperti Sinan yang Ando maksudkan atau Sinan seperti apa yang Sinan inginkan sendiri. Jangan-jangan Sinan seperti keris-keris itu pula. Sebagaimana pepetah Melayu yang mengajarkan kita tentang keraguan, – banyak wajah yang serupa, banyak nama yang sama -.

Maaf Sinan, Ando tidak mencurigai Sinan, tetapi Ando ingat pada sebaris sajak; aku ragu pada keraguanku.

*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: