Oleh: Wisran Hadi | 21 September 2008

GENERASI KETUJUH (Bagian keempat)

4. HIKAYAT SEKAWAN GONG

Keris yang sedang dipermasalahan keluarga Zaitun dan Palma belum lagi selesai. Masing-masing menganggap dirinya keturunan generasi ketujuh. Membangkitkan marwah keluarga sebagai pewaris raja yang sah. Namun siapa sesungguhnya dari generasi ke tujuh yang akan membangkitkan marwah keluarga itu sampai sekarang tidak jelas. Ditambah lagi dengan persoalan Bang Sawan. Dia yang masih beragu hati apakah harta karun yang kini terpendam di bawah tangga istana tua di Terengganu tetap akan digali demi untuk membiayai kebangkitan generasi ketujuh dilanjutkan atau tidak. Ando tidak betah dengan persoalan yang terus mengapung demikian, karenanya Ando sengaja diam-diam meninggalkan kebegalauan itu.

Tidak ada jalan lain selain Ando harus ke luar dari persoalan itu sesegera mungkin. Menghindar dari segala hal yang tidak berkeruncingan. Campur baur antara persoalan mistik, perbenturan antara kepercayaan dan keyakinan yang kini melanda setiap orang, sampai kepada pewarisan generasi, marwah dan sebagainya.

Ando hampir gila memikirkan, bagaimana orang-orang begitu gigihnya berusaha meyakinkan diri mereka sebagai generasi ketujuh, padahal masalah generasi itu seperti tidak ada kaitannya dengan kehidupan mereka hari ini. Namun hal itu mungkin juga lumrah adanya. Bisa saja Ando menganggap hal seperti itu tidak penting, tetapi bagi mereka mungkin persoalan hidup mati dari kelanjutan keturunan atau sejarah keluarga.

Ando meninggalkan Semenanjung seperti orang yang sedang dikejar bayang-bayang sendiri. Kepada bapak anak-anak Ando, Ando katakan bahwa waktu Ando kini sangat sempit. Sesegeranya harus meninggalkan tanah Semenanjung sebelum Ando benar-benar jadi gila. Padahal tugas bapak anak-anak Ando sebagai dosen tamu belum lagi selesai. Ando pun heran, kenapa Ando begitu mendesak sekali, suatu hal yang tidak pernah Ando lakukan selama ini. Syukurlah bapak anak-anak Ando memahami hal itu. Dia dengan berbagai cara pula berusaha menarik diri dari tugasnya setelah jadwal kuliah pertengahan semester berakhir.

Berkali-kali Ando berusaha menghubungi Sinan minta komentar terhadap masalah yang sedang Ando hadapi. Selalu saja terdengar kalimat otomatis di pangkal telinga Ando; tidak dapat dihubungi atas permintaan pemiliknya. Kadang-kadang Ando curiga juga dengan sikap Sinan seperti itu, menfungsikan mesin penjawab telepon dalam komunikasi antara kita. Seakan Sinan sengaja membuat sekat antara kita. Apakah Sinan sudah bosan mendengarkan cerita-cerita Ando tentang masalah generasi ketujuh dan harta karun? Apakah benar-benar Sinan tidak menganggap penting sesuatu persoalan yang begitu penting untuk keluarga di Semenanjung itu? Ando sengaja mengontak Sinan untuk menjelaskan kenapa Ando harus terus terang membicarakan persoalan ini pada Sinan dan tentu saja Ando sekaligus membujuk Sinan untuk tidak memutuskan komunikasi antara kita.

Sinan boleh saja kesal, sakit hati, marah, memaki-maki Ando sebagai seorang perempuan yang seakan-akan tidak mau mengerti dengan kata bosan, tidak betah, malas, tidak sudi. Terserah Sinanlah. Ando sangat terdesak dengan semua persoalan yang harus dimuntahkan. Halo Sinan. Halo. Ini Ando. Ando ini! Ando. Halo. Jangan putuskan hubungan ini dulu. Dengar dulu apa yang akan Ando katakan. Nah, ya begitu.

Tadi Ando sudah katakan, Ando diam-diam menjauh dari mereka. Menjauh dari Zaitun, Palma dan saudara-saudaranya. Menjauh dari Bang Sawan dengan segala harta karunnya. Ando harus pulang. Namun sebelumnya Ando harus ke Pagaruyung dulu. Ando tidak tahu, kenapa harus ke Pagaruyung. Apa benarlah keramatnya Pagaruyung itu. Kalau dulu mungkin, karena Pagaruyung pusat kerajaan yang megah. Pergi ke Pagaruyung masa itu adalah seakan pergi untuk meraih gengsi, kebanggaan dan dicatat sejarah. Tapi sekarang, pergi ke Pagaruyung tak obahnya pergi ke sebuah kampung kecil. Paling-paling hanya menambah persoalan baru saja bagi Ando. Kalaulah tidak ada nenek Ando di sana, haram talak Ando akan singgah di kampung seperti itu.

Walaupun Zaitun, Palma dan saudara-saudaranya, juga Bang Sawan kakak beradik selalu menyebut-nyebut mereka akan pergi ke Pagaruyung untuk menuntaskan persoalan yang mereka hadapi, tetapi Ando menanggapinya hanya dengan senyum. Sebab, menurut pikiran Ando, Pagaruyung tetap Pagaruyung. Bagaimanapun juga cara yang dilakukan Zaitun maupun Bang Sawan, persoalan mereka tetap harus mereka selesaikan sendiri. Pagaruyung bukan lampu aladin yang dapat menyelesaikan persoalan mistik, klenik atau sebangsanya.

Boleh jadi Zaitun dengan nekad akan datang ke Pagaruyung membawa kerisnya untuk dapat dijejerkan dengan keris yang ada dalam peti simpanan nenek, tetapi bagi Ando, hal itu mustahil. Bagaimana mungkin mereka diizinkan oleh petugas keamanan bandara membawa keris ke dalam pesawat. Semakin keramat keris itu tentulah akan semakin gigih pula pihak keamanan mencegahnya. Begitu juga Bang Sawan yang akan meminjam linggis dari Pagaruyung untuk menggali harta karun yang tertimbun tanah di bawah tangga istana mereka, bagi Ando itu adalah sebuah pekerjaan sia-sia.

Tanpa memikirkan hal-hal seperti itu, apakah Ando akan dituduh sebagai orang yang melarikan diri dari mereka nanti, mungkin, Ando bertemu dengan mereka di Pagaruyung, Ando tidak peduli. Yang penting Ando harus ke Pagaruyung menemui nenek dulu, barulah kemudian Ando dan bapak anak-anak Ando kembali ke rumah kami. Kepada nenek akan Ando ceritakan semua persoalan yang Ando alami selama berada di Semenanjung.

Halo Sinan. Kenapa diam? Jangan diputus dulu komunikasi ini. Tunggu. Nah, terima kasih. Ringkas cerita, Ando langsung terbang dari Semenanjung dan terus bermobil ke Pagaruyung. Nah, Sinan. Inilah sesungguhnya yang akan Ando sampaikan. Sebuah cerita yang baru saja terkuak dan lagi-lagi mengenai generasi ketujuh. Generasi ketujuh! Namun sebelum itu, Ando akan menyampaikan dulu sebuah persoalan yang sangat tidak masuk akal, tetapi diyakini oleh beberapa tetua di Pagaruyung termasuk nenek Ando sendiri. Hikayat tentang sekawanan gong.

Ketika malam pertama Ando tiba dan setelah bicara dengan nenek tentang berbagai hal yang Ando tempuh selama berada di Semenanjung, nenek kemudian bercerita tentang sesuatu yang tidak pernah diceritakan sebelumnya kepada Ando. Kami seakan berbalas kisah. Aneh memang. Kenapa malam itu lemari simpanan informasi nenek terbuka begitu saja, Ando tidak tahu. Tapi setelah Ando selidiki dengan berbagai cara dan siasat, akhirnya nenek mengakui bahwa apa yang kini tengah terjadi dalam keluarga di Semenanjung mungkin ada kaitannya dengan cerita nenek. Maka nenek pun bercerita, sesudah kami selesai sembahyang Isya.

Belum selesai nenek bercerita seluruhnya, Ando sudah terpurangah. Kata nenek, sebuah peristiwa besar telah terjadi sementara Ando berada di Semenanjung. Istano Basa Pagaruyung yang bangunannya begitu besar dan megah, telah disambar petir dan terbakar. Hanya lebih kurang satu jam semua bangunan itu habis. Dalam saat api menggelora melahap bangunan istana itu, tiba-tiba sekawanan gong melayang ke langit dan terus berputar-putar menuju gunung Bungsu yang terletak di belakang istana. Beberapa saat kemudian menghilang dan belum kembali sampai sekarang, walaupun telah dua ratus tiga belas dukun diupah untuk menjampi-jampi gong itu agar kembali ke tempatnya semula.

Nenek menceritakan kebakaran Istano Basa itu seperti tanpa perasaan sama sekali. Dia tidak sedih, tidak emosional. Dengan tenang dia menceritakan, betapa orang-orang histeris menyaksikan kebakaran itu berlangsung. Siang malam orang-orang dari berbagai kampung dan negeri datang melayat. Ketika Ando tanyakan, kenapa nenek tidak sedih, tidak menangis dan tidak emosional menceritakan tentang kebakaran yang hebat itu, dengan entengnya nenek menjawab; karena aku tidak melihatnya secara langsung dan hanya mendapat cerita dari orang-orang.

Ampun Ando, Sinan. Ampun. Nenek Ando itu memang perempuan tua yang aneh. Dia bicara begitu lugu, polos dan tanpa pura-pura. Walaupun semua orang mengatakan bahwa kebakaran itu adalah sebuah tragedi besar, sebuah kehilangan yang tidak mungkin lagi dapat diganti, namun nenek dengan tenang mengatakan tak ada yang kekal di dunia ini. Katanya lagi, Yang tidak mungkin dapat diganti itu hanya nabi, Rasulullah dan ayah bunda kita sendiri. Lain daripada itu, bisa diganti. Akan tetapi ketika nenek menceritakan tentang melayangnya sekawanan gong dan hilang di Gunung Bungsu, Ando merasakan ada sesuatu yang terjadi dalam diri nenek. Seakan dia sengaja berpura-pura tidak emosi, padahal pada wajahnya yang sudah banyak keriputnya itu tampak sekali dia sedang membentengi kesedihannya sambil mereguk air mata tuanya.

Ando tertanya-tanya, apa gerangan yang telah terjadi antara nenek dengan sekawanan gong yang menghilang itu? Sebenarnya, persoalan inilah yang ingin Ando ketahui lebih dalam lagi dengan mengajak Sinan berdiskusi mencari jawab. Apalagi nenek menceritakan peristiwa itu terpotong-potong, bermisal-misal, beribarat-ibarat, berpetatah petitih, sebagaimana lazimnya orang-orang tua Minang yang kegandrungannya kepada sastra dan kata bersayap tidak kunjung luntur walau cucu-cucunya sudah terbiasa bicara lugas, tuntas dan kadang-kadang tanpa tatakrama berbahasa lagi. Namun dari apa yang dapat Ando tangkap dari cerita nenek adalah seperti ini; mungkin ini hanya tafsiran bebas dari Ando saja, tapi itu tidak soal. Bukankah Sinan pernah mengatakan pada Ando, penafsiran terhadap sebuah peristiwa, terhadap benda-benda peninggalan sejarah adalah sesuatu yang lumrah. Bahkan penafsiran-penafsiran itu akan terjadi pada setiap zaman tergantung pada siapa yang memegang kekuasaan waktu itu.

Coba simak Sinan. Ando akan ceritakan tentang sekawanan gong yang melayang itu. Sekali lagi Ando ingatkan, ini hanya penafsiran Ando terhadap cerita nenek yang disampaikannya dengan pepatah-petitih itu. Menurut pengakuan nenek, dia tidak pernah menyaksikan peristiwa itu. Nenek hanya mendengarnya dari orang lain. Apakah orang lain itu juga membuat penafsiran sendiri pula terhadap peristiwa yang disaksikannya, nenekpun juga tidak merasa dibebani oleh berbagai penafsiran itu. Begitupun Sinan nanti agaknya, tentu Sinan akan menafsirkan pula penafsiran Ando ini kepada orang lain. Tapi itu tidak mengapa, bukankah seperti yang pernah Sinan katakan juga, bahwa kehidupan kita ini dikelilingi oleh berbagai penafsiran yang kita tafsirkan sendiri. Ando kadang-kadang muak dengan cara Sinan menyampaikan penafsiran Sinan itu, berlagak lebih dari seorang ahli tafsir bahkan hampir-hampir seperti seorang ahli filsafat pula. Tapi ya bagaimana lagi. Ando terpaksa ikuti semua itu supaya hubungan kita tidak terputus di tengah jalan. Begini cerita lengkapnya.

Pada hari Selasa sore, hujan turun membasahi Istano Basa itu sampai magrib tiba. Tiba-tiba petir menggelegar dan langsung hinggap di puncak istana. Hujan terus turun dengan derasnya, sementara api terus pula menjalar dengan dahsyatnya. Sampai akhirnya, istana yang begitu besar dilulur api dalam sekejap mata.

Sebelum anjung sebelah kanan rubuh, sekawanan gong melayang dan berputar seperti gasing menuju langit dan terus ke Gunung Bungsu. Seperti pesawat UFO yang terbang beriringan, diiringi bunyi suara musik perkusi. Kata orang Jawa yang menjadi saksi mata mengatakan musik itu adalah musik gamelan. Seperti bunyi gamelan ketika acara Sekatenan di Jogja. Kata orang Minang yang suka menghadiri acara perkawinan, mengatakan musik itu musik talempong pengiring penari galombang menyambut tetamu. Entah mana yang benar, terserah. Mungkin saksi mata yang orang Jawa itu yang benar, karena presiden waktu itu adalah orang Jawa pula.

Gong yang terbang itu berjumlah tujuh buah. Tentang jumlah gong yang tujuh inilah yang rupanya menjadi timbulnya berbagai penafsiran dan persoalan setelah istana itu terbakar. Ingat Sinan, sekali lagi Ando katakan, ini penafsiran. Bahkan, Ando dan nenek timbul pula sedikit ketegangan mengenai jumlah ini.

Menurut nenek, gong itu hanya tiga buah, bukan tujuh. Ketiga buah gong itu melambangkan dari rajo tigo selo, tiga raja Pagaruyung yang masing-masing mempunyai

wewenang sebagai raja alam, raja adat dan raja ibadat. Sekaligus pula melambangkan kepada tiga daerah inti Minangkabau yang disebut tigo luhak, tiga daerah dataran tinggi yang terdiri dari luhak Tanah Data, luhak Agam dan luhak Limopuluah Koto. Kata nenek lagi, bila ketiga gong itu tidak kembali dalam jangka waktu tertentu, itu adalah pertanda akan keruntuhan negeri Minangkabau, keruntuhan Pagaruyung.

Akan tetapi saksi mata yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa gong itu berjumlah tujuh buah. Tujuh itu melambangkan sesuatu jumlah yang banyak. Tujuh petala langit. Langit yang ketujuh. Tujuh itu adalah ungkapan dalam bahasa Arab yang artinya banyak, lebih dari satu.

Menurut salah seorang penafsir yang sekaligus merangkap sebagai dukun, gong itu memang tujuh buah. Tujuh gong itu adalah personifikasi dari generasi ketujuh. Hantu! Lagi-lagi generasi ketujuh! Gong-gong itu akan dikembalikan oleh sebuah kelompok misterius melalui gang-gang tersembunyi ke tempatnya semula setelah mendapat restu dan izin dari salah seorang keturunan dari generasi ketujuh. Ando mencoba untuk bertahan dan percaya pada saksi mata itu, tapi nenek tetap bertahan pada jumlah yang sesuai dengan akal pikirannya berdasarkan kepatutan dan kemungkinan.

Gong itu juga menyisakan persoalan lain yang lebih membuat dahi Sinan semakin berkerut jika ikut memikirkannya. Konon, salah satu dari gong itu adalah gong antik; berukir, punya tangkai gantungan kayu cendana. Gong itulah kemudian yang menjadi sumber pertengkaran karena sebelumnya telah dijual diam-diam dengan perbedaan harga yang sangat menyolok. Angka pada kwitansi pembelian dengan jumlah uang yang diterima tidak sama. Terjadi perdebatan antara ketua proyek pembangunan istana dengan panitia pembangunan.

Persoalan menjadi semakin runyam, ketika sebuah acara diadakan yang mengharuskannya memakai gong, pihak panitia pencari gong dengan seorang penjual gong mainan yang selalu berkeliaran di halaman istana, berakhir dengan kericuhan dan hampir berdarah-darah. Mereka bertengkar dan merembet sampai kepada masalah bahasa dan pengucapan; gong-gongan yang berarti gong kecil milik penjual gong diartikan gonggongan oleh ketua panitia yang berarti gonggongan anjing. Beberapa dukun kemudian menengahi pertikaian itu dan meyakini, mudah-mudahan pada generasi ketujuh dari pemilik gong-gong itu nanti, tidak akan ada lagi kekeliruan bahasa dan makna tentang pengucapan kata “gong-gongan” atau “gonggongan”.

Maaf Sinan. Ando melantur kepada masalah bahasa. Akan tetapi Ando tetap konsisten untuk menceritakan tentang peristiwa apa sesungguhnya yang telah terjadi di balik sekawanan gong yang meninggalkan istana saat kebakaran sedang berlangsung itu.

Nenek terus bercerita dan Ando dengan terkantuk-kantuk berusaha tetap duduk mendengarkan. Menurut nenek, sebab lain dari terbakarnya Istano Basa karena beberapa persoalan yang berada di luar kebiasaan yang ada telah diadakan dalam istana. Seorang bekas pejabat tinggi diam-diam membawa sebuah rombongan pada suatu malam ke Istano Basa. Di sana mereka melakukan sebuah upacara agama. Mereka meratap-ratap dan melakukan berbagai kegiatan lainnya yang jauh berbeda dengan upacara adat atau upacara yang lazim dilakukan masyarakat apalagi yang lazim dilakukan di dalam sebuah istana.

Ando terkejut sekali. Siapa yang mengizinkan orang lain boleh mengadakan upacara agama lain di dalam Istano Basa? Nenek menganggap hal ini adalah sebuah kesalahan fatal. Itulah sebabnya, gong yang ada dalam istana itu sewaktu terbakar segera menghilang ke Gunung Bungsu, karena gong-gong itu tidak sudi dipergunakan dalam acara keagamaan demikian. Menurut nenek, gong itu biasa digunakan untuk upacara-upacara adat. Kata nenek lagi, kalau pada suku Dayak gong itu sengaja diinjak-injak untuk sebuah tarian tradisi. Sedangkan bagi masyarakat Minang gong-gong itu dibawa keliling kampung sebagai musik perkusi pengiring kelompok randai yang akan mengadakan pertunjukan pada sebuah lapangan. Tapi gong yang tiga buah itu adalah gong yang sangat sakti dan keramat.

Membingungkan juga apa yang disampaikan nenek soal gong. Nenek tidak menjelaskan berapa besar ukurannya. Apakah gong itu sebesar gong yang paling besar dalam sebuah musik gamelan atau hanya gong-gong kecil saja yang sering digunakan untuk musik talempong? Atau, gong-gongan sebesar onde-onde yang sering dijual pedagang untuk buah tangan para pelancong kembali pulang? Namun nenek dengan tegas mengatakan, bahwa dia tidak peduli dengan ukuran gong itu, karena dia tidak melihat langsung. Namun nenek dengan yakin mengatakan, bahwa masalah gong adalah menjadi persoalan Ando untuk menyelesaikannya!

Ando? Persoalan seperti itu musti Ando menyelesaikannya? Huh! Siapa pula yang punya pikiran demikian. Nenek menambahkan, menurut salah seorang penafsir cerita dan juga seorang dukun, yang dapat mengembalikan gong itu ke tempatnya semula adalah salah seorang cucu perempuan nenek Ando. Cucu perempuan itu pernah menginjakkan kakinya ke jejak telapak kaki Hang Tuah di Melaka. Cucu perempuan itu adalah Ando!

Sinan. Sinan! Apakah dunia ini sudah wale, gila? Memang Ando pernah diajak bapak anak-anak Ando pergi ke Melaka, ke sebuah bukit yang konon di sana ada jejak telapak kaki Hang Tuah. Tapi telapak kaki itu hanya sebelah. Waktu itu Ando berpikir, apakah Hang Tuah yang amat perkasa dan keramat itu berkaki satu? Ando tidak sempat menanyakan dan mempersoalkan berapa buah kaki Hang Tuah seluruhnya, karena Ando segan dengan teman-teman bapak anak-anak Ando yang juga ikut bersama kami. Mereka semua orang Semenanjung. Ando takut mempersoalkan berapa buah kaki Hang Tuah itu, karena mungkin masalah kaki Hang Tuah dapat pula menjadi persoalan yang membuat hubungan diplomatik Indonesia Malaysia akan terganggu.

Malam itu Ando tidak mau berdebat dengan nenek tentang siapa yang berwenang untuk mengembalikan gong itu ke tempatnya semula, walaupun sebelum sholat Isya pikiran Ando diganggu oleh persoalan sekawanan gong berjumlah tujuh buah, yang dapat mengembalikannya adalah generasi ketujuh, dihari ketujuh bulan tujuh. Kenapa tidak sekalian disebut oleh dukun itu Ando harus pula menggosok mata dengan balsem cap bintang tujuh, hantu!

*

Ando baru saja pulang dari bekas bangunan Istano Basa yang terbakar. Entah apa yang mendorong Ando untuk pergi ke sana, tidak jelas pula. Mungkin karena ada perasaan lain dalam diri Ando, tapi itu pun tak dapat Ando pastikan. Mungkin karena Ando tidak mau bingung sendiri pagi-pagi, maka Ando memilih untuk pergi melihat bekas bangunan istana yang terbakar itu. Ya, hanya melihat lihat saja. Sebab, kata orang, banyak peziarah yang datang ke sana sambil menyerahkan bantuan atau sumbangan.

Sewaktu Ando berada di halaman tapak Istano Basa yang terbakar itu, Ando sempat mendengar wawancara yang dilakukan beberapa wartawan dengan seorang datuk dan beberapa pejabat. Seorang datuk, yang dipanggilkan Datuk Lobak, yang sudah beruban rambut dan kumisnya, dengan cengar cengir mengatakan bahwa benda dalam Istano Basa itu telah terbakar. Habis semua. Kita kehilangan benda-benda berharga yang tidak mungkin lagi dapat dicarikan gantinya, kata Datuk Lobak dengan air mata berlinang. Apa yang diceritakan Datuk Lobak itu jauh berbeda dengan isi selebaran yang diedarkan sebelumnya oleh petugas kantor kabupaten. Ando juga diberi selebaran itu.

Sinan jangan mengerutkan dahi dulu. Biarkan cerita Ando sampai ke ujungnya. Datuk Lobak menangis meraung-raung menjelaskan betapa dia kehilangan benda-benda sejarah yang terbakar. Padahal benda-benda itu sudah bertahun-tahun dikumpulkan. Gong yang menghilang itu, kata Datuk Lobak dengan bersungguh-sungguh, adalah gong dari kerajaan Majapahit yang disumbangkan oleh salah seorang anak cucu kerabat dari keturunan raja Majapahit yang tinggal di Jakarta, di Jalan Majapahit.

Ketika wartawan membaca selebaran itu dan mencoba mengkomfirmasikannya kepada Datuk Lobak, datuk yang tadi meraung-raung tiba-tiba berubah wajahnya jadi lucu itu tersenyum terkekeh-kekeh. Seorang wartawan bertanya, kenapa ada botol wiski masuk ke dalam daftar benda-benda sejarah yang ada di Istano basa itu? Apakah raja-raja Pagaruyung masa lalu itu sudah minum wiski?

Maaf Sinan. Ando tidak mau menceritakan apa-apa saja jawaban Datuk Lobak terhadap pertanyaan aneh-aneh para wartawan. Bukan apa-apa. Hanya Ando malu saja, jangan-jangan Sinan menganggap Ando sudah sinting, karena Ando mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Padahal memang begitulah jawaban Datuk Lobak kepada mereka.

Ketika Ando akan meninggalkan halaman tapak istana, seorang perempuan sebaya Ando datang bergegas. Ando kenal sekali perempuan itu. Suaminya salah seorang penjaga Istano Basa. Perempuan sebaya Ando itu menceritakan, bahwa semua barang-barang yang ada di Istano Basa itu semuanya dapat diselamatkan. Bahkan sebuah lukisan dari foto seorang raja Pagaruyung dapat diselamatkan. Ah, Sinan! Inilah yang sesungguhnya yang akan Ando rahasiakan pada Sinan. Datuk Lobak mengatakan dengan serius, bahwa foto raja Pagaruyung adalah foto keramat. Foto itu tidak disentuh api, itulah sebabnya foto itu selamat sampai hari ini.

Ando hanya mengangguk-angguk saja dengan persoalan yang kini mulai mengerubuti diri Ando. Mulai dari masalah gong, masalah ukuran dan jumlahnya saja sudah tidak dapat dipastikan dan harus merujuk ke mana? Begitu juga dengan benda-benda sejarah sebanyak 4500 buah yang habis dimakan api, tidak dapat ditelusuri benar tidaknya. Datuk Lobak tidak memberikan daftar benda-benda sejarah itu ketika diminta oleh wartawan. Datuk Lobak juga mengulang-ulang menceritakan tentang lukisan raja yang tidak hancur dimakan api, padahal Ando sudah terlanjur percaya pada apa yang dikatakan perempuan sebaya Ando itu, bahwa lukisan itu diselamatkan oleh suaminya.

Malamnya, Ando tidak berselera lagi makan, walau nenek telah menyuruh orang-orang membuatkan gulai kesukaan Ando, kalio jariang! Badan Ando panas-panas dingin. Nenek tahu bahwa Ando tidak enak badan. Namun nenek tersenyum melihat Ando menggosok-gosok kepala dengan balsem cap bintang tujuh. Ketika Ando tanyakan, kenapa nenek tersenyum, nenek tetap tersenyum. Memang Andolah cucu nenek, kata nenek yakin. Tentu saja Ando penasaran. Apakah selama ini Ando bukan cucunya? Ah, jangan jangan nenek bergurau lagi.

Ketika Ando terbangun di larut malam, nenek pun bangun. Waktu itulah nenek mengatakan sambil berbisik, bahwa sewaktu Ando tadi tidur, datang seorang laki-laki tua menemui nenek. Lelaki tua itu ingin bicara dengan Ando tapi nenek tidak mau membangunkan Ando. Ando tertidur lelap mungkin karena terlalu letih siang tadi. Kata nenek lagi, laki-laki itu panjang jenggotnya, putih warnanya. Memakai jubah putih pula. Sirrr! Langsung berdiri bulu kuduk Ando. Darah naik ke kepala begitu cepatnya. Jantung Ando berdegup tidak normal. Hup! Hup! Pastilah Labai Panjang Janggut! Orang keramat yang pernah datang beberapa kali dalam mimpi Zaitun! Juga beberapa kali hinggap dalam mimpi Bang Sawan.

Mungkin Sinan tidak percaya pada Ando tapi tidak apa. Yang jelas, malam itu Ando tidak bisa lagi tidur. Ando membayangkan, mengira-ngira, apa yang diinginkan Labai Panjang Janggut pada Ando. Apa Labai itu akan menggiring Ando sebagaimana dia menggiring Zaitun sampai Zaitun merasa yakin bahwa benar-benar telah menemukan sebuah keris warisan? Padahal, keris itu adalah keris hadiah ulang tahun suaminya dulu? Lalu kini, dia menggiring Ando! Apakah Labai itu akan menggiring Ando pula agar Ando sampai pada sebuah keyakinan bahwa gong-gong itu benar-benar menghilang di Gunung Bungsu itu? Ando yakin, dengan kesadaran yang ada pada Ando sekarang, tidak siapapun akan dapat merubah keyakinan Ando, bahwa gong adalah gong! Buatan manusia yang tidak punya kekeramatan apa-apa.

Namun jika hal seperti ini disodorkan dengan paksa kepada Ando, merubah keyakinan yang telah tertancap dalam hati Ando, mungkin melalui nenek atau mimpi, menyesal Ando pulang jadinya. Ando sengaja pulang agar terhindar dari segala persoalan seperti ini. Ternyata sampai di sini pun, Ando mengalami persoalan yang sama. Kadang-kadang timbul dalam pikiran Ando, apakah setiap manusia harus mengalami persoalan-persoalan mistik seperti ini? Apakah setiap orang harus melewati dunia mistik dulu, baru kemudian dapat masuk ke dalam dunia ketuhanan? Artinya lagi, apakah setiap orang harus menembus dunia setan dulu, baru kemudian bisa memasuki dunia ketuhanan? Bukankah semua itu hanya semacam godaan terhadap seseorang yang sedang berbenah diri untuk masuk ke dalam rombongan manusia beriman? Apakah begitu penafsiran dari kejadian Adam dan Hawa memakan buah kuldi di sorga? Dibiarkan dirinya digoda setan dulu, diikuti kenikmatan berbuat dosa dulu, kemudian tobat pada Tuhan, lalu Tuhan menerima tobatnya dan memasukkannya kembali ke sorga? Kantuik abuih! Mistisisme dari aliran mana pula ini!

Agaknya nenek juga merasakan apa yang sedang bergerak dalam pikiran Ando. Beberapa kali nenek memutar badannya menghadap ke arah Ando terbujur letih. Ketika beberapa kali Ando menarik nafas, karena kesal, sakit hati, menyesal, nenek meraba tangan Ando. Sambil meremas tangan Ando, nenek berbisik bahwa tangan Ando inilah nanti yang akan dapat mengambil gong keramat itu dari gunung Bungsu dan sekaligus pula akan menentukan nanti siapa sesungguhnya yang berhak mewarisi semua benda-benda aneh itu. Nenek dengan yakin membisikkan, bahwa Ando ditakdirkan untuk menentukan siapa sesungguhnya dari generasi ketujuh yang akan dirajakan sebagai pengganti, penerima waris dari kerajaan Pagaruyung.

Nah, Ando lagi.

*

Sinan, maafkan Ando. Ada hal yang tertinggal Ando sampaikan. Mudah-mudahan tidak menganggu jalan cerita yang sedang Ando ceritakan ini. Sinan tentu tersenyum simpul mendengar cerita Ando yang tak berkeruncingan ini. Silahkan saja, Ando pun tidak marah. Beberapa persoalan yang sedang berkecamuk dalam kepala Ando kini adalah; apa hubungannya gong yang dikatakan terbang ke gunung Bungsu itu dengan Ando? Apa hubungannya kedatangan Labai Panjang Janggut itu dengan Ando? Apa Labai itu masih tertarik dengan wajah Ando yang sudah mulai berkerut ini? Mau-maunya si Labai itu ikut-ikutan mengintai Ando sejak dari Semenanjung sampai ke Pagaruyung? Juga, kenapa pula Ando yang akan menentukan siapa-siapa pewaris kerajaan Pagaruyung ini? Siapa Ando? Kekuasaan apa yang ada pada Ando? Memangnya Ando ini raja dari sekalian raja? Apa memang kesukaan Ando untuk membagi-bagi kekuasaan yang entah ada atau tidak itu? E, Labai! Ando ini orang realistis. Hal-hal yang imajinatif jangan suguhkan pada Ando, suguhkan pada sastrawan, pengarang atau pada bapak anak-anak Ando, yang suka berpikir aneh-aneh.

Sabar Sinan, sabar! Ando paham apa yang akan Sinan tanyakan pada Ando. Namun, sebelum Sinan mengajukan pertanyaan, dengarlah dulu sedikit lagi cerita Ando.

Setelah tiga hari di Pagaruyung, Ando dan bapak anak-anak Ando pulang. Rindu

semakin tak tertahankan untuk berjumpa dengan anak-anak. Persoalan-persoalan di Semenanjung yang masih menjadi beban pikiran Ando, kini bertambah lagi dengan beban gong-gongan, raja-rajaan, istana-istanaan. Ketika berkumpul dan berdiskusi dengan anak-anak setiap kami selesai makan malam, diskusi kami selalu saja diwarnai dengan hal-hal yag menjadi beban pikiran Ando. Sampai-sampai anak Ando yang bungsu mencemooh Ando, mengatakan bahwa Ando telah terinstitusi dengan hal-hal yang tidak rasional. Ando tidak paham dengan istilah yang dikatakannya, terinstitusi? Bahasa apa pula ini? Apakah si bungsu Ando itu sekedar memamerkan istilah-istilah aneh pada Ando, karena dia baru saja masuk fakultas ilmu sosial dan politik?

Menurut si bungsu Ando, peristiwa terbakarnya Istano Basa adalah sesuatu yang lumrah akibat dari sebuah kecerobohan. Bangunan sebesar dan setinggi itu kenapa tidak dilengkapi dengan penangkal petir. Terbakarnya Istano Basa jangan dikait-kaitkan dengan kekeramatan atau legenda-legenda. Itu adalah ketentuan Tuhan sang Maha Pencipta. Seharusnya, orang-orang sesegeranya dapat mengarifi kejadian ini. Mungkin manusia zaman sekarang sudah banyak melalaikan tugas-tugasnya sebagai khalifatullah di bumi.

Ando menundukkan kepala mendengar si bungsu Ando itu bicara. Ando masih menganggap dia si bungsu, yang hanya pandai minta uang, pergi main basket dan bola kaki, atau pulang malam-malam dari latihan band. Ternyata, sepeninggal Ando di Semenanjung, dalam waktu yang tidak terlalu lama, si bungsu yang rewel itu ternyata telah mulai berpikir tentang hal-hal yang menurut Ando, tidak sesuai antara pemikirannya dengan umurnya. Namun, bagaimanapun Ando bangga, punya anak demikian. Kritikannya yang keras, membuat Ando tertegun untuk memasuki kembali dunia mistik yang sudah mulai menyeret Ando perlahan-lahan.

Dalam suasana bahagia bersama keluarga seperti itu, Ando kembali terusik dengan persoalan generasi ketujuh. Pasalnya, nenek menelepon Ando tengah malam, menyuruh Ando segera ke Pagaruyung. Kalau mungkin, malam ini juga. Di telepon itu nenek bicara seperti orang dikejar setan. Nafasnya sesak, bicara terputus-putus, tidak ada lagi pepatah-petitih, tidak ada lagi ibarat, amsal, pengandaian-pengandaian. Inti dari isi telepon itu adalah, Ando harus ke Pagaruyung. Guna menyelesaikan persoalan gong dan persoalan generasi ketujuh.

Begitulah Sinan, Ando harus ikuti apa yang diperintahkan nenek. Ando ke Pagaruyung dengan persiapan mental yang luar biasa. Apa yang disebut-sebut dalam telepon itu walaupun tidak pasti, tapi Ando telah dapat memperkirakan, bahwa akan terjadi sesuatu pada diri Ando. Dalam perkiraan Ando, sesampainya nanti di Pagaruyung, Ando akan kembali dijadikan detektor seperti yang pernah Ando alami di Terengganu oleh kaum kelurga Bang Sawan, untuk mengetahui di mana gong-gong itu bersembunyi. Berbagai upacara mistik-mistikan akan Ando lalui, suka atau tidak, percaya atau tidak. Ando akan disuruh mendaki gunung Bungsu yang lerengnya penuh batu yang sangat besar. Ando akan tergelincir oleh air sarasah yang mengaliri batu-batu itu. Kemudian Ando terjatuh ke lurah yang tak berair atau terlempar secara mengejutkan ke puncak tak berangin. Lalu semua orang akan memuji-muji Ando sebagai seorang perempuan pemberani seperti layaknya pemberani-pemberani yang muncul gagah perkasa dalam iklan-iklan rokok di televisi.

Ando sampai di Pagaruyung sewaktu magrib hampir habis. Beberapa orang tua yang semuanya Ando kenal sudah menunggu di beranda. Ketika Ando mengucapkan salam pertanda kedatangan Ando, mereka semuanya berdiri dan menyalami Ando dengan takzim. Berdetak-detak bak kian juga hati Ando terhadap cara orang-orang tua itu menunggu kedatangan Ando. Tidak biasanya orang-orang tua itu demikian khusyuknya bersalaman dan bertegur sapa. Seakan mereka bersalaman dengan seorang orang suci yang didatangkan kepada mereka. Namun detak-detak hati Ando, Ando simpan saja. Sebab, Ando harus sesegeranya sembahyang magrib yang sudah hampir lewat waktu.

Malam itu, adalah malam yang amat mengesankan bagi Ando. Setelah sembahyang Isya berjamaah, Ando dan nenek, dikelilingi beberapa orang tua, datuk-datuk duduk melingkar di atas tikar. Salah seorang datuk yang paling tua di antara mereka, sebaya nenek umurnya, bicara perlahan. Bahasanya rapi, suaranya bersih dan bening, persoalan yang diungkapkannya jelas dan terang. Ando dan semua yang hadir semua diam menyimak apa yang disampaikannya.

Menurut Datuk Tuo, begitu datuk itu dipanggil namanya, mengatakan bahwa Ando sebaiknya malam ini menentukan sikap yang jelas. Baik sebagai seorang perempuan yang terpelajar, maupun sebagai seorang Islam yang taat. Ando harus dapat mengatakan ya atau tidak terhadap apa yang akan dilakukan orang besok pagi pada diri Ando. Besok pagi adalah hari yang menentukan, apakah semua orang di Pagaruyung akan menjadi syirik atau tidak. Syirik adalah kata yang menakutkan, perbuatan yang mengerikan. Syirik artinya menduakan keesaan Tuhan. Mempertuhankan sesuatu yang bukan Tuhan. Tuhan tidak akan memaafkan, bila ummatNya berbuat syirik.

Ando tentu saja bingung. Apa sesungguhnya yang telah terjadi selama Ando tidak pulang ke rumah nenek? Dan apa yang akan dilakukan orang besok pagi terhadap Ando? Syirik seperti apa yang dimaksudkan oleh Datuk Tuo? Yang menyesakkan dada Ando adalah, kenapa semua persoalan itu tergantung pada Ando?

Keingintahuan Ando terhadap persoalan yang kini tengah dihadapi terbaca oleh seorang tua yang lain. Setelah hidangan kopi panas dan kue-kue dimakan bersama-sama, orang tua itu, yang selalu dipanggil Datuk Bungsu bicara setelah minta izin kepada Datuk Tuo. Datuk Bungsu menceritakan, bahwa terbakarnya Istano Basa ada hikmah tersendiri. Apa yang menjadi desas desus selama ini, kini baru dapat dibuktikan. Sebuah komplotan telah terbongkar. Tiga orang datuk dari tiga daerah yang berjauhan dengan tiga gelar yang berbeda sedang berkolaborasi untuk mengambil alih hak pewarisan kerajaan. Datuk Bungsu menjuluki ketiga datuk itu, Datuk-datuk Sarangkai Tigo, atau dalam bahasa Indonesia disebut Datuk-datuk Tiga Serangkai. Mereka akan menjadi raja. Rajo Tigo Selo. Rajo Alam, Rajo Adat, dan Rajo Ibadat. Semua pejabat, semua datuk-datuk sudah mereka kumpulkan. Semuanya sudah sependapat bahwa siapa yang dapat menemukan gong yang hilang itu, dialah yang berhak menjadi raja. Tetapi semuanya terhalang. Baru gong itu bisa diambil dari gunung Bungsu apabila ada restu dan izin dari Ando. Itulah sebabnya Ando dipanggil pulang. Diminta ketegasan sikap Ando. Apakah Ando akan mengizinkan dan memberi restu terhadap pencarian gong itu, atau tidak. Jika Ando mengizinkan dan sekiranya gong itu benar-benar ditemukan, tentulah orang yang punya sindikat itu, Datuk-datuk Sarangkai Tigo akan langsung merajakan dirinya menjadi raja Pagaruyung masa depan. Bahkan mereka sudah mengancang-ancang gelaran untuk raja yang bertiga itu, Tribuana Raja! Tiga Raja Pemangku Dunia.

Semakin malam, persoalan yang muncul semakin tak berkeruncingan. Setelah semua menanggapi apa yang disampaikan Datuk Tuo dan Datuk Bungsu, nenek yang sejak tadi tidur-tiduran di tikar sembahyangnya, bangun. Tanpa minta persetujuan siapa-siapa, nenek langsung bicara. Menurut nenek, biang dari persoalan ini adalah persoalan generasi. Istano Basa terbakar, dikatakan sebagai akibat dari tidak adanya pengakuan terhadap seseorang yang mengaku dirinya pewaris kerajaan Pagaruyung. Istano Basa terbakar, karena gong-gong itu tidak diberi pelayanan yang pantas. Orang sekarang melihat gong itu hanya sebagai benda mati, padahal dia adalah juga seperti kita. Rupanya Datuk-datuk Sarangkai Tigo inilah orang yang menemui nenek sepeninggal Ando berkumpul dengan anak-anak, memaksa nenek agar mereka diakui sebagai pewaris kerajaan. Bahkan nenek diancam, jika tidak mau memberikan pengakuan, nenek dengan cucu-cucunya akan dibunuh. Dukun-dukun keramat dan ahli santet telah disiapkan untuk itu. MasyaAllah Sinan! Memang nenek ini berkepala batu. Dia tidak takut diancam akan dibunuh. Bahkan nenek berbalik mengancam, kalau nenek tidak mati dalam tiga hari mendatang, maka sipengancam akan dibunuh nenek pada hari ketujuh! Dengan tersipu nenek menceritakan, bagaimana kagetnya Datuk-datuk Sarangkai Tigo yang mengancam itu terhadap ancaman nenek. Mereka pergi penuh ketakutan. Terburai gelak nenek menutup ceritanya. Nenek si Ando dilawan, lihat dulu siapa cucunya, kata nenek terkekeh-kekeh. Tampak giginya yang masih tinggal tiga di sela-sela bibirnya yang tipis itu.

Sebagai sebuah cerita penglipur lara, memang enak diikuti apa yang telah Ando ceritakan pada Sinan. Namun, cerita Ando ini bukan cerita penglipur lara. Pada hakekatnya Ando tidak bercerita, tetapi melaporkan kepada Sinan, begitu betul orang-orang bisa jadi gila karena ingin jadi raja, pewaris raja, warisan kerajaan dan entah apa lagi. Dalam keadaan semrawut seperti ini, Ando masih lagi sempat mengingat cerita Nur Sutan Iskandar yang berjudul Katak Hendak Jadi Lembu. Juga cerita nenek dahulu ketika Ando masih gadis kecil tentang Kewi-kewi Hendak Jadi Raja. Kesimpulan dari kedua cerita itu sama, yaitu jangan mengambil hak yang bukan hak kita. Jangan memakai baju yang bukan baju kita. Berjalanlah menurut jalan yang sudah dilalui orang terdahulu.

*

Rupanya, ketika asyik-asyiknya para datuk dan orang-orang tua bicara dengan Ando, orang-orang Pagaruyung yang lain terus menyiapkan sebuah upacara yang akan dilangsungkan besok pagi di halaman bekas tapak Istano Basa. Beberapa kali truk besar melintas mengeluarkan bunyi yang memekakkan bercambur baur dengan sorak sorai suara anak-anak muda. Mobil-mobil yang lebih kecil, sepeda motor, silih berganti memecah keheningan Pagaruyung. Ketika orang-orang tua dan datuk-datuk itu kembali ke rumahnya masing-masing, Ando dan nenek masih saja belum bisa tidur. Nenek terus merebahkan badannya di atas tikar sembahyang dan Ando duduk sambil melumuri muka dengan bedak tepung bingkuang.

Nenek memanggil Ando supaya duduk lebih dekat padanya. Ando patuh. Kemudian nenek bercerita, bahwa upacara yang akan disiapkan besok pagi di halaman Istano Basa yang terbakar itu adalah upacara yang pernah dilakukan diam-diam dalam istana tempo hari. Malam ini semua orang muda dikerahkan untuk menghiasi lapangan itu, sebagaimana orang-orang menghiasi tempat upacara persembahyangan masyarakat Bali. Berlinang air mata nenek menceritakan hal seperti ini. Sebuah usaha yang secara sengaja mengaburkan ajaran-ajaran Islam dengan ajaran agama lain. Betapa kacaunya nanti, cucu-cucu keturunan berikutnya akan mendapatkan ajaran agama yang campur aduk. Islam tidak, Kristen bukan, Hindu entahlah, Budha apalagi. Semuanya akan dirangkum dengan sebuah ajaran yang bernama ajaran kasih sayang. Bahwa semua agama itu sama baiknya. Tidak seorangpun manusia yang berhak menganggap bahwa agamanya yang benar. Bagaimana Sinan? Bukankah hal ini kelanjutan saja dari Jaringan Islam Liberal atau sebangsanya? Maaf Sinan, kalau Ando mencontohkan persoalan di Pagaruyung ini punya kaitan dengan jaringan-jaringan seperti itu.

Ando terpurangah juga dengan kecemasan yang diceritakan nenek. Di dalam lubuk hati yang paling dalam, apa yang dicemaskan nenek adalah juga kecemasan Ando terhadap kehidupan keagamaan anak-anak Ando kemudian hari. Akan jadi apa anak-anak Ando kelak? Mungkin sukses kehidupan materialnya, tetapi pasti akan keropos kehidupan rohaninya. Dalam hal ini, Ando sempat beradu mulut dengan bapak anak-anak Ando. Ando tetap berusaha agar anak-anak harus belajar agama secara benar, bukan agama yang bergelemak peak, maksudnya campur aduk. Bapak anak-anak Ando juga maunya begitu, tetapi kami berdua punya cara yang berbeda dalam berekspresi. Setelah beradu mulut itu Ando dan bapak anak-anak Ando sama-sama diam. Sampai pagi. Sebenarnya kecemasan seperti ini sudah Ando sampaikan dulu pada Sinan, tapi Sinan menganggap kecemasan Ando itu kecemasan yang diada-adakan.

Nenek tertidur dalam kecemasannya. Nafasnya naik turun dan sekali-sekali dia mengerang. Ando serasa dilecut beribu cambuk api untuk segera bangkit dan bertindak. Namun Ando tidak tahu, apa yang harus Ando lakukan menghadapi persoalan semacam ini. Diam-diam Ando bangkit dan meninggalkan nenek dalam tidurnya.

Setelah berganti pakaian tidur dengan baju kurung, seledang dan kain sarung bewarna hitam, Ando berjingkat-jingkat ke dapur supaya langkah Ando tidak didengar nenek. Ando meraba dinding samping yang tersuruk di balik pintu, tempat parang dan kapak disisipkan. Sebuah parang yang paling besar Ando renggutkan dari tempatnya. Ando segera ke luar dan berlari dari jendela ke jendela membangunkan beberapa orang yang telah Ando persiapkan sebelumnya. Mereka paham dan segera turun rumah diam-diam mengikuti isyarat yang Ando berikan.

Dalam kegelapan dan hujan rintik-rintik, Ando dan orang-orang itu berjalan bergegas menuju halaman tapak Istano Basa. Luar biasa! Sekeliling halaman dipagari tiang-tiang bambu yang dihiasi janur kuning. Di tengah lapangan ada sebuah pangung kecil tempat upacara. Beberapa pekerja masih mondar mandir mendandani tempat upacara itu sambil menjinjing lampu sromking. Kami sudah tidak sabar untuk segera merusak tempat itu dan kalau perlu membunuh pekerja yang masih juga berjalan hilir mudik. Namun orang-orang ini belum berani bertindak sebelum ada perintah dari Ando.

Beberapa saat kemudian, datang dua buah sedan dan langsung berhenti di dekat panggung kecil. Beberapa orang lelaki turun dan masing-masing beriringan menaiki panggung. Tangan-tangan mereka bergerak ke sana ke mari, seakan orang sedang berbicara. Ketika sekilas petir menerangi tempat itu, tampak wajah orang-orang yang berdiri di atas panggung. Ando terkejut. Datuk-datuk Sarangkai Tigo! Merekalah yang telah mengancam dan memaksa nenek untuk mengakui mereka sebagai raja Pagaruyung. Wajah-wajah bertampang licik dan sekaligus menakutkan.

Ando sudah tidak dapat lagi mengendalikan diri. Ando sinsingkan kain sarung dan Ando hunus parang. Ke luar dari persembunyian dan berlari menuju panggung tempat orang-orang itu berdiri. Orang-orang pun mengiring Ando. Namun, belum sampai Ando di dekat panggung itu, kedua sedan tadi sudah meluncur meninggalkan halaman istana. Menghilang entah ke mana. Tanpa dapat dicegah lagi, orang-orang yang ikut dengan Ando segera merusak semua tatanan lapangan upacara itu. Semuanya bekerja begitu cepat. Setelah semuanya porak poranda, kami meninggalkan lapangan dan diam-diam kembali ke rumah masing-masing.

Ketika Ando membuka pintu, terdengar suara nenek memanggil Ando. Ando segera masuk dan menukar pakaian yang sudah basah kuyup secepat kilat dan merangkak untuk tidur di samping nenek. Nenek tahu kedatangan Ando yang menyelinap masuk. Dia duduk dan memandang sekeliling ruangan kamar. Dipandangnya Ando dengan nanar. Dirabanya kaki, tangan, dahi dan rambut Ando. Terdengar suara nenek seperti berbisik. Dia seakan bicara pada dirinya sendiri. Belum juga berubah kelakuannya, bisik nenek sambil menyelimuti Ando. Memang begitu kalau kita mau mempertahankan sesuatu yang haq, bisik nenek lagi sambil merebahkan badannya di samping Ando.

*

Ando tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah peristiwa malam itu, karena pagi-pagi sekali Ando telah berangkat meninggalkan Pagaruyung, sebagaimana kesepakatan Ando dengan orang-orang tua dan datuk-datuk. Ando tidak akan menghadiri upacara pemberian restu untuk dapat memperoleh gong-gong yang keramat itu. Sesampainya di rumah, Ando demam. Bapak anak-anak Ando menyesali perbuatan Ando yang sangat ceroboh dan konyol itu. Ando diam saja dan minta maaf. Ando katakan, bahwa apa yang Ando lakukan adalah sebuah perjuangan keyakinan. Bapak anak-anak Ando mengangguk membenarkan tindakan Ando dan memberikan dukungan dengan membelai rambut Ando yang sudah mulai ditumbuhi uban satu satu.

Ketika sore hari Ando dan si bungsu Ando duduk di teras berdiskusi persoalan kesulitan orang muda sekarang dalam mencari tokoh rujukan yang ideal, datang seorang dosen teman lama Ando. Dia mengantarkan undangan. Penting sekali katanya. Setelah Ando baca, ternyata undangan pembukaan Pameran Gong Nusantara. Apa pentingnya undangan itu bagi Ando. Namun untuk menghargai teman yang mengantarkan undangan itu, Ando sambut ajakannya untuk hadir pada acara pembukaan itu. Ketika akan pergi, teman Ando itu sempat membisiki agar Ando bersiap-siap juga berpidato sepatah dua dalam acara itu nanti, karena akhir-akhir ini Ando diketahuinya punya perhatian yang sangat besar terhadap gong.

Waduh Sinan! Luar biasa sekali! Entah ilmu apa yang tiba-tiba hinggap ke benak kepala Ando, pidato Ando tentang gong dalam acara pembukaan pameran itu mendapat tanggapan yang mengejutkan dari beberapa pakar gong. Mereka yakin sekali, bahwa Ando benar-benar menguasai seluk beluk kepemilikan gong yang disebut-sebut menghilang ke Gunung Bungsu ketika Istano Basa terbakar. Mereka sangat yakin, bahwa melalui Andolah nanti gong-gong keramat yang menghilang itu dapat kembali. Macam-macam! Pujian, rayuan tersembunyi, termasuk juga penjilatan dan ambil muka, mereka sampaikan pada Ando dengan berbagai bentuk garis bibirnya masing-masing. Ando sudah muak dengan hal-hal demikian. Padahal dalam pidato itu Ando hanya mengatakan bahwa bagaimanapun juga bentuk dan ukurannya, dari bahan apapun juga, seperti apapun bau dan aroma gong itu, sebuah gong adalah gong. Tidak mungkin gong akan jadi gonggongan. Atau gonggongan akan jadi gong. Persis sebagaimana Ando bicara soal keris dengan Zaitun sewaktu Ando masih di Semenanjung dulu, bahwa sebuah keris adalah sebuah keris!

Mungkin sekali orang-orang yang hadir dalam pameran itu sudah tidak mengerti lagi dengan kata gong, sehingga aneh bagi mereka ada pikiran rasional yang mengatakan sebuah gong adalah sebuah gong. Sebab, saat ini kata-kata sudah banyak berubah makna.

Dalam keadaan mereka bingung demikian, Ando menyelusup di antara orang-orang yang sedang minum kopi dan teh sambil berdiri itu. Ando menyerobot masuk ke ruangan pameran. Penjaganya tidak berani menegur Ando, karena mereka tahu bahwa Ando telah ikut pidato tadi, sangka mereka tentulah Ando bukan sembarang orang.

Ando berkeliling menyaksikan pameran itu seorang diri, sementara yang lain masih terlibat di ruang pembukaan dengan berbagai diskusi, apakah gong itu benar-benar gong. Ando ingin mencari, kira-kira seperti apa gong yang dikatakan nenek. Setelah semuanya Ando teliti, ternyata tidak semua gong itu bundar dan tidak semua yang bundar itu gong. Gong-gong itu ada yang bulat panjang, segitiga, segilima dan segi-segi lainnya. Kini Ando menyadari bahwa bila kita mau bicara tentang gong, mestilah dijelaskan dulu, gong yang dibicarakan itu gong yang mana? Bentuknya bagaimana? Pokoknya, semua harus diidentifikasi dulu. Kalau tidak, mungkin Ando bicara tentang sebuah gong yang bulat, sedangkan Sinan memahami gong itu adalah sebuah gong persegi.

Ando semakin jadi penasaran terhadap apa yang Ando cari. Tidak satupun gong seperti yang dikatakan nenek. Entah apa pula yang membangkitkan Ando jadi kesetanan waktu itu, sehingga Ando bertekad untuk mencari gong itu sampai dapat. Masa mencari sesuatu yang pernah ada saja tidak bisa. Bagaimana kalau nanti disuruh membuatnya, tentu semakin tidak bisa. Tanpa menoleh kiri kanan lagi, Ando ke luar dari ruang pameran. Ando terus pergi ke toko-toko souvenir, ke pasar loak, ke sanggar-sanggar musik tradisi. Memang banyak gong yang Ando temui, tetapi satupun tidak ada yang keramat. Semua gong, rata-rata, setelah dipukul baru gong itu mengeluarkan bunyi.

Kegelisahan Ando terhadap keinginan untuk mendapatkan gong sebagaimana yang Ando inginkan bertambah-tambah. Bapak anak-anak tahu akan sifat Ando demikian. Dia perlepas saja keinginan Ando untuk mencari gong. Langkah baik sekali, seminggu kemudian ada Seminar Gong. Ando dengan berbagai cara berusaha mendapatkan undangan seminar itu. Walaupun Ando harus mengeluarkan sejumlah uang sebagai peserta, bagi Ando tidak persoalan. Sebab, otak Ando, sekarang sedang dirasuki gong.

Sebelum memasuki ruangan seminar, Ando telah diberi seminar kit berbentuk gong. Di dalamnya berbagai makalah tentang gong. Kalau tidak salah hitung, dua puluh enam makalah yang ditulis oleh pakar gong dari dalam dan luar negeri. Seminar berlangsung alot, keras dengan hentakan-hentakan persoalan yang muncul pada setiap gong dibicarakan. Berbagai pertanyaan muncul seputar gong. Adakah beda gong yang dibunyikan atau dipukul oleh perempuan dengan gong yang dipukul laki-laki? Di mana letak bedanya? Pada kuat lemah bunyinya, pada gaung suaranya, pada nadanya atau pada puting gong itu sendiri yang selalu dipukul-pukul? Ada juga muncul masalah, penggunaan gong untuk setiap daerah apakah sudah dituangkan dalam sebuah undang-undang otonomi? Apakah perlu sentralisasi dalam mencari bentuk gong secara nasional. Banyak sekali hal yang rumit dan pelik, namun Ando hanya tertarik pada sebuah kesimpulan dari seminar yang bertele-tele itu; bahwa tidak ada yang hilang di alam semesta ini. Jika sebuah gong hilang, sebenarnya itu bukan hilang, tetapi berubah lokasi tempat gong itu menetap. Semacam orang pindah rumah karena rumah yang lama sudah lapuk atau sudah dihanyutkan gelombang pasang.

Akhirnya Ando menjadi kesal dengan kesimpulan yang tak berkeruncingan itu. Jika gong itu tidak hilang, tidaklah. Jika gong itu bertukar tempat, bertukarlah. Sebab, Ando punya kesimpulan lain. Sesuatu yang hilang akan tetap hilang, seperti dendang-dendang yang pernah dikumandangkan bapak anak-anak Ando dulu ketika dia belum menjadi bapak anak-anak Ando;

Hilang Sinyaru tampak Pagai

Hilang di lamun-lamun ombak

Hilang si bungsu dek parangai

Hilang di mato urang nan banyak.

*

Ando baru saja selesai mem-print out makalah tentang peranan perempuan dalam menentukan harta warisan menurut adat budaya Minangkabau, yang akan Ando sampaikan dalam talk-show sebuah televisi swasta. Agak gugup juga Ando menyiapkan diri untuk acara semacam itu. Ando bayangkan betapa sulitnya nanti, jika dalam acara interaktifnya ada yang menanyakan, bagaimana jika warisan itu sebuah gong? Apakah akan tetap mengikuti aturan adat, dari mamak ke kemenakan, atau menurut hukum faraidh, dari ayah ke anak. Apakah sebuah gong warisan termasuk ke dalam aturan hukum adat untuk tidak boleh dijual atau digadai. Apakah gong itu bagian dari budaya Minangkabau, atau semacam budaya asing yang dipaksa-paksakan memakainya dalam berbagai upacara resmi? Apakah seniman gong juga dapat diusulkan sebagai jasawan daerah atau diangkat menjadi Pahlawan Nasional? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang akan Ando jawab. Gugup Ando, benar-benar gugup. Tapi Ando lebih gugup lagi ketika Datuk Bungsu tiba-tiba membuka pintu depan rumah Ando dan langsung menyampaikan persoalan dari Pagaruyung.

Datuk Bungsu sengaja datang tergesa karena ada persoalan yang tengah terjadi. Datuk-datuk Sarangkai Tigo yang sejak dulu ingin sekali untuk diakui menjadi pewaris raja, sudah kalap dan mengacaukan peradatan yang ada. Mereka akan memberi sejumlah uang kepada siapa saja yang mau mengangkat diri mereka menjadi datuk, dengan syarat mereka harus mengakui Datuk-datuk Sarangkai Tigo menjadi raja. Sudah ada seorang penganggur yang bersedia untuk itu. Datuk-datuk Sarangkai Tigo berusaha siang malam melanjutkan usahanya dengan mempengaruhi setiap datuk di kampung-kampung lain agar mereka juga mengangkat datuk baru yang mengaku takluk di bawah Datuk-datuk Sarangkai Tigo. Datuk Bungsu juga menambahkan, bahwa Datuk-datuk Sarangkai Tigo itu sudah berkeliling negeri meyakinkan raja-raja nusantara, bahwa mereka adalah pewaris raja Pagaruyung yang sah, tanpa lebih dulu harus memiliki gong atau menunggu gong yang hilang itu kembali. Mereka dengan berbagai cara berusaha meyakinkan setiap orang, bahwa masing-masing dari Datuk-datuk Sarangkai Tigo itu, satunya akan dinobatan menjadi Raja alam, satunya lagi menjadi Raja adat dan satunya lagi Raja ibadat.

Mendengar apa yang disampaikan Datuk Bungsu, Ando tenang-tenang saja sambil melulur kegugupan yang akan Ando alami nanti ketika talk-show berlangsung. Soal Datuk-datuk Sarangkai Tigo itu mau jadi raja, terserah saja. Apa peduli Ando dengan keinginan orang-orang aneh demikian. Bila seseorang ingin beli pizza, belilah pizza. Kalau memang ada orang yang ingin jadi raja, jadi rajalah dia. Kalau perlu mereka terus menganggap dirinya Raja Iskandar Zulkarnain sekalian. Jadi, tidak perlu benar dipermasalahkan, apakah sang raja itu diakui orang banyak atau tidak, sesuai dengan aturan adatnya atau tidak, apakah memang pantas mereka menjadi raja atau tidak, atau, apakah ada rakyatnya atau tidak. Namun Datuk Bungsu tetap bertahan mengatakan, bahwa bagaimana bisa masuk akal, bila seorang bergelar datuk boleh jadi raja? Aturan adat mana yang mereka pakai? Datuk ya datuk. Raja ya Raja. Kalau ada datuk hendak jadi raja, itu sama artinya dengan seekor katak hendak jadi lembu. Bagi Datuk Bungsu, apa yang dikerjakan oleh Datuk-datuk Sarangkai Tigo itu adalah pekerjaan orang yang tidak waras. Kalau mereka belum mendapatkan gong yang hilang itu, lalu memproklamirkan juga dirinya sebagai raja, itu sama saja artinya dengan gonggongan. Kalau ada raja yang hanya pandai menggonggong, itu artinya raja gonggongan dan yang selalu menggonggong itu biasanya anjing. Hanya anjinglah yang suka menggonggong. Apa Datuk-datuk Sarangkai Tigo mau jika dijuluki Raja Anjing, tanya Datuk Bungsu dengan suara melengking-lengking.

Ando tersenyum saja mendengar bagaimana Datuk Bungsu bicara begitu keras dan kasarnya karena tatanan adat yang ada mulai diporak-porandakan oleh orang lain. Sebenarnya Ando jauh hari sudah tahu akan hal itu. Seorang teman Bapak anak-anak Ando, yang bekerja di Departemen Dalam Negeri di Jakarta mengirimkan sebuah majalah yang diterbitkan oleh kantor departemen itu. Majalah itu menjadi menarik bagi Ando, karena di dalamnya ada tulisan hasil dari wawancara wartawannya dengan salah seorang dari Datuk-datuk Sarangkai Tigo. Dalam tulisan itu dijelaskan, bahwa mereka, Datuk-datuk Sarangkai Tigo itu adalah pewaris kerajaan yang sah. Ando beragu hati untuk menyampaikan isi majalah itu kepada Datuk Bungsu. Jangan-jangan dia akan semakin kalap, kalaulah tidak stres dengan kegilaan dunia yang kini sedang berlangsung.

Gong masih belum kembali dari gunung Bungsu. Gong itu masih belum juga dapat dipastikan, apakah memang ada atau tidak. Beberapa orang yang merasa keturunan generasi ketujuh sudah mulai beraksi untuk merebut mahkota raja yang entah ada atau tidak pula. Persoalan semakin hari semakin membesar, karena melibatkan banyak orang-orang pensiun yang dulunya ternama, namun masih bernafsu untuk tetap dihormati dan dipuja. Ditambah lagi dengan beberapa orang yang tidak sepantasnya menjadi datuk berusaha menjadi datuk atas bujuk rayu Datuk-datuk Sarangkai Tigo untuk kepentingan-kepentingan pribadi tertentu.

Ketika salah seorang dari Datuk-datuk Sarangkai Tigo membuat komentar pada sebuah surat kabar, bukannya keributan yang bertambah-tambah, justru jadi beralih menjadi bahan tertawaan dan olok-olok. Salah seorang dari datuk itu mengatakan dengan sinis, bahwa yang penting saat ini bukan gong, bukan siapa pemilik gong. Apalagi kalau kepemilikan itu ditentukan oleh seorang perempuan yang tidak mengerti dengan masalah gong. Persetan dengan gong! Persetan dengan kepemilikan!

Kemudian, salah seorang datuk itu lagi mengatakan, bahwa gong itu tidak menghilang ke Gunung Bungsu, tetapi ke Sungai Rimbang! Sungai Rimbang adalah sebuah sungai kecil yang mengalir di belakang kandang ayam datuk itu. Mendengar kata Sungai Rimbang itu Ando tertawa terpingkel-pingkel. Ando tahu betul Sungai Rimbang itu seperti apa, karena dulu pernah ke sana sewaktu kuliah kerja nyata. Ke Sungai Rimbang larinya gong itu? Mengapa gong itu ke sana? Mau mencuri ayam di kandang datuk itu? Atau, mau mandi bunga?

Datuk yang satunya lagi, yang lebih berambisi untuk jadi raja mengumumkan dalam sebuah jumpa pers, bahwa gong yang dipertikaikan itu sudah berada di tangannya. Diantarkan oleh seorang keramat dalam mimpinya. Bukti bahwa gong itu benar-benar keramat adalah, setelah datuk ini bangun, gong itu tidak ada lagi dalam genggaman. Benar-benar karamat kan, tanyanya kepada para wartawan yang kebingungan.

Ketika Ando ke Pagaruyung lagi menemui nenek, Ando ceritakan soal pemberitaan tentang Datuk-datuk Sarangkai Tigo yang dimuat oleh surat-surat kabar itu kepada Datuk Bungsu. Sinting, seru Datuk Bungsu sambil ngakak.

Nah, sekarang Ando minta pendapat Sinan terhadap kegilaan ini. Pertanyaan pertama Ando adalah; bagaimana menurut penilaian Sinan kondisi kejiwaan dan pikiran dari datuk-datuk yang tergabung dalam Datuk-datuk Sarangkai Tigo yang mau mengangkat diri mereka menjadi pewaris raja itu? Apakah mereka dapat dikategorikan sebagai orang-orang pensiunan yang benar-benar stres karena kehilangan pangkat dan penghormatan? Atau, mungkinkah Tuhan sengaja memberikan umur yang panjang kepada mereka, supaya mereka terus menjadi sinting dan akhirnya meninggal dalam kesintingannya?

Pertanyaan kedua Ando kepada Sinan adalah; kalau Datuk-datuk Sarangkai Tigo itu sudah mengklaim diri mereka sebagai raja, buat apa mereka masih kasak-kusuk dengan gong-gong yang entah berantah itu? Mereka berteriak tidak perlu gong, tapi dari nada teriakannya itu mereka benar-benar mengharapkan dapat memiliki gong. Apakah kelakuan mereka seperti itu dapat disamakan dengan maling berteriak maling?

Pertanyaan ketiga adalah, tunggu Sinan! Itu ada tamu yang datang. Ya Allah, Sinan! Zaitun, Palma dan anak beranak dari Semenanjung! Mereka membawa cerana! Tenang Sinan, tenang! Lihat pada mobil yang satunya lagi. Ya Rabbi! Bang Sawan dengan saudara-saudaranya dari Terengganu!

Maaf Sinan. Tunggu sebentar. Biar Ando persilahkan tamu-tamu Semenanjung kita ini masuk. Kalau Ando tidak mempersilahkan demikian, bisa-bisa Ando akan dianggap sebagai perempuan Minang yang tidak punya sopan santun dan basa basi.

Waalaikum salam! Waalaikum salam!

Welkam! Sabas! Datang mengejut ya!

Tak payah basuh kaki!

*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: