Oleh: Wisran Hadi | 21 September 2008

GENERASI KETUJUH (Bagian Kelima)

5. KISAH NASKAH-NASKAH TUA

Walaupun Istano Basa sudah hampir tiga bulan terbakar dan semua debu pembakarannya sudah hilang dihanyutkan hujan dan keping-kepingan kayu yang masih tertinggal sudah dibenam rengkahan tanah akibat gempa, namun persoalan siapa sesungguhnya yang berhak ditetapkan sebagai generasi ketujuh, semakin mencuat ke permukaan. Datuk-datuk Sarangkai Tigo masing-masing berusaha agar salah satu dari mereka segera diakui dan dinobatkan sebagai ahli waris raja.

Mencuatnya persoalan ini disebabkan adanya rencana dari pemerintah daerah bersama perantau Minang untuk bahu membahu membangun kembali Istano Basa. Bahkan direncanakan akan diletakkan batu pertama dalam waktu yang tidak terlalu lama. Itulah sebabnya masing-masing datuk dari Datuk-datuk Sarangkai Tigo berusaha segera diakui sebagai pewaris raja, karena siapa yang jadi pewaris tentulah akan hadir bersama tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah dalam acara yang sakral dan penting itu. Pewaris itulah nanti yang akan menerima segala sembah dari segala ummat manusia se-Alam Minangkabau yang hadir waktu itu.

Setiap datuk dari Datuk-datuk Sarangkai Tigo saling berpacu untuk segera diakui. Layaknya pemilihan kepala daerah. Masing-masing punya tim sukses dan punya orang-orang yang dapat menggerakkan massa. Walaupun ketiga datuk itu satu sama lain saling berlawanan, tetapi di depan umum mereka tetap berusaha tampak akrab, mesra dan bersatu dalam sebuah sindikasi tersembunyi. Padahal masing-masingnya berusaha untuk merebut kedudukan tertinggi dari jabatan raja yang tersedia. Jabatan tertinggi adalah Raja Alam, kemudian Raja Adat seterusnya Raja Ibadat.

Persaingan antara ketiga datuk itu sudah menjadi rahasia umum, bahwa mereka telah menyusun silsilah raja-raja Pagaruyung yang pada akhirnya dalam silsilah itu akan ada nama mereka. Hanya itulah cara yang dapat dilakukan untuk sebuah pengakuan. Tanpa silsilah, bagaimana mungkin pihak lain tahu bahwa seseorang keturunan raja atau tidak. Sedangkan di Yunani sana, dewa-dewa pun punyai silsilah yang jelas, walau semua tokoh dewa-dewa itu adalah mitos, yang entah ada entah tidak dan bertempat di negari antah berantah pula.

Ando yang tidak punya kaitan sama sekali dengan datuk-datuk itu juga diseret untuk ikut terlibat dalam kebegalauan demikian. Ando dikatakan sebagai perempuan yang entah siapa, telah berani-beraninya mengatakan di surat kabar bahwa pewaris raja yang sah itu bukanlah Datuk-datuk Sarangkai Tigo. Namun Ando tetap saja tidak mau terlibat karena semua itu adalah pekerjaan sia-sia. Dulu memang ada kerajaan Pagaruyung tapi sekarang tidak berdaulat lagi. Kalau ada pewarisnya yang sah, hal itu lumrah saja, karena setiap kaum pasti ada keturunannya, setiap pusaka pasti ada pewarisnya. Kalau tidak ada, tentu sudah sejak dulu diboyong Belanda dan meletakkan di musium negeri itu. Tapi karena ada pewarisnya, Belanda tidak berani berbuat sesukanya. Bahkan Belanda terpaksa memberikan penghormatan kepada ahli waris kerajaan itu berupa bantuan uang setiap bulan kepada mereka. Dengan demikian, Ando berpikir, tentu tidak masuk akal, ada pula pihak lain dalam hal ini Datuk-datuk Sarangkai Tigo yang mengaku-ngaku sebagai pewaris yang tujuan utamanya adalah merampok hak pewarisan itu, sementara mereka secara apapun juga, turunan darah maupun secara adat, tidak kena mengena sama sekali. Mereka hanyalah orang-orang ambisius yang mencoba mengelabui masyarakat.

Pernyataan Ando demikian yang dimuat beberapa surat kabar dengan berbagai versi mereka pula, ternyata telah memancing kemarahan Datuk-datuk Sarangkai Tigo. Untuk memberikan bantahan secara langsung mereka tidak berani. Takut kalau nama-nama mereka diketahui umum dan menjadi bahan tertawaan, apalagi mereka tidak terlatih untuk menuliskan pikirannya sendiri-sendiri. Kalaupun dulu mereka adalah tokoh-tokoh yang hebat berpidato, itu dikarenakan pidatonya disusun oleh stafnya sendiri. Mereka tak lebih daripada seorang aktor sandiwara yang unggul dalam menghafal teks saja. Orang-orang yang mendengar tentu saja diam, karena yang berpidato adalah atasan, pejabat tinggi negara dan sebagainya. Lalu, untuk menjawab pernyataan Ando itu masing-masing datuk terpaksa menyewa beberapa penulis. Hampir sebulan lebih surat kabar memuat berbagai tanggapan, yang pada intinya adalah, bahwa mereka bertigalah yang punya tetesan darah biru. Bahkan mereka mau menguji, darah siapa yang lebih biru daripada darah mereka. Bagi Ando apa peduli. Mau biru kek, hijau kek, abu-abu kek darahnya terserah mereka saja. Ando hanya mengatakan apa yang Ando yakini, menjelaskan apa yang harus Ando jelaskan. Soal siapa yang akan menjadi pewaris raja, tidak ada urusan Ando dalam hal itu.

Walau bagaimanapun juga Ando tidak mengacuhkan kebegalauan demikian, hari ke hari Ando menjadi panik juga. Apalagi Datuk-datuk Sarangkai Tigo begitu ngototnya mengatakan bahwa pewarisan raja itu tergantung pada silsilah keluarga. Silsilah keluarga mereka sudah menetapkan bahwa merekalah yang berhak menjadi pewaris raja.

Dalam kondisi seperti inilah Ando ingin bertemu dengan Sinan. Ando ingin berdiskusi dengan Sinan perihal pewarisan, keturunan raja-raja, keinginan untuk jadi raja, karena semua itu melibatkan orang-orang yang tidak bisa dibilang bodoh. Mereka adalah mantan birokrat, mantan pejabat tinggi negara, tehnokrat, yang semestinya tidak punya pemikiran ke arah pewarisan-pewarisan semu demikian. Apalagi Datuk-datuk Sarangkai Tigo itu adalah orang-orang tua yang mengaku sebagai orang Minang yang berbudaya demokatis, egaliter, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Berakhlak mulia dengan patron adat Minangkabau yang termashur, adat basandi syara’, syara basandi kitabullah.

Sinan kan tahu, sebagaimana pernah Ando sampaikan dulu, orang Minang sekarang adalah orang Minang yang sudah sangat modern. Mereka tidak acuh lagi dengan adat dan budayanya. Mereka hidup sebagaimana orang lain hidup. Sulit dibedakan apakah seseorang itu orang Minang atau bukan. Soal sejarah, kerajaan Minangkabau atau kerajaan Pagaruyung selalu mereka anggap sebagai mimpi-mimpi orang-orang tua yang berpikiran legendaris.

Akan tetapi, apa yang dilakukan orang Minang itu sehari-hari, dalam berbagai upacara perkawinan misalnya, mereka buat sedemikian rupa seakan upacara perkawinan itu adalah perkawinan raja-raja dan para bangsawan. Mereka habis-habisan membuang uangnya hanya untuk kepentingan kebanggaan-kebanggaan semu. Setiap orang yang terlibat dalam hal demikian, membayangkan dirinya adalah raja-raja, penghulu-penghulu, pangeran-pangeran, yang semua itu tidak lebih dari sebuah kerabang dari kepompong yang sudah akan menjadi kupu-kupu kemoderenan.

Sinan kan pernah Ando ajak menghadiri sebuah upacara perkawinan di hotel berbintang, sebelum Ando dan bapak anak-anak Ando pergi mengajar ke Semenanjung dulu. Bagaimana? Megah, meriah, glamor dan wah, bukan? Waktu itu sulit kita membedakan, apakah kita sedang berada dalam sebuah acara adat orang Minang yang terkenal demokratis, egaliter dan merakyat itu atau kita sedang berada dalam sebuah upacara dewa-dewi di negeri antah berantah? Namun, jika kita sempat mengunjungi rumah asli mereka, di mana tempat mereka dilahirkan dulu, kita akan sedih. Lahir di rumah buruk, di ujung kampung, ayah ibunya kerja ke sawah dan ke ladang, tidak diapa-siapakan. Hanya dalam beberapa tahun berselang, mereka naik daun, jatuh asap, menjadi pejabat-pejabat, mereka muncul sebagai bangsawan Minangkabau. Berdiri berkacak pinggang melihat orang-orang dengan keangkuhan yang luar biasa. Seakan orang-orang yang datang ke pesta perkawinan itu adalah hamba sahaya, budak-budak belian semata.

Hal semacam inilah yang membuat Ando gelisah, Sinan. Soal siapa yang akan jadi pewaris raja, terserahlah. Akan tetapi kalau setiap orang Minang sudah mulai melupakan asal usulnya dan dengan kesadaran tanpa rujukan melangkah memasuki kehidupan kebangsawanan-kebangsawanan semu, adalah sebuah penipuan yang tak dapat dimaafkan. Jika mereka menipu orang lain misalnya, mereka bisa minta maaf kepada orang itu. Tapi kalau mereka menipu diri sendiri, kepada siapa mereka akan minta maaf?

Datuk-datuk Sarangkai Tigo bukanlah sembarang datuk. Namun, apa yang mereka lakukan sangatlah menyedihkan. Tidakkah sebaiknya mereka tetap saja mempertahankan diri sebagai tokoh-tokoh masyarakat yang mungkin akan menjadi contoh bagi anak kemenakan, orang kampung dan masyarakat lingkungannya? Kenapa mereka masih bermain di ujung buih gelombang yang selalu gelisah sebelum dihempaskan ke pantai? Mereka kini menghasut masyarakat, meyakinkan masyarakat bahwa merekalah pewaris raja. Ando khawatir, jangan-jangan orang setua itu sudah maninggakan parangai, meninggalkan tanda-tanda akan mati, sebagaimana yang selalu dikatakan bapak anak-anak Ando bila melihat kelakuan orang-orang tua berperangai aneh-aneh.

Sinan boleh tidak setuju dengan kecemasan Ando ini. Namun apa yang Ando sampaikan pada Sinan, bolehlah dikata sebagai ungkapan keprihatinan masyarakat banyak terhadap apa yang sedang dilakukan tokoh-tokohnya. Masyarakat banyak saat ini sudah merasa letih, mual dan kesal terhadap tingkah laku dan tindak tanduk orang-orang yang sepantasnya jadi contoh ternyata tidak bisa dicontoh. Orang-orang tua yang berkoar-koar tentang kejujuran, kemurnian dan kedewasaan, ternyata yang mereka saksikan hanyalah bocah-bocah yang sudah berumur hampir tujuhpuluh tahun. Seperti apa yang dikatakan orang di Pagaruyung, bila kita sudah baun tanah, maksudnya bila kita sudah beraroma kubur, hiduplah dengan baik dalam menunggu ajal. Jangan berbuat macam-macam lagi.

Bagaimana Sinan? Kenapa Sinan diam? O, mungkin Sinan sedang mencari alasan untuk dapat memberi jawab. Silahkan.

*

Zaitun, Palma anak beranak sudah kembali ke Semenanjung. Mereka hanya sekejap saja ke Pagaruyung. Mereka ziarah, karena menurut mereka terbakarnya Istano Basa adalah malapetaka yang dahsyat. Mereka membawa uang sumbangan. Ketika Ando singgung-singgung soal keris yang menghebohkan mereka itu, Zaitun hanya tersenyum. Dibisikkannya pada Ando, sangat tidak tepat waktunya bicara soal keris dalam keadaan duka nestapa ini. Tak payahlah, terdengar suaranya ke luar dari bibirnya yang semerah lado itu. Padahal Ando sudah kehilangan akal, bagaimana meyakinkan nenek, kalau Zaitun benar-benar ingin mempersandingkan kerisnya dengan keris pusaka yang ada dalam peti sejarah nenek.

Bang Sawan dan adik-adiknya juga demikian. Mereka membawa sumbangan untuk membantu membangun kembali Istano Basa. Mereka pagi sekali sudah langsung berangkat ke bandara. Sempat juga Bang Sawan mengambil segenggam tanah pekuburan sebagai kenang-kenangannya pernah datang ke Pagaruyung. Ketika Ando tanyakan apakah Bang Sawan jadi akan meminjam linggis Pagaruyung untuk menggali harta karun yang tersimpan di bawah tangga Istana di Terengganu, Bang Sawan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tak payah, katanya sambil mengibaskan tangannya arah ke tapak Istano Basa. Bila-bila masa, bisiknya.

Ando tidak tahu kepada siapa mereka serahkan sumbangan-sumbangan itu, karena mereka memberi tahu Ando setelah mereka kembali berkunjung dari tapak Istano Basa. Di sana memang banyak disediakan peti-peti sumbangan. Yang penting bagi Ando adalah, jika apa yang diinginkan Zaitun dan Palma atau yang diinginkan Bang Sawan benar-benar ditagih pada Ando dalam waktu seperti sekarang, maka Ando akan terpurangah sendiri. Di Pagaruyung, Ando hanya salah seorang dari tujuh cucu nenek. Ando tidak punya kuasa apa-apa, kecuali di rumah Ando. Kalau di rumah Ando sendiri memang, semua Ando yang punya. Suami, suami Ando. Anak-anak, anak-anak Ando. Rumah, rumah Ando. Kamar, kamar Ando. Jika jambu di halaman rumah Ando berbuah, itu jambu Ando. Semuanya Ando punya.

Sebagaimana yang dijanjikan Bang Sawan sebelum dia kembali ke Terengganu, bahwa akan ada saudara-saudara dua-pupunya akan datang ke Pagaruyung, memanglah, seminggu kemudian datang dua orang yang dikatakannya itu. Kedua orang itu adalah pebisnis yang juga pencinta sejarah, pengumpul silsilah raja-raja Nusantara. Mereka datang untuk mendapatkan silsilah raja-raja Pagaruyung. Mereka sedang bersiap akan membuat situs terbesar di internet untuk menyebarkan silsilah raja-raja Nusantara apabila proyeknya sudah disetujui pihak kerajaan. Sebuah janji yang mempesona banyak orang, karena jumlah proyek yang akan meletus itu berjumlah bilyunan ringgit. Tak kire-kire banyak duitnya, kata pebisnis itu sambil mereguk liurnya sendiri.

Supaya Ando tidak terlibat dalam masalah silsilah dan sebangsanya itu, Ando kontak Datuk Bungsu. Ando minta supaya Datuk Bungsu mengumpulkan semua orang di Pagaruyung untuk mendengarkan apa yang diinginkan orang dari negeri jiran ini.

Persiapan pengumpulan datuk-datuk itu berjalan lancar. Namun ketika kedua orang Semenanjung itu datang, Datuk Bungsu dan datuk-datuk lainnya terkejut luar biasa. Ternyata kedua orang itu datang bersama-sama Datuk-datuk Sarangkai Tigo. Datuk Bungsu menarik nafas. Dia tidak mungkin menolak orang-orang itu. Dia hanya diam saja, mendengar apa yang akan dikatakan oleh mereka yang datang.

Datuk Lobak, salah seorang dari Datuk-datuk Sarangkai Tigo segera berdiri dan menjelaskan bahwa dia adalah juru bicara dari kedua dunsanak yang datang dari Semenanjung. Dengan keramah-tamahan yang luar biasa, Datuk Lobak berpepatah-petitih sampai-sampai di ujung bibirnya membersit busa ludahnya. Dari pidato yang begitu panjang, intinya adalah, bahwa silsilah raja-raja Pagaruyung sudah disusun oleh sebuah tim ahli yang diketuai oleh Datuk Lobak sendiri. Silsilah itu perlu diakui bersama, supaya dunsanak dari Semenanjung ini tidak bingung. Sejarah harus diluruskan, kata Datuk Lobak sambil memanjangkan bibirnya ke arah Datuk Bungsu yang sedang asyik berbisik-bisik dengan Datuk Tuo.

Datuk Bungsu yang padamulanya tidak punya selera untuk bicara malam itu, akhirnya terpaksa juga bicara, karena sikap Datuk Lobak yang dianggapnya menantang dan melecehkan. Setelah mendapat izin dari Datuk Tuo, Datuk Bungsu segera memperbaiki sikap duduknya dan merapikan sarung yang sedang disandangnya.

Datuk Bungsu menjelaskan, bahwa kalau ada orang yang mau meluruskan sejarah Minangkabau tidak bisa hanya berdasarkan sebuah silsilah yang disusun kemudian, baik oleh para ahli ataupun pakar sehebat apapun. Silsilah adalah hubung kait antar keluarga sekaum dalam bentuk tertulis. Hubungkait antar sekaum berdasarkan garis bapak secara patrilineal, disebut silsilah. Patokan utamanya adalah garis keturunan dari laki-laki ke laki-laki. Sedangkan hubung kait antara keluarga sekaum berdasarkan garis ibu secara matrilineal, disebut ranji. Bagi masyarakat Minangkabau yang mengerti dengan hukum adat, ranji adalah lebih penting daripada silsilah. Ranjilah yang dipedomani oleh semua orang, apakah seseorang itu berhak dan boleh menyandang gelar datuk di dalam kaumnya atau tidak. Sebab, seorang penghulu di dalam kaum, ibunya haruslah dari kaum ibunya sendiri. Jadi, seorang penghulu tidak perlu diangkat suku lain, tetapi harus diakui oleh kaumnya. Ranji kaum disusun oleh kaum itu sendiri. Tidak mungkin ranji sebuah kaum di Pagaruyung, disusun atau diutak atik oleh orang lain dari daerah lain. Tidak akan ada sebuah kaum dalam menyusun ranjinya dengan cara mintak angok kalua badan, kata Datuk Bungsu dengan tegas.

Selanjutnya Datuk Bungsu menjelaskan pula, bahwa jika benar-benar ada orang yang ingin meluruskan sejarah, mereka harus mempedomani naskah-naskah tua warisan orang-orang terdahulu yang sudah diakui semua pihak, seperti Tambo Pagaruyung. Di dalam Tambo Pagaruyung kedua bentuk hubungkait itu sengaja dicantumkan, gunanya untuk menjaga keaslian keturunan raja-raja Pagaruyung berikutnya. Garis pewarisan secara patrilineal merupakan payung cadangan bagi seorang penerjun bila payung utamanya tidak mengembang di udara. Artinya, garis sistem patrilineal hanya dipakai apabila tidak ada lagi keturunan menurut garis matrilineal. Oleh karena itu, di dalam Tambo Pagaruyung dicantumkan pepatah adat, adat rajo turun tamurun, adat puti sundik basunduik.

Tambo Pagaruyung, tambah Datuk Bungsu lagi, adalah ranji dan silsilah dari raja-raja Pagaruyung yang telah dimulai sejak sebelum Adhityawarman menjadi raja Pagaruyung sampai kepada Daulat Yang Dipertuan Sultan Alif Khalifatullah. Tambo Pagaruyung pada masa itu disampaikan secara lisan turun temurun. Setelah baginda memerintah, penulis-penulis istana yang sudah memahami bahasa surat, menyalin Tambo Pagaruyung ke dalam tulisan Arab-Melayu dalam bentuk syair-syair.

Tradisi penyalinan Tambo Pagaruyung diteruskan oleh Daulat Yang Dipertuan Fatah ayahanda dari Sultan Alam Bagagar Syah, raja Pagaruyung yang ditangkap Belanda dan dibuang ke Betawi. Baginda Sutan Fatah adalah generasi ketujuh setelah Sutan Alif Khalifatullah. Para ahli dan para penulis istana tulisan Arab-Melayu itu ditranskripsikan ke dalam tulisan Latin, budaya tulis yang dibawa oleh penjajahan Belanda. Namun transliterasi itu masih dalam bahasa Minangkabau lama.

Terakhir, Tambo Pagaruyung disalin dan disusun oleh ahli waris raja-aja Pagaruyung itu sebagaimana sebuah silsilah yang dikenal dalam penulisan silsilah zaman modern. Generasi pewaris kerajaan yang menyusun ranji dan silsilah itu adalah generasi ketujuh pula dari Sultan Fatah. Dengan demikian, lanjut Datuk Bungsu, setiap tujuh generasi Tambo Pagaruyung terus disempurnakan. Satitiak indak ilang, sabarih indak lupo, kata Datuk Bungsu meyakinkan.

Tambo Pagaruyung adalah rujukan, pedoman, bagi siapa-siapa yang seharusnya menjadi raja. Mereka yang tidak menjadikan Tambo Pagaruyung sebagai rujukan dalam pelurusan sejarah kerajaan Pagaruyung, sama saja dengan manggantang asok, atau curito si Miun di lapau tapi tabiang, lanjut Datuk Bungsu dengan nada cemooh. Raja bukan diturunkan dari ayah ke pada anak laki-laki, tetapi kepada anak laki-laki dari saudara perempuan. Orang Minang mengekalkan aturan pewarisan ini dalam pantunnya

Biriak-biriak turun ka samak

Dari samak ka halaman

Dari ninik turun ka mamak

Dari mamak ka kamanakan

Maksud pantun itu adalah, bahwa pewarisan harus dari mamak ke kemenakan. Dan itulah inti hubungan saparuik atau sistim matrilineal itu. Pewarisan menurut garis matrilineal seperti ini sudah berlangsung semenjak raja Pagaruyung yang bernama Raja Angkerawarman menyerahkan mahkota kerajaannya kepada kemenakannya Adhityawarman. Hal itu dimungkinkan, karena Adhitywarman adalah anak dari dari Dara Jingga, yang merupakan saudara perempuan sepupu dari Raja Angkerawarman. Artinya, Adhityawarman menerima penobatannya menjadi raja dari mamaknya. Seandainya Adhityawarman hanya mau meraja-rajakan diri saja, tanpa jelas siapa yang memberikan wewenang kepadanya, dipastikan akan ditolak oleh seluruh orang Minangkabau masa itu. Tapi karena dia menerima waris raja itu dari mamaknya, itulah sebabnya dia diakui sebagai raja Pagaruyung. Seandainya, ini seandainya, kata Datuk Bungsu pula, Minangkabau pada masa itu menganut sistem patrilineal, tentulah Adhitywarman harus menjadi raja di Majapahit bukan di Minangkabau. Ketentuan adat seperti ini tidak banyak datuk-datuk yang tahu, karena mereka terlalu sombong dan menganggap pengetahuannya sudah cukup untuk berkaok-kaok mau meluruskan sejarah Minangkabau. Padahal ketentuan adat seperti ini sudah dibakukan dalam Undang-Undang Tanjuang Tanah. Sudah basuluah matoari, bagalanggang mato urang banyak. Sudah ditulis dan dibukukan, sudah diteliti secara keilmuan. Buku Undang-Undang Tanjung Tanah itu adalah sebuah dokumen sejarah tertua kerajaan Melayu Minangkabau yang ditemukan oleh sarjana asing di daerah sekitar Kerinci.

Datuk Bungsu tidak mau lagi melepaskan kesempatan bicara seperti ini, karena dilihatnya Datuk-datuk Sarangkai Tigo ternganga-nganga mulutnya mendengarkan uraian yang bernas itu. Bahkan dua orang dari Semenanjung itu geleng-geleng kepala, kagum, ternyata masih ada seorang penghulu dengan pakaian sederhana tetapi berpikir tidak sesederhana yang dilihatnya. Datuk Bungsu meneruskan keterangannya.

Kalau benar-benar mau meluruskan sejarah, kata Datuk Bungsu lebih lanjut, sebelumnya kita harus mengerti dan paham dengan berbagai istilah yang lazim digunakan di dalam pewarisan menurut hukum adat Minangkabau sebagaimana yang tercermin dalam Tambo Pagaruyung. Ada yang disebut sapiah balahan. Maksudnya adalah, keturunan raja dari pihak perempuan secara matrilineal yang dirajakan di luar Pagaruyung. Sekiranya keturunan raja yang ada di Pagaruyung punah, mereka sapiah balahan itu berhak mewarisi dan melanjutkan kerajaan. Jika sapiah balahan masih ada, belum akan diserahkan pewarisan raja kepada pihak lain, apalagi kepada datuk-datuk yang tidak punya kaitan dengan keturunan raja Pagaruyung.

Kemudian apa yang disebut kuduang karatan. Maksudnya adalah, keturunan raja Pagaruyung dari pihak laki-laki. Mereka tidak dapat menjadi raja di Pagaruyung, sekalipun pewaris raja Pagaruyung itu punah. Mereka hanya berhak menjadi raja pada daerah-daerah yang telah ditentukan bagi mereka untuk menjadi raja. Kenapa? Karena mereka tidak berada dalam lingkar garis matrilineal, karena ibu mereka bukan dari keturunan raja Pagaruyung. Selanjutnya apa yang disebut dengan kapak radai,dan timbang pacahan. Kedua kelompok ini terdiri dari orang-orang besar, raja-raja di rantau, datuk-datuk perangkat raja Pagaruyung yang diangkat dan diberi penghormatan oleh raja Pagaruyung. Tapi celakanya, tambah Datuk Bungsu dengan nada cemoohnya, sebagian mereka sudah menganggap pula sebagai keturunan raja Pagaruyung, padahal mereka hanya aparat atau kaki tangan raja saja.

Pertemuan malam itu berakhir dengan sangat tidak memuaskan. Datuk-datuk Sarangkai Tigo langsung turun tangga tanpa pamit dengan orang-orang yang hadir. Tamu yang dari Semenanjung menjadi serba salah. Sewaktu mereka menutup pintu mobilnya, salah seorang tamu dari Semenanjung itu berbisik pada Datuk Bungsu bahwa mereka akan datang lagi. Mereka mengakui mendapat pengetahuan yang banyak sekali tentang silsilah raja-raja Pagaruyung.

Setelah Datuk-datuk Sarangkai Tigo pergi, Datuk Bungsu segera disalami oleh Datuk Tuo dan datuk-datuk lainnya. Mereka kagum sekali akan pengetahuan adat yang belum pernah didengarnya dari Datuk Bungsu. Panyuruak an kuku, kelakar mereka sesama datuk pada Datuk Bungsu. Maksudnya, orang yang suka menyembunyikan pengetahuan. Datuk Bungsu tersenyum sambil menggigit rokok daun nipahnya.

*

Sebuah sedan berhenti di depan rumah nenek Ando. Kedua tamu dari Semenanjung yang datang tadi malam turun menyalami kami. Setelah disuguhi kopi dan lamang tapai, mereka memohon untuk dipertemukan lagi dengan Datuk Bungsu. Langkah baik, sore itu Datuk Bungsu sedang duduk-duduk di surau dan dengan mudahnya Ando memberitahu akan kedatangan dan keinginan tamu-tamu itu. Bagi Ando hal ini sangat menguntungkan sekali, karena Ando dapat pula menyimak apa yang disampaikan Datuk Bungsu.

Sehabis sembahyang Isya berjamaah di surau, dimulailah pertemuan kedua tamu dengan Datuk Bungsu. Banyak juga datuk-datuk yang datang ikut menyaksikan. Banyak sekali pertanyaan mereka dan Datuk Bungsu hanya tersenyum-senyum saja mendengarkan. Setelah semua pertanyaan disampaikan, Datuk Bungsu minta izin kepada Datuk Tuo untuk menjawab apa yang ditanyakan tamu mereka.

Setelah sedikit berbasa basi, Datuk Bungsu langsung menjawab apa yang mereka tanyakan. Menurut Datuk Bungsu, tidak mungkin ada suatu aturan adat yang berlaku sekarang, kalau tidak ada yang menyusunnya. Pasti ada sebuah kekuasaan yang menetapkan aturan-aturan itu. Seandainya datuk-datuk saja yang menyusun aturan-aturan yang begitu rumit secara bersama-sama, dipastikan tidak akan kunjung selesai, karena setiap datuk merasa dirinya merdeka dan punya pemikiran sendiri-sendiri. Oleh karena itu, semua aturan adat Minangkabau yang ada dan dijalankan sampai sekarang adalah warisan dari struktur pemerintahan kerajaan Pagaruyung dahulu. Jika dulu merupakan aturan kerajaan, sekarang sudah menjadi aturan adat, budaya. Struktur adat demikian, dicatat dan diuraikan dalam Ranji Limbago Adat Alam Minangkabau.

Datuk Bungsu menghitung dengan jarinya, bahwa sekarang baru dapat diketahui betapa banyaknya naskah-naskah tua yang harus dipelajari kalau mau meluruskan sejarah. Ada yang namanya Tambo Alam Minangkabau, berisi tentang kisah asal usul orang Minang, termasuk juga sebagian silsilah raja-raja dan beberapa latar belakang terbentuknya aturan-aturan adat. Ada pula yang namanya Tambo Adat Minangkabau, atau Undang-Undang Adat Minangkabau berisi aturan-aturan, sanksi dan tatacara yang berlaku dalam kehidupan orang Minang. Ada pula yang namanya Tambo Pagaruyung yang berisi ranji dan silsilah keturunan dan ahli waris Raja Pagaruyung. Juga ada Tambo Darah, yang berisi ketentuan Raja Pagaruyung mengirim putra-putranya ke delapan negeri untuk dirajakan di sana. Tambo Darah ini juga dikenal dengan Surat Wasiat Sultan Nan Salapan. Ada pula Ranji Limbago Adat Alam Minangkabau, yang merupakan struktur dari kerajaan Pagaruyung itu. Jadi, kata Datuk Bungsu lagi, ternyata orang-orang Minang dahulu sudah sangat rapi menyusun aturan adat dan ranjinya. Apa yang kita jalankan sekarang, adalah ketentuan-ketentuan yang sudah berlaku sejak lama. Tidak dibuat-buat, tidak dikarang-karang.

Jika kita mau menyimak dan mengarifi kejadian semalam, kenapa Datuk-datuk Sarangkai Tigo turun tanpa sopan santun yang lazim berlaku di dalam sebuah pertemuan, tentulah kita harus pertanyakan, apa tujuannya orang-orang yang ingin mengubah-ubah apa yang telah diwariskan nenek moyang kita dahulu? Mau apa? Mau mengacaukan Minangkabau dengan dalih meluruskan sejarah, kata Datuk Bungsu dengan suara keras. Mestinya kita harus jujur dan bersikap terbuka dengan segala ilmu pengetahuan yang sudah dimiliki orang Minangkabau sebelumnya. Jangan memutar-balik apa yang sudah ada! Kalau kail panjang sejengkal, jangan laut pula yang mau diduga, kata Datuk Bungsu.

Di dalam Ranji Limbago Alam Minangkabau, kata Datuk Bungsu menambahkan penjelasannya, pohon ada pucuknya, adat juga ada pucuknya. Pucuk adat itu adalah Raja Pagaruyung yang terdiri dari Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat. Ketiga raja ini merupakan sebuah kesatuan yang utuh karena masing-masingnya berasal dari keturunan yang sama. Trinwan, ucap Datuk Bungsu dengan lidah Pagaruyungnya untuk mengatakan Three in one. Ketiga raja ini disebut rajo tigo selo. Jadi, kata Datuk Bungsu sambil tersenyum penuh arti, itulah sebabnya Datuk-datuk Sarangkai Tigo keras benar hatinya untuk menjadi raja Pagaruyung, karena sesuai jumlahnya antara jabatan raja-raja yang bertiga dengan jumlah datuk-datuk Sarangkai Tigo. Orang-orang tertawa, Andopun ikut tersenyum dan berbisik dalam hati, nakal juga Datuk Bungsu ini.

Rajo Tigo Selo dalam menjalankan pemerintahannya dibantu oleh beberapa orang besar atau Basa yang kumpulannya disebut Basa Ampek Balai, semacam dewan menteri, atau kabinet, empat orang besar yang mempunyai tugas, kewenangan-kewenangan dan tempat kedudukan atau wilayah sendiri pada nagari-nagari yang berada di sekeliling pusat kerajaan Pagaruyung, lanjut Datuk Bungsu setelah minum seteguk kopinya yang mulai dingin.

Pertama, Datuk Bandaro Putiah yang bertugas sebagai Panitahan atau Tuan Titah mempunyai kedudukan di Sungai Tarab – dengan gelar kebesarannya Pamuncak Koto Piliang. Panitahan merupakan pimpinan, kepala atau yang dituakan dari anggota Basa Ampek Balai dalam urusan pemerintahan. Perdana menterinyalah. Kedua, Tuan Makhudum yang berkedudukan di Sumanik dengan julukan Aluang bunian Koto Piliang yang bertugas dalam urusan perekonomian dan keuangan. Ketiga, Tuan Indomo berkedudukan di Saruaso dengan julukan Payung Panji Koto Piliang dengan tugas pertahanan dan perlindungan kerajaan. Menteri Pertahanan seperti pada masa sekarang. Keempat, Tuan Khadi berkedudukan di Padang Ganting dengan julukan Suluah Bendang Koto Piliang dengan tugas mengurusi masalah-masalah keagamaan dan pendidikan.

Selain Basa Ampek Balai sebagai pembantu raja, juga dilengkapi dengan seorang pembesar lain yang bertugas sebagai panglima perang yang setara dengan anggota Basa Ampek Balai lainnya, disebut Tuan Gadang berkedudukan di Batipuh dengan julukan Harimau Campo Koto Piliang. Tuan Gadang bukanlah anggota dari Basa Ampek Balai, tetapi setara dengan masing-masing anggota Basa Ampek Balai. Tetap takluk kepada raja.

Setiap Basa, mempunyai perangkat sendiri-sendiri pula dalam mengurus masalah-masalah daerah kedudukannya. Masing-masing membawahi beberapa orang datuk di wilayahnya, jumlahnya tergantung pada keluasan kawasannya masing-masing. Setiap Basa diberi wewenang oleh raja untuk mengurus wilayah-wilayah tertentu, untuk memungut pajak atau cukai yang disebut ameh manah. Ameh Manah atau upeti seterusnya diserahkan kepada raja. Sebagai contoh, kata Datuk Bungsu lagi. Datuk Bandaro ditugaskan memungut ameh manah untuk daerah pesisir sampai ke Bengkulu. Makhudum untuk daerah pesisir timur sampai ke Negeri Sembilan. Indomo untuk daerah pesisir barat utara. Tuan Kadi untuk daerah Minangkabau bagian selatan.

Menurut Datuk Bungsu selanjutnya, cara kerja Basa Ampek Balai yang agak lengkap serta hubungannya dengan raja Pagaruyung diterangkan dalam kaba Cindua Mato, sebuah kaba yang dianggap sebagai bagian dari sejarah kerajaan Pagaruyung. Di dalam kaba Cindua Mato, Basa Ampek Balai mempunyai peranan yang cukup penting dalam menentukan sebuah keputusan yang akan diambil oleh raja Minangkabau. Basa Ampek Balai dapat diangkat dan diberhentikan oleh Bundo Kanduang atau raja Minangkabau. Kekuasaan dan kebesaran mereka semua berkat pemberian dan keizinan Bundo Kanduang.

Ketika terjadi tragedi pembunuhan raja-raja Pagaruyung dan para pembesar kerajaan Pagaruyung di Koto Tangah dalam masa Perang Paderi, semua Basa Ampek Balai ikut terbunuh, kecuali Sultan Alam Muning Syah dan cucu perempuannya Tuan Gadih Reno Sori. Baginda dengan cucunya dapat menyelamatkan diri dan kemudian menetap di daerah Kuantan. Sultan Alam Muningsyah menjodohkan Puti Reno Sori dengan Yang Dipertuan Sembahyang, saudara sepupu Sultan Alam Bagagar Syah raja alam Minangkabau. Yang Dipertuan Gadis Puti Reno Sumpu, hasil perkawinan Tuan Gadih Puti Reno Sori dengan Yang Dipertuan Sembahyang kembali ke Pagaruyung menggantikan mamaknya Yang Dipertuan Sultan Alam Bagagar Syah yang ditawan Belanda dan dibuang ke Betawi pada 1833. Sesampainya di Pagaruyung, Yang Dipertuan Gadis Puti Reno Sumpu segera mendandani kembali perangkat kerajaan dengan mengangkat kembali Basa Ampek Balai. Dengan demikian, Yang Dipertuan Reno Sumpu memegang jabatan Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat sekaligus.

Struktur kerajaan Pagaruyung yang demikian sempurna juga dipakai sampai sekarang pada kerajaan Negeri Sembilan. Basa Ampek Balai di Pagaruyung menjadi Undang Yang Empat di Negeri Sembilan. Hal itu mungkin disebabkan karena Negeri Sembilan dulunya merupakan daerah rantau orang Minang, lalu diperintah oleh tiga orang raja yang dikirim dari Pagaruyung secara berturut-turut.

Sampai sekarang Basa Ampek Balai sudah merupakan institusi adat yang tetap diakui keberadaannya, walaupun sistem beraja-raja di Minangkabau sudah dihapuskan. Pemangku-pemangkunya ada sampai sekarang. Jadi, soal Rajo Tigo Selo, Basa Ampek Balai, dan perangkat adat lainnya di Alam Minangkabau ini bukan cerita dongeng seperti yang disampaikan Datuk Lobak kepada orang-orang yang tidak mengerti sejarah dan adat.

Di bawah Basa Ampek Balai ada enam Urang Gadang yang masing-masing juga mempunyai daerah dan kedudukan tersendiri dengan tugas dan kewenangan tersendiri pula. Keenam orang besar ini bersama pimpinannya Panitahan Sungai Tarab disebut Gadang Nan Batujuah atau lazim juga disebut Langgam Nan Tujuah. Pamuncak Koto Piliang, kedudukan dan daerahnya di Sungai Tarab Salapan Batu, sebagai pimpinan Langgam Nan Tujuah. Gajah Tongga Koto Piliang, kedudukan dan daerahnya di Silungkang dan Padang Sibusuak, sebagai kurir dan menjaga perbentengan bagian selatan Minangkabau. Camin Taruih Koto Piliang, kedudukan dan daerahnya Singkarak dan Saningbaka yang bertugas sebagai badan penyelidik. Cumati Koto Piliang, kedudukan dan daerahnya Sulit Air dan Tanjung Balik yang bertugas sebagai pelaksana hukum. Perdamaian Koto Piliang, kedudukan daerahnya Simawang dan Bukit Kanduang yang diberi tugas untuk menjadi pendamai dari nagari-nagari yang bersengketa. Harimau Campo Koto Piliang, kedudukan dan daerahnya Batipuh Sapuluah Koto, sebagai panglima perang. Pasak kungkuang Koto Piliang, kedudukan dan daerahnya Sungai Jambu dan Labuatan dengan tugas utamanya mengawasi keamanan dalam nagari.

Setelah demikan panjang lebar Datuk Bungsu menjelaskan tentang Ranji Limbago Alam Minangkabau, tiba-tiba seorang datuk yang diam saja sejak tadi, menunjukkan tangan dan langsung bicara. Dia menanyakan, kenapa Datuk Bungsu tidak menjelaskan pula tentang kedudukan datuk-datuk yang berada dalam kelarasan Bodi Caniago dan hubungannya dengan Raja Pagaruyung.

Datuk Bungsu membungkukkan badan sesaat dan minta maaf, karena penjelasannya tentang Ranji Limbago Adat Alam Minangkabau belum sampai ke sana. Namun setelah membakar rokok dan menghirupnya, Datuk Bungsu melanjutkan. Menurut Datuk Bungsu, ada sebuah kelompok Urang Gadang lagi yang dinamakan Tanjuang Nan Ampek Lubuk Nan Tigo. Namun, Datuk Bungsu minta tangguh, karena dia harus menjelaskan dulu tentang Gajah Gadang Patah Gadiang.

Gajah Gadang Patah Gadiang adalah julukan bagi Datuk Bandaro Kuniang yang menjadi pucuak bulek kelarasan Bodi Caniago, sambung Datuk Bungsu. Sebuah kelarasan yang jauh sebelumnya telah disusun oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang. Julukan kebesaran tersebut diberikan kepada salah seorang pucuk pimpinan pemerintahan dalam kerajaan Pagaruyung tetapi tidak menjalankan pemerintahan secara langsung. Semacam ketua DPR zaman sekaranglah, kata Datuk Bungsu tersenyum. Di dalam struktur kerajaan Pagaruyung, kedudukan Datuk Bandaro Kuniang Gajah Gadang Patah Gadiang merupakan kedudukannya mengepalai persidangan untuk kelarasan Bodi Caniago. Sejajar dengan Datuk Bandaro Putiah, Panitahan Sungai Tarab yang mengepalai kelarasan Koto Piliang. sebagaimana juga halnya dengan Datuk Bandaro Kayo di Pariangan Padang Panjang pimpinan Lareh Nan Panjang. Karenanya secara adat nan kewi, ada tiga orang besar yang bergelar Datuk Bandaro. Yaitu, Datuk Bandaro Putiah di Sungai Tarab sebagai Pamuncak dari kelarasan Koto Piliang, Datuak Bandaro Kuniang di Limo Kaum sebagai Pucuak Bulek dari kelarasan Bodi Caniago dan Datuk Bandaro Kayo sebagai Pamuncak dari Lareh Nan Bunta di Pariangan.

Kelarasan Bodi Caniago mempunyai Datuak Nan Batigo yang berada di bawah Datuk Bandaro Kuniang Gajah Patah Gadiang. Terdiri dari Datuk nan di Dusun Tuo, Datuk nan di Paliang, Datuk nan Kubu Rajo. Di bawah Datuk Nan Batigo berturut-turut datuk-datuk yang disebut pucuak bulek dari masing-masing suku. Mereka adalah para penghulu yang dipilih secara berganti-ganti dari para datuk-datuk di dalam suatu perkauman dengan menerapkan prinsip gadang balega, pimpinan dipilih berdasarkan kemufakatan. Dalam acuan adatnya dikatakan, pemilihan pucuk bulek dalam Bodi Caniago memakai sistem hilang baganti, sedangkan kelarasan Koto Piliang memakai sistem patah tumbuah.

Kelarasan Bodi Caniago, mempunyai wilayah tersendiri pula yang disebut Tanjuang nan ampek, lubuak nan tigo, tujuh daerah khusus dengan tujuh penghulu atau pucuak buleknya. Daerah-daerah tersebut adalah; Tanjuang Bingkuang (Limo kaum dan sekitarnya), Tanjung Sungayang, Tanjuang Alam, Tanjuang Barulak, Lubuk Sikarah, Lubuk Sipunai, Lubuk Simawang. Dalam sebutan lain dikatakan bahwa Bodi Caniago mempunyai batanjuang nan tigo, balubuak nan tigo. Daerah Limo Kaum atau Tanjuang Bingkuang itu dimasukkan ke dalam sebutan tersebut.

Menurut Datuk Bungsu lagi, di bawah Langgam Nan Tujuah dan Tanjuang Nan Ampek Lubuak Nan Tigo, tersusun pula Penghulu-penghulu atau raja-raja kecil pada semua nagari di Minangkabau. Beberapa saat Datuk Bungsu diam dan menarik nafas sambil melirik kepada ketua tamu yang masih mengangguk-angguk. Lalu, Datuk Bungsu mengingatkan, karena hari sudah semakin malam dan tamu dari Semenanjung harus kembali ke hotelnya, Datuk Bungsu berjanji akan melanjutkan keterangannya pada waktu lain yang lebih tepat.

Maka pertemuan malam itupun usai.

*

Sinan, terpurangah juga Ando mengikuti uraian dan penjelasan-penjelasan dari Datuk Bungsu tentang Ranji Limbago Adat Alam Minangkabau. Apalagi ketika dia menyinggung-nyinggung tentang generasi ketujuh. Ingat Sinan kan? Dikatakannya, Yang Dipertuan Fatah ayanda dari Sultan Alam Bagagar Syah adalah generasi ketujuh setelah Sultan Alif Khalifatullah. Sedangkan pewaris kerajaan yang sekarang adalah generasi ketujuh pula dari Yang Diertuan Fatah. Bagaimana ini?

Kesadaran Ando semakin bertambah, ketika Datuk Bungsu mengatakan bahwa Silsilah dan Ranji Ahli waris Keturunan Raja-raja Pagaruyung yang umumnya dikenal sebagai Tambo Pagaruyung selalu terkawal dengan baik dan selalu disambungkan dengan keturunan berikutnya, dalam setiap tujuh generasi. Ando jadi ingat nenek dengan gongnya. Apakah mungkin gong yang menurut nenek berjumlah tujuh buah merupakan lambang atau personifikasi dari generasi ketujuh?

Bagaimana Sinan? Ada hal-hal baru yang muncul dalam pikiran Sinan dengan apa yang baru Ando ceritakan ini? Ando berharap, Sinan jangan begitu percaya pada cerita Ando. Sinan sebaiknya melakukan cek dan recek. Periksa, timbang, pahami, analisa, simpulkan. Jangan seperti yang taralah yang dilakukan orang, hanya tahu secuil, lagak sudah mengetahui isi dunia. Menurut bapak anak-anak Ando, yang tidak boleh dilakukan seseorang yang bijak adalah, jangan meniru sifat orang Minang mabuk. Minun saloki mabuak saboto. Maksudnya, minum hanya seujung gelas tapi mabuknya sudah sebotol penuh.

*


Responses

  1. Assalamualaikum

    Saya telah membaca artikel puan dan dapati ia mmg bagus sekali.
    Khabarnya Istana Besar telah terbakar dan memerlukan pembinaan semula.Saya berasal dari Semenanjung Malaysia(Selangor) dan ingin menyumbangkan sesuatu utk pembinaan istana tersebut.
    Bagaimanakah harus saya salurkan derma itu?Adakah saya harus ke sana?
    Boleh tak kiranya puan email kepada saya cara-caranya?
    Sekian terima kasih.

  2. Ini alamat emailnya: gemenzee@gmail.com

  3. Salam. Saya dari Kuala Lumpur, keturunan Raja Melewar berasa amat sedih dan malu akibat dari persegketaan sesama waris. Apa yang berlaku pasti ada sebabnya. Apa kata kita kembali kepada asal? Kembali kepada cara lama yang telah digunakan ribuan tahun dahulu untuk mengenal pasti siapa yang berhak. Cuba kita renung kembali, sebelum adanya sains dan teknologi, bagaimana perubatan dulu dilaksanakan? Dalam Islam sendiri, kita digalakkan mengamalkan solat istiqarah untuk menentukkan sesuatu keputusan. Waimah di Malaysia pun, untuk melantik Yang Di Pertuan Agong, adat mengenal pasti DAULAT dilakukan sebelum perlantikkan Yang Di Pertuan Agong. Jika DAULAT itu ada maka makmurlah sesebuah negara itu. Waris yang mempunyai DAULAT saja yang boleh disahkan ketulenan warisnya. Sebelum Raja Melewar dihantar ke Negeri Sembilan, beliau juga telah menjalani ujian untuk memastikan DAULAT beliau. Yang terbaik adalah, semua waris Di Raja Pagaruyung samada di Malaysia, Jakarta dan Bukit Tinggi atau dimana mana sahaja perlulah berkumpul dan berbincang. Jika mendapat keputusan maka orang itulah yang akan melakukan perasmian Istana Besar Pagaruyung yang akan siap nanti. Wallahualam.
    email – nsk20000@streamyx

  4. Salam..Saya setuju dgn pendapat En. Hisham kerana keturunan Raja Melewar masih ramai di Malaysia. Se elok nya, kaum kerabat Raja Pagaruyung di kumpul dan berbincang dan mengikut keturunan mencari waris yang berhak untuk mewakili kaum kerabat dan melakukan perasmian Istana Besar Pagaruyung.

  5. Assalamualaikum, setuju dengan saudara Tengku Rosmi, walaupun saya antara keturunan yang mungkin dilupakan dan tersisih, namun rasa ingin membela dan cintakan saudara tetap tersemai di dada.Eratkanlah tali persaudaraan yang sedia ada dan kembalilah kepada Allah dalam berhukum. Semoga kita semua diberkatiNya.

  6. seharus nya,mereka2 yg bersaing untuk mendaulat singgasana srbagai hak waris mereka,.Sejenak mengheningkan cipta,untuk menela,ah penomena Alam,..Kenapa petir begitu tega nya,menyambar dan membakar Istana Raja,yg megah??..

  7. Bagus cerita ini terutama ucapan Datuk Bongsu. Saya juga keturunan Pagar Ruyung. Tapi bapak kepada nenek sewaktu tiba di Tanah Melayu pada tahun sekitar pertengahan 1800 telah pun membuang darjat nya. Saya sekadar mau tahu benar atau tidak cerita yg disampaikan dari mulut ke mulut dalam keluarga. Setelah bapak kepada nenek sampai di Perak beliau di susul pula olih paman nya yg memakai nama atau gelaran Bagindo Sakti.. Beliau ditugasin untuk membawa pulang kemanakan nya olih abang nya. Bagindo Sakti sempat bersumpah dengan abangnya beliau tidak akan pulang ke Pagar Ruyung jika kemanakan nya tidak mau pulang ke PR dengan bersumpah tidak akan pulang selagi pasir tidak lekat ditapak kaki.

    Saya pernah dua kali menziarah Pagar Ruyung (1984 & 2007) dan pernah ketapak Istana yang terbakar dan bermalam di ” Anjung Suruo” diatas gunong dan berkunjung ke gua tempat almarhum Tajul Mudana bertapa.

    Sewaktu saya sampai dipuncak gunong dihadapan laman istana Lama yang terbakar itu ada beberapa bapak2 yg sedang mengali sumor. Saya adalah orang jauh yang pertama mengunakan air sumor di puncak gunong itu menurut mereka.

    Saya kepingin menyambung Silaturrahmi kepada almahum nenek2 hingga bunda kanduang dalam Doa saya. Hanya itu saya yang saya bisa bantu mereka sebagai antara banyak keturunan mereka yang masih hidup itu pun jika cerita keluarga itu betul dan benar.

    Mungkin ada yang bisa membantu terutama dari keturunan Raja Nan Tigo.

    Wassalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: