Oleh: Wisran Hadi | 21 September 2008

GENERASI KETUJUH (Bagian Ketiga)

3. TENTANG SETUMPUK HARTA

Sekarang baru Ando tahu kenapa Sinan tidak mau ikut diajak mengunjungi sebuah istana tua di Terengganu, pantai timur Malaysia itu, sehingga menjadi pertanyaan dan bahkan menimbulkan kecurigaan dalam diri Ando, bahwa mungkin Sinan sudah mulai bosan dengan apa yang Ando sampaikan, atau mungkin telah menganggap Ando sebagai seorang yang nyinyir, terlalu banyak bicara tentang hal-hal yang tidak masuk akal, bicara panjang tapi terpotong-potong, tidak lancar sebagaimana air mengalir dalam pipa leding, bicara tentang masa lalu yang tidak ada kaitannya dengan masa sekarang, bicara sejarah tetapi tidak pernah terarah. Akan tetapi setelah Sinan menjelaskan bahwa Sinan tidak mau memenuhi ajakan Ando karena diserang kelumpuhan, barulah hilang segala kecurigaan Ando yang beberapa hari mengurung diri Ando terhadap Sinan.

Sinan katakan Sinan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan yang bagaimana? Kelumpuhan sebagaimana yang biasa diderita orang-orang politik; dilumpuhkan, melumpuhkan, lumpuh atau pura-pura lumpuh? Kelumpuhan yang membuat Sinan tidak hanya lumpuh, tetapi memang menjadikan Sinan lumpuh dalam pengertian yang lebih luas? Lumpuh dalam pengertian tersurat atau tersirat? Kalau demikian kelumpuhannya, silahkan saja Sinan lumpuh, tapi kelumpuhan Sinan itu jangan sampai pula dapat melumpuhkan semangat Ando menyampaikan sesuatu pada Sinan.

Lumpuhlah Sinan, tak apa-apa. Lumpuhlah. Asal saja kelumpuhan Sinan tidak melumpuhkan segala persendian kehidupan. Anggaplah Ando kini sedang bercerita kepada seorang yang lumpuh, kan tidak jadi persoalan bagi Sinan, bukan? Mungkin dari cerita Ando itu nanti Sinan akan dapat pula mengetahui bahwa kelumpuhan itu telah menjalar kepada berbagai persendian kehidupan tanpa setahu Sinan. Jika Sinan melihat lebih luas lagi, ternyata kini yang lumpuh bukan Sinan saja tapi hampir semuanya lumpuh. Begini;

Akhir minggu ke empat bulan Februari Ando dibawa oleh saudara-saudara sepupu Zaitun, Bang Sawan dan saudara-saudaranya Bang Sawan, Bang Lades dan Bang Kinang ke sebuah rumah tua pada sebuah kampung. Rumah itu masih terawat dengan baik dan masih menyisakan kebesaran budaya masa lalu, namun kini seakan terjepit di antara rumah-rumah penduduk yang dibangun kemudian. Rumah-rumah penduduk itu bukannya untuk mereka huni, tetapi tampaknya hanya dijadikan status setiap keluarga yang sukses hidupnya di Kualalumpur. Rumah-rumah penduduk itu hanya dihuni perempuan-perempuan tua dan beserta satu atau dua cucu mereka. Orang-orang muda tidak ada di kampung itu, mereka pergi ke kota berburu kemewahan. Mereka hanya pulang sekali setahun, saat hari raya saja. Rumah-rumah itu kini dapat diibaratkan sebagai sebuah berhala dalam kehidupan manusia modern. Berhala, karena mereka selalu memuji-muji rumahnya, memperbaiki dan mendandaninya, tapi tidak untuk digunakannya selain untuk sebuah kebanggaan.

Rumah tua yang Ando kunjungi adalah rumah yang paling tua dari seluruh rumah penduduk yang berdiri di sekitarnya. Paling besar bangunan, luas halamannya, dihormati dan bahkan juga paling ditakuti masyarakat sekitarnya. Menakutkan karena rumah itu tidak dihuni lagi. Semua penghuninya sudah pindah ke Kualalumpur dan kota-kota lain. Menurut orang-orang tua di kampung, rumah itu kini telah dihuni hantu anak beranak, sebangsa makhluk yang sering membuat bulu roma bergidik. Penghuni baru itu kadang-kadang tampak, kadang-kadang menghilang begitu saja. Banyak cerita mengenai rumah dan hantu itu yang Ando dengar sepanjang perjalanan dari mereka kakak beradik, sepertinya mereka punya kesukaan yang segaram; dunia mistik.

Dari tingkah laku dan sikapnya yang tampak sepintas lalu, Bang Sawan orangnya serius, tidak suka bercerita. Ternyata dugaan Ando meleset. Dia memang tampak seperti orang yang serius, tapi itu disebabkan karena belum ada cerita lain atau persoalan lain yang menarik baginya. Namun ketika bicara soal kampung, rumahnya beserta hantu-hantu penghuninya Bang Sawan bersemangat dan tampak begitu nikmatnya dia membuka lembaran-lembaran masa lalu. Pada saat-saat seperti itu dia bicara dengan bahasa yang kadang-kadang tidak jelas karena terlalu cepat diucapkan, sekali-sekali tersenyum atau menepis-nepiskan tangan bahwa semua yang diceritakannya itu hanyalah masa lalu. Bukankah masa lalu suatu kebohongan kalau tidak ada relevansinya dengan zaman sekarang, katanya tersenyum.

Ando menyimak sepenuhnya apa yang mereka ceritakan kakak beradik sepanjang perjalanan. Sebab, Ando diajak ke rumahnya untuk suatu keperluan yang mungkin tidak kalah pentingnya dari apa yang telah dilakukan Zaitun. Mungkin saja Ando akan menghadapi hal-hal yang tidak terduga sama sekali, sebagaimana Zaitun mengundang Ando dulu ke rumahnya yang mewah itu. Diundang untuk makan malam, ternyata Ando dijadikannya sebagai seorang yang melegitimasi keberadaan generasinya. Sekarang, Ando diajak ke rumah tua kaum mereka dan entah untuk dijadikan apa pula. Namun, Ando mau juga pergi. Ando tidak kuasa menolak ajakan Bang Sawan, sebagaimana sulitnya Ando menolak ajakan Zaitun.

Aneh juga orang seperti Ando ini. Pada satu sisi, Ando ingin mengetahui segala seluk beluk persoalan dalam setiap aspek kehidupan, ya realitanya, ya mistik-mistiknya. Pada sisi lain, Ando takut terperangkap dengan hal-hal yang tidak logis dalam persoalan-persoalan itu, apalagi dalam masalah-masalah mistik yang menjurus kepada kekufuran dan syirik. Namun begitu, Ando sangat ingin mengetahui berbagai persoalan di dalam dunia yang tidak logis itu, dunia mistik itu. Ando tidak ingin terlibat dengan hantu misalnya, tetapi Ando ingin tahu hantu itu seperti apa.

Seperti kesediaan Ando ikut dengan rombongan Bang Sawan sekarang, Ando mungkin akan dihadapkan pada hal-hal mistik, tetapi Ando mau juga pergi dengan alasan yang Ando yakini sendiri, untuk memenuhi berbagai tuntutan keluarga Bang Sawan. Untuk silaturrahmi, untuk memberikan kesadaran kepada mereka bahwa kehidupan masyarakat Melayu sekarang jangan terlalu terseret kepada masalah-masalah mistik. Sebagaimana yang selalu Ando sarankan juga pada Zaitun, Kurma dan Palma. Dan kalau Ando tidak mau pula memenuhi ajakan Bang Sawan, nanti Ando akan dikatakan pula membedakan-bedakan mereka adik beradik. Ando tidak mau menjadi pemecah belah sebuah keluarga. Ando tidak ingin memisah-misahkan masalah yang kini dihadapi Zaitun dengan masalah saudara-saudaranya yang lain.

Dari apa yang diceritakan Bang Sawan, Ando berkesimpulan bahwa Ando akan dijadikan mereka sebagai detektor hidup terhadap sesuatu yang kini tersimpan di dalam tanah. Secara bersungguh-sungguh Bang Sawan meminta Ando agar mau menunjukkan sebuah lokasi di sekitar rumah itu. Lokasi yang Ando tunjuk itu nanti akan mereka gali dan mereka sangat yakin akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang selama ini terus mereka cari. Lalu, apakah sesungguhnya yang mereka cari? Inilah soalnya.

Percaya atau tidak, rumah tua milik kaum Zaitun dulunya adalah sebuah istana raja. Kampung tempat istana itu berdiri disebut Kampung Raja. Semenjak penjajah mulai menanamkan kekuasaan di seluruh negeri, kerajaan-kerajaan itu satu persatu dikuasai penjajah. Beberapa kerajaan yang mencoba melawan, dimusnahkan. Salah satu kerajaan yang dihancurkan penjajah itu adalah kerajaan di Kampung Raja. Itulah sebabnya sampai sekarang tidak semua orang tahu bahwa baik Zaitun maupun Bang Sawan adik beradik keturunan raja-raja. Selanjutnya Bang Sawan menceritakan, bahwa istana mereka dulunya sangat megah, kemudian diruntuhkan penjajah dan diganti dengan bangunan yang sekarang. Menurut pengakuan Bang Sawan sambil berbisik, dikatakannya bahwa mereka sebagai keturunan raja itu terikat sumpah. Mereka harus menahan diri dari pandangan orang lain. Mereka harus bersembunyi. Mereka baru boleh bangkit apabila ada tanda-tanda yang luar biasa terjadi di dalam keluarga itu. Sebab, bila mereka bangkit, mereka akan langsung dikenal masyarakat sebagai keturunan raja, pewaris raja! Tanda-tanda yang luar biasa itu akan terjadi dalam kurun generasi ketujuh. Menurut perhitungan mereka, generasi ketujuh itu adalah generasi Bang Sawan kakak beradik yang ada sekarang.

Untuk membangkitkan generasi ketujuh ini perlu adanya pengakuan dan dana yang besar. Bahwa mereka benar-benar keturunan raja, Bang Sawan tidak ragu lagi, karena mereka sudah dikenal sebagai keturunan raja-raja, walau masih dalam kalangan terbatas. Yang diperlukan untuk kebangkitan itu sekarang adalah dana pendukung. Itulah sebabnya, peninggalan nenek moyang mereka, berupa harta terpendam perlu digali untuk membiayai kebangkitan generasi ketujuh.

Beberapa kali penggalian telah dilakukan sebelum ini namun belum berhasil. Penggalian itu tidak berdasarkan suatu petunjuk yang jelas berupa sebuah peta misalnya, tetapi berdasarkan petunjuk “orang halus” yang selalu berkunjung menemui Bang Sawan setiap petang di sudut rumahnya. Orang halus itu mendesak agar Bang Sawan segera melakukan penggalian. Namun setelah dilakukan tiada hasil yang didapat. Lalu, datang lagi petunjuk lain dalam mimpi, bahwa yang dapat menentukan di mana lokasi harta terpendam itu adalah seorang perempuan dengan tanda-tanda dan ciri-ciri khusus yang akan datang dari tanah seberang pada waktu generasi itu bangkit. Menurut Bang Sawan dengan penuh keyakinan, orang itulah adalah Ando! Ando tidak tahu, ciri-ciri seperti apa, tanda-tanda seperti apa yang ada pada perempuan itu, tetapi Bang Sawan sangat yakin sekali, bahwa memang Andolah orangnya.

Coba Sinan bayangkan bagaimana terkejutnya Ando dengan persoalan yang diantarkan ke muka Ando. Belum lagi habis persoalan Zaitun, keris-keris, dan keris yang tergeletak di atas meja rumah Ando sebelum subuh, kini datang lagi persoalan baru, yaitu tentang harta terpendam. Ando tidak dapat menghindar dari persoalan ini, karena Bang Sawan adalah saudara sepupu Zaitun. Mereka mendatangi Ando secara khusyuk, diantar oleh Zaitun. Penuh budi bahasa dan yang paling sulit ditolak, adalah ketika Zaitun menangis lagi karena Ando menolak pergi. Air mata Zaitun itulah yang menyebabkan Ando diam dan mengangguk menyetujui ajakan mereka.

Sekiranya Sinan mau diajak waktu itu, mungkin Sinan akan lari dari persoalan mereka, karena banyak kontradiksi yang ditemui pada Bang Sawan dan saudara-saudaranya. Menurut cerita Zaitun, Bang Sawan adalah seorang pengusaha besar, tetapi kemudian jatuh karena resesi ekonomi yang melanda seluruh negeri. Ketika bisnis Bang Sawan sedang jaya-jayanya, dia tidak peduli dengan harta terpendam, generasi ketujuh dan sebagainya. Dikatakannya semua itu adalah ratapan masa lalu. Akan tetapi karena bisnisnya sulit untuk bangkit sesudah terjadinya resesi, Bang Sawan serta merta berbalik kepada masa lalunya, pada kerajaannya, pada warisannya, pada harta terpendam peninggalan nenek moyangnya. Tapi untunglah Sinan tidak ikut dalam acara ini, jadi tidak terjadi sesuatu yang mungkin menyebabkan hubungan Ando dengan Bang Sawan terganggu karena sikap dan pemikiran Sinan yang kadang-kadang mungkin dapat mengejutkan, yang dapat membuat orang lain salah sangka.

Perjalanan terasa lama walau jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh. Mungkin karena jalan ke sana tidak sebaik jalan raya lainnya, apalagi kendaraan yang membawa Ando adalah sebuah kendaraan antik. Sambil terkantuk-kantuk Ando terus mendengar apa yang mereka bicarakan. Ando tersentak sewaktu mereka mengatakan bahwa jika harta terpendam itu nanti ditemukan, maka mulai saat itu mereka akan memproklamirkan bangkitnya generasi ketujuh yang mereka namakan Gerakan Ketujuh. Ando tidak mengerti dengan Gerakan Ketujuh yang mereka maksudkan, tapi Ando dapat menduga bahwa mereka akan mengadakan gerakan yang hampir sama dengan apa yang dilakukan Zaitun dengan kerisnya. Mereka akan memberi tahu masyarakat luas bahwa sebuah kerajaan pantai timur akan bangkit kembali untuk pemurnian sejarah, pemurnian aqidah, mempertahankan budaya dan warisan bangsa.

Ketika Ando menanyakan kepadanya apa yang akan mereka lakukan untuk kebangkitan Gerakan Ketujuh, Bang Sawan dengan sangat hati-hati sekali menjawab bahwa persoalan yang pertama sekali diusahakan adalah mendapatkan harta terpendam lebih dulu. Kesediaan Ando sebagai detektor dalam pencarian lokasi harta terendam itu diulanginya kembali meminta pada Ando oleh Bang Sawan, Ando menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum saja. Bahkan Bang Sawan mengatakan dengan bersungguh-sungguh bahwa Ando akan diberi hadiah yang sangat besar bila harta terpendam ditemukan. Ando tersenyum saja mendengarkan janji itu. Mungkin Bang Sawan menganggap senyum Ando itu hanya basa basi atau rasa tidak percaya, maka Bang Sawan memastikan lagi, bahwa Ando akan dihadiahkan sebuah rumah mewah di Kualalumpur, kendaraan mewah dan naik haji. Wah! Benar-benar orang bisnis rupanya Bang Sawan. Belum apa-apa, Ando sudah dijanjikan sesuatu yang mungkin sebagai upah, komisi atau entah apa dengan nama yang menawan; hadiah.

Sinan jangan cemoohkan Ando, karena Ando dijanjikan akan mendapatkan sebuah rumah mewah di luar negeri, mobil mewah dan naik haji. Itu hanya janji yang diberikan Bang Sawan. Terhadap janji-janji ini Ando tetap berpegang pada apa yang dikatakan nenek pada Ando. Kata nenek, yang dikatakan rejeki apabila sesuatunya itu sudah berada di tangan kita. Jika masih dalam janji, pengurusan atau apalah namanya, jika belum sampai ke tangan, itu belum dapat dikatakan rejeki. Rezeki yang kita makan adalah sesuatu yang telah berada di dalam mulut kita. Jika makanan masih di tangan, makanan itu masih belum dapat disebut rejeki kita, karena kemungkinan sekali makanan itu tidak sampai ke mulut. Mungkin karena jatuh, disambar kucing, dirampok orang atau sebab-sebab lain yang tidak dapat diduga. Itulah sebabnya Ando selalu disuruh mengucapkan bismillah sebelum makan. Juga, nenek Ando menasehatkan agar jangan terlalu percaya pada sebuah janji. Bagi Ando suatu hal yang biasa saja bila nenek menasehati. Ando tidak pernah merasa dihalangi atau tersinggung karenanya. Hanya kadang-kadang saja hati Ando jadi sedih karena banyak hal yang menurut nenek belum boleh Ando putuskan sendiri. Seperti misalnya, di dalam hati kecil Ando, Ando memang ingin sekali mempunyai sebuah rumah, sebagaimana lazimnya keinginan dari setiap perempuan.

Setiap harta terpendam apalagi harta peninggalan raja-raja, selalu ingin digali oleh mereka yang merasa dirinya pewaris. Apakah tujuan penggalian itu untuk mendapat keuntungan besar atau sebagai pembuktian bahwa mereka adalah pewaris raja-raja atau pun untuk keperluan sejarah, tidaklah menjadi sesuatu yang Ando pikirkan. Sambil lalu, dalam pembicaraan sepanjang perjalanan itu, Ando menyampaikan beberapa cerita tentang pencarian dan penggalian harta terpendam yang pernah dilakukan. Ando sengaja menceritakannya pada Bang Sawan, agar mereka jangan terlalu yakin terhadap sesuatu yang terpendam. Ando tidak sampai hati melihatnya nanti, kalau-kalau apa yang diyakini Bang Sawan ternyata sesuatu yang hanya sia-sia. Jangan-jangan, gali digali, ternyata hanya menggali harapan. Gali digali, ternyata hanya ungkapan keputus-asaan terhadap kekecewaan hidup yang diderita selama ini. Gali digali, ternyata hanya menggali hutang yang menganga semakin dalam. Gali digali, ternyata kita menggali kuburan sendiri.

Entah bagaimana penerimaan Bang Sawan terhadap apa yang Ando ceritakan terhadap penggalian-penggalian yang pernah dilakukan sebelum ini tidaklah menjadi persoalan pula bagi Ando. Mungkin saja dia tersinggung, tapi Ando tidak pedulikan. Ando ingin agar Bang Sawan jangan sampai kecewa berat dan malu bila gagal tidak menemukan sesuatu apapun dalam sebuah penggalian, atau malu pada Ando, karena Ando sengaja diundangnya untuk ikut menentukan penggalian itu.

*

Tertinggal Ando menceritakannya pada Sinan tentang istana tua yang Ando datangi itu. Mulanya Ando tidak tertarik untuk bercerita tentang sebuah rumah, apalagi sebuah rumah tua kepada Sinan. Sinan bukan seorang arsitek, bukan pula sejarawan atau antropolog dan menurut Ando tentu Sinan tidak akan tertarik kalaupun Ando ceritakan. Tapi karena ada sesuatu yang Ando alami di rumah itu, inginlah Ando jadinya menceritakannya.

Rumah itu diyakini sebagai Istana oleh Bang Sawan dan saudara-saudaranya. Namun Bang Sawan menyebutnya saja rumah bukan istana, maka Ando pun ikut-ikutan saja menyebutnya rumah. Rumah itu sebuah bangunan dari kayu peninggalan masa lalu. Warnanya sudah menghitam atau mungkin dihitamkan dengan cat atau apa. Mungkin memang warna kayu itu kehitaman atau menghitam karena tua, tak tahulah Ando. Tapi yang tampak adalah bahwa kayu-kayu itu tidak lapuk. Kayu jenis yang terbaik barangkali yang dipakai untuk membangun rumah itu dulu. Ketika Ando masuk, dalam rumah itu gelap karena tidak semua jendela dibuka. Warna gelap kehitaman itu seakan memancarkan suatu kengerian. Apalagi kalau melihat ke atas, ke lotengnya, jaring laba-laba bergantungan dan sekali-sekali kelelawar melayang dekat kepala Ando karena terkejut ada orang yang masuk ke rumah itu.

Ada beberapa foto tergantung di dinding. Foto-foto dari kakek dan nenek mereka semasa baru kawin. Karena umur foto itu sudah tua, yang tampak hanyalah bayangan kabur masa lalu dari kehidupan Bang Sawan adik beradik. Juga ada beberapa kendi yang terletak di samping lemari, benda-benda kuno lainnya terletak di dalam sebuah lemari kaca yang bagus sekali. Di ruang tengah ada seperangkat meja kursi yang dapat digunakan untuk makan atau rapat untuk 15 orang. Bang Sawan serta saudara-saudaranya langsung duduk di sana dan meletakkan tas masing-masing, handphone, rokok dan kunci mobil ke atas meja. Ando dipersilahkan duduk lebih dulu.

Di atas meja makan yang besar dan panjang itu Bang Sawan menggambar denah kawasan daerah sekitar rumahnya dengan jari telunjuk. Tentu saja tidak tampak apa yang digambarnya. Bang Sawan kemudian sadar akan hal itu. Lalu semua benda yang ada di atas meja dijadikannya sebagai bagian dari apa yang digambarkannya. Surat kabar yang sudah remuk yang selalu dipegang Bang Lades sejak dari mobil, dibentangkannya dan didatarkannya kembali dengan tangan, itulah yang dikatakannya sebagai rumah yang ada sekarang. Handphonenya sendiri sebagai mewakili masjid besar. Handphone Bang Kinang sebagai mewakili surau. Handphone Bang Lades sebagai rumah-rumah penduduk. Kunci mobil dijadikan sebagai mihrab masjid yang menghadap ke sungai. Sungai dimisalkannya dengan seutas tali plastik yang diambilnya dari tali pengikat sebuah kotak yang Ando tidak tahu apa isinya. Ballpoint miliknya dijadikan sebagai jembatan yang menyeberangi sungai. Dompetnya yang diambilnya dengan tergopoh-gopoh dari kantongnya dijadikan sebagai kedai-kedai yang berada di dekan masjid. Dari apa yang digambarkannya itu, Ando mendapat gambaran bahwa rumah tempat Ando berada sekarang dikelilingi oleh sebuah sungai, berdekatan dengan masjid, surau dan kedai, kuburan, sawah ladang, perumahan baru, lokasi pabrik yang bakal dibangun, dan tanah yang sudah dikapling-kapling oleh beberapa pejabat di ibu kota.

Ketika seorang perempuan tua datang membawa makanan dan minuman kemudian meletakkannya di atas meja, Bang Sawan dengan cepat mengumpulkan kembali barang-barang yang tadi jadi gambar. Kini di atas meja telah terletak tujuh gelas minuman, tujuh piring berisi kue ketan, beberapa buah sendok kecil, tapi masih terkumpul di tengah meja. Bang Sawan terus bercerita tentang penggalian yang akan dilakukan, sambil sekali-sekali menyuruh Ando mengambil minuman. Ando mengangguk saja karena minuman itu tidak diletakkan di depan masing-masing orang, tapi diletakkan saja di tengah. Bagaimana Ando akan mengambilnya? Namun, ketika Ando memandang ke arah gelas-gelas itu, tiba-tiba, uh…! Sebuah gelas bergerak dan perlahan bergeser menuju ke arah Ando. Seakan gelas itu berjalan lambat-lambat mendekat. Ando terkejut, kenapa sebuah gelas tiba-tiba bisa bergerak sendiri, padahal meja itu datar dan tidak pula terlalu licin.

Sesaat Ando melihat Bang Sawan dan orang-orang lainnya yang duduk di sekeliling meja. Mereka asyik bicara sesamanya. Ando tidak tahu, apakah pandangan Ando sendiri yang telah berubah atau memang gelas itu yang berjalan sendiri. Ando gosok mata Ando tiga kali, tetapi pandangan Ando tidak Ando rasakan ada perubahan apa-apa. Ketika gelas itu bergerak lagi mendekati Ando, saat itu pula Bang Sawan dan yang lain ikut memperhatikan. Semua hening, kaku. Ando semakin tak percaya pada sebuah kenyataan yang kini berada di depan Ando. Ando mengucap beberapa kali menyebut nama Allah.

Setelah gelas itu berada di pinggir meja tepat di depan Ando, gelas itu berhenti. Bang Sawan menarik nafas lega. Begitu juga yang lain. Tapi ketika gelas itu bergerak untuk ketiga kalinya mendekati Ando, semuanya memperhatikan dengan mendekatkan kepala ke atas meja, seakan mereka melihat sesuatu yang sangat kecil kini sedang bergerak. Gelas itu perlahan bergeser, bergeser dan terus ke sudut meja di seberang tempat Ando duduk. Kemudian gelas itu berhenti. Semua orang menarik nafas dan saling berpandangan. Lalu, Bang Sawan bicara memecahkan ketegangan. Dikatakannya bahwa gelas itu berpindah tempat untuk menyambut kedatangan Ando dan sekaligus memberi arah ke mana Ando harus melangkah. Bang Sawan memberitahu, bahwa kedatangan Ando sudah mereka ketahui, mereka senang dengan kedatangan Ando dan mereka hadir bersama-sama di sini dalam pembicaraan ini.

Uh..! Berdiri bulu roma Ando mendengar apa yang dikatakan Bang Sawan. Mereka? Siapa mereka? Mereka yang mana? Tapi Ando tidak mau bertanya siapa yang dimaksudkan dengan kata mereka itu. Namun Ando mengira-ngira saja, bahwa yang dimaksud dengan mereka mungkin penghuni yang dikatakan orang-orang di kampung itu. Penghuni yang datang kemudian, karena penghuni yang sesungguhnya sudah pindah dan hidup di ibukota.

Bang Sawan gembira sekali. Dia mengucapkan syukur berkali-kali, karena menurut dia, memang Andolah yang dimaksudkan mereka. Selanjutnya Bang Sawan mengatakan, pernah beberapa orang dukun yang didatangkan ke rumah itu, karena mengaku dapat melihat harta terpendam, namun mereka tidak memberikan reaksi apa-apa. Justru ketika Ando datang barulah mereka menyuguhkan Ando minuman. Itu berarti, mereka lebih percaya pada Ando daripada dukun-dukun yang pernah datang sebelumnya.

Ingin secepatnya Ando meninggalkan meja ini atau setidak-tidaknya ke luar dari rumah ini. Tapi bagaimana mungkin. Ando terpaksa memberanikan diri menghadapi semua apa yang akan terjadi. Ando mengucap beberapa kali untuk menambah keberanian. Saat Ando telah bertekad untuk menerima seluruh keadaan betapapun menakutkannya, tiba-tiba gelas yang lain pula bergerak pelahan. Meninggalkan kumpulannya di tengah meja dan pergi ke tempat gelas yang telah bergeser ke sana tadi. Bang Sawan terkejut dengan gelas kedua itu. Ando menjadi takut. Menggigil lutut Ando menahan takut. Basah ketiak Ando. Ando pejamkan mata, agar tidak melihat apapun juga kejadian sesudah ini. Namun Ando tersentak ketika Bang Sawan berdiri dan hampir setengah berteriak dia mengatakan bahwa sekaranglah saatnya untuk menentukan di mana penggalian akan dilakukan. Menurut Bang Sawan lagi, arah ke mana gelas itu bergerak adalah petunjuk yang diberikan mereka pada Ando. Bang Sawan dan kedua saudaranya saling berpelukan gembira. Begitu juga Zaitun, Kurma dan Palma. Mereka mengucapkan syukur berkali-kali, karena apa yang mereka inginkan akan terkabul.

Ando dipersilahkan turun ke halaman dan terus menuju halaman yang lebih luas lagi di belakang rumah, karena kesanalah arah gerak gelas tadi. Mereka mengiringkan Ando di belakang. Semuanya diam. Beberapa orang tua yang tidak Ando kenal tampak berlari-lari dari samping rumah menuju halaman belakang. Mereka membawa segala peralatan untuk sebuah penggalian. Perempuan tua yang tadi menyuguhkan minuman, kini telah siap dengan cerana di tangan. Dari cerana itu mengepul asap tipis menyebarkan aroma kemenyan yang kuat sekali, mencucuk-cucuk masuk ke hidung Ando, terus ke dada, ke perut dan seluruh urat nadi dan diri Ando. Dipegangnya tangan Ando dan diberikan cerana itu pada Ando. Tanpa bicara, Ando seakan paham maksudnya, bahwa Ando harus berjalan mengikuti arah pergerakan gelas di atas meja tadi sambil membawa cerana. Terserah, mau berapa langkah Ando akan berjalan. Dan bila nanti Ando berhenti, itulah tanda bahwa tempat itu harus digali. Dipastikan akan ditemukan harta terpendam di dalamnya.

Tunggu Sinan! Tunggu! Jangan tertawa dulu. Ando tidak mendramatisir cerita itu. Tidak. Ando bicara menurut apa yang telah Ando lalui. Memang bagian cerita itu terasa sangat dramatik sekali. Apalagi ketika Ando mulai melangkah. Melangkah, melangkah dan terus berjalan menuju tebing sungai. Tebing sungai itu tinggi sekali, sungai yang mengalir di bawahnya tampak hanya sebesar tali plastik sebagaimana yang diletakkan Bang Sawan di atas meja sewaktu dia menerangkan lokasi kawasan ini. Haruskah Ando terus berjalan yang akhirnya Ando akan terus masuk jurang, berguling-guling dan akhirnya terkapar di pinggir sungai di bawah sana? Pada waktu itu pula terlintas dalam pikiran Ando, siapakah perempuan yang menyuruh Ando tadi? Termasuk mereka jugakah dia? Mereka yang kini menjadi penunggu rumah Bang Sawan? Apakah perempuan tua itu, atau mereka itu, menginginkan Ando terjun ke sungai dan mati?

Kenekatan Ando segera timbul. Peduli apa dengan arah gelas, peduli apa dengan perempuan tua itu. Sesampainya di bibir tebing, Ando berbelok ke kanan. Terus berjalan ke arah mihrab masjid. Di situ Ando berdiri beberapa saat, karena tidak mungkin Ando akan berjalan lurus menembus dinding mihrab.

Bang Sawan dan semua orang berlari ke arah Ando. Mereka mengelilingi Ando. Mereka bersimpuh, sujud dan mencium tanah. Ando dibimbing perempuan tua itu ke luar lingkaran orang-orang itu. Ando seperti tidak berdaya menolak apapun juga. Ando biarkan diri Ando hanyut dalam ketidakberdayaan itu. Setelah Ando ke luar dari lingkaran orang-orang itu, Ando dengar suara mereka bergumam. Ando menoleh kepada mereka, dan Ando lihat mereka membaca sesuatu. Mungkin mantera-mantera atau jampi-jampi atau mungkin memaki-maki Ando, pedulilah. Kemudian terdengar Bang Sawan bicara pada mereka bahwa penggalian harus dimulai malam ini juga. Orang-orang mengangguk.

Sinan, Sinan..! Dapatkah Sinan bayangkan bagaimana kecamuk yang terjadi dalam diri Ando dalam keadaan dan situasi seperti itu? Betul betul sesuatu yang seperti Sinan katakan, chaos! Sesuatu yang tidak berkeruncingan terjadi dalam diri Ando. Jiwa Ando, kepercayaan Ando, keyakinan Ando akan ajaran-ajaran agama, logika Ando, seakan dibenturkan secara serentak dengan sesuatu yang tidak masuk akal, dengan sesuatu yang berada di luar jangkauan pikiran dan dugaan. Sinan tahu, Ando bukan dukun, bukan orang sakti, bukan orang suci, bukan bomo, atau bukan entah apa lagi. Ando bukan detektor yang dapat mengendus logam-logam yang tersimpan di dalam tanah. Pokoknya Ando bukan, bukan, bukan apa-apa. Tapi kenapa Bang Sawan dan orang-orang itu begitu yakin pada Ando. Menganggap bahwa Ando adalah penentu lokasi di mana titik penggalian akan dilakukan, di mana harta terpendam itu tersimpan?

Ando harus pulang sore itu juga. Harus. Ando tidak sampai hati melihat Bang Sawan dengan keyakinannya atau mungkin juga kebodohannya melakukan penggalian malam nanti bersama orang-orang kampung kepercayaannya. Apa yang harus Ando katakan pada mereka? Mereka orang-orang saleh semua, kepalanya bersongkok putih semua pertanda mereka sudah berkali-kali naik haji ke Makkah. Akankah Ando katakan bahwa semua apa yang akan dilakukannya nanti malam itu bid’ah, khurafat, syiri’ atau apa lagi? Mereka orang-orang yang paham tentang agama, tentang hukum agama. Sedangkan Ando? Siapa Ando? Ando tidak tahu apa-apa akan hal itu.

Sewaktu Ando telah berada di dalam mobil yang akan mengantarkan Ando pulang, saat itu pula keinginan Ando timbul dengan kuatnya untuk ikut menyaksikan penggalian yang akan dilakukan malam nanti. Keinginan Ando untuk menyaksikan, untuk melihat sebuah bukti, bahwa semua itu adalah salah, atau sebaliknya, bahwa semua itu adalah memang benar.

Beberapa persoalan yang terkecamuk sepanjang perjalanan pulang dalam pikiran Ando adalah tentang sebuah keyakinan. Bang Sawan meyakini bahwa harta warisan yang akan mereka miliki adalah harta peninggalan raja, yang karena beberapa alasan tidak diketahui, sengaja dikuburkan. Bila, di mana, kenapa dan siapa yang menguburkan tidak mereka persoalkan. Yang tidak kalah pentingnya dalam kecamuk diri Ando itu adalah, harta warisan yang akan mereka gali itu terletak di bawah mihrab sebuah masjid yang terletak di pinggir sungai. Tentulah mereka harus pilih salah satu; apakah mereka akan menggali tanah di bawah mihrab masjid itu lalu masjid itu runtuh dihanyutkan air sungai, atau membatalkan penggalian untuk mempertahankan masjid tetap berdiri di pinggir tebing itu? Dengan kata lain mereka harus memilih; Gerakan Ketujuh bangkit tetapi masjid runtuh karenanya.

*

Bang Sawan maupun Zaitun mungkin kecewa karena penggaliannya belum juga berhasil, tetapi kepercayaan mereka pada Ando semakin besar bahwa memang Andolah orangnya yang dapat menentukan di mana penggalian yang sesungguhnya harus dilakukan. Aneh. Bang Sawan menganggap kepulangan Ando sebelum penggalian dilakukan itulah menyebabkannya gagal. Seakan pulangnya Ando sore itu merupakan pantang, bagian dari kekeramatan harta terpendam. Walau bagaimanapun Ando membantah pendapatnya, namun Bang Sawan tetap mengharapkan agar Ando mau lagi datang ke sana. Menunjukkan tempat mana yang harus digali sesuai dengan tatacara lama yang berlaku. Menurut tatacara lama itu, Ando harus menaburkan bunga tujuh ragam ke arah delapan mata angin dan sebanyak sembilan kali, pada hari ke 13 bulan ke 11. Tentu saja Ando menolak, apalagi dikait-kaitkan pula dengan angka-angka ganjil yang kononnya mengandung kekuatan dan misteri tersendiri. Penolakan itu Ando lakukan sesungguhnya dengan maksud agar jangan sampai Bang Sawan akan menjadi kecewa berat nanti, kalau memang tidak ada apapun yang didapat dalam setiap penggalian.

Ando teringat kembali tentang setumpuk harta peninggalan kerajaan Pagaruyung yang pernah Sinan ceritakan kepada Ando. Ketika Perang Paderi sedang berkecamuk di seluruh ranah Minangkabau, tentara Paderi berhasil menaklukkan Tanah Datar. Mereka segara menjarah semua harta kerajaan Pagaruyung. Semua barang-barang dan hartabenda kerajaan dirampas. Dua ratus ekor kuda beban membawa semua barang rampasan. Akan tetapi, sewaktu iringan-iringan kuda beban itu melewati sawah, kuda-kuda itu terbenam. Semua rampasan itupun ikut terbenam. Semakin digali, barang-barang itu semakin jauh terbenam. Sampai sekarang, harta rapasan itu tidak dapat diambil siapapun.

Cerita itu Ando ceritakan juga pada Zaitun. Ando katakan, bahwa cerita itu sengaja diceritakan agar Zaitun dapat menceritakannya pula kepada Bang Sawan, agar Bang Sawan tidak usah terlalu kecewa bila penggalian yang dilakukan tempo hari gagal. Ando tambahkan pula cerita itu dengan bumbu yang lain. Ando ceritakan, ketika pemerintah Indonesia kelabakan membayar hutang luar negeri yang semakin membebani rakyat, lalu timbul pikiran untuk menggali harta kerajaan Pagaruyung itu. Bila semua harta itu berhasil didapatkan, harta itu langsung dijual untuk pembayar hutang. Lalu, penggalian pun dilakukan. Siang dan malam. Melibatkan berbagai pakar, paranormal, dukun, bahkan juga seorang menteri. Semua surat kabar memberitakan penggalian itu. Namun akhirnya, penggalian itu tidak pula berhasil.

Zaitun mengangguk-angguk mendengar cerita Ando. Tetapi Ando yakin, Zaitun pasti tidak akan mempercayai apa yang telah Ando ceritakan. Zaitun kakak beradik sudah dirasuki oleh suatu persoalan yang besar dan teramat penting. Mereka kini sedang menegakkan sebuah identitas diri dengan kebangkitan generasi ketujuh. Sepanjang pembicaraan dengan Zaitun itu kemudian Ando tahu, bahwa Bang Sawan sudah lama berusaha untuk mendapatkan harta warisan itu, walaupun saudara-saudaranya yang lain kurang setuju. Bang Sawan memerlukan uang untuk modal perniagaannya yang kini terkatung-katung.

Menurut Zaitun, menggali harta warisan kerajaan masa lalu untuk dijadikan modal bagi perniagaan yang sedang bangkrut adalah sangat berbahaya. Namun Zaitun terpaksa diam saja, terpaksa mengikuti apa yang diinginkan Bang Sawan, karena masing-masing sudah melakukan perjanjian; Zaitun dengan keris pusakanya dan Bang Sawan dengan harta peninggalan kerajaan.

Coba Sinan bayangkan bagaimana Ando harus bersikap terhadap keluarga ini. Dulu sudah Ando katakan kepada Zaitun, bahwa sebuah keris adalah sebuah keris. Jangan dikeramatkan. Jangan pula dijadikan patokan untuk menentukan masa depan. Sekarang, Bang Sawan dengan keyakinannya yang penuh mendapatkan harta peninggalan yang akan dijadikan modal perniagaan.

Bagaimana menurut Sinan? Ando kini berada pada posisi yang cukup sulit. Apakah Ando harus memenuhi keinginan Bang Sawan? Mengikuti mereka sekali lagi ke rumah tua di pantai Timur itu? Ikut menabur bunga, berjalan berkeliling halaman rumahnya yang luas itu. Sebab, sudah tiga kali Bang Sawan menelepon Ando, menanyakan bila Ando punya waktu untuk pergi ke Terengganu. Sementara Zaitun mendesak pula untuk menyelesaikan persoalan kerisnya yang kini telah bermasalah pula.

Bagaimana? Kenapa Sinan diam saja? Bicaralah. Berikan komentar terhadap persoalan yang kini sedang Ando hadapi. Kalau perlu kritik Ando, marahi Ando. Ando ingin, persoalan yang sedang Ando hadapi saat ini dapat diselesaikan dengan segera. Didudukkan pada posisi yang tepat. Hanya satu keinginan Ando, jangan sampai Zaitun maupun Bang Sawan semakin tersudut ke jurang yang membahayakan. Ke jurang kehidupan yang bertolak belakang dengan realita yang ada.

*

Seminggu setelah kembali dari Terengganu, Andopun mulai bersiap pula menghadapi persoalan keris Zaitun yang bermasalah. Apalagi Zaitun beberapa kali menelepon, mengatakan bahwa dia akan segera berangkat ke Bali untuk menghabiskan hari libur suaminya. Zaitun mendesak agar persoalan keris yang mengandung beribu harapan itu, segera dicarikan titik terangnya, sehingga apa yang berada dalam khayal mereka akan menjadi sebuah kenyataan. Agar Ando mau mencarikan penyelesaian masalah keris itu, Zaitun mengajak Ando untuk ikut ke Bali bersamanya, tapi Ando menolak mengatakan bahwa suami Ando akan pergi ke Serawak melanjutkan program bengkel sastranya.

Ando tidak tahu persiapan seperti apa yang harus Ando siapkan dalam menghadapi persoalan keris Zaitun. Tapi yang penting, Ando harus siap mental dulu. Siap mental menerima segala sesuatu yang akan datang. Entah apa yang datang itu, Andopun tidak memikirkannya. Buat apa memikirkan sesuatu yang tidak jelas. Setelah Ando selesai sembahyang Asyar, Zaitun menelepon lagi. Katanya dia sudah berada di Bali. Setelah memuji-muji Bali, cerita Zaitun beralih pada Bang Sawan. Menurut Zaitun, keadaan seputar kebangkitan generasi ketujuh kini semakin rumit. Mungkin akan terjadi sebuah ledakan besar yang menyebabkan mereka kakak beradik akan terpecah berkeping-keping, karena semua anggota keluarga menolak rencana Bang Sawan menggali harta karun di Terengganu secara lebih serius. Menurut Bang Sawan yang diceritakan Zaitun melalui telepon itu, jika dengan tenaga halus tidak berhasil, maka penggalian akan dilanjutkan dengan tenaga kasar. Bang Sawan akan mendatangkan buldozer, eskavator, traktor dan alat-alat berat lainnya untuk menggali setiap jengkal tanah sekeliling istana. Harta karun itu musti segera didapatkan. Menurut Bang Sawan, deadline dari kemunculan gerakan generasi ketujuh sudah diambang pintu. Jika harta karun itu tidak didapat sebelum deadline, semua keluarga itu akan terpuruk ke jurang kemiskinan yang paling dalam. Dikutuki nenek moyang! Dilaknati arwah! Tidak ada cara lain, selain melakukan penggalian kalau hidup mau selamat. Semua saudara boleh saja tidak setuju, tapi sekarang tinggal pilih, mau miskin semiskin-miskinnya karena tidak berhasil mendapatkan harta karun, atau mau bangkit, berjaya, terpandang dan kembali diakui sebagai pewaris raja. Suara Zaitun di seberang sana terdengar mengelegar menceritakan semua kecemasan dan kenekatan Bang Sawan.

Ando merasa terpukul. Menurut Ando, kenekatan Bang Sawan itu tentulah karena Ando tidak berhasil menunjukkan di mana harta karun itu dikuburkan. Timbul juga penyesalan dalam diri Ando. Kenapa Ando ini? Siapa Ando ini? Kenapa Bang Sawan bersaudara, Zaitun beranak pinak begitu mencurahkan kepercayaannya kepada Ando dalam hal-hal yang sangat tidak masuk akal ini. Pada saat-saat didesak pikiran seperti itu, Ando ingin saja lari. Lari. Mencari Sinan. Menceritakan segala kegilaan yang Ando rasakan. Tapi sayang sekali, ketika itu katanya, Sinan sedang berada di Makasar.

Sekiranya berjumpa dengan Sinan waktu itu, Ando akan menceritakan kepada Sinan betapa mengerikan jadinya, kalau apa yang dikatakan Zaitun benar-benar dilaksanakan oleh Bang Sawan, menggali setiap jengkal tanah istana tua itu. Bayangkan Sinan, enam puluh atau mungkin seratus buldozer, eskavator, traktor dan peralatan berat lainnya meraung-raung sepenuh halaman istana mengais-ngais, menggali, membolak-balik tanah mencari harta karun itu. Andopun tidak dapat membayangkan, bagaimana jadinya masjid kecil yang terletak di pinggir jurang itu. Tentulah masjid itu akan berguling-guling jatuh ke dalam sungai yang mengalir jauh di bawah jurang sana. Bayangkan Sinan, betapa dahsyatnya sebuah kerakusan apabila akal sehat sudah tidak berfungsi lagi. Betapa mengerikannya sebuah kebanggaan yang akan dicapai, walau kebanggaan itu mungkin kosong belaka.

Sementara Zaitun libur bersama suaminya ke Bali, Palma beberapa kali datang ke tempat Ando. Palma dengan caranya yang lembut, penuh basa basi, dan dengan senyumannya yang menarik itu, bicara pelan-pelan. Menyampaikan kekhawatirannya akan sesuatu yang mungkin terjadi dalam keluarganya setelah penggalian yang akan dilakukan Bang Sawan nanti. Palma menyerah dan pasrah terhadap apa yang akan terjadi. Bagi Palma, biarlah semua kebanggaan, pimpinan generasi ketujuh itu direbut oleh Seri Kandi anak Zaitun, atau dirampas oleh Bang Sawan kakak beradik, asal saja Ando mau membawa Palma ke Pagaruyung. Palma ingin melihat keris kembaran keris yang ada pada Zaitun sekarang, apakah kembarannya benar-benar ada atau hanya cerita yang dibuat-buat begitu saja. Palma akan menjual apa saja untuk ongkos perjalanannya. Ando menolak permintaan itu, karena menurut Ando, keris kembaran yang dikatakan Zaitun adalah milik keluarga pewaris raja Pagaruyung. Bagaimana mungkin Ando mendapat izin melihatnya, apalagi bersama Palma, orang yang tidak dikenal sama sekali oleh keluarga ahli waris di sana. Namun Palma, sebagai perempuan Melayu yang lembut hati, dia hanya menekurkan kepala, terisak, dan beberapa kali tangannya dihapuskan ke wajahnya yang dibasahi air mata. Di matanya yang tua itu, tampak sekali harapannya direnggutkan. Ando tidak tahan melihat mata Palma menatap seperti itu. Mau pula Ando menangis, tapi Ando tidak punya alasan untuk menangis.

Rasanya Ando mau meronta, berteriak-teriak melepaskan kekesalan yang timbul dalam diri Ando. Kesal, karena Ando seakan dikurung oleh berbagai persoalan yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan Ando sendiri. Ketika Palma pergi, emosi, kemualan, kekesalan yang Ando tahan selama pembicaraan tadi, meledak juga. Seperti Ando menahan diri hendak muntah, akhirnya muntah itu meledak juga. Lalu, Ando kunci pintu, Ando hidupkan televisi sekeras-kerasnya, Ando hidupkan air ledeng pada semua keran yang ada. Ando ambil sendok-sendok besar pengacau gulai, Ando pukul-pukul semua periuk. Ando buka baju Ando satu persatu dan melemparkannya ke mana-mana sambil berteriak-teriak dan memaki-maki. Ando maki-maki Zaitun, Palma, Sari Kandi, Raja Hitam, Bang Sawan, Bang Lades, dan siapa saja yang Ando ingat, langsung Ando maki. Sampai akhirnya Ando letih sendiri dan tertidur. Sekiranya suami Ando tidak membawa duplikat kunci apartement itu, mungkin dia sudah sejak sore terkurung di luar.

Ketika Ando terbangun dan menyadari bahwa Ando tidak berpakaian sehelai benangpun, sementara dapur, ruang makan, kamar tidur centang perenang, suami Ando tertawa terkekeh-kekeh. Dikatakannya, Ando termasuk seorang seniman musik rock yang sangat berbakat, tetapi terlanjur menjadi paranormal. Setan! Sampai hati benar suami Ando mencemooh seperti itu. Tapi bagaimana Ando akan marah padanya, karena dia adalah satu-satu orang yang memberikan kebebasan kepada Ando untuk berekspresi.

Setelah badai reda dalam diri Ando, saat-saat seperti itu Ando mencoba merenung kembali. Apa sesungguhnya yang dicari dalam kehidupan ini? Mau apa kita sesungguhnya dengan umur yang masih tersisa diberikan Tuhan. Tidakkah harta karun, generasi ketujuh, keturunan raja, ahli waris, pemilik istana hanyalah fatamorgana yang semakin dikejar semakin kabur dan menghilang. Akan tetapi, nun di balik fatamorgana itu, ada pula orang-orang yang mencoba hidup dari bias-bias cahaya tak berbentuk itu. Mereka hidupi pantulan dan bias-bias cahaya masa lalu itu, mereka hidup di dalamnya dengan kenikmatan yang luar biasa. Terlintas wajah Zaitun, Palma, Bang Sawan adik beradik saling berlari mengejar bias. Persoalannya bagi Ando sekarang adalah, dapatkah Ando menghentikan bias-bias cahaya masa lalu yang memabukkan kehidupan mereka? Ando merasa tertekan.

*

Selang beberapa hari Zaitun muncul dengan tersenyum manis sekali. Dia membawa sebuah kotak kayu berukir, dibungkus selembar kain, yang menurut Ando, pastilah kotak kayu itu berukir ukiran Jepara, sedangkan batik pembungkusnya adalah batik tulis dari Jogja. Tanpa bicara apa-apa, Zaitun langsung merangkul Ando dan kami berpelukan beberapa saat. Terasa di tengkuk Ando, tarikan nafas Zaitun yang lega. Setelah meletakkan kotak kayunya di meja dan menyandarkan badannya di sofa, dia langsung bercerita dengan penuh semangat.

Zaitun menceritakan bahwa perpecahan yang ditakutkannya selama ini akan terjadi antara keluarganya dengan Bang Sawan adik beradik, dipastikannya tidak akan terjadi. Bang Sawan telah mengurungkan niatnya menggali halaman istana. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar, kenapa Bang Sawan yang sudah siap dengan 65 unit alat-alat berat penggali harta karun itu tiba-tiba membatalkan secara tiba-tiba? Spekulasi terjadi di dalam keluarga besar itu. Menurut perkiraan Zaitun, mungkin saja Bang Sawan mendapat pesan khusus dari Ando agar membatalkan penggalian. Zaitun begitu yakin, bahwa Bang Sawan benar-benar mendapat pesan khusus itu dan Bang Sawan mematuhinya.

Nah, ini lagi! Pesan khusus dari Ando? Bagaimanapun juga Ando menjelaskan kepada Zaitun, bahwa Ando tidak pernah kontak lagi dengan Bang Sawan semenjak pulang dari Terengganu tempo hari, apalagi mengirimkan pesan khusus membatalkan penggalian itu, namun Zaitun tetap tidak yakin. Bahkan Zaitun dengan penuh keyakinan mengatakan, bahwa Bang Sawan siap bersumpah di bawah Quran memang pesan khusus dari Ando. Bagaimanapun juga Ando menjelaskan bahwa Ando hanya di rumah saja, bahwa handphone Ando rusak karena jatuh ke dalam air dan tidak memungkinkan Ando mengirimkan pesan apapun pada Bang Sawan, Zaitun tetap tak bergeming dengan keyakinannya. Daripada bertengkar terus-terusan dengan Zaitun, sementara dia sudah begitu yakin dengan apa yang dikatakannya, Ando diam saja, mengangguk-angguk. Semua kekesalan dan kemuakan Ando, Ando tahan sehabis-habisnya.

Setelah Zaitun semakin yakin bahwa Ando mengirim pesan khusus pada Bang Sawan menyebabkan Bang Sawan mendadak sontak menghentikan penggalian harta karunnya, barulah Zaitun mengalihkan cerita pada kotak kayu yang dibawanya. Dengan bercucuran air mata gembira Zaitun menceritakan, bahwa kotak kayu yang dibawanya sekarang adalah kiriman dari nenek moyangnya yang ditemukan secara kebetulan. Ketika mobil Zaitun melaju dari bandara menuju rumahnya, tiba-tiba seekor lembu melintas. Memang di jalan-jalan kampung di Negeri Sembilan sering lembu-lembu melintas jalan yang menyebabkan terjadinya pelanggaran. Hari itu, mobil Zaitun menabrak seekor lembu tua. Mobil Zaitun terpental ke pinggir jalan dan menabrak batang meranti. Zaitun turun memeriksa mobilnya, dia melihat sebuah kotak kayu tergeletak di bawah kolong mobil, entah dari mana datangnya. Zaitun langsung mengambilnya. Dan isinya, masyaAllah, menggigil tubuh Zaitun menahan emosi menceritakan, isinya ternyata sebuah kalung permata! Kalung itu menurut Zaitun adalah kalung perhiasan orang-orang tua dahulu dan bukan tidak mungkin milik permaisuri raja.

Zaitun sengaja membawa kotak kayu berisi kalung itu kepada Ando, dengan harapan agar Ando dapat memastikan, kalung dari permaisuri raja manakah asal muasal kalung ini. Menurut Zaitun, kalung ini pastilah kalung dari permaisuri Raja Hitam, yang dengan cara yang luar biasa diserahkan kepada zuriat keturunannya yang berhak untuk membangkitkan generasi ketujuh.

Bagaimana menurut pendapat Sinan? Dapatkah Sinan percaya begitu saja dengan apa yang diceritakan Zaitun? Banyak hal aneh yang terkandung dalam ceritanya yang hampir bertele-tele itu. Mulai dari soal pesan khusus Ando kepada Bang Sawan, Bang Sawan membatalkan penggalian secara mendadak, mobilnya menambrak lembu, mobilnya terpental menabrak pohon meranti, kotak kayu tergeletak di kolong mobil tanpa rusak sama sekali, isi kotak kayunya kalung dari permaisuri raja. Susah Ando mengiyakan atau menidakkan kenyataan yang kini dihadirkan di hadapan Ando. Tidak berdaya pikiran Ando menalarkan semua cerita Zaitun yang fantastis ini.

Bagi Zaitun, penemuan kalung permaisuri raja Hitam itu adalah sesuatu yang penting. Bukan bagaimana kotak kayu ditemukan, tetapi adalah persoalan di balik isi kotak kayu itu. Kalung itu diyakininya adalah secuil dari peninggalan raja yang dikuburkan di halaman istana dahulu. Artinya, Zaitun percaya, kalung itu adalah bagian dari harta karun yang dicari-cari Bang Sawan. Dengan ditemukannya kalung ini, Zaitun secara meyakinkan menyampaikan kepada Ando bahwa generasi ketujuh yang diperdebatkan selama ini, memang sah jatuh kepada Zaitun anak beranak. Dengan ditemukan kalung itu, berarti Bang Sawan telah kalah dalam perlombaan mencari harta karun.

Mulanya Zaitun dengan bangga menceritakan semuanya itu pada Ando, tetapi kemudian ketakutannya muncul perlahan-lahan. Matanya liar berpendar melihat keadaan sekelilingnya. Ada apa gerangan? Ando menjadi takut juga, jangan-jangan penyakit Zaitun sebagaimana yang diceritakan Palma tempo hari bangkit lagi. Jika penyakit itu bangkit, bagaimana Ando dapat mengatasinya? Lama juga Ando menunggu sampai dia kembali sadar.

Setelah meminum seteguk kopi panas yang Ando suguhkan, Zaitun berusaha bicara dengan tenang walau masih tampak sisa-sisa ketakutan pada wajahnya. Dikatakannya, bahwa dia sangat takut karena dia baru saja melihat permaisuri Raja Hitam berdiri kaku dan marah. Permaisuri itu menuding-nuding Zaitun, sementara di belakangnya berdiri Bang Sawan dengan pedang samurai terhunus siap untuk menyerang.

Ayolah Sinan. Tanggapilah kejadian yang Ando ceritakan ini. Apakah Ando masih berada dalam sebuah ruang yang disebut kewarasan, atau Ando telah terseret kepada sebuah ruang yang hampa makna?

**


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: