Oleh: Wisran Hadi | 21 September 2008

GENERASI KETUJUH (Bagian Pertama)

Novel Wisran Hadi;

GENERASI KETUJUH

1. SEPULUH PERSOALAN UTAMA

Dalam kesempatan yang begini sempit, saat-saat Sinan sibuk berkejar-kejaran dengan waktu, bergulat dan bergelimang dengan nafsu, bertarung sampai titik darah penghabisan dengan nasib, bertungkus lumus dengan rutinitas, menipu dan mentertawakan diri sendiri dan sekali-sekali mengutuki takdir, Ando sengaja mencuri sedikit waktu Sinan untuk dapat memperlapang kesempitan itu; agar Sinan tidak terhimpit terus menerus oleh kesempitan, pergulatan, pertarungan, sikut-sikutan, penipuan, penyalahgunaan kesempatan; agar Sinan semakin betah dan mau terus bertahan hidup, tidak putus asa, patah hati, patah semangat, patah-patah atau kehilangan pedoman, arah, kompas, goal, target, halatuju, maupun kehilangan daya dorong, daya pukau atau daya hidup. Hidup hanya sekali dan jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan yang sekali itu bagaimanapun juga keadaan, kondisi, situasi yang menimpa, mengurung atau mencengkam diri kita masing-masing. Hidup harus dilanjutkan.

Mungkin saat ini Sinan merasa disamakan, diibaratkan, dimisalkan dengan seekor kerbau yang sudah dipasangkan penarik pedati di leher. Kerbau harus menarik pedati, betapapun berat atau ringan isinya, siang atau malam, suka atau tidak suka, penat atau tidak.

Menyeret Sinan kepada sesuatu yang tidak masuk akal atau seperti apa yang selalu dikatakan orang, menyeret Sinan ke dalam sebuah kubangan yang tak lagi berair, bukanlah itu maksud Ando. Ando hanya berusaha memperlapang kesempitan yang Sinan rasakan. Satu-satunya cara yang sesuai menurut Ando adalah begini; Ando jelaskan lebih dulu hal-hal yang ada dalam diri Ando pada Sinan. Persoalan-persoalan yang dapat digunakan sebagai ventilasi, celah, atau pintu tempat lewatnya atau terbukanya semua persoalan yang ada dalam diri Sinan. Bila semua persoalan sudah Ando jelaskan dan Sinan dapat memahami apa yang Ando maksudkan, barulah nanti Ando minta pendapat Sinan tentang apa yang telah Ando sampaikan. Itupun kalau Sinan mau memberikan pendapat atau bila Sinan masih ingin melepaskan diri dari kesempitan yang Sinan rasakan.

Dalam masalah-masalah yang kini sedang Ando hadapi dan – hal itu akan Ando sampaikan sebentar lagi pada Sinan – tidak ada sama sekali niat Ando untuk melibatkan siapapun, apalagi melibatkan Sinan. Buat apa Ando melibatkan Sinan dalam persoalan-persoalan Ando, yang mungkin saja bila dibandingkan dengan persoalan Sinan sendiri, persoalan Ando ini hanya persoalan kecil, remeh temeh, tetek bengek, naif, tak berkeruncingan, tak jelas juntrungannya, amburadul atau liar. Terserahlah, ke dalam ukuran mana Sinan meletakkannya, namun Ando sungguh-sungguh mengharapkan dari Sinan satu hal dan Ando kira Sinan tidak akan terlalu sulit memenuhi.

Ando ingin melapangkan kesulitan Sinan dan untuk itu dengarkanlah Ando. Simak apa yang Ando sebut, dengar apa yang Ando ucapkan. Itu saja. Soal Sinan mau memberi tanggapan atau tidak setelah mendengar apa yang Ando katakan, itu urusan lain lagi. Tanggapan Sinan tentulah tergantung pada Sinan sendiri, apakah mau menanggapi atau tidak. Ando tidak tahu persis, apakah Sinan masih punya nyali untuk menanggapi persoalan-persoalan yang muncul atau nyali Sinan sudah padam karena selama ini setiap pendapat Sinan tidak pernah lagi mendapat tempat yang layak untuk dipermasalahkan. Memang harus diakui, saat ini jangankan pendapat Sinan, pendapat siapapun juga tidak diperlukan kalau tidak dapat menghasilkan pendapatan apapun. Ya, artinya setiap pendapat harus dapat dijadikan pendapatan.

Ando ingin Sinan mendengarkan apa yang baru saja Ando alami. Sesuatu yang Ando rasa patut untuk dijelaskan kepada Sinan. Ando tidak ingin nanti dikatakan menyembunyikan sesuatu yang sepatutnya tidak perlu disembunyikan atau dalam istilah sekarang, menyembunyikan fakta atau menyurukkan data. Ando ingin Sinan jadi pendengar yang baik. Mendengarkan kesaksian Ando terhadap apa yang telah Ando alami. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang, saat-saat matahari kejujuran sudah condong ke barat dan sebentar lagi mungkin akan terbenam, Ando merasakan keadaan demikian sebagai sebuah situasi yang sudah sangat rawan. Rawan sekali, hampir mendekati pada sebuah titik yang teramat musykil; kita tidak lagi saling mempercayai.

Apabila dalam diri kita sudah menjalar rasa untuk tidak saling mempercayai, apa lagi gunanya kita hadir dalam kehidupan ini. Bayangkanlah, sekiranya Ando tak mempercayai Sinan, begitupun Sinan tidak percaya lagi pada Ando, mungkin besok atau lusa, Ando mungkin tak lagi percaya pada diri Ando sendiri. Atau ini, yang lebih menyakitkan lagi; Ando tidak percaya lagi terhadap apa yang Ando percayai! Seterusnya, Ando tidak percaya lagi bahwa kata percaya itu pernah ada. Kata yang Ando percayai maknanya adalah percaya. Sebelum terjadi ledakan-ledakan akan kehilangan kepercayaan demikian atau mungkin dapat disebut sebagai keliaran-keliaran dalam perkembangan tata bahasa, Ando ingin menjelaskan semuanya pada Sinan terlebih dahulu. Jadi, Ando membantu Sinan dan sekaligus Sinan membantu Ando. Ando akan dengarkan apa yang Sinan katakan, namun sebelumnya dengarkan dulu apa yang akan Ando katakan.

Duduklah di samping Ando sambil minum teh, susu, kopi atau mandi angin sambil menatap beribu warna bunga atau menelentang menatap langit sambil melihat garis-garis perjalanan bintang yang jatuh di ujung pelataran sana atau sambil memejamkan mata membayangkan awan berarak tapi tak mengandung hujan atau sambil meraba-raba hidung mengingat kembali bau kesturi, bau mayat yang bergelimpangan, bau mesiu, bau darah, terserahlah mana yang menyenangkan Sinan untuk dapat bertahan sesaat, mendengarkan beberapa persoalan – yang akan Ando ceritakan sebentar lagi -, yang mungkin saja akan Sinan katakan sebagai peristiwa, berita, analisa atau sesuatu yang tidak ada apa-apanya atau mungkin juga Sinan akan mencemoohkannya sebagai sebuah makalah, laporan, proposal, kertas kerja atau permohonan yang tidak tersusun dengan baik, tapi yang jelas, yang ingin sekali hendak Ando sampaikan adalah ini;

Satu, keris. Bagi para pembunuh atau mereka yang akan membunuh, yang akan dibunuh atau yang sedang terbunuh atau yang kini tengah mempersiapkan suatu pembunuhan, sebilah keris bukanlah persoalan kecil, yang hanya sekedar untuk diselipkan di pinggang sebagai hiasan atau tanda kebesaran bagi seorang penghulu, datuk atau keluarga bangsawan. Sebilah keris dapat membunuh sebuah keturunan dan mungkin sekali dapat membunuh masa depan. Persoalan keris yang akan Ando sampaikan, bukanlah persoalan sembarangan tentang keris sembarangan, tetapi persoalan sebilah keris yang terkait rapat dengan beberapa persoalan lain; mungkin akan menjadi persoalan yang lebih menentukan, atau persoalan pembuka atau penutup tabir dari persoalan yang kini sedang bermain di pentas kehidupan, terutama dalam kaitannya dengan persoalan keris warisan, persoalan keris-keris kecil yang beterbangan, yang hanya dapat ditangkap orang tertentu dengan cara tertentu pula untuk tujuan-tujuan tertentu, mungkin untuk jadikan azimat, dikeramat-keramatkan, dijadikan hadiah, atau tentang persoalan keris pusaka yang hilang beratus tahun lalu. Yang mengerikan Ando, bila nanti keris yang dianggap telah menjadi warisan dan kebanggaan itu ternyata adalah keris yang telah digunakan membunuh bapak kita sendiri.

Dua, harta. Setiap harta terpendam apalagi harta peninggalan raja-raja masa lalu, selalu ingin digali oleh mereka yang merasa dirinya pewaris. Apakah tujuan penggalian itu untuk mendapat keuntungan besar atau sebagai pembuktian bahwa mereka adalah pewaris raja-raja atau pun untuk keperluan sejarah, tidaklah menjadi sesuatu yang Ando pikirkan. Ando hanya akan menyampaikan beberapa versi tentang pencarian dan penggalian harta terpendam itu.

Menurut apa yang diyakini kaum keturunan raja di Terengganu, harta warisan yang akan mereka miliki adalah harta peninggalan raja, yang karena beberapa alasan tidak diketahui, sengaja dikuburkan. Bila, di mana, kenapa dan siapa yang menguburkan juga tidak dapat dijelaskan. Yang tidak kalah pentingnya adalah harta warisan itu terletak di bawah mihrab sebuah masjid yang terletak di pinggir sungai. Tinggal pilih, apakah mau mendapatkan harta lalu masjid itu runtuh dihanyutkan air sungai atau mempertahankan masjid tetapi tidak punya bukti bahwa mereka keturunan raja.

Dari apa yang dipercayai kaum keturunan raja di Pagaruyung, harta terpendam yang kini terbenam di daerah sawah milik mereka, adalah segala barang-barang berharga milik kerajaan yang dicuri semasa Perang Paderi, tetapi dalam perjalanan harta itu terjatuh ke dalam tanah gambut. Semakin digali menjadi semakin dalam. Berapa banyak yang terkubur, berapa sisanya, siapa-siapa yang mengetahui akan hal itu juga tidak dapat dijelaskan.

Sedangkan dalam cerita-cerita dari mulut ke mulut di Bogor, harta karun peninggalan entah dari raja mana, baru-baru ini diusahakan menggalinya dan jika penggalian berhasil, benda-benda itu akan dijual untuk membayar hutang luar negeri Indonesia. Akan tetapi menurut orang-orang di Bukttinggi yang dulu pernah Sinan sampaikan pada Ando, tetapi kemudian tanpa Sinan ketahui Ando telah mendapat kisah lain lagi tentang harta itu dan bahkan Ando berhasil mendapatkan peta lorong-lorong yang dibuat tentara Jepang di dalam perut gunung itu tempat harta itu pernah disembunyikan. Dipercayai, harta-harta terpendam yang banyak dan yang kini berserak-serak di dalam, baru akan dapat digali dan diambil hanya oleh generasi ketujuh dari masing-masing pewarisnya.

Tiga, gong. Sebuah gong besar dengan dua gong pengikut lainnya terbang bersama api yang menggejolak ketika istana Raja Pagaruyung terbakar. Diyakini gong-gong itu akan dikembalikan oleh sebuah kelompok misterius melalui gang-gang tersembunyi ke tempatnya semula setelah lahirnya generasi ketujuh. Sebuah gong antik berukir, punya tangkai gantungan kayu cendana telah menjadi sumber pertengkaran sesama pewarisnya karena gong itu sebelumnya telah dijual diam-diam kepada proyek pengembangan kesenian, harga yang tertulis di kwitansi pembelian dengan jumlah uang yang diterima tidak sama jumlahnya. Lalu perdebatan antara ketua panitia peresmian sebuah kuburan yang sedang mencari gong untuk peresmian acaranya dengan seorang penjual gong mainan yang berakhir kepada masalah bahasa dan pengucapan; gong-gongan yang berarti gong kecil milik penjual gong diartikan gonggongan oleh ketua panitia. Beberapa dukun meyakini, pada generasi ketujuh dari pemilik gong-gong itu nanti, tidak akan ada lagi mengalami kekeliruan bahasa dan makna tentang pengucapan kata “gong-gongan” atau “gonggongan”.

Empat, naskah. Pastilah Sinan akan tersenyum menyeringai setelah nanti Ando sampaikan segala persoalan tentang riwayat empat buah naskah tua dan hal-hal lain yang melatarbelakanginya. Misalnya, beberapa orang sarjana pernah diupah oleh seseorang membuat sebuah naskah agar tampak seperti sebuah naskah tua untuk dijual kepada seorang keturunan generasi ketujuh dari Raja Dihilir. Juga tentang sebuah naskah tua yang tidak boleh dibaca karena konon berisi aib semua raja namun naskah tua itu tidak boleh dilihat dan dibaca sebelum sampai diwariskan nanti pada keturunan yang ketujuh. Ada pula naskah tua yang dibiarkan begitu saja karena menunggu datangnya generasi ketujuh untuk menyelamatkan. Juga seorang pewaris yang terpaksa bergulat dan bergelut dengan berbagai makhluk gaib dan aneh serta binatang jadi-jadian untuk mendapatkan naskah-naskah warisannya. Umumnya naskah-naskah tua berhasil didapatkan setelah menempuh berbagai cara yang rumit dan kadang-kadang karena rumitnya sulit diterima akal sehat.

Lima, silsilah. Rencana untuk membuat silsilah raja-raja Melayu dan memasukkannya ke internet dalam sebuah laman web akan memancing Sinan untuk berkomentar panjang pendek. Namun yang penting bagi Ando bukan hanya komentar Sinan tetapi berbagai pikiran yang timbul seputar silsilah lima keturunan raja Melayu yang akan diinternetkan. Apalagi yang punya rencana besar itu adalah seorang pengusaha yang sedang menunggu proyeknya disetujui dan menunggu uang proyek itu dicairkan. Rancangan besar itu, menurut Sinan boleh saja jadi sebuah cerita penglipur lara atau cerita seorang penunggu durian tapi duriannya belum jatuh jatuh juga, namun di balik semua itu adalah kekaguman Ando tentang adanya usaha untuk mengkonkritkan impian-impian dari orang-orang esklusif yang ingin menjadi lebih esklusif lagi. Menurut mereka pula, dari silsilah itulah nanti akan dapat menentukan siapa-siapa keturunan yang termasuk ke dalam generasi ketujuh. Juga akan Ando ceritakan mengenai perbedaan pendapat terhadap silsilah yang boleh diperlihatkan kepada umum, karena ada dari mereka yang takut dan sangsi kalau-kalau ada orang lain yang akan mencantelkan nama keturunan mereka pada silsilah raja-raja itu.

Enam, warisan. Bila benda-benda warisan seperti keris, pedang, tombak, lembing, rudus, taring harimau, tanduk badak diletakkan pada suatu tempat, misalnya di dalam sebuah kotak kayu besar, peti besi atau lemari kaca, benda-benda itu selalu saja berubah-rubah letaknya diselingi suara ribut. Ando pernah dimarahi nenek ketika memasukkan beberapa keris pada sebuah peti simpanan. Setiap malam, senjata-senjata itu berubah tempat, seperti mereka habis dipakai berkelahi. Suara-suara ribut dari suatu perkelahian terdengar jelas, erangan dan teriakan, suara pedang beradu dengan keris, pedang sesama pedang, tombak dan berbagai bunyi besi beradu, serta auman harimau. Sinan tentu tidak percaya akan hal itu, tetapi bagi Ando adalah suatu kenyataan yang tidak akan terbantah. Mulanya memang Ando tidak yakin akan hal itu, walau nenek sudah berkali-kali memperingatkan agar jangan mencampurkan atau meletakkan senjata-senjata itu berdekatan di dalam suatu tempat. Akhirnya Ando percaya juga pada apa yang dikatakan nenek. Sinan tentu akan berkomentar panjang akan hal-hal seperti ini. Ando akan sampaikan semuanya, sampai akhirnya Sinan bingung sendiri, apakah kenyataan yang ada sebagai sebuah realitas yang harus dipercaya atau kenyataan yang tampaknya tidak tampak yang ternyata juga sebuah realitas lain yang perlu diyakini.

Tujuh, gelar. Pemberian gelar dari seorang raja kepada orang-orang tertentu dalam suatu pergelaran menggelar gelar di depan orang-orang yang bergelar adalah suatu kehormatan dan suatu yang lumrah sekali. Gelar itu akan secara otomatis mengangkat derajat mereka dalam strata sosial tertentu. Gengsi, martabat dan marwah mereka akan naik. Dengan gelaran itu mereka dapat membuat hubungan dengan orang-orang bergelar lainnya. Mereka menjadi esklusif. Yang menarik bagi Sinan mungkin bukan gelarnya, tetapi bagaimana tingkah laku setiap orang yang akan diberi gelar, bagaimana mereka berjuang mati-matian untuk diberi gelar dan bagaimana pula lagak lagunya mereka setelah mendapat gelar, sedangkan pemilik gelar dan yang membagi-bagikan gelar itu tidak merasa perlu dengan gelar-gelarnya. Mereka punya tingkah polah dan cara berpikir sendiri pula. Ando banyak tahu dalam proses pemberian gelar itu. Jadi, jika Ando ceritakan perkara pemberian gelar-gelar itu pada Sinan adalah untuk dapat dijadikan pertimbangan, apakah hal itu dapat dianggap sebagai gejala yang sehat atau sebaliknya dari suatu masyarakat.

Sinan akan terheran-heran nanti, bila Ando ceritakan semua. Asal saja cerita Ando ini tidak Sinan ceritakan pula kepada yang lain, karena banyak orang tidak bergelar terlibat di dalam pemberian gelar itu.

Lapan, calon. Ando dipertemukan dengan seseorang yang kemudian dikenal sebagai calon raja. Ando dijamu makan pada sebuah restoran mewah. Kami makan beberapa orang saja; calon raja, suami istri dari paman calon raja, Ando dan tiga calon lainnya. Sedangkan yang melayani kami lebih banyak dari jumlah kami sendiri yang siap berdiri menunggu perintah apa saja. Waktu makan itu, Ando rasa tak enak badan, karena Ando tidak suka bila sedang makan ada orang tidak makan dan berdiri pula dekat Ando. Tapi bagaimana lagi, begitulah kalau masuk ke dunia esklusif. Bagi Sinan makan pada sebuah restoran mewah, atau Sinan makan sementara orang lain tidak makan, mungkin tidak menarik untuk diceritakan dan Andopun tidak akan menceritakan hal itu. Ando hanya akan menceritakan, bagaimana “orang-orang dalam” yang mereka sebut “royal family” itu bicara mengenai dirinya dan orang-orang. Ando agak gamang juga jadinya, karena calon raja itu kini sedang disembunyikan dalam percaturan pemilihan raja pengganti yang ketujuh calonnya adalah kaum kerabat mereka sendiri juga. Sebab, bisa jadi saja Ando akan dilibatkan pula dalam berbagai percaturan yang sedang berlangsung di antara keluarga royal itu.

Sembilan, kelahiran. Sebenarnya disinilah titik pangkal dari semua persoalan. Ada tiga perempuan yang punya hak sama sebagai ahli waris kerajaan. Masing-masing punya tiga orang anak. Ketiga anak sulung dari ketiga ibu itu dilahirkan dalam waktu yang hanya berselisih satu bulan. Lalu, datang seorang pertapa menemui ibu-ibu itu dan mengatakan bahwa kebangkitan kembali ahli waris raja akan dimulai pada generasi ketujuh. Itu berarti, akan ada seorang anak yang akan dipilih untuk dirajakan kembali. Sejak pertapa itu datang, ketiga-tiga ibu mulai ribut persoalan siapakah yang dimaksud dengan generasi ketujuh. Dari mana harus dimulai menghitungnya. Sekiranya terjadi gejolak besar atau ledakan di dalam keluarga besar itu, bisa jadi Ando termasuk yang dicurigai, jangan-jangan Ando dianggap sebagai faktor penganggu atau mereka menuduh Ando sebagai generasi ke tujuh yang dimaksud pertapa itu. Bagi Ando soal generasi ketujuh atau generasi keberapa, dari keturunan siapa, tidak pernah menjadi pemikiran. Akan tetapi karena hal itu terus menerus dibicarakan, bahkan telah pula menimbulkan berbagai konflik dan ketegangan, akhirnya masalah itu menjadi pemikiran Ando juga. Dari sinilah sebenarnya kenapa Ando jadi peduli dengan persoalan-persoalan demikian. Padahal, sebagaimana Sinan tahu, Ando tidak suka diberati dengan masalah-masalah masa lalu yang kadang-kadang membuat Ando ragu pada kesahihannya.

Jadi, dari apa yang akan Ando sampaikan, tentulah Sinan akan dapat mengira, apa sebenarnya yang ingin Ando harapkan dari Sinan terhadap semua persoalan ini. Maafkan Ando, karena Ando telah menjadi sangat egois, mementingkan diri Ando sendiri, merebut waktu Sinan yang teramat sempit, hanya untuk menyampaikan persoalan Ando. Ando tahu, Sinan pun punya banyak persoalan yang harus Sinan pecahkan sendiri tapi janganlah dianggap bahwa Ando mengajukan masalah Ando untuk mengenyampingkan, meniadakan, atau menyepelekan masalah-masalah yang sedang mengurung diri Sinan sendiri. Tidak sama sekali. Seperti Ando katakan tadi, apa yang akan Ando sampaikan mungkin dapat memperlapang kesempitan atau melepaskan Sinan dari kurungan itu. Namun, jika persoalan Ando ini tidak membuat Sinan menjadi lapang, atau tidak dapat melepaskan kurungan diri Sinan, bahkan mungkin akan menjadi Sinan semakin sempit dan terkurung, Ando benar-benar tidak bermaksud demikian.

Tunggu Sinan, jangan komentari dulu. Ando belum mulai. Itu tadi hanya semacam urutan masalah yang akan Ando sampaikan pada Sinan, katakanlah semacam ikhtisar, sinopsis, outline, draft, atau entah apalah namanya. Kalau tidak Ando sampaikan hal-hal begini lebih dulu, Sinan tentu akan menganggap Ando bertele-tele menyampaikan suatu masalah. Pastilah Sinan katakan, bahwa Ando tidak punya pola, tidak mengerti alur, tidak memahami tema, tidak ada suspen, tidak mengerti klimaks, dan tuduhan yang paling buruk adalah; tidak akademik. Tapi yang jelas, Ando menyampaikan ringkasan seperti ini untuk memudahkan Ando sendiri bercerita pada Sinan. Semua yang Ando katakan tadi, yang boleh saja Sinan dikatakan sebagai sinopsis, itu baru sembilan persoalan. Sembilan. Katakanlah sembilan point. Masing-masing point dalam pembicaraan Ando nanti akan berkembang lagi menjadi sub-sub tersendiri, tergantung sejauh mana Sinan menanggapi, atau selama apa Sinan betah bertahan mendengarkan. Pada setiap sub-sub persoalan mungkin saja nanti akan berkembang lagi lebih jauh lagi, siapa tahu. Mungkin saja Ando bicara sampai pada hal-hal yang sangat kecil, yang mungkin saja Sinan akan menganggapnya tidak punya hubungan sama sekali dengan hal-hal sebelumnya. Ando juga tidak tahu bagaimana Sinan dapat membedakan nanti antara satu yang kecil dengan satu terkecil lainnya. Namun yang jelas, simpanlah dulu keinginan Sinan untuk memberikan komentar, biarkan Ando menyampaikan semua persoalan yang Ando kemukakan itu selesai.

Sepuluh, hal yang teramat penting. Pentingnya bukan bagi Ando tetapi mungkin bagi Sinan. Misalnya, kenapa Ando harus menceritakan persoalan-persoalan demikian pada Sinan. Padahal Andopun tahu, Sinan bukan wartawan yang sedang mencari berita, sensasi atau gosip. Sinan bukan seorang pengarang upahan yang sedang mendengarkan cerita dari tokoh utama untuk menuliskan biografi tokoh itu. Sinan bukanlah seorang psikolog yang sedang mendengar keluhan pasien untuk dicarikan terapi atau solusi dari benturan-benturan psikologis yang sedang dihadapi pasien. Bukan. Sinan bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Ando tahu akan hal itu. Bagi Ando, Sinan adalah Sinan. Seorang yang dapat memaklumi keadaan Ando. Seseorang yang akan dapat memberikan kritik pada Ando. Seseorang yang berani memarahi Ando. Sinan kan tahu, saat ini, banyak orang saling berteman tetapi tidak saling berteguran. Terus terang, bila Ando bicara dengan Sinan, seakan Ando sedang berada di depan kaca. Jika Ando melihat Sinan, Ando merasakan bahwa Ando sedang melihat diri Ando. Jika Ando bicara pada Sinan, seakan Ando bicara pada diri Ando. Padahal Ando bukanlah Sinan dan Sinanpun bukan pula Ando. Bagaimana hubungkait antara Ando dan Sinan, nanti akan Ando jelaskan secara tersendiri pula.

Panjang ceritanya.

*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: