Oleh: Wisran Hadi | 22 September 2008

DUNIA HIBURAN TANPA PEREMPUAN

KEKUATAN DAN CIRI UTAMA TARI MINANG;

DUNIA HIBURAN TANPA PEREMPUAN

(Makalah untuk Diskusi Seni dalam kegiatan Contemporary Dance Festival (MCDF) dan acara HUT Kota Padangpanjang ke 216, Dies Natalis STSI ke 40 dan Mengenang wafatnya Hoeriyah Adam ke 35, 12 Desember 2006 di STSI Padang Panjang)

1.

Tari Minang, sebagai representasi nilai-nilai budaya Minangkabau

Seni tari merupakan produk budaya dari sebuah masyarakat. Sebuah tarian produk dari budaya Minangkabau, disebut sebagai tari Minang. Oleh karena itu, bicara tentang tari Minang tidak dapat melepaskan diri dari pembicaraan tentang budaya Minangkabau.

Budaya Minangkabau masa lalu telah melahirkan konsep tari Minang sebagai berikut;

  • Tari adalah bagian dari semangat rekreatif masyarakat. Artinya, tari adalah bagian dari hiburan masyarakat. Hiburan diwaktu senggang yang dalam mamangan adatnya dikatakan; tagak baparintang, atau tarian sebagai pamenan urang mudo, dlsbnya.
  • Tarian dilakukan oleh laki-laki saja, karena perempuan ditempatkan pada posisi yang steril, sebagai sesuatu yang suci yang tidak boleh dipamurah-murahkan di tengah orang ramai.
  • Tarian tidak diciptakan untuk dipersembahkan kepada tuhan atau dewa, kepada raja maupun petinggi lainnya. Tarian terbebas dari formalitas-formalitas.
  • Gerak tari berdasarkan gerak silat, sehingga melahirkan berbagai bentuk tari yang beragam pada setiap nagari.

Konsep tari demikian lahir dari aturan adat budaya masyarakat Minangkabau waktu itu yang mempunyai ajaran atau aturan-aturan antara lain;

  • Pengamalan sistem kekerabatan matrilienal, menempatkan perempuan sebagai bagian dari kaum yang tidak boleh cacat di mata umum.
  • Kedatangan Islam, memperkuat lagi konsep ini, dengan melarang perempuan untuk mempertontonkan dirinya di luar orang yang bukan muhrim.
  • Kehidupan yang egaliter dan demokratis menyebabkan tidak adanya tingkat-tingkat masyarakat dalam kehidupan sosialnya, sehingga tarian tidak digunakan untuk persembahan-persembahan kepada siapapun atau kepada apapun.

Dari konsep budaya demikianlah lahirnya tari tradisi Minangkabau. Namun sesungguhnya, tarian yang berpunca pada semangat rekreatif masyarakat tersebut lebih tepat untuk disebut sebagai tari rakyat bukan tari tradisi. Hal ini disebabkan, tari Minang lebih menonjol pada usaha untuk memenuhi citarasa masyarakatnya, bukan pada pola yang baku (pakem-pakem tertentu, sebagaimana tarian-tarian kraton di dalam budaya tradisi Jawa). Hal ini juga terlihat pada konsep musiknya, pakaian dan permainan anak nagarinya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tari Minang pada hakekatnya adalah sebuah dunia hiburan tanpa perempuan.

2.

Tari Minang Modern; tarian yang kehilangan rujukan

Budaya Minangkabau yang masih diamalkan masyarakat Minangkabau hari ini adalah perpanjangan dari budaya Minangkabau masa lalu itu. Hubungkait budaya Minangkabau hari ini dengan budaya Minangkabau hari ini dapat dilihat dengan beberapa nilai utama dari budaya Minangkabau masa lalu yang masih tetap berlaku dalam budaya Minangkabau hari ini, antara lain;

Masih diamalkannya sistem matrilienal.

Ajaran-ajaran Islam masih tetap diamalkan.

Kesenian masih tetap dilihat sebagai hiburan, bukan lahan profesional.

Tidak pernah menjadikan kesenian untuk persembahan baik bagi kepentingan agama maupun penguasa.

Tidak ada tari Minang yang dibuat/dipersembahakan untuk dewa, tuhan, raja maupun penghulu.

Perempuan tetap diposisikan dalam kaum sebagai sesuatu yang mulia dan steril, terbebas dari berbagai kemungkinan merusak diri atau citranya.

Perempuan yang melakukan kegiatan hiburan (tari, drama dllnya) tetap dipandang rendah.

Namun dalam perkembangan berikutnya terjadi perubahan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, menimbulkan berbagai tanggapan terhadap konsep budaya tersebut. Pada satu sisi, masyarakat Minangkabau tetap terus dengan pengamalan budaya yang telah dimiliknya dan sebagian lagi berusaha untuk mengikuti perkembangan zaman. Hal ini berakibat terjadinya perubahan yang signifikan dalam seni tari, antara lain;

perubahan peran dari laki-laki kepada perempuan, selanjutnya dari laki-laki ke banci. Hal ini terlihat pada tidak adanya beda gerak laki-laki dengan gerak perempuan. Semua gerakan tersebut adalah seragam, seakan melecehkan harkat manusia itu sendiri.

perubahan basis tari; dari pencak kepada gerak-gerak alam dan laku sehari-hari yang menyebabkan pula terjadinya perubahan pada judul tari, komposisi dan lainnya.

tema berubah; dari gerak dan dinamika kehidupan sehari-hari yang umum dan lazim kepada gerak kehidupan seks yang sangat ekstrim.

Tari Minang tidak lagi mempertahankan perbedaan jenis kelamin, semuanya dapat dilakukan oleh siapa saja.

Rujukan berubah; dari rujukan nilai-nilai dalam adat dan budaya Minang kepada budaya bebas nilai dengan alasan kreativitas, modernisasi, internasionalisasi dstnya.

Perubahan yang terjadi berikutnya adalah perubahan nilai-nilai budaya yang sangat besar. Globalisasi yang melanda dunia saat ini semakin mengarah pada bentuk imperialisme budaya Barat terhadap budaya-budaya lain. Nilai-nilai budaya lokal (Minangkabau) tergusur menjadi budaya yang bebas nilai. Hal ini menyuburkan perubahan yang besar pula dalam penciptaan tari Minang. Akibatnya, tari Minang tidak dapat lagi dibedakan dengan tari yang bukan Minang. Baik pada tema, gerak, judul, harmoni dan citarasa. Bahkan pelaku-pelaku seni tari itu sendiri tak lagi terlihat sebagai orang Minang, tetapi adalah manusia “lain” yang kebetulan bermukim di ranah Minang.

Kondisi demikian menyebabkan timbulnya berbagai kekecewaan di tengah masyarakat Minangkabau itu sendiri. Mereka jadi bertanya-tanya, lalu bagaimanakah tari Minang itu sesungguhnya?

STSI mempunyai kedudukan yang strategis dalam kemelut pengertian demikian. Semestinya STSI dapat memberikan pencerahan atau menjelaskan perbedaan antara tari Minang dengan tari yang bukan Minang. Tentu saja perbedaan tersebut tidak hanya pada judul, musik dan pakaiannya, tetapi yang lebih penting adalah pada semangat, roh, dan konsep estetikanya.

Bukankah STSI didirikan untuk pelestarian dan sekaligus pengembangan seni tari bagi masyarakat Indonesia? Bukan untuk menjadi agen budaya asing yang menyerang budaya anak negerinya sendiri dengan berbagai alasan kreativitas, keterbukaan, kebebasan dan sebagainya itu.

3.

Kembali meMinangkabau.

Dalam konteks ini, kiranya perlu re-definisi dan re-aktualisasi tentang tari Minang. Apakah tari Minang masih bernafas dengan nilai-nilai budaya Minangnya atau nilai-nilai lain? Apakah tari Minang masih dapat dinikmati sebagai tari Minang sebagaimana citarasa yang telah tertanam secara umum? Atau perlukah disusun suatu batasan baru tentang apa yang disebut tari Minang? Apakah tari Minang masih memerlukan rujukan dari nilai-nilai budaya masyarakat pendukungnya atau sudah melepaskan diri dari rujukan semacam itu? Tari Minang yang sudah melepaskan diri dari rujukan nilai-nilai budayanya, tidak mungkin lagi dapat dikatakan sebagai tari Minang.

Re-definisi dan re-aktualisasi tari Minang pada dasarnya adalah sebuah gerakan untuk kembali kepada rujukan budaya yang masih diamalkan masyarakat pendukungnya. Maksud kembali meMinangkabau adalah kembali kepada norma-norma/nilai budaya Minangkabau yang tetap bertahan sampai sekarang.

Gerakan untuk kembali meMinangkabau bukanlah sebuah gerakan baru, tetapi sebuah gerakan yang telah berlangsung sejak lama, diam-diam dan tanpa gembar-gembor. Gerakan ini adalah gerakan dari masyarakat Minangkabau yang sadar nilai, sadar budaya dan sadar agama. Artinya, mereka menyadari sekali, bahwa orang Minang harus berbudaya Minang. Gerakan ini adalah gerakan tanpa nama dan tanpa pamrih politik.

Mereka ingin kembali mengamalkan dan menerapkan nilai-nilai budaya yang telah pernah ada. Dampak dari otonomi daerah, kembali ke nagari, kembali ke surau, kembali mengamalkan Adat Basandi Syara’, Syara Basandi Kitabullah (ABS-SBK) adalah suatu realita objektif bahwa masyarakat Minangkabau kembali kepada budayanya. Boleh jadi, gerakan masyarakat Minaingkabau seperti itu sebagai jawaban atas porak porandanya budayanya oleh budaya barat yang dibawa oleh era globalisasi, liberalisasi dan multikulturalisasi.

Jika gerakan kembali kepada budaya Minangkabau ini tidak segera direspons oleh para seniman Minangkabau itu sendiri, pada saat berikutnya adalah mereka akan ditinggalkan masyarakatnya sendiri. Mereka mungkin menganggap dirinya sudah menjadi internasional, tetapi mereka gagal menjadi seniman Minangkabau masa depan.

Dalam kaitannya dengan persoalan ini adalah; seniman tari harus mulai bergerak ke arah kembali ke budaya Minangkabau tersebut, kembali kepada nilai-nilai utama budaya Minangkabau. Kembali kepada nilai-nilai budaya Minangkabau, berarti mereka harus;

Menjadikan nilai-nilai ABS-SBK sebagai basis dalam penciptaan tari maupun pergelarannya, dengan kata lain; menjadikan Islam sebagai titik tolak/landasan etika dan estetikanya

Menjadikan nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau sebagai acuan untuk seluruh langkah-langkah dan proses penciptaannya, dengan memposisikan perempuan sebagai Bundo Kanduang, bukan sebagai penghibur dengan arti kata, bahwa tari Minang adalah tarian laki-laki untuk menghibur semua orang.

Menjadikan tari tetap dalam posisi parintang atau hiburan dan tidak menjadikan tari untuk sesajian atau persembahan kepada pejabat-pejabat tinggi.

Tari-tarian yang menggunakan mantera-mantera, yang dapat merusak aqidah harus dijauhi, jika perlu ditiadakan.

Tidak menerima bentuk-bentuk tarian yang hanya mengumbar seks, baik dalam tema, gerakan dan pakaian serta peragaannya.

Tidak menjadikan tari sebagai berhala. Maksudnya, tidak menjadikan tari sebagai tujuan akhir dari kehidupan seseorang

Jika para pelaku tari (koreografer, penari, dan pemusiknya) di Sumatera Barat sepakat untuk kembali menjadikan tari Minang menjadi Tari Minang yang sesungguhnya, tarian yang jelas nilai dan rujukan budayanya, maka inilah saat yang tepat bagi mereka membuat gerakan kesenian yang akan dicatat sejarah sebagai sebuah gerakan besar; kembali meMinangkabau. Dengan arti kata, mereka harus berani mengukuhkan kembali bawah tari Minang adalah dunia hiburan tanpa perempuan.

Dunia kesenian tidak memerlukan keseragaman, tetapi menghargai perbedaan. Kenapa harus takut, kalau kita mencanangkan bahwa tari Minang itu adalah dunia hiburan tanpa perempuan? Bukankah hal itu ciri utama sekaligus kekuatan tari Minang sejak dulu?

***

Padang 10 Desember 2006


Responses

  1. cayo gadih minang…..

    tetap beremansipasi tanpa maninggalkan esensi diri sabagai padusi untuak suami, famili, reliji jo nagari.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: