Oleh: Wisran Hadi | 22 September 2008

GENERASI KETUJUH (Bagian kedelapan)

8. MUMI RAJA HITAM

Sewaktu masih di Semenanjung, Ando dijamu makan malam pada sebuah restoran mewah oleh Tengku Muzaffar Syah. Seorang pengusaha besar yang punya kesukaan agak aneh. Selalu berusaha untuk mendapatkan gelar-gelar kebangsawanan dari raja-raja Melayu di Semenanjung. Hanya kami saja berada di restoran yang luas dan mewah itu; Ando, bapak anak-anak Ando, Tengku Muzaffar Syah bersama istri dan seorang putranya. Lebih banyak waiters nya dari jumlah kami yang makan. Ando tidak sempat menikmati hidangan yang begitu mahal, karena Ando tidak terbiasa bila sedang makan ada orang yang tidak makan berdiri melihat Ando makan. Tapi bagaimana lagi, begitulah kalau masuk ke dunia esklusif seperti dunianya Tengku Muzaffar Syah. Bagaimana Ando akan menceritakan perasaan Ando sendiri ketika melihat orang lain berdiri di samping kita tidak makan, sementara kita makan makanan mahal dan mewah? Cerita tentang makan-makan begini tentu tidak menarik bagi Sinan. Andopun tidak akan menceritakan soal makan-makan demikian. Ando lebih suka menceritakan, bagaimana usaha yang telah dilakukan Tengku Muzaffar Syah mengumpulkan gelar-gelar kebangsawanan yang telah dianugerahkan oleh beberapa raja Semenanjung dalam setiap acara hari keputraan para baginda.

Ando tidak tahu secara persis kepentingan Tengku Muzaffar Syah mengumpulkan gelar-gelar kebangsawan itu. Ando katakan Tengku yang satu ini pengumpul gelar, karena menurut pengakuannya sendiri, dia sudah banyak mendapat gelar kehormatan dari raja-raja Melayu lainnya di Semenanjung. Entah untuk apa gelar-gelar itu baginya. Kalau mau dibagi-bagikan untuk anaknya, tidak mungkin. Anaknya saja hanya seorang. Itu pun anak angkat pula. Tetapi bisa jadi saja untuk kepentingan partai, relasi bisnis, menaikkan gengsi dan marwah dan bukan tidak mungkin pula untuk perebutan pewarisan. Namun Tengku Muzaffar Syah dengan bahasa yang rapi dan sopan sekali, menyampaikan maksudnya bahwa keinginannya mendapat gelar itu adalah untuk menjaga adat dan budaya Melayu agar tetap terpelihara. Tengku Muzaffar Syah akan berjuang untuk mempertahankan budaya Melayu terutama budaya Minangkabau sampai sahabih bulu, sehabis bulu – istilah yang digunakan penyabung ayam di gelanggang – yang artinya, berjuang sampai titik darah pengabisan.

Ando juga tidak tahu kenapa Ando dan bapak anak-anak Ando diundang untuk membicarakan pemberian gelar itu, padahal Ando mau memenuhi undangan makan malam itu untuk silaturahmi sebagaimana yang dikatakannya ketika mengundang kami. Tengku itu mendapatkan alamat kami dari Bang Sawan. Bang Sawanlah yang memberikan nomor telepon genggam bapak anak-anak Ando kepadanya. Dalam acara makan malam itu dikatakannya bahwa pada hakekatnya Andolah yang berhak memberikan gelar. Tentu saja Ando seperti orang yang disudutkan. Apa hubungan Ando dengan pemberian gelar-gelar? Namun Tengku Muzaffar Syah tetap yakin, bahwa jika Ando mengatakan “ya” malam ini, maka berarti makbullah niatnya. Maka Tengku Muzaffar Syah beserta anak dan istrinya sahlah sebagai generasi ketujuh yang akan membangkitkan kembali marwah kaumnya yang selama ini terbenam. Ampun Ando, Sinan. Ampun. Generasi ketujuh lagi!

Tengku Muzaffar Syah bukanlah sembarang orang. Menurut pengakuannya dia sudah mendapat gelar dari beberapa orang raja di Semenanjung tujuh tahun yang lalu. Ando dibujuk-bujuk, supaya Ando mau memberikan gelar atas nama raja Pagaruyung. Menurut Tengku, gelar yang diberikan oleh raja Pagaruyung jauh lebih bergengsi daripada gelar yang telah didapatkannya sebelum ini. Gelar dari Pagaruyung adalah gelar keramat dan dapat dijadikan sebagai legalisasi atas pengesahan dirinya sebagai generasi ketujuh.

Ando merasa perlu menjelaskan bagaimana proses pemberian gelar dan macam-macam gelar dalam budaya Minangkabau menurut yang pernah Ando tahu. Gunanya, agar Tengku yang terhormat ini dapat mengukur diri, jalan apa yang harus ditempuhnya untuk dapat anugerah gelar dari Pagaruyung. Secara jujur Ando harus mengaku pada Sinan, sebenarnya Ando tidak tahu banyak tentang pemberian gelar baik dalam tatacara kehidupan raja-raja di Semenanjung maupun raja-raja di Pagaruyung. Tapi entah kenapa, Ando seperti diberi pengetahuan tentang hal itu. Ando seperti tiba-tiba seperti menjadi penasehat adat dan budaya Minangkabau bagi orang kaya dari Semenanjung itu. Mungkin dorongan seperti itu datang ke dalam diri Ando karena Ando berniat untuk mengatakan kepada Tengku, bahwa gelar, siapapun juga yang memberikannya, apakah raja-raja Semenanjung atau raja-raja Pagaruyung, gelar tetap hanya sebagai gelar. Tak lebih tak kurang. Soal gengsi, marwah, generasi ketujuh, kesembilan atau kesebelas sekalipun, tidak tergantung pada gelar, tetapi pada sikap pribadi seseorang. Buat apa kita bergelar ini itu, tetapi sikap pribadi kita tidak mencerminkan kita orang terhomat, orang akan tetap tidak menghormati kita.

Tengku Muzaffar Syah mengangguk-angguk membenarkan apa yang Ando katakan. Tetapi, dia tetap saja bertanya ke hilir ke mudik tentang pemberian gelar menurut adat dan budaya Minangkabau. Ando tentu saja cepat sadar, bahwa apapun juga yang Ando katakan padanya, dia tetap punya satu tujuan, harus dapat gelar dari Pagaruyung demi sebuah pengakuan bahwa mereka adalah keturunan dari generasi ketujuh. Ando sampai bertanya dalam hati, apakah memang orang-orang yang dirasuki gelar kebanyakannya bebal?

Ando katakan, bahwa pemberian gelar dalam budaya Minang tidak sama dengan apa yang telah berlaku di dalam tatacara raja-raja di Semenanjung, walaupun sama-sama menganut budaya Melayu. Sebagaimana yang pernah Ando alami di depan Zaitun tempo hari, seperti tiba-tiba saja Ando menjadi seorang yang teramat pandai dan punya pengetahuan luas, kini pun begitu juga. Di depan Tengku dan anak istrinya Ando menjelaskan seluk beluk gelar dalam adat dan budaya Minangkabau.

Setelah beberapa waktu berlalu dan setelah Ando kembali dari Semenanjung, saat pikiran Ando dikerubuti berbagai persoalan seputar masalah Pagaruyung, gong, warisan, Putireno, Ando dikejutkan akan kehadiran Tengku Muzaffar Syah yang secara tiba-tiba sudah berada di Sumatera Barat. Tengku Muzaffar Syah meminta waktu pada Ando untuk bertemu. Setelah Ando berjumpa dengannya, dia mengatakan baru saja mengadakan pembicaraan dengan Datuk-datuk Sarangkai Tigo. Menurut Datuk-datuk Sarangkai Tigo, pemberian gelar tidak semestinya dari Pagaruyung saja. Gelar-gelar adat dan gelar pusaka lainnya dapat diberikan oleh sebuah kaum, sepanjang pimpinan kaum itu dapat dibujuk dengan cara apapun.

Jika persoalannya sampai di situ saja, mungkin Ando masih bisa menahan diri. Tetapi, yang membuat pikiran Ando cabuah adalah usaha yang dilakukan Datuk Sarangkai Tigo menguras uang Tengku Muzaffar Syah. Yang menyakitkan hati Ando adalah pengaduan Tengku Muzaffar Syah bahwa Datuk Sarangkai Tigo sudah mengajukan proposal anggaran biaya untuk penobatan gelarnya. Tidak tanggung-tanggung besarnya biaya yang diajukan. Ando jadi malu ketika Tengku itu menanyakan berapa sesungguhnya biaya untuk sebuah upacara penobatan gelar. Mahal sangat ya, katanya mengeringai.

*

Ando belum berhasil juga mendapat keputusan dari diri Ando, apakah akan segera menyusul Putireno atau tidak. Tiga malam lamanya ndo tidak dapat tidur memikirkan berbagai persoalan yang mengerubuti pikiran. Ando tidak tahu mau bertindak bagaimana.

Dalam kebingungan demikian, Ando ajak bapak anak-anak Ando duduk di teras berandai-andai dalam menghadapi persoalan yang tak berkeruncingan itu. Ketika kami tertawa cekikikan mentertawakan diri sendiri dalam menyikapi semua persoalan yang ada, tiba-tiba pintu pagar besi yang kurang oli itu berbunyi keras sekali. Pertanda ada tamu yang masuk. Kami menoleh ke arah pagar dan benar, ada dua orang laki-laki datang. Salah seorang berbadan gemuk, pakai kain sarung, berjanggut panjang, tinggi semampai menjinjing sesuatu dibungkus kain kuning. Seorang lagi, lebih pendek dan berpakaian rapi. Tampaknya keduanya datang dari jauh, tapi Ando tidak sempat menebak dari mana mereka datang.

Tanpa basa basi, tamu yang lebih pendek itu memperkenalkan diri. Dia menyebut dirinya Pak De. Ahli paranormal. Sedangkan temannya bernama Sumo. Pak De terus saja bicara sementara Sumo membuka bungkusan yang dibawanya tadi, seakan membuka sesuatu, yang jika tidak hati-hati membukanya benda yang ada dalam bungkusan itu bisa-bisa meledak.

Menurut Pak De, Putireno yang dikhabarkan hilang sampai sekarang, kini sedang berada dalam kebimbangan dan keraguan yang luar biasa. Putireno harus segera ditolong dan dicari di mana dia sekarang. Benda yang sekarang berada dalam tangan Sumo, yang ada dalam bungkusan kain kuning ini akan dapat menjadi penunjuk jalan. Benda itu adalah mumi. Mayat manusia yang sudah mengeras seperti kayu. Mumi itu berasal dari mayat seorang laki-laki keramat yang karena kekeramatan ilmunya, tanah tidak sanggup memakan tubuhnya. Karena lama di dalam kubur, tubuhnya terus mengecil sementara rambutnya terus tumbuh.

Sumo segera memberikan mumi itu pada Pak De. Ando tergagau melihat sesosok mayat kecil sepanjang kira-kira 45 sentimeter dengan rambut tergerai. Pak De meletakkan mumi itu kembali ke dalam kotaknya setelah mulutnya komat kamit entah membaca apa, mantera atau mengutuk-kutuki Ando. Kata Pak De sambil berbisik, mumi itu adalah jasad Raja Hitam. Mumi Raja Hitam itu dijemputnya dari Pulau Kayangan untuk dipersembahkan kepada Ando, karena Ando adalah satu-satunya perempuan yang sangat peduli dengan kehilangan Putireno.

Astagfirullah! Mumi Raja Hitam?

Menurut Pak De lagi, dengan didampingi mumi Raja Hitam, Ando akan dapat menyelesaikan berbagai persoalan. Tidak hanya dapat menemukan di mana Putireno berada sekarang, tetapi serentetan persoalan lainnya akan segera tuntas. Pak De dengan bersungguh-sungguh mengatakan, bahwa keris Zaitun, yang kini berada di tangan orang yang tidak bertanggung jawab, jika tidak segera diambil akan berakibat fatal bagi keberlangsungan keturunan Zaitun. Generasi ketujuh yang kini selalu didambakan Zaitun untuk mendapatkannya akan sirna atau setidak-tidaknya akan berubah menjadi kutukan.

Mumi itu juga akan memperteguh tekad Ando untuk kembali ke Terengganu mengambil harta karun yang kini masih menunggu di bawah tangga istana tua milik keluarga Bang Sawan. Jika Ando membawa mumi itu ke Terengganu, Pak De memastikan, bahwa usaha mengambil harta karun itu akan berhasil. Begitu juga dengan gong yang kini masih teronggok di puncak gunung Bungsu ataupun sedang mandi-mandi di Sungai Rimbang. Mumi Raja Hitam akan dapat membujuk gong-gong yang keras kepala itu untuk kembali ke pangkuan ahli warisnya.

Ando hampir saja pingsan karena terkejut ketika Pak De bicara tentang Tengku Muzaffar Syah. Betapa tidak. Dengan lancarnya Pak De menceritakan tentang keinginan Tengku itu untuk diberi gelar dari Pagaruyung. Bahkan dengan meyakinkan sekali Pak De mengatakan bahwa niat baik Tengku dari Semenanjung itu patut diragukan. Sebaiknya Ando tidak menanggapi apa yang dimintanya. Ando kalimpasingan, darimana pula Pak De mengetahui persoalan Tengku Muzaffar Syah. Apa ada kolaborasi antara Pak De dengan Datuk-datuk Sarangkai Tigo?

Hebat sekali, Sinan! Hebat sekali mumi itu. Ando tidak kunjung dapat memahami sampai sekarang, apakah memang mumi itu yang keramat atau cerita Pak De yang luar biasa hebat. Ando mulanya percaya akan apa yang dikatakan Pak De. Memang sangat luar biasa Pak De itu. Darimana dia tahu akan berbagai persoalan yang telah Ando lalui, baik ketika masih di Semenanjung maupun di Pagaruyung.

Yang membuat Ando tidak habis pikir adalah pada cerita yang disampaikan Pak De tentang Datuk Bungsu. Menurut Pak De, Datuk Bungsu itu orang jahat. Sebelum kejahatannya terungkap, sebaiknya Ando tidak mengizinkannya datang menemui Ando. Mendengar hasutan Pak De demikian, pikiran Ando segera melompat kepada Datuk-datuk Sarangkai Tigo. Pastilah Datuk-datuk Sarangkai Tigo yang menfitnah Datuk Bungsu, karena pertengkaran mereka yang dulu, soal kedatangan Tengku Muzaffar Syah ke Pagaruyung.

Malam setelah Pak De dan Sumo pergi, Ando terlibat pertengkaran dengan bapak anak-anak Ando persoalan kehebatan Pak De sebagai paranormal. Walaupun dalam lubuk hati yang paling dalam Ando tidak percaya pada apa yang dikatakan Pak De, namun di depan bapak anak-anak Ando, Ando tetap bertahan mengatakan bahwa memang Pak De itu hebat dan keramat. Sementara bapak anak-anak Ando tidak mau percaya pada apa yang Ando percayai. Pertengkaran kami semakin tajam ketika bapak anak-anak Ando membuktikan bahwa mumi itu tidak ada apa-apanya. Hanya sebuah kayu lapuk yang diberi ujungnya ijuk, katanya ketus. Untuk membuktikan bahwa mumi itu hanyalah benda mati, bapak anak-anak Ando mengambil mumi itu dan dikentutinya. Biadab!

Ando tentu saja penasaran dengan cara pembuktian demikian. Tapi memang, walaupun bapak anak-anak Ando mencabuti rambut mumi itu, tidak ada akibat apapun pada dirinya. Ando jadi bingung sesaat. Apa bapak anak-anak Ando juga sama keramatnya dengan Pak De atau dengan mumi yang dikentutinya itu? Pertengkaran kami berakhir menjelang subuh, ketika azan berkumandang. Lebih baik kita sembahyang sebelum kewarasan universal kita digerogoti oleh kebodohan-kebodohan lokal, ajak bapak anak-anak Ando serius.

Sorenya, Pak De dan Sumo muncul lagi. Dia tergesa sekali. Dengan terengah-engah dia mengatakan bahwa mumi Raja Hitam gelisah dan tidak nyaman tinggal di rumah Ando. Untuk kenyaman mumi itu, Pak De menyuruh Ando agar meletakkan tujuh macam bunga disekitar mumi itu. Berbagai nama bunga yang disebut Pak De, tapi tidak satupun yang Ando kenal jenis bunganya. Ketika Ando tersedak menahan tawa mendengar nama bunga yang disebut Pak De, tampak dia marah. Pak De menyebut salah satu nama dari bunga itu bunga bang, sedangkan Ando mengartikannya bunga bank. Bunga bang maksud Pak De adalah sejenis bunga yang tumbuh dalam kegelapan, bunga yang tidak tahan dengan cahaya matahari. Tetumbuhan yang tidak mau tumbuh disinari kebenaran. Sampai sekarangpun Ando tidak pernah tahu, bunga seperti apa gerangan yang tumbuh dalam kegelapan, selain bunga bank? Pak De juga berusaha meyakinkan Ando agar mumi itu ditidurkan di atas pasir yang dikumpulkan dari pasir-pasir yang ada pada tujuh lekukan pantai. Pasir tujuh muara namanya.

Ando mulai ragu akan apa yang dikatakan Pak De. Apalagi bapak anak-anak Ando. Dia tertawa terpingkel-pingkel ketika Ando katakan bahwa mumi itu harus ditidurkan di atas pasir yang diambil dari tujuh muara. Jangan-jangan mumi itu ikut-ikutan menjual pasir kita ke Singapura untuk penimbun laut di sana, gerutu bapak anak-anak Ando sambil tertawa dan berguling-guling di lantai menahan kelucuan.

Besoknya Pak De dan Sumo datang lagi. Menurut Pak De, mumi itu masih belum bisa tenteram. Pak De menyarankan, jika tidak mampu mendapatkan pasir pada tujuh muara sungai, agar Ando sesegeranya mengeluarkan dari rumah semua buku atau apapun yang bertulisan Arab. Mungkin mumi Pak De itu keturunan Amerika atau Eropa, atau teroris, tanya bapak anak-anak Ando mengomentari perintah Pak De, setelah kedua paranormal itu pergi dengan mengantongi sejumlah uang yang dimintanya pada Ando.

Ando yang biasanya selalu berusaha untuk sabar, selalu menerima berbagai persoalan tanpa memberikan reaksi yang keras, tetapi kini seperti tiba-tiba saja, kemarahan Ando bangkit. Mungkin karena rasa agama dan kepercayaan yang telah tertanam dalam diri Ando semenjak kanak-kanak. Ando bertanya-tanya, apa maunya Pak De memerintahkan Ando mengeluarkan semua buku atau semua hal yang bertulisan Arab dari rumah Ando sendiri? Apa maksud Pak De itu untuk menjauhkan kitab suci Al-Quran dalam kehidupan kami anak-beranak? Atau, Pak De ini sengaja disusupkan Datuk-datuk Sarangkai Tigo, untuk memutar akidah Ando sebagai seorang muslim? Untuk menjadikan Ando jatuh menjadi syirik?

Berbagai-bagai pertanyaan timbul dalam diri Ando. Kecurigaan, kemungkinan-kemungkinan dan entah apa lagi, yang kesemuanya seakan membenturkan apa yang Ando yakini dengan mistifikasi zaman ini?

Sekarang Ando ingin mendengarkan pendapat Sinan. Coba Sinan beri tanggapan atau komentar terhadap apa yang Ando alami dengan Pak De dan Sumo itu. Bagaimana? Sinan takut untuk bicara persoalan mistik, tahayul, hantu-hantu, jasad yang masih diawang-awang? Percayalah Sinan, sebagaimana yang dikatakan bapak anak-anak Ando, hantu atau setan jenis apapun tidak akan diizinkan Tuhan untuk memperlihatkan diri pada orang beriman. Berimanlah Sinan. Beriman. Nanti ketakutan Sinan akan segala hantu-hantu itu akan hilang. Setelah semua ketakutan Sinan hilang, Sinan akan dapat berpikir secara jernih. Sinan akan dapat memberikan penilaian terhadap persoalan-persoalan yang berada disebalik persoalan yang kini Ando hadapi.

*

Akan halnya mumi Raja Hitam yang kini berada di tangan Ando dengan cepat menyebar ke mana-mana. Beberapa dukun, paranormal serta dukun-dukun di Pagaruyung maupun di Semenanjung heboh. Melalui telepon seluler, sms, faks dan email mereka mempertanyakan apakah mumi itu benar-benar kini telah berada pada Ando. Apakah Ando tidak merasa terganggu dengan kehadiran sesosok mumi di tengah-tengah keluarga muslim. Zaitun beberapa kali bertanya, bagaimana usaha menggandakan mumi itu sehingga kekeramatannya juga hinggap dan bertengger dalam diri Zaitun.

Bang Sawan melalui emailnya menulis panjang lebar tentang sesosok mumi yang hilang dari Istana tua Raja Terengganu, sebelum Inggeris menjejakkan kakinya di pantai timur Semenanjung. Apakah mungkin mumi yang kini berada pada Ando adalah mumi yang hilang itu. Bang Sawan menceritakan secara jelas ciri-ciri mumi itu. Bahkan beberapa foto lama yang sudah mulai kabur dikirimkan. Foto-foto itu yang kalau tidak salah, adalah foto-foto ketika mumi itu berada di tengah keluarga mereka di Terengganu.

Palma juga menelepon dan menanyakan apakah mumi yang ada pada Ando sekarang bisa bernyanyi atau tidak? Sebab, ketika ayah Palma masih hidup, mereka juga punya mumi yang setiap malam mengeluarkan suara seperti orang bernyanyi. Kadang-kadang terdengar seperti lagu India, kadang-kadang seperti lagu-lagu dangdut. Kata Palma lagi, mumi itu dibawa teman ayahnya dari India. Jasad dari Raja Badarun Syah Awali yang meninggal ketika bulan purnama tertutup awan gelap. Juga Palma ingin memastikan, apakah mumi yang kini berada pada Ando mumi jantan atau mumi betina.

Tengku Muzaffar Syah juga menelepon. Dia menyesal sekali tidak sempat membeli mumi itu dari Pak De. Waktu itu Pak De menawarkannya seharga 210 juta, sedang Tengku hanya membawa uang 100 juta. Ternyata Pak De telah menjual mumi pada Ando. Tengku penasaran, dan menanyakan berapa harga mumi yang pasti di pasaran. Tiga hari kemudian Tengku menelpon lagi dan menceritakan dia baru saja menerima sebuah mumi kiriman mendadak dari Datuk Sarangkai Tigo. Ternyata Datuk Sarangkai Tigo telah mengirimkan mumi keramat itu tanpa lebih dulu membuang label kertas yang digantungkan di punggung mumi. Lebel kertas bertuliskan harga mumi dan toko penjualnya. Kurang teliti juga itu orang, kata Tengku Muzaffar Syah menutup teleponnya.

Yang cukup mengejutkan Ando, adalah ketika datang dua orang perempuan separo baya bertamu ke rumah. Setelah memperkenalkan diri bahwa mereka sengaja diutus oleh Datuk-datuk Sarangkai Tigo untuk membujuk Ando agar mau menjual mumi itu, mereka langsung bertanya tentang mumi yang ada pada Ando. Salah seorang menanyakan berapa sentimeter panjang mumi itu. Rambut mumi itu masih tetap hitam atau sudah berubah warna seperti rambut-rambut gadis-gadis zaman sekarang. Apakah mumi itu pakai tato di bahu, di ketiak atau di pangkal pusar? Dan pertanyaan yang lebih mencengangkan lagi adalah, apakah mumi itu masih punya kemaluan atau tidak. Perempuan satunya lagi menanyakan, jika benar Ando mau menjualnya, berapa harga yang Ando kehendaki? Atau, apakah mau Ando menukarkan mumi itu dengan sebuah mobil sedan atau truk? Bagaimana kalau pakaian mumi itu diberi pakaian adat Minang. Bukankah nenek moyang Raja Hitam itu adalah raja-raja Minangkabau juga dulunya?

Salah seorang teman bapak anak-anak Ando yang dikenal cukup gila dengan patung-patung dan benda-benda keramat datang bertamu. Mungkin dia pematung kontemporer. Dia mengusulkan agar mumi itu juga diberi selempang seperti selempang dada yang selalu dipakai oleh Miss Universe, Putri Indonesia atau selempang Uni Uda gaya Padang. Kalau perlu rambut mumi yang panjang itu dijalin seperti rambut-rambut penyanyi Negro Amerika. Bahkan teman bapak anak-anak Ando itu memberi alternatif yang lebih kontemporer lagi. Agar mumi itu diberi saluak seperti saluak seorang penghulu adat. Tentu saja sebelum saluk pengulu diberikan, harus diadakan pula dulu acara adatnya dengan memotong seekor kerbau.

Ando jengkel sekali ketika rombongan ibu-ibu muda yang sedang dalam perjalanan wisata ke Pantai Pataya di Thailand singgah menemui Ando dan menanyakan dengan genitnya, kenapa sekali-sekali tidak dicoba tidur dengan mumi saat suami tidak di rumah. Dengan marah Ando menjawab usulan itu. Sampai hari ini, belum ada pikiran Ando berbuat serong atau mengkhaianti suami, apalagi tidur dengan seekor atau seorang mumi, kata Ando sambil menyumpah-nyumpah.

Sinan boleh saja tersenyum atau terkekeh-kekeh mendengar cerita Ando barusan tentang mumi yang diserahkan Pak De beberapa waktu lalu. Namun, semua itu adalah kenyataan yang ada dalam masyarakat kita. Dalam kondisi mental dan kepercayaan yang telah terpuruk oleh gempuran budaya materialistis, orang-orang menggapai-gapai, mencari pegangan untuk tetap bertahan agar tidak dihanyutkan air bah yang begitu besar melanda. Jadi, tidaklah heran, kenapa Zaitun, Palma atau Bang Sawan menjadi tersentak ketika mereka mendengar kabar bahwa Ando punya mumi penyelamat. Mumi Raja Hitam lagi! Bayangkan Sinan, kalau Ando sempat pula menyimpan mumi Nevertiti, ratu Mesir yang terkenal kejam itu?

*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: