Oleh: Wisran Hadi | 22 September 2008

GENERASI KETUJUH (Bagian kesembilan)

9. YANG PULANG DAN YANG BERPULANG

Merapi yang biasanya hijau kebiruan di sela dedaun dan pepohonan, pagi ini terlihat memutih samar tertutup kabut. Awan hitam berarak pelan, pertanda mendung mungkin sebentar lagi akan menurunkan hujan. Angin gunung sesekali menyentuh berbagai ujung ranting, resah. Sayup sayup terdengar suara bedug dipukul, tertegun-tegun bunyinya. Tidak seperti bunyi bedug sebagaimana hai-hari biasa penanda waktu shalat tiba.

Nenek Ando gelisah. Pandangannya menerawang ke kejauhan, kepada sesuatu, entah apa, yang sedang melintas-lintas dalam bola matanya yang memutih pinggir. Kupu-kupu kecil, putih dan kuning beratus banyaknya beterbangan dan hinggap di beranda seakan membisiki nenek, hari ini adalah hari berpulang. Nenek menimpali keadaan demikian seperti kanak-kanak. Dia menangis terisak.

Ando letakkan tangan Ando dibahunya dan bertanya kenapa nenek demikian sendu. Nenek menepis tangan Ando. Dengan suaranya yang serak dikatakannya bahwa hari ini adalah hari yang tidak menyenangkan. Seakan ada sesuatu yang direnggutkan dari dirinya. Kita mungkin kehilangan, katanya separo berbisik. Mungkin kita ditinggalkan orang yang selama ini kita hormati. Mungkin kita tidak menemukan dia lagi. Takkan ada gantinya. Perempuan yang selalu tersenyum. Perempuan yang selalu pasrah. Perempuan yang selalu mengasuh dan mengayomi semua orang. Perempuan yang tidak terkenal dan tidak menonjol-nonjolkan diri, tetapi menyejukkan setiap hati. Nenek bicara demikian seperti menceracau, tak tentu arah. Dia terus saja bicara, mengulang-ulang kalimat-kalimat yang diucapkannya itu. Kadang-kadang dengan terisak, gugup dan meremas-remas ujung selendangnya.

Ando seperti tanpa alasan juga ikut menangis. Mungkin karena melihat nenek menangis lalu Ando terseret emosi pula dan ikut menangis, sebagaimana kebiasaan umumnya perempuan selama ini. Entahlah. Ketika, secara tiba-tiba dan mengejutkan Datuk Bungsu muncul di pintu, jantung Ando langsung berdebar. Kenapa datuk ini datang mendadak sekali. Kenapa ditinggalkannya kerja sawah atau ladangnya? Apakah ada sesuatu yang penting yang harus segera disampaikannya? Ando tatap wajahnya. Ando seperti merasakan ada sesuatu yang harus disampaikannya. Belum sempat dia duduk, Ando langsung memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Bagaimana Putireno? Apa benar Putireno tersesat di ujung jalan? Jika tersesat, apa Putireno sanggup kembali ke pangkal jalan. Di mana Putireno selama ini? Apakah yang dikatakan Pakde beberapa hari lalu benar adanya bahwa Putireno berada pada suatu daerah yang sulit baginya untuk ke luar tanpa dipandu oleh mumi Raja Hitam?

Ando menyesal sekali, kenapa belum juga Ando dapat memutuskan pergi atau tidak untuk mencari Putireno. Apa mungkin keputusan yang akan Ando ambil juga terpengaruh pada apa yang dikatakan Pakde, bahwa mumi Raja Hitam akan dapat menuntun Ando menemui Putireno? Tapi tidak. Ando tidak terpengaruh. Hanya saja Ando masih merasa tidak mampu mengikuti apa yang disarankan Datuk Bungsu mencari Putireno ke nagari-nagari yang ratusan banyaknya, yang tersebar di seluruh alam Minangkabau. Menurut pikiran Ando, jika Ando lakukan pencarian demikian, tentu seumpama Ando mencari sebuah jarum alit dalam tumpukan jerami, atau seperti menghitung pasir di pantai. Luar biasa rumit dan akan memakan waktu yang lama.

Datuk Bungsu hanya menggeleng lemah menjawab pertanyaan Ando yang bertubi-tubi padanya. Direguknya liurnya, ditelannya kepahitan dan sambil menekurkan kepala dia bicara serak dengan logat Pagaruyung yang kental; Tuan Gadih lah daulu.

Ando sungguh tidak percaya pada apa yang baru saja Ando dengar. Lalu Ando minta ulangi lagi apa yang dikatakannya. Yang Dipertuan Gadis telah mangkat, katanya dalam bahasa yang jelas. Innalilahi wainnaillahiraji’un, bibir Ando berucap secara otomatis setelah mendengar apa yang dikatakan Datuk Bungsu.

Nenek yang juga ikut mendengar apa yang baru saja dikatakan Datuk Bungsu, segera bangkit dari kursi dan berjalan tertatih-tatih menuju kamarnya. Dia segera merebahkan badan di tempat tidurnya dan menangis. Seakan wafatnya Yang Dipertuan Gadis seperti yang disampaikan Datuk Bungsu, nenek kehilangan sesuatu yang teramat penting bagi kehidupannya. Ando biarkan nenek melepaskan semua perasannya, sementara Andopun semakin terseret emosi. Tidak dapat tidak, Ando terisak dan menghapus air mata dengan selendang.

Sebelum Datuk Bungsu pamit, Ando masih kuatkan diri Ando menanyakan kembali tentang Putireno. Datuk Bungsu tetap menggelengkan kepala. Tidak tahu di mana Putireno berada. Setelah berada di mobil yang mengantarnya, Datuk Bungsu menjulurkan kepalanya dari jendela mobil dan berkata penuh harap, mudah-mudahan Putireno pulang.

Ya, mudah-mudahan dia pulang. Andopun berharap demikian.

*

Yang Dipertuan Gadis atau yang selalu dipanggilkan Tuan Gadih oleh para datuk dan masyarakat Tanah Datar, adalah ibu kandung Putireno. Seorang perempuan tua yang sangat dihormati dan disegani oleh siapa saja yang pernah jumpa dengannya maupun yang hanya mendengar namanya dari penuturan orang lain. Dialah perempuan tertua pemegang waris dari kerajaan Pagaruyung. Namun dalam kesehariannya, dia lebih memposisikan dirinya sebagai ibu, mande, bundo kanduang. Pengayom anak cucu dan kemenakan, kaum dan masyarakatnya. Tidak terlihat semiangpun bahwa dia sesungguhnya adalah raja atau pewaris raja. Seandainyapun dia bersikap aristokrat sebagaimana bangsawan-bangsawan di daerah lain, orang akan dapat memaklumi. Ternyata tidak demikian. Yang Dipertuan Gadis justru lebih mempelihatkan sikapnya sebagai seorang ibu.

Ando segera berkemas dan mengganti pakaian. Nenek ternyata lebih dulu selesai berdandan. Nenek memakai baju kurung basiba hitam yang longgar, selendang putih tipis dan selembar kain cindai yang panjang disandang di bahunya. Tangannya menggenggam sebuah bungkusan kecil sebagai kebiasaan perempuan pergi melayat. Tanpa berkata-kata, Ando dan nenek berjalan beriringan ke Istano Si Linduang Bulan, tempat Yang Dipertuan Gadis dibaringkan.

Ketika Ando memasuki halaman Istano, ternyata telah banyak pelayat berkumpul. Semakin malam, semakin ramai. Mereka datang silih berganti, membaca Al-Quran bergiliran. Nenek dan Ando duduk bersimpuh di samping pembaringan Yang Dipertuan Gadis terbujur. Ando tidak tahu, siapa yang mempersilahkan Ando duduk di situ. Seakan semua terjadi begitu saja. Mungkin karena semua pikiran terkurung emosi yang berlebihan, entahlah. Sebuah realita kini Ando hadapi adalah, bahwa di depan Ando, hanya berjarak serentang tangan, terbaring seorang perempuan yang selalu menjadi buah mulut kami, Yang Dipertuan Gadis.

Ando menoleh ke kiri, memperhatikan nenek. Bagaimana sikap nenek dalam keadaan seperti ini. Ternyata nenek duduk sangat tenang. Khusyuk sekali membaca sesuatu. Mungkin nenek membaca Quran berdasarkan hafalannya sebagaimana yang sering dilakukannya. Sedangkan Ando sendiri, semakin lama duduk semakin gelisah. Gelisah, karena hari semakin larut dan bagaimana Ando akan dapat menuntun nenek menyusuri jalanan panjang yang gelap. Dalam kegelisahan demikian, berbagai pikiran timbul. Silih berganti. Pandangan Ando memunculkan berbagai gambaran; wajah Putireno, wajah Yang Dipertuan Gadis, wajah nenek, wajah Datuk Bungsu. Wajah-wajah itu menatap Ando seakan menyuruh Ando agar segera melakukan sesuatu.

Apa yang harus Ando lakukan? Apakah Ando harus membuka kain cindai penutup wajah Yang Dipertuan Gadis di pembaringan? Melihat wajahnya sebentar kemudian menutupnya kembali, sebagaimana beberapa pelayat-pelayat yang diizinkan secara khusus melakukan hal itu? Jika hal itu Ando lakukan, Ando harus berdiri, karena jenazah Yang Dipertuan Gadis ditidurkan di atas sembilan lapis kasur, sebagai salah satu simbul dari kebesarannya. Tidak mungkin Ando sambil duduk bersimpuh membuka penutup wajah Yang Dipertuan Gadis karena posisiya terletak lebih tinggi.

Ando beragu hati. Apakah Ando harus berdiri dan memandang sejenak wajah Yang Dipertuan Gadis? Ketika hati Ando memutuskan tidak perlu, kembali gambaran nenek, wajah Putireno, wajah Datuk Bungsu dan beberapa wajah datuk-datuk lainnya muncul dalam pandangan. Kenapa harus demikian? Kenapa harus ada semacam suruhan agar Ando segera berdiri dan menatap wajah Yang Dipertuan Gadis? Ando takut sekali membayangkan seandainya nanti Ando melihat wajahnya, tahu-tahu ada semacam dorongan lain yang mengharuskan Ando melakukan sesuatu, yang entah apa. Mungkin Ando didorong untuk mencari Putireno atau ikut menyertai berbagai persoalan yang tengah dihadapi Putireno. Ando tidak mau diberi tugas mengurus hal-hal demikian, karena banyak sekali beban tugas Ando sendiri yang belum sempat Ando laksanakan.

Akhirnya Ando memutuskan juga untuk melihat wajah Yang Dipertuan Gadis. Memang demikian tatacara yang telah digariskan. Melihat sesaat wajah jenazah yang dihormati sebagai salah satu tanda penghormatan dan sekaligus perpisahan. Lalu, Ando berdiri pelan. Berdiri dengan penuh keraguan. Ando memberanikan diri begitu saja, tanpa lagi memikirkan risiko atau beban apa yang harus Ando pikul sesudah itu nanti. Setelah Ando berdiri sempurna dan akan melangkah mendekati jenazah Yang Dipertuan Gadis, tiba-tiba semua orang juga berdiri. Satu sama lain saling berpandangan. Terdengar suara bergalau, Ando masih sempat menangkapnya; Putireno!

Putireno? Ando terkejut luar biasa. Siapa yang mereka pangil dengan nama Putireno? Pasti bukan Ando, tapi siapa? Tidak seorangpun yang berdiri bersamaan waktunya dengan Ando berdiri. Atau, Putireno pulang? Dalam kebingungan demikian, sekilas Ando memandang ke arah pintu masuk istana. Allahuakbar! Ando tidak percaya pada pandangan mata Ando sendiri. Ando gosok-gosok mata Ando dengan punggung tangan, untuk memastikan pandangan. Benar. Putireno pulang. Dia berdiri kaku di pintu Istano dan semua orang berdiri menjawab ucapan salamnya. Sementara orang-orang keheranan atas kepulangannya yang begitu tiba-tiba, Putireno berjalan menuju anjung, tempat Yang Dipertuan Gadis dibaringkan.

Hanya sekilas. Sekilas saja Ando sempat bertatapan dengan Putireno. Ketika dia dengan sangat hati-hati melangkahi tingkap menuju anjung. Ando sempat memperhatikan dirinya secara utuh. Wajahnya murung dan Ando dapat memastikan, bahwa dia sangat terpukul dengan peristiwa besar ini. Akan tetapi kemurungan itu dibungkusnya oleh sesungging senyum yang hambar. Pada saat seperti itu, Ando tidak melihat lagi Putireno sebagai seorang perempuan lembut dengan kacamata baca melorot di hidungnya yang tidak terlalu mancung itu, menatap layar LCD laptopnya, menulis catatan-catatan, menulis puisi-puisi, atau entah tulisan apa. Yang tampak dalam pandangan Ando kini adalah, seorang perempuan yang suka atau tidak suka, yang sanggup atau tidak sanggup harus memikul beban keluarga sepanjang hidupnya kelak sebagai pelanjut generasi berikutnya. Generasi ketujuh? Inilah persoalannya.

Memang, ketika Putireno dulu pulang dan Ando sempat berdiskusi dengannya, masalah generasi ketujuh menjadi topik yang cukup hangat. Semua indikasi, prediksi, bahkan secara intuitifpun Ando mengatakan padanya, bahwa generasi ketujuh yang dihebohkan selama ini, sesungguhnya adalah Putireno sendiri. Saat itu Putireno mencoba kembali menganalisa, mulai dari silsilah keluarganya, kesejarahannya, dan bahkan juga pertanda-pertanda yang pernah disampaikan nenek pada Ando. Putireno dengan berbagai alasan mencoba membantah semua yang Ando sampaikan padanya. Hanya Tuhan yang tahu, kita ini generasi keberapa dari keturunan siapa, katanya lirih.

Sinan. Saat itu, Ando seakan mau menampar mukanya yang sebesar bentangan telapak tangan Ando itu. Begitu gigihnya dia mengatakan, bahwa soal generasi ke tujuh atau generasi keberapa bukanlah persoalan yang relevan untuk dibicarakan pada saat seperti sekarang. Biarlah mereka yang terlibat dengan mistik-mistik, angka-angka, perlambang-perlambang terkurung dalam berbagai analisa dan pengandaian yang mereka yakini. Namun, kita sebagai manusia yang berada pada zaman ini, tidak boleh terjebak dengan segala simbol-simbol demikian. Tugas utama generasi ini katanya, apakah generasi ketujuh ataupun generasi ke tigapuluh tiga sekalipun, adalah bagaimana usaha kita untuk kembali kepada kebenaran sejarah. Jangan mendustai sejarah, katanya dengan mantap. Begitulah Sinan teman Ando yang aneh ini. Datangnya begitu tiba-tiba, perginya begitu tergesa, sekarang dia datang menghadiri hari ibunya berpulang.

Pakaian Putireno masih menyisakan debu perjalanan. Walaupun bahunya terbungkus dalam sehelai selendang cindai tipis dan halus, namun di balik sutra bewarna tanah liat itu Ando melihat motif akar-akaran pada cindai itu seakan torehan jejak-jejak dari sebuah perjalanan panjang. Pada saat itu timbul juga keinginan Ando untuk bertanya, sudah sejauh manakah Putireno melakukan perjalanan? Kemanakah dia pergi? Sejauh manakah? Sejauh mata memandang? Atau, sejauh-jauhnya terbang bangau? Atau sejauh laki-laki merantau cina? Lalu, apakah perjalanan itu benar-benar sebuah perjalanan sebagaimana yang dilakukan orang-orang lainnya? Ke mana? Ke luar dirinya atau ke dalam dirinya? Namun pertanyaan itu tak sempat terucap, karena emosi Andopun hanyut bersama emosi orang-orang yang menangisi Putireno. Mereka menangis, kenapa Putireno terlambat datang, sehingga tidak dapat melepas ibunya pulang ke alam baka. Mereka menangis, karena Putireno yang selalu ditunggu, kini tiba-tiba datang dalam saat-saat yang genting. Saat-saat pergantian tugas, tanggung jawab, warisan yang harus segera dilanjutkan oleh Putireno. Jika Putireno tidak pulang hari ini, mungkin pemakaman Yang Dipertuan Gadis harus tertunda pula. Tertunda, karena semua penghulu dan datuk-datuk sudah memutuskan bahwa pemakaman Yang Dipertuan Gadis haruslah sepengetahuan Putireno, apalagi Putireno akan langsung menerima tugas sebagai pelanjut Yang Dipertuan Gadis di tanah pekuburan yang masih merah.

Berpulangnya Yang Dipertuan Gadis dan pulangnya Putireno adalah dua peristiwa yang sangat menyesakkan dada mereka yang datang melayat malam itu. Mereka seakan tidak sabar lagi menunggu dua bentuk prosesi adat yang sangat jarang sekali terjadi; prosesi pemakanan dan prosesi pengalihan tugas dari Yang Dipertuan Gadis kepada pewarisnya, Putireno. Namun semua hal yang menyesakkan itu mereka tuangkan dalam doa-doa.

Putireno duduk bersimpuh membaca Al-Quran untuk ibunya. Dia duduk di sebelah Ando. Seandainya ada orang yang memandang Ando dan Putireno dari samping kanan atau samping kiri, boleh jadi orang itu akan ragu, apakah yang sedang duduk itu satu orang atau dua orang. Ando menyimak bacaaannya. Suaranya yang serak dengan bacaan yang tidak begitu lancar, mengharuskan Ando sekali-sekali menyela bacaan tajwidnya yang kurang tepat. Beberapa kali hal itu terjadi dan anehnya, Ando merasakan bahwa apa yang dibaca Putireno adalah bacaan Ando. Semakin malam, semakin khusyuk kami membaca Quran. Lama kelamaan, Ando merasakan, Andolah yang sesungguhnya membaca Quran itu.

Nah, Sinan. Dalam keadaan seperti yang Ando alami malam ini, Ando merasakan sesuatu yang terasa lain bergerak dalam diri Ando. Bagaimana menurut Sinan? Apakah Sinan akan mengaitkannya dengan apa yang dikatakan nenek tempo hari. Bahwa jika Ando menemukan Putireno sama halnya dengan Ando menemukan diri Ando sendiri?

Boleh jadi kesamaan yang terjadi antara Ando dengan Putireno malam ini sebuah kebetulan belaka. Ando memakai selendang cindai bewarna tanah liat, bermotif akar-akaran, sebagaimana juga selendang cindai yang dipakai Putireno. Ando memakai baju kurung basiba hitam yang longgar sebagaimana juga yang dipakai Putireno. Ando dan Putireno sama-sama duduk di samping pembaringan jenazah Yang Dipertuan Gadis. Begitupun tadi, ketika Ando berdiri melihat wajah Yang Dipertuan Gadis untuk yang terakhir kali, pada saat itu pula Putireno datang. Dia langsung menuju pembaringan jenazah ibunya. Tangan Ando dan tangan Putireno sama-sama membuka kain cindai penutup wajah Yang Dipertuan Gadis. Begitupun suara Putireno dan suara Ando seakan tidak dapat dibedakan lagi ketika membaca Al-Quran. Semuanya seakan menjadi satu, menyatu.

Sinan, Ando kini benar-benar berada pada situasi yang sangat berat. Apa yang dirasakan Putireno seakan Andopun ikut merasakannya. Persoalannya kini dalam diri Ando adalah, apakah memang ada yang namanya –kebetulan- di atas dunia ini? Tidak, Sinan. Tidak ada yang kebetulan. Sebuah kelapa jatuh menimpa kepala seorang istri kepala bukanlah suatu kebetulan. Apapun juga bentuknya sebuah peristiwa, betapapun juga kecilnya, semuanya mengikuti skenario yang telah dibuatkan Tuhan sebelumnya. Pada saat seperti ini Ando cukup gamang juga untuk bertanya pada diri Ando sendiri? Siapakah Ando? Siapakah Putireno? Tapi biarlah pertanyaan Ando itu tidak Sinan jawab malam ini. Kalaupun Sinan akan menjawabnya, Ando juga akan sulit dapat mengerti hubungan timbal balik antara kebetulan dan takdir, antara Ando dan Putireno itu. Yang jelas, Ando maupun Putireno sama-sama mempersiapkan diri untuk acara pemakaman besok pagi.

*

Upacara pemakaman Yang Dipertuan Gadis adalah sebuah upacara adat yang besar. Masyarakat tradisi Minangkabau mengenal empat bentuk acara tradisi yang besar itu; menaiki rumah gadang, perkawinan, penobatan penghulu atau raja, dan kematian. Sedangkan upacara untuk kelahiran, turun mandi, sunat rasul, khatam Quran, nikah, merupakan helat atau kenduri yang dilakukan berdasarkan pada tradisi keagamaan. Begitu juga ketika mereka mengadakan berbagai bentuk acara hiburan atau keseniannya. Upacara-upacara tradisi secara adat mereka isi dengan kesenian produk budaya lama seperti pertunjukan randai, dendang dan saluang, pencak silat. Sedangkan untuk upacara-upacara tradisi secara keagamaan mereka isi dengan kesenian bernafaskan keIslaman seperti pertunjukan Qasidah barzanji, salawat talam dan tari indang.

Namun, malam berpulangnya Yang Dipertuan Gadis tidak diisi dengan berbagai bentuk kesenian apapun. Orang-orang yang hadir lebih suka membaca surat Yasin berganti-ganti dan sebagian menyiapkan berbagai keperluan untuk upacara dan prosesi adat pemakaman besok pagi.

Halaman Istano Silinduang Bulan dipenuhi orang-orang yang bekerja memasang tenda-tenda, korsi untuk para pelayat yang diperkirakan akan datang lebih banyak lagi. Sebagian anak-anak muda mendirikan batang-batang bambu untuk marawa. Marawa adalah umbul-umbul bewarna hitam, kuning dan merah, memanjang sepanjang batang bambu. Marawa ditancapkan pada sekeliling halaman istana.

Beberapa orang datuk, seperti Datuk Simarajo, Datuk Mangguang dan Datuk Bungsu, Datuk Rajo Aceh, Datuk Bijayo, Datuk Putiah Janiah dan ninik mamak lainnya duduk melingkar diberanda Istano bersama ninik mamak dan beberapa orang lain. Mereka merembukkan setiap mata acara yang akan dilaksanakan besok pagi. Mereka kembali mengulang aturan upacara adat yang sudah berlangsung lama sekali, upacara pemakaman Yang Dipertuan Gadis yang dahulu, ibunda dari Yang Dipertuan Gadis yang berpulang sekarang. Sudah lebih delapan puluh tahun upacara adat pemakaman tidak dilaksanakan. Itulah sebabnya, Datuk Bungsu dengan segala pengetahuan dan daya ingatnya, memberitahu para datuk dan ninik mamak lainnya agar kembali melakukan prosesi itu tanpa dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangkan. Mereka berdiskusi sampai larut malam, diselang-seling dengan pepatah-petitih, mamangan, aturan-aturan adat seperti yang sudah terpatri dalam berbagai ungkapan. Sepintas, mereka seperti menghafal pantun, namun pada hakekatnya mereka sedang mengulang dan menelaah kembali aturan-aturan adat yang akan dijalankan besok pagi.

Begitu juga beberapa kelompok kaum perempuan yang tengah berada di halaman belakang istana. Mereka kembali belajar bagaimana membuat ikat kepala dari pucuk daun kelapa. Besok pagi, mereka harus memakai ikat kepala dari daun kelapa, untuk mengiringi jenazah kepemakaman. Mereka juga menyiapkan bunga-bunga yang akan dibawa kepemakaman untuk ditaburkan.

Pada pojok lain di halaman istana, beberapa pemuda bekerja memotong-motong batang bambu dan menyusunnya menjadi sebuah keranda. Keranda jenazah untuk Yang Dipertuan Gadis adalah keranda yang di belakangnya nanti untuk tempat duduk seorang anak laki-laki yang menebar-nebarkan uang receh sepanjang jalan menuju pemakaman. Begitu juga beberapa orang tua, dengan khusyuknya menggunting tak putus kain putih menjadi seukuran saputangan-saputangan untuk dijadikan kain jejak. Kain jejak adalah potongan kain putih yang diletakkan sepanjang jalan menuju pemakaman untuk dilewati usungan dan pengiring jenazah. Beberapa batang gulungan kain kuning sudah siap di pojok lain, karena kain kuning akan dibentangkan nanti mulai dari tangga Istano sampai ke batas halaman. Pada ujung kain kuningan bentangan itulah disambungkan dengan kain putih itu.

Sinan tentu heran. Kenapa harus demikian benar persiapan untuk prosesi jenazah dari Yang Dipertuan Gadis. Bagi Sinan, mungkin hal itu dianggap sebagai mengada-ada, atau ada yang mengatakannya sebagai usaha untuk kembali kepada tatacara dan kepercayaan lama sebelum Islam. Tidak Sinan. Semua yang mereka lakukan tidak punya kaitan lagi dengan kepercayaan lama. Semua itu mereka lakukan sebagai bagian dari sebuah aktivitas budaya. Jadi, hanya semacam kebiasaan dan tidak akan lagi dapat merusak aqidah. Sebuah ikon, kata si bungsu Ando yang ikut memerhatikan kegiatan malam itu.

Sampai larut malam Ando tidak bisa tidur. Ya, di mana harus tidur? Dan bagaimana mungkin dapat tidur, karena semua orang silih berganti datang. Ando terus saja menyimak bacaan Quran yang diucapkan Putireno. Semakin malam semakin khusyuk. Namun, bagaimanapun keletihan tetap datang menyerang Ando. Agaknya, Putireno juga demikian. Dalam kantuk demikian hebatnya menyerang, Ando dan Putireno saling bersandar melepaskan kantuk. Ando ingin tertidur agak sejenak saja agar dapat segar kembali.

Namun, kantuk Ando tiba-tiba hilang begitu saja, karena banyaknya pelayat yang berkunjung. Semakin malam semakin ramai. Masing-masing dari mereka membaca Quran sendiri-sendiri. Riuh sekali. Sepengetahuan Ando, tidak mungkin masyarakat Pagaruyung maupun masyarakat Tanah Datar akan datang tengah malam seperti sekarang begitu banyak. Dari manakah pelayat yang ramai ini datang? Ando mulai curiga. Jangan-jangan yang datang itu hanya perubahan pandangan mata Ando saja karena diserang kantuk berat. Mungkin Putireno merasakan apa yang kini sedang Ando pikirkan. Diapun kembali memperbaiki duduknya seperti semula. Dia berbisik pada Ando mengatakan bahwa yang datang itu adalah pelayat dari berbagai tempat yang kita tidak tahu. Mereka adalah makhluk-makhluk dari alam sana yang selalu datang setiap upacara di Istano Silinduang Bulan.

Ando tersentak. Makhluk-makhluk gaib? Datang larut malam dan mengaji mengelilingi jenazah Yang Dipertuan Gadis? Berbagai pertanyaan, andaian disertai dengan ketakutan, kengerian muncul dalam pikiran Ando. Namun, Putireno tampak begitu tenang, tak terusik sama sekali dengan banyaknya pelayat aneh yang datang. Justru, karena tenangnya Putireno menimbulkan kegelisahan dalam diri Ando. Ando akhirnya tak sadarkan diri, entah berapa lama. Sampai akhirnya Ando tersentak setelah mendengar suara bedug dipalu dan azan subuh berkumandang.

*

Acara dan prosesi pemakaman berlangsung sebagaimana yang telah digariskan oleh para datuk-datuk dan ninik mamak. Jenazah dimandikan di ruang tengah Istano. Agar terlindung dari pandangan pelayat lain, bagian tempat pemandian itu dibatasi dengan kain kuning yang dipegang oleh beberapa perempuan tua. Ando terpaku di dalam kurungan kain itu, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Setelah dimandikan, jenazah dikafani. Selanjutkan disembahyangkan. Semua berjalan begitu tertib dan khusyuk sekali. Setelah jenazah disembahyangkan, lalu diusung bersama-sama untuk dibaringkan dalam keranda yang telah disiapkan. Keranda kemudian ditutup dengan kain balapak beberapa lembar. Kain-kain tenunan tradisi Minangkabau masa lalu yang masih tersimpan baik dalam Istano. Ando kagum sekali pada kain-kain itu, tapi kekaguman Ando pupus dengan banyaknya orang yang harus segera ke halaman mengikuti prosesi adat. Tentang kain balapak tenunan tradisi itu nantilah Ando ceritakan secara khusus.

Setelah jenazah dibaringkan dan keranda ditutup dengan beragam kain, seorang anak laki-laki dengan pakaian khas didudukkan pada bagian belakang keranda. Anak laki-laki itu duduk berjuntai dan memegang sebuah wadah yang disebut mundam berisi uang logam dipangkuannya. Setelah itu keranda diangkat.

Saat keranda terangkat, tanpa diperintah, tanpa diberitahu, secara bergantian orang-orang yang melayat merunduk melintasi bawah keranda. Merunduk di bawah jenazah dimaksudkan sebagai pertanda ucapan maaf. Orang-orang memohon maaf kepada Yang Dipertuan Gadis. Hanya dalam beberapa menit saja acara pemaafan itu berlangsung, orang-orang yang mengambil kesempatan itu semakin berdesakan. Andopun ikut dalam merunduk di bawah keranda bersama Putireno.

Pidato perpisahan dan permohonan maaf atas nama ahli bait disampaikan oleh Tuanku Mudo Mahkota Alam, adik laki-laki Putireno. Dengan suaranya yang serak dengan ucapan kalimat-kalimatnya yang jelas, orang-orang menyimak pidato itu dengan berurai air mata. Halaman Istano Silinduang Bulan yang begitu luas, seakan beku, hening selama pidato berlangsung. Ando terkesima juga dengan cara dan bahasa yang diucapkan Tuanku Mudo dalam pidatonya. Kalimat-kalimatnya mengalir dengan lancar, seakan dia membaca sebuah teks, padahal semua itu diucapkan dengan mata yang dipejamkan menahan air matanya yang jatuh ke dalam selama berbicara.

Dalam kekaguman demikian, Ando tersentak oleh bunyi bedug dipalu serentak dengan bunyi gong dan beberapa senapan panjang ditembakkan ke udara. Bersamaan dengan itu, sebatang pohon kelapa yang tumbuh di halaman Istano ditebang. Suara kampak membentur pohon, suara bedug dan gong, serta suara ratap tangis melepas jenazah bergalau memenuhi udara. Keranda pun mulai bergerak membelah kerumunan para pelayat yang begitu banyak.

Sinan. Pada waktu seperti ini Ando baru dapat meyakini apa yang dikatakan Datuk Bungsu tempo hari. Bahwa kawasan alam Minangkabau yang dihuni oleh sapiah balahan, kuduang karatan, kapak radai dan timbang pacahan dari keturunan Raja Pagaruyung memang benar adanya. Hari ini Ando baru dapat tahu, bahwa pelayat yang berjumlah ribuan orang itu, adalah sebagian besar dari mereka. Mereka datang dengan tergesa untuk hadir menyaksikan upacara pemakaman Yang Dipertuan Gadis. Dari situlah Ando semakin akan yakin apa yang selalu diucapkan nenek Ando. Kaba baiak baimbauan, kaba buruak bahambauan. Maksudnya, khabar baik diberitahukan kepada yang lain, sedangkan kabar buruk, seperti kematian, tanpa diberitahu setiap orang punya kewajiban untuk datang. Si bungsu Ando menyadur mamangan adat demikian dengan bahasa gaulnya; untung dibagi, rugi ditanggulangi.

Agaknya, demikian adanya tradisi masa lalu dalam tatacara Istano Silinduang Bulan. Bila Yang Dipertuan Gadis mangkat, alam semesta ikut berkabung. Alam semesta itu mungkin dimaksudkan dalam konteks pemahaman wilayah Alam Minangkabau tetapi bisa juga lebih luas lagi dari itu. Pohon kepala, pohon pinang, batang pisang serentak direbahkan, menandai pemberangkatan jenazah ke pemakaman. Pantaslah Datuk Bungsu bersama datuk-datuk lainnya begitu serius berapat di beranda Istano malam tadi.

Sepanjang jalan mulai dari halaman Istano sampai ke Ustano, atau makam pekuburan ahli waris kerajaan, orang-orang besar kecil, tua muda, laki-laki perempuan telah berdiri menanti lewatnya keranda jenazah. Mereka siap untuk mengambil uang logam yang nanti diserakkan oleh anak laki-laki yang berada di atas keranda. Begitulah Sinan, Ando merasakan sesuatu yang unik terjadi. Kadang-kadang Ando sempat berpikir, apakah Ando berada di zaman modern sekarang atau masih berada di zaman lampau.

Lihatlah Sinan. Mereka berebutan mengambil uang logam yang diserakkan sepanjang jalan. Setelah keranda jenazah lewat, merekapun berebutan mengambil guntingan-guntingan kain putih yang telah dibentangkan sebelumnya. Konon, sepotong kain putih yang telah dilalui jenazah Yang Dipertuan Gadis mempunyai nilai sejarah, nilai kenangan yang tiada taranya bagi mereka yang sempat mendapatkannya.

Ando semakin dirasuki oleh suasana masa lalu. Walaupun Ando tidak punya gambaran bagaimana masa lalu itu sesungguhnya, tapi upacara ini telah menyeret diri Ando kepada masa lalu yang demikian. Sinan tentu bisa bayangkan, iringan rombongan pembawa keranda jenazah itu didahului oleh empat orang hulubalang memakai pakaian merah, membawa pedang, tombak dan gong dengan ikat kepala pucuk daun kelapa. Keranda itu sendiri dipayungi dengan payung kuning kebesaran. Di belakang keranda itu beriringan semua keluarga ahli waris. Ando sekilas masih melihat bagaimana Putireno memegang tangan adiknya Tuanku Mudo Mahkota Alam berjalan beriringan di belakag jenazah ibu mereka. Putireno dengan ujung selendang cindainya menghapus ujung matanya yang memanas dialiri air mata. Sedangkan Tuanku Mudo Mahkota Alam mengatupkan bibirnya sekuat-kuatnya menahan tangis. Dibelakangnya iringan perempuan-perempuan berbaju hitam berselempang pucuk daun kelapa dengan kepala merunduk dalam tiap langkah yang diayunkan. Membawa bunga-bunga, untuk ditaburkan nanti dipusara.

Di belakang Putireno dan Tuanku Mudo Mahkota Alam beriringan pembesar-pembesar adat Basa Ampek Balai, Tampuak Tangkai, Langgam Nan Tujuah, Tanjuang Nan Ampek Lubuak Nan Tigo, dan berderet-deret di belakang mereka anggota keluarga dari sapiah balahan, kuduang karatan, kapak radai, timbang pacahan. Seterusnya ninik mamak dan para tokoh-tokoh masyarakat Tanah Datar.

Sebelum waktu zuhur tiba, pemakaman jenazah Yang Dipertuan Gadis selesai. Semua orang kini berdiri mengelilingi pusara menunggu lanjutan acara. Beberapa datuk-datuk yang sudah tua saling berembuk dan kemudian memanggil Datuk Bungsu. Datuk Bungsu memohon izin kepada Tuanku Mudo Mahkota Alam untuk melanjutkan upacara.

Upacara yang dimaksudkan adalah upacara penobatan bagi Yang Dipertuan Gadis pengganti, sebagai penerus tugas, hak dan kewajiban dari Yang Dipertuan Gadis yang baru saja dimakamkan. Upacara seperti ini dalam adat Minangkabau disebut; dilewakan di tanah nan tasirah. Penobatan itu dilakukan di atas tanah pekuburan yang masih merah.

Datuk Bungsu berjalan ke tengah kerumunan, kemudian berdiri di dekat nisan kuburan. Mengumumkan pergantian itu dengan pidato adat yang bagus sekali. Walaupun Ando tidak seluruhnya dapat memahami bahasa yang diucapkan dalam pidato itu, karena pidato-pidato adat demikian diucapkan dengan bahasa Minangkabau bernilai sastra yang tinggi, namun Ando dapat memaklumi isinya. Bahwa pengalihan tugas, atau pewarisan itu adalah sebuah keharusan adat. Jika Sinan ingin mengerti dengan bahasa pidato adat itu, nanti Ando mintakan Datuk Bungsu mendiktekannya kembali supaya Ando dapat menulisnya. Tulisan itulah nanti yang akan Ando berikan pada Sinan. Tunggulah. Biarkan dulu Ando mengikuti upacara besar ini.

Lalu, nama Putireno dipanggil. Putireno mengangguk pelan pada Datuk Bungsu. Dan keluarlah sebuah ucapan Datuk Bungsu dengan takzim, Manolah Tuan Gadih Putireno, kata Datuk Bungsu dengan logat Pagaruyung yang kental sebagai tanda mulainya pidato tentang pergantian tugas dari Yang Dipertuan Gadis yang baru dimakamkan kepada Yang Dipertuan Gadis Putireno yang baru dinobatkan. Setelah pidato penobatan selesai, dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh salah seorang ulama petinggi adat.

*

Sejak penobatan dirinya di tanah merah pekuburan itu, Putireno tidak henti-hentinya melayani semua orang yang datang melayat. Jika pada hari pemakaman orang-orang datang melayat karena terkejut sebagai dalam mamangannya tadi dikatakan kaba buruak baambauan, sekarang dari hari ke hari mereka datang melayat secara adat. Putireno bersama datuk-datuk di Pagaruyung juga harus menunggu para pelayat itu secara adat pula.

Lebih sebulan Putireno menjalankan penyambutan demikian. Dari masing-masing nagari, dari masing-masing sapiah balahan, kuduang karatan, kapak radai dan timbang pacahan mereka datang dengan berbagai ragam tatacara, pakaian adat dan bawaan-bawaan. Ando tidak sempat mengikuti semua acara demikian karena Ando harus sesegeranya kembali memenuhi tugas-tugas harian pribadi Ando.

Putireno mulai bertugas melanjutkan tugas ibunya, sebagai Yang Dipertuan Gadis. Mulai dari menyelesaikan persoalan sengketa tanah antar masyarakat Pagaruyung, persoalan perkawinan, penobatan gelar, dan yang lebih memberatkannya adalah, menata kembali tatanan adat yang sudah centang-perenang sesuai dengan struktur adat yang dulu pernah ada.

Sinan, Ando benar-benar minta maaf pada Sinan. Tidak mungkin kiranya Ando akan dapat menjelaskan secara terperinci tugas-tugas yang dijalankan Putireno. Begitu juga dengan perasaannya yang paling dalam sekalipun, tidak mungkin Ando tahu. Boleh jadi, Putireno tidak setuju dengan beban yang dipikulnya, boleh jadi juga sebaliknya. Sukar dibaca wajah Putireno saat ini. Tidak seperti dulu, Ando dengan mudah dapat menebak apa yang dirasakannya. Sekarang, sejak dia memikul beban sebagai Yang Dipertuan Gadis, Ando melihatnya sebagai melihat seorang perempuan yang asing sekali. Dia sangat ramah, tetapi bila bicara tentang sesuatu tugasnya, dia bicara perih, lirih. Seakan ada beban yang dipikulnya, namun beban itu tidak dapat ditumpangkan pada orang lain.

Namun, bagaimanapun juga Ando berusaha untuk tidak mengganggunya, keinginan Ando untuk bertanya selalu saja tidak kunjung terbendung. Sebelum Ando menutup pintu mobil untuk berangkat meninggalkan Pagaruyung, Ando masih juga sempat bertanya dengan serius.

“Terus teranglah Putireno. Bukankah kau yang sesungguhnya generasi ketujuh itu?”

Putireno membungkuk hormat, merapatkan pintu mobil dengan hati-hati sekali sambil matanya berkaca-kaca memandang nanar pada Ando.

“Apakah Ando melihat perbedaan antara kita berdua?” katanya balik bertanya.

*

(tammat)

Padang, Oktober 2007


Responses

  1. hmmmm….. jadi Alam Surambi Sungai Pagu bukan Luhak, Bukan pulo Rantau tapi Karek kuduangan, sapiah balahan dari Pagaruyuang……..????

  2. Hi fantastic website! Does running a blog like
    this require a large amount of work? I have absolutely
    no understanding of coding however I was hoping to start my own blog
    in the near future. Anyhow, should you have any suggestions or tips for new blog
    owners please share. I understand this is off subject nevertheless I just needed
    to ask. Kudos!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: