Oleh: Wisran Hadi | 22 September 2008

PENJUAL BENDERA

Ruang tengah dari sebuah rumah yang sederhana. Gareng menyanyi dengan senangnya sambil memegang kedua ujung kain merah dan kain putih yang panjang. Suaranya parau, namun dia tetap menyanyi dengan penuh semangat. Mungkin yang sedang dinyanyikannya lagu perjuangan; Sepasang Mata Bola ciptaan Ismail Marzuki atau lagu perjuangan lainnya seperti 1945.

Sompeng, isteri Gareng, menjahit kedua pinggiran kain putih dan kain merah itu dengan sebuah mesin jahit tua, mempertautkannya menjadi sebuah bendera yang sangat panjang. Sompeng bekerja dengan pasrah dan tampaknya dia sudah sangat letih.

SOMPENG:

Sudah lebih jam delapan.

GARENG:

Ya. Aku tahu (terus menyanyi)

SOMPENG:

Waktu sholat Isya sudah masuk sejak tadi.

GARENG:

Ya. Aku tahu (terus menyanyi)

SOMPENG:

Tapi kenapa abang masih menyanyi. Sebaiknya sholat dulu.

GARENG:

Nanti. Setelah semuanya selesai. Aku akan sembahyang tahajjud sekalian.

SOMPENG:

Masa karena soal bendera ini saja harus sembahyang tahajjud?

GARENG:

Ini masalah kepercayaan Sompeng! Bendera apapun tidak akan pernah dibuat selain daripada bahan kain. Bendera harus dari kain. Bendera yang terbuat dari kain punya falsafah yang dalam. Kita harus sembahyang tahajjud, minta pada Tuhan agar bendera kita tetap dipertahankan bahannya dari kain. Tidak dari bahan yang lain!

Dengar. Bendera terbuat dari kain. Kain terbuat dari benang. Benang dari kapas. Kapas dari buah kapas. Buah kapas dari bunga kapas. Bunga kapas dari putik kapas. Putik dari pucuk, pucuk dari daun, daun dari ranting, ranting dari dahan, dahan dari pohon, pohon kapas! Pohon kapas ada karena kita memerlukan kapas. Kapas ada karena kita memerlukan bendera.

Inilah dasar perjuangan kita, falsafah kapas. Dasar pikiran yang melandasi kenapa kita harus melestarikan bendera yang terbuat dari kapas. Paham?

SOMPENG:

Tapi kain apapun cepat lapuknya dan lama-lama juga habis dimakan rayap. Karenanya orang-orang mencari bahan lain supaya bendera tahan lama.

GARENG:

Bendera apapun dapat saja lapuk dan habis. Tapi pohon kapas terus tumbuh. Yang lapuk diganti. Nah, kita akan berdosa apabila kapas masih ada tapi tidak berusaha mengganti bendera yang telah lapuk.

Hal ini sudah kukatakan berkali-kali pada kawan-kawan seperjuangan di Gedung Kebangsaan, tapi malah mereka mencurigaiku. Aku harus terus berjuang mempertahankan bendera ini dari kain. Kain terbuat dari kapas.

SOMPENG:

Apa gunanya bertahan saat ini, bang. Bertahan atau tidak, melawan atau tidak, setuju atau tidak, semuanya akan tetap berjalan seperti yang telah mereka gariskan.

GARENG:

Tidak. Pak Sekjen di Gedung Kebangsaan adalah satu-satunya orang yang memahami maksudku. Karena itulah dia memesan bendera ini kepada kita.

SOMPENG:

Apa ruginya kalau bendera dibuat dari bahan selain kapas. Ah, abang selalu saja bertahan pada persoalan-persoalan sepele.

GARENG:

Sepele katamu? Sepele? Uh, Sompeng. Sompeng. Kalau aku masih jadi intel sudah aku isukan kau anti revolusi, anti perjuangan! Biar kau rasakan akibatnya! Untung aku sudah pensiun.

Ingat Sompeng. Persoalan bendera bukan persoalan main-main. Ini masalah kepercayaan, Masalah falsafah perjuangan, dasar kenegaraan, masalah identitas bangsa, masalah kemerdekaan! Bendera apapun harus terbuat dari kain, kain dari benang, benang dari kapas, kapas dari pohon kapas. Ah! Berapa kali harus kuterangkan agar kau mau mengerti. Ayo, teruskan jahitanmu.

SOMPENG:

Dua gulungan besar harus dipertautkan menjadi sebuah bendera panjang. Pasti tidak akan selesai malam ini. (terus menjahit dengan lesu)

GARENG:

Harus selesai! Kalau kita tidak dapat menjadikan kedua gulungan kain ini menjadi bendera, besok pagi Gedung Kebangsaan tidak akan mempunyai bendera. Betapa konyolnya, saat detik-detik kemerdekaan nanti dikumandangkan ulang, Gedung Kebangsaan kosong melompong tanpa bendera.

SOMPENG:

Kenapa benderanya harus sepanjang ini? Gedung Kebangsaan itu kan tidak terlalu besar?

GARENG:

Memang begitu pesanan pak Sekjen. Setelah nanti upacara selesai, bendera yang panjang ini akan dipotong-potong dan dibagi-bagikan kepada semua pegawai dan istri-istri mereka.

SOMPENG:

Seperti membagi-bagi nasi tumpeng?

GARENG:

Mulutmu Sompeng! Mulutmu! Membagi-bagi bendera ada falsafahnya. Bendera lambang suatu bangsa yang merdeka. Suatu bangsa baru disebut merdeka kalau sudah punya bendera. Nah, membagi-bagi bendera sama artinya dengan membagi-bagikan kemerdekaan. Paham?

SOMPENG:

Artinya setiap pegawai dan istrinya mendapat kemerdekaan sepotong-sepotong?

GARENG:

Otakmu, Sompeng! Otakmu Sompeng! Otakmu terlalu sederhana sehingga kau mudah terjebak jadi ekstremis. Bagaimana mungkin setiap orang mendapatkan kemerdekaan penuh. Kemerdekaan punya batas dan batasan. Pegawai punya aturan dan peraturan. Semuanya harus tahu aturan. Karenanya istri-istri juga harus tahu aturan.

Ayolah, teruskan jahitanmu. Kalau bicara terus menerus bendera ini tidak akan selesai sampai kiamat. Ayo. (Sompeng patuh dan Gareng menyanyi kembali sambil memegang kedua ujung kain. Tiba-tiba dia teringat sesuatu) E,e,e, Sompeng. Sompengku, Sompeng.

SOMPENG:

Iya bang. Apa lagi?

GARENG:

Dengar aku. Aku tadi rasanya masuk ke dalam sejarah. Bayangkan Sompeng. Seorang istri menjahit sebuah bendera untuk kemerdekaan suaminya.

SOMPENG:

Sejarah apa yang mau memerdekaan seorang suami? Mungkin abang salah masuk. Abang kira buku sejarah ternyata buku falsafah kapas. Begitu barangkali.

GARENG:

Maksudku, seorang istri menjahit bendera untuk kemerdekaan bangsanya di depan suaminya.

SOMPENG:

Dulu memang pernah terjadi. Ibu Fatmawatipun melakukannya dulu. Dia menjahit bendera di depan suaminya, Sukarno. Lalu dengan abang?

GARENG:

Rasanya, akulah suami itu.

SOMPENG:

Apa selama ini abang tidak pernah merasa sebagai suami? Bang, kalau otak terlalu dirasuki kapas, begitulah jadinya.

GARENG:

(tak mengacuhkan) Kemudian sang suami mencium bendera dan mencium istrinya. Sementara di bawah jendela mengintai tentara penjajah untuk menangkapnya. Sang suami tahu, tetapi dia tetap tenang. Acuh. Dan sewaktu pintu digedor dan dia langsung ditangkap, sang suami berseru pada istrinya yang masih menggenggam bendera yang belum selesai dijahit, “Merdeka! Merdekalah kau dengan benderaku!”

SOMPENG:

Tidak mungkin sang suami mengucapkan kata seperti itu. Pasti yang abang sebut tadi kelanjutan dari falsafah kapas.

GARENG:

Diam kau Sompeng! (terus dalam lamunannya) Dan sang suami digiring ke penjara. Bendera itu disimpan istrinya, seperti menyimpan cinta pada suaminya. Sompeng. Dia mencintai suaminya seperti mencintai bendera. Sompeng. Bendera itu dari kain. Kain dari benang. Benang dari,

SOMPENG:

Kapas. Kapas dari pohon kapas. Pohon dari biji. Biji dari buah. Buah dari bunga. Bunga dari,

GARENG:

Sudah! Kalau tidak mampu mengikuti pikiranku, ikuti saja perintahku. Ayo teruskan lagi jahitanmu! (Sompeng patuh. Gareng menyanyi lagi. Kemudian mendekati Sompeng)

Sompeng. Sompengku.

SOMPENG:

Ya, Bang.

GARENG:

Kau masih ingat bagaimana dulu kita pertama kali berjumpa?

SOMPENG:

(Menelungkupkan kepala ke atas jahitannya karena letih) Masih, bang. Masih.

GARENG:

Waktu itu kau berdiri di balik pagar kemuning rumahmu memperhatikan pasukanku lewat. Aku tiba-tiba tersandung dan jatuh. Robek celanaku dan kau tertawa cekikikan bersama teman-temanmu. Aku marah karena waktu itu aku tidak pakai celana dalam. Kemudian aku berdiri dan menggertakmu dengan senjataku. Masih ingat kan?

SOMPENG:

Masih.

GARENG:

Lalu tengah malam aku datang dan melarikanmu. Kita bersembunyi di atas pedati patah sumbu. Kitapun berdua kawin malam itu. Dan kau menangis, berbisik dekat ketiakku. “Bang Gareng, diriku kini darurat. Abang harus bertanggung jawab” Masih ingat?

SOMPENG:

Masih.

GARENG:

Kita terus berjuang. Dari kampung ke kampung, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dari musim ke musim. Masih ingat kan?

SOMPENG:

(tertidur) Mmm.

GARENG:

Berganti-ganti tanda pangkat ditempelkan di lengan bajuku. Berganti-ganti pula surat pengangkatan dan surat penurunan kuterima. Setelah kemerdekaan diumumkan di Gedung Kebangsaan, saat itu pula aku dipensiunkan. Dianggap kurang sehat dan dikirim ke rumah sakit gila. Dituduh aku gila karena bicaraku yang selalu tanpa tedeng aling-aling pada komandan. Kukatakan pada semua orang, mengibarkan bendera saat detik kemerdekaan diumumkan, tidak terlalu penting. Yang penting justru kesadaran bahwa kita benar-benar telah merasa merdeka. Tidak hanya berteriak-teriak “Merdeka! Merdeka atau mati!”

Buat apa mengibarkan bendera atau berteriak merdeka tapi perasaan dan pikiran tetap di alam penjajahan. Apalah artinya bendera. Bendera itu terbuat dari kain. Kain dari benang dan benang dari kapas. Kapas dari, (menoleh pada Sompeng yang tertidur) Sompeng! Sompeng! Sial! Tertidur kau rupanya! (Sompeng bangun) Ayo teruskan jahitanmu. (Sompeng patuh). Gedung Kebangsaan memerlukan bendera! Pak Sekjen perlu bendera! Pegawai-pegawai dan istri-istrinya perlu bendera! Besok pagi bendera ini harus kuantar sendiri. Dan pulangnya, aku akan membawa uang! Uang Sompeng! Uang!

(ragu) Uang? Yaya. Satu meter benderaku akan dibayarnya tiga ribu lima ratus! Lima ratus diberikan pada bendaharawan. Dua ratus untuk pegawai yang mengetik kuitansi. Lima ratus lagi untuk pajak pendapatan. Lima ratus lagi untuk pak Sekjen. Tiga ratus sumbangan wajib istimewa. Semuanya berjumlah dua ribu lima ratus.

Kemudian untuk pembayar beli kain dua bal tujuh ratus, benang merah seratus lima puluh, ongkos beca lima puluh, tinggal lagi seratus, lima puluh untukmu dan lima puluh untukku. Yaya. Itulah rejeki kita yang sah. Hasil jerih payah kita malam ini.

Sompeng. Kita sebenarnya tidak terlalu miskin. Oleh karena itu kita perlu mengabdi saat-saat akhir hidup ini. Mengabdi. Yaya, itulah kata yang lebih menenteramkan.

Dan besok pagi Sompeng, bendera ini akan dibagi-bagikan. Golongan satu mendapat seperempat meter, golongan dua setengah meter, golongan tiga satu meter, golongan empat dua meter dan golongan-golongan lain mendapat lebih panjang lagi.

Bayangkan Sompeng. Sekiranya pegawai Gedung Kebangsaan berjumlah dua ribu dan dipukul rata mendapat satu meter, kita akan mendapatkan uang limapuluh kali dua ribu, Wah, betapa banyaknya. Aku akan beli sepeda. Dengan sepedaku kau akan kuboncengkan. Kita pulang kampung naik sepeda.

Sompeng, dengar aku. Sepeda! Sepeda itu dari bendera. Bendera dari kain, kain dari benang dan benang dari,

SOMPENG:

Kapas!

GARENG:

Kapas? Bagus. Besok kau akan kubelikan kapas. Lima kilo! O, Sompengku! Betapa besarnya karung belanjaku dari pasar membawa kapas lima kilo! Tapi jangan cemas, yang kubawa itu karung berisi kapas. Kau mau kubelikan kapas, bukan?

SOMPENG:

Buat apa kapas bagiku?

GARENG:

Kapas itu vital, Sompeng. Sampai ke liang kuburpun kita masih memerlukan kapas. Jika kita mati, tidak mungkin hidung dan mulut jenazah kita ditutup dengan kertas koran, bukan?

SOMPENG:

Ya, Bang.

GARENG:

Yaya. Kau memang memerlukan kapas. Aku tahu keperluanmu. Sedangkan aku memerlukan sepeda. Masing-masing keperluan kita akan terpenuhi besok pagi dengan menjual bendera yang kita jahit malam ini. Ayo, semangat. Semangat. Teruskan lagi jahitanmu.

SOMPENG:

Mungkin kita hanya menjahit harapan, Bang.

GARENG:

Tidak. Kita menjahit kapas. Benang dari kapas. Kain dari kapas. Kita jahit kapas dengan kapas.

SOMPENG:

Mudah-mudahan aku tidak menjadi gila sebelum bendera ini selesai.

GARENG:

Kalau kau sempat jadi gila, salahmu sendiri. Karena kau tidak menyadari bahwa menjahit kapas harus dengan kapas.

SOMPENG:

Falsafah lagi.

GARENG:

Diam kau! Menurut otakmu ucapanku ini salah. Tapi pada hakekatnya memang begitu. Semuanya berasal dari kapas.

SOMPENG:

Aku tidak mengerti hal itu, bang.

GARENG:

Kalau mau mengerti jangan pakai otak mendengar apa yang kuucapkan.

SOMPENG:

Pemahaman kan harus pakai otak, bang.

GARENG:

Iya. Kalau mau memahami sesuatu, kau harus memakai otak, paham? Tapi bukan otak ekstremis! Ayo, jahit lagi. Kalau kau bicara terus-menerus nanti Gedung Kebangsaan tidak punya bendera.

SOMPENG:

Justru abanglah yang selalu bicara.

GARENG:

Iya. Kau memang harus diam, kalau aku bicara. Kau diam dan terus menjahit. Nah, dengan diamnya kau, barulah bendera itu dapat diselesaikan. Kau harus diam kalau ingin mendapatkan kapas lima kilo! Ayo, menjahit lagi. (Sompeng patuh.) Sompeng.

SOMPENG:

Iya, bang.

GARENG:

Menjahit kapas harus dengan,

SOMPENG:

Kapas.

GARENG:

Mencari uang harus dengan,

SOMPENG:

Kapas.

GARENG:

Membeli sepeda harus dengan,

SOMPENG:

Kapas.

GARENG:

Pulang kampung harus dengan,

SOMPENG:

Kapas.

GARENG:

Enaknya kau bilang kapas, kapas, kapas. Apa kau paham maksud sesungguhnya dari falsafah kapas?

SOMPENG:

Tidak bang.

GARENG:

(bingung sendiri) Aku juga tidak.

SOMPENG:

Astagfirullah. Jadi, bagaimana bang?

GARENG:

Aku saja tidak paham, apalagi kau. Itu sebabnya tadi aku marah. Kenapa kita tidak bisa memahami apa yang telah kita katakan sendiri. Bagaimana menurutmu? Apa aku ini konyol? (melihat pada Sompeng yang tersenyum getir) Sompeng, Sompeng. Jangan tertawakan aku. Jangan. Lebih baik teruskan jahitanmu daripada menyakitkan hatiku. Ayo, terus. (Sompeng patuh) Sompeng. Menjahit bunga harus dengan,

SOMPENG:

Bunga.

GARENG:

Menjahit pemahaman harus dengan,

SOMPENG:

Pemahaman.

GARENG:

Iya, benar. Sekarang kau sedang menjahit apa Sompeng?

SOMPENG:

Menjahit kapas.

GARENG:

Iya, benar. Pintar kau sekarang.

SOMPENG:

Kalau bicara terus memang bisa pintar.

GARENG:

Jangan, jangan. Tidak perlu kau terlalu pintar. Jika kau pintar dan kau akan bicara terus-menerus, bendera ini pasti tidak akan siap. Ini berbahaya. Dua ribu pegawai dan bapak Sekjen tidak akan mendapatkan bendera. Mereka tidak akan mendapat kemerdekaannya.

Sompeng. Biarlah kau tidak pintar asal bendera ini siap. Biarlah kau tetap bodoh, asal semua orang mendapat kemerdekaannya. Kita jangan sampai mengancam kemerdekaan orang lain dengan kepintaran kita.

Sompeng, sebenarnya kau adalah pejuang. Kau rela untuk jadi bodoh agar orang lain mendapat kemerdekaannya. Jadi, kebodohanmu itu adalah baktimu pada nusa dan bangsa. Kebodohanmu itu adalah perjuangan bagi mendapatkan kemerdekaan orang lain. Ayo, teruskan jahitanmu. (Sompeng patuh. Gareng menyanyi lagi kemudian mendekati Sompeng) Sompeng.

SOMPENG:

Apa lagi, bang.

GARENG:

Kau rela untuk tidak pintar, kan?

SOMPENG:

Menjahit kepintaran harus dengan pintar, paham!

GARENG:

Ha? Kau pula sekarang yang bertanya apa aku paham atau tidak! Aku tidak dungu, bodoh atau gila! Cukuplah komandanku dan teman-temanku itu saja menuduhku begitu. Tuduhan mereka hanya karena iri hati. Mereka iri hati padaku. Aku intel, penterjemah sandi, pembaca Morse tercepat, penunggang kuda terbaik dan jago tembak! Aku bisa menembak di atas kuda! Karena mereka iri, lalu aku dipensiunkan.

Sompeng, Sompeng. Untung aku sudah pensiun. Kalau tidak, sudah kubuat darurat dirimu seperti zaman darurat dulu. Tapi sudahlah. Teruskan jahitanmu. Bila jahitanmu selesai, kitalah pemilik bendera terpanjang di muka bumi. Kitalah yang akan menyerahkan bendera pada pak Sekjen dan duaribu pegawai Gedung Kebangsaan. Kita pemilik bendera sekaligus pemilik kemerdekaan. Betapa bahagianya hidup ini Sompeng. Kemerdekaan kita berikan kepada mereka. Kemerdekaan, Sompeng. Kemerdekaan sompeng!

Ayo, jahit lagi. Jahit lagi.

*

Sompeng kembali menjahit dan Gareng memegang kedua ujung kain dan terus menyanyi. Hari semakin larut. Beberapa saat kemudian, Jondul datang. Dia membawa segulungan plastik, beberapa kaleng cat dan kwas. Semua barang bawaannya itu diletakkan di lantai.

SOMPENG:

Oh, kau. Jondul!

GARENG:

Dari mana kau malam-malam begini?

JONDUL:

Baru pulang membeli plastik. Sukar sekali mendapatkan harga yang murah saat ini. Padahal semuanya sudah dibuat di dalam negeri kita sendiri.

GARENG:

Kalau hanya untuk kantong sampah tidak perlu plastik sebanyak itu.

JONDUL:

Semuanya ini pesanan pak. Besok pagi harus kuantarkan.

GARENG:

Siapa pula yang memesan kantong sampah saat acara peringatan kemerdekaan? Apa semua orang akan dimasukkan ke dalamnya?

JONDUL:

Ini bahan untuk membuat bendera.

GARENG:

Bendera? Dari plastik?

JONDUL:

Iya pak. Untungnya lumayan. Komisi memang tinggi tapi daripada tidak goyang sama sekali, kuterima juga.

GARENG:

Ya Allah. Jadi kau akan gantikan bendera kita dengan plastik, saat ulangan detik-detik kemerdekaan besok pagi? O, anakku, Jondul. Jondul.

(berdoa) Ya Allah. Ampunkan segala dosa anak nakal ini. Tunjukilah dia pada jalan yang lurus, jalan yang tidak berbatu kerikil atau berlobang-lobang. Sebagaimana jalan yang telah ditempuh para pejuang. Ya Allah, hindarkan anakku ini dari ekstrimitas, kedangkalan pengertian dan penafsiran-penafsiran yang keliru terhadap bendera bangsanya, falsafah negaranya, dan hakekat kemerdekaannnya. Amin.

SOMPENG:

Kenapa kau memilih bahan ini?

JONDUL:

Plastik lebih tahan dari kain, bu.

GARENG:

Bendera apapun harus terbuat dari kain. Kain dari benang. Benang dari kapas. Ini persoalan falsafah dan kepercayaan kita, anakku. Jangan main-main dalam persoalan ini.

JONDUL:

Apapun bahannya, bendera kan tetap bendera, Pak.

GARENG:

Justru bahanlah yang menentukan apa yang akan kita buat. Ini masalah falsafah Jondul. Falsafah!

JONDUL:

Tapi aku ingin bendera kita tidak boleh diturunkan hanya karena hari hujan. Bendera kita harus berkibar tanpa tergantung cuaca. Bendera dari plastik dapat melepaskan diri dari situasi cuaca yang bagaimanapun juga buruknya.

Tekadku ini sangat dihargai bapak Dirjen Gedung Kebangsaan dan dia langsung memesan bendera yang kumaksudkan ini.

GARENG:

Plastik. Kau tahu plastik berasal dari ampas minyak mentah! Minyak mentah berasal dari fosil. Fosil itu pada hakekatnya adalah bangkai! Bila kau mengibarkan bendera plastik, sama artinya kau mengibarkan bangkai.

Jondul, Jondul. Kau akan kibarkan bangkai-bangkai untuk peringatan kemerdekaan kita di puncak Gedung Kebangsaan? Uh! Otakmu pasti sudah dirusak pikiran-pikiran kotor. Kau pasti didalangi!

JONDUL:

Apakah dari bangkai turun ke fosil, dari fosil turun ke minyak, dari minyak turun ke ampas dan terus jadi plastik, bukan urusan kita pak. Sekarang plastik itu sudah ada, produksi dalam negeri kita sendiri. Tahan terhadap segala keadaan. Apa salahnya dibuat bendera kita sendiri pula? Hasil dari bumi kita untuk bendera kebangsaan kita.

GARENG:

Jaringan otakmu memang sudah ada yang bolong! Ingat Jondul. Aku ini, bapakmu sendiri, adalah pejuang yang ikut mempertahankan bendera kita. Jangan kau ikut-ikutan merendahkan nilai perjuanganku dengan plastikmu itu.

SOMPENG:

Si bapak memperjuangkan kemerdekaan tapi tidak mau mengakui kemerdekaan anaknya sendiri memilih bahan bendera bangsanya.

GARENG:

Diam kau Sompeng! Jadi kau sepakat dengan anakmu ini menggantikan falsafah bangsa yang sudah dianut semua orang? Plastik buatan dalam negeri. Kapas juga buatan dalam negeri. Ayo, teruskan jahitanmu. Ini masalah falsafah bangsa. Berat ini!

JONDUL:

Bapak. Aku tidak berniat menggantikan bendera kita, falsafah bangsa ataupun kepercayaan semua orang. Percayalah. Aku ini kan anak seorang pejuang, ya kan pak?

GARENG:

Iya, siapa yang memungkiri kau anakku. Tapi aku memperjuangkan bendera dari kain, kain dari kapas, kau memperjuangkan bendera dari plastik, plastik dari ampas. Jadi, menurut pikiran filsafat, karena antara plastik dan kapas tidak ada hubungannya, maka pada hakekatnya kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi.

JONDUL:

Ini kan hanya proyek, pak. Proyek. Aku memerlukan sejumlah uang. Tak ada maksud lain.

GARENG:

Walaupun dari dulu kita tidak pernah kaya tapi kita tidak pernah meminta-minta.

JONDUL:

Benar pak. Tapi kita selalu kekurangan uang.

GARENG:

Itu biasa. Kan tidak ada hubungannya antara kemiskinan dengan uang. Uang dari kertas, kemiskinan dari jiwa. Paham!

SOMPENG:

Jondul. Istrimu bekerja, kau juga bekerja. Anakmu hanya seorang. Buat apa uang kau cari dengan membuat bendera plastik ini?

GARENG:

Kalau aku membuat bendera bersama ibumu malam ini, dasarnya adalah pengabdian. Pengabdian, tahu kau. Sedangkan uangnya, berapalah. Jondul. Buat apa lagi uang buatmu, kalau semua keperluanmu sudah dapat teratasi?

JONDUL:

Aku mau beli bemo atau helicak bekas. Aku ingin jadi sopir. Lebih bebas kita jadi pengemudi daripada jadi penumpang. Itu sebabnya aku perlu uang.

GARENG:

Tujuanmu baik, nak. Tapi kau akan mendapatkan uang dengan menjual bendera plastik aku tidak setuju. Haram uang bangkai bagiku.

JONDUL:

Pesanan ini harus dikerjakan, pak. Kalau tidak pak Dirjen tentu marah. Dan aku sendiri perlu uang untuk merubah statusku menjadi pengemudi. Pemegang kendali dalam sebuah kendaraan yang sedang berjalan. Aku sudah cukup bosan dan menderita terus menerus jadi penumpang.

SOMPENG:

Anakku, anakku. Bagaimana mungkin kau merubah statusmu.

JONDUL:

Itulah yang sedang aku perjuangkan. Bendera plastik ini hanya sebagai batu loncatan saja, bu.

GARENG:

Jijik aku mendengarnya, Jondul! Bendera kebangsaan kau jadikan hanya sebagai batu loncatan? Bendera adalah kebanggaan suatu bangsa, kau kan tahu itu!

SOMPENG:

Sebenarnya tujuan si anak dan si bapak sama. Tapi cara masing-masing berbeda dan alasan yang saling bertentangan.

GARENG:

Ini masalah prinsip, Sompeng. Prinsip Sompeng!

SOMPENG:

Jondul. Hari sudah semakin malam. Kerjakan saja apa yang dapat kau kerjakan. Jangan bicara terus menerus seperti bapakmu itu.

JONDUL:

Iya, bu. Aku akan segera mewarnai plastik ini sehingga berubah fungsi menjadi sebuah bendera.

GARENG:

Tapi jangan kau kerjakan di rumah ini. Rumah ini rumah sejarah. Rumah pejuang. Aku tidak ingin rumah ini dijadikan pembuat bendera-bendera dari bangkai!

SOMPENG:

Jondul. Sebaiknya kau kerjakan di rumah istrimu.

JONDUL:

Justru harus dikerjakan di rumah kita ini, bu. Proses pembuatan benderaku ini cukup penting bagi sejarah. Rumah kita ini akan menjadi monuman sejarah bangsa.

GARENG:

Rumah ini bersejarah karena aku dan ibumu menjahit bendera malam ini. Bendera itu dari kain, kain dari benang dan benang dari,

JONDUL:

Kapas.

GARENG:

Diam kau, lancang!

SOMPENG:

Semua orang ingin membuat bendera untuk bangsa dan negerinya. Semua orang ingin dicatat dalam sejarah bangsa dan negerinya.

GARENG:

Sompeng! Jangan ikut-ikutan bicara soal perbedaan. Aku dan anakku tidak akan jauh berbeda. Teruskan saja jahitanmu!

Sompeng kembali menjahit. Jondul mulai bekerja. Tiba-tiba Jondul teringat sesuatu. Dia mencari-cari sesuatu itu sampai-sampai ke balik gulungan bendera yang sedang dijahit ibunya. Gareng tidak senang melihat Jondul demikian.

GARENG:

Kerjakan saja pekerjaanmu. Apa pula yang kau cari di balik benderaku!

SOMPENG:

Apa yang hilang, Jondul?

JONDUL:

Tidak bisa dikerjakan malam ini. Ya Allah, kenapa bisa aku lupa?

SOMPENG:

Apa yang terlupa?

JONDUL:

Terpentin! Cat ini harus diaduk dengan terpentin! Bagaimana jadinya bendera kalau diwarnai dengan warna yang kental? Dia tentu tidak akan dapat berkibar.

GARENG:

Tidak ada terpentin atau minyak cat apapun di balik benderaku.

JONDUL:

Jika benderaku tidak siap malam ini, aku tidak akan dapat membeli bemo atau helicak. Statusku akan tetap sebagai penumpang. Ibu. Bu, tolong aku.

SOMPENG:

Dengan minyak rambutku mungkin bisa kan?

JONDUL:

Mesti dengan terpentin, bu. Cat tidak pernah mengenal kompromi. Ah, kenapa aku bisa lupa bahwa pengaduk cat ini harus dengan terpentin? Aduh, statusku. Statusku.

SOMPENG:

Kasihan aku padamu, nak. Biar aku pergi ke toko Cina yang berada di depan Gedung Kebangsaan itu. Mungkin bisa kudapatkan apa kau perlukan.

GARENG:

Semua toko malam begini sudah tutup, Sompeng. Apakah itu toko Cina, toko Arab, apalagi toko Melayu. Setiap malam mereka tutup.

JONDUL:

Tolonglah bu. Tolong.

SOMPENG:

Kebetulan istri tauke itu dulu pernah berhutang. Sampai sekarang mereka sangat segan padaku. Aku akan ke sana.

GARENG:

Hutang? Istri tauke itu pernah berhutang kepadamu? Wah, wah, kenapa aku tidak tahu, ya? Padahal aku dulu intel kan? Jadi, berapa jumlah hutangnya?

SOMPENG:

Hutang budi, bang. (ke luar)

GARENG:

E,e,e,e Sompeng! Bendera kita jangan ditinggalkan begitu saja. Bendera kita juga harus siap besok pagi. Sompeng! Benderaku Sompeng!

E, kau Jondul! Ibumu itu sudah tua, kau suruh juga pergi ke toko Cina dalam malam yang semakin larut ini.

JONDUL:

Pak. Hanya ibu yang disegani mereka, selebihnya berhutang kepadanya.

GARENG:

Ingat Jondul. Aku akan menyesalimu seumur hidup, bila benderaku tidak siap karena ibumu kau suruh pergi ke toko Cina.

Sejak semula aku tidak setuju dengan rencana gilamu itu. Tapi, ya, bagaimana lagi. Aku bapakmu. Bagaimana mungkin aku menutup peluang bagi apa yang sedang kau perjuangkan. Celakanya, aku yang jadi korban. Benderaku mungkin tidak siap, sementara benderamu juga belum tentu selesai.

JONDUL:

Setelah ibu kembali, kita akan sama-sama mengerjakan bendera, pak. Aku percaya, bapak mampu menyiapkannya dan akupun yakin dapat menyelesaikannya tepat waktu. Dan besok pagi, bapak dan aku bersama-sama mengantarkan bendera ke Gedung Kebangsaan. Aku akan menyerahkannya kepada Pak Dirjen dan bapak menyerahkannya pada Pak Sekjen.

GARENG:

Sementara ibumu kembali, apa yang dapat kita kerjakan?

*

Barcep masuk membawa berbagai perkakas listrik; kabel-kabel, bola-bola listrik, kayu, kaca dan sebagainya. Gareng dan Jondul heran.

GARENG:

O, Barcep cucuku! Ya Allah! Apa yang kau bawa malam-malam seperti ini?

JONDUL:

Barcep! Ke mana saja kau tidak pulang tiga malam, ha! Aku dan ibumu sudah mencarimu ke mana-mana bahkan sampai ke kantor polisi.

BARCEP:

Papa. Aku dapat proyek. Lihat saja. Aku akan menjadi orang ternama bila proyek ini selesai.

GARENG:

O,o,o, Barcep. Proyek apa yang akan kau kerjakan.

BARCEP:

Bapak Irjen Gedung Kebangsaan memesanku membuat bendera dan harus siap malam ini juga.

JONDUL:

Bendera? Pesanan pak Irjen?

GARENG:

Hehehe. Aku menerima pesanan pak Sekjen. Anakku menerima borongan pak Dirjen. Dan cucuku dapat proyek pak Irjen. Sama-sama bendera, heheheh. Barcep. Bendera seperti apa yang akan kau buat?

BARCEP:

Bendera tembus waktu. Terbuat dari cahaya. Akan dapat dilihat siang dan malam. Kakek dan papa kan juga membuat bendera. Tapi kalau malam hari, bendera-bendera seperti itu akan hilang dilulur gelap. Itulah sebabnya aku harus membuat bendera anti gelap dan hanya benderaku nanti yang akan bersinar. Hebat kan?

GARENG:

Hebat, hebat. Hebat kau cucuku.

JONDUL:

Bagaimana mungkin kau dapat mengerjakannya?

BARCEP:

Begini. Kususun bola-bola bewarna ini dan kumasukkan ke dalam kotak kaca. Kemudian dialirkan arus listrik. Tekan tombolnya. Byar! Berkibarlah benderaku. Siang dan malam.

JONDUL:

Barcep, Barcep. Mana ada benda keras bisa berkibar.

BARCEP:

Berkibar itu bergerak dan bergerak itu diam.

GARENG:

Itu falsafah apa, cucuku?

BARCEP:

Bukan falsafah tapi hukum alam. Bumi berputar tapi kita merasakannya seperti diam. Matahari berputar tapi kita melihatnya diam. Gasing berputar kelihatannya diam. Semakin cepat kibaran benderaku, semakin cepat gerakannya dan kelihatannya adalah diam.

GARENG:

Ampun aku Barcep, ampun aku, he he. Jondul, kalau si Barcep ini nanti punya anak pula dan mendapat pesanan membuat bendera seperti kita, tidak tahulah aku entah dari bahan apa lagi bendera yang akan dibuatnya.

BARCEP:

Begini. Bendera yang kakek buat atau bendera yang dibuat papa itu bahannya dari kapas atau ampas minyak bumi. Artinya bahan bendera kakek dan papa Bangih dari tanah. Artinya lagi, bendera begitu adalah bendera masyarakat agraris. Tapi benderaku, bendera elektronik, berasal dari otak manusia. Listrik diciptakan manusia, manusia diciptakan Tuhan. Nah, cahaya benderaku adalah proyeksi dari cahaya Tuhan.

JONDUL:

Suka hatimulah! Kalau mau berkhotbah jangan di sini, tapi di masjid sana hari Jum’at!

BARCEP:

Tapi hasil khotbah itu cukup lumayan, papa. Dua juta untuk gagasan dan satu juta untuk peralatan.

GARENG:

Betapa banyak keuntungan yang kau peroleh. Buat apa uang sebanyak itu bagimu?

BARCEP:

Untuk beli gelar sarjana. Gagasan apapun sekarang harus didukung dengan gelar kesarjanaan. Seakan-akan hanya sarjana saja yang punya pikiran.

GARENG:

Kiamat sudah. Kiamat. Kiamat sudah anak cucuku.

BARCEP:

Tenang saja kakek. Besok pagi bendera cahayaku ini akan kuletakkan di tempat tertinggi Gedung Kebangsaan. Saat detik kemerdekaan diulang, benderaku menyala dan bercahaya ke segala penjuru dunia. Yang berpangkat tinggi maupun yang berpangkat rendah mendapat cahaya yang sama. Benderaku cahaya keadilan, kek! Tidak dibagi-bagi permeter menurut kepangkatan dan golongan seperti bendera yang kakek buat itu. Benderaku cahaya. Nur! Bangsaku harus bercahaya! Harus bersinar siang malam. Harus adil. Keadilan yang disirami Nur Tuhan.

JONDUL:

Sudah. Sudahlah. Kau sama saja dengan kakekmu. Filsafat, agama, kepercayaan dan segala yang tidak pernah jelas.

GARENG:

E,e,e, cucuku jangan dimarahi. Dia punya pikiran, cita-cita dan gagasan serta punya kemampuan mengerjakannya.

JONDUL:

Aku sangat memahami anakku sendiri, pak. Masa kita yang tua-tua diajari seperti mengajar anak ingusan. Aku ini kan bapaknya.

GARENG:

Kau kan juga berbuat begitu terhadapku, bukan?

JONDUL:

Barcep. Kalau mau membuat benderamu jangan di sini. Muak aku mendengar ocehanmu.

BARCEP:

Ibu juga melarangku mengerjakan bendera ini di rumah kita. Ibu marah dan berteriak-teriak. “Barcep! Rumahku bukan bengkel! Bukan arena pertarungan gagasan-gagasan! Urusan di rumah ini khusus untuk tidur, makan, berak!” Macam-macam lagi yang disebut ibu. Aku tidak tahan. Itu sebabnya di rumah ini aku mengerjakan benderaku.

GARENG:

He he. Kalian benar-benar seperti aku. Tidak salah lagi, kalian adalah anak dan cucuku. Pewaris perjuangan.

GARENG:

Aku jadi heran pada bapak. Pada bendera Barcep bapak setuju, tapi pada benderaku tidak.

GARENG:

He he. Seorang kakek yang sehat lebih menyayangi cucunya yang pintar ketimbang anaknya yang bodoh! Ini hukum alam. Hukum alam, kan Barcep? He he. Masuk akal juga filsafat benderamu itu.

*

Sompeng tergesa masuk membawa segulung kapas.

BARCEP:

Nenek! Nenek! Aku dapat proyek bendera! Bendera dari cahaya! Lihat, ini semua bahannya sudah ada. Aku harus selesaikan malam ini juga!

SOMPENG:

Ya Rabbi. Kau juga mau jadi penjual bendera seperti kakek dan ayahmu?

JONDUL:

Bagaimana bu. Berhasil? Mana terpentinnya?

GARENG:

He he. Sompeng, Sompeng. Anakmu perlu terpentin tapi yang kau bawa kapas. Sompeng, sompeng. Ini bukan masalah filsafat lagi, tapi masalah keperluan mendesak, kenyataan, realitas.

SOMPENG:

Luar biasa! Bukan main! MasyaAllah! Mau runtuh rasanya langit malam ini!

GARENG:

Ada apa? Bicaralah terus terang. Kenapa kau lambat sekali pulang.

SOMPENG:

Seakan aku tidak percaya pada mataku sendiri.

GARENG:

Iya. Apa yang kau lihat? Kapas itu jatuh dari langit atau diberi oleh tauke itu?

SOMPENG:

Nantilah soal kapas. Sekarang kita bicara soal kenyataan.

JONDUL:

Persoalan apa bu?

SOMPENG:

Dengar. Sekarang ini orang ramai sekali memasang bendera di Gedung Kebangsaan! Disorot lampu-lampu menyilaukan, mereka memanjat tangga besi yang menjulur dari mobil-mobil besar!

GARENG:

Mana mungkin! Benderanya masih di sini. Itulah penyakitmu, Sompeng. Kau kalau terlalu letih suka berbohong. Duduklah dulu. Tarik nafas. Letakkan kapasmu.

SOMPENG:

Bagaimana mungkin aku berbohong pada suami, anak dan cucuku dalam waktu yang sama. O, malaikat! Pekerja-pekerja yang memasang bendera itu didatangkan dari Jepang, Korea, India, Italia, Belanda dan Amerika! Tanpa banyak bicara mereka bekerja terus mungkin sampai fajar tiba.

GARENG:

Kau mau bersumpah, apa yang kau katakan benar?

SOMPENG:

Sumpah!

GARENG:

Ya Allah. (lemah dan menggeletak di atas kain bendera)

SOMPENG:

Menurut istri tauke pemilik toko, semua itu adalah pesanan Bapak Kepala Gedung Kebangsaan. Biarpun harganya cukup mahal, bendera buatan luar negeri lebih bermutu dan punya gengsi tersendiri.

BARCEP:

Apa istri tauke itu tidak salah, nek?

SOMPENG:

Dalam dunia perdagangan mereka pantas dicurigai. Tapi dalam soal bendera, mereka tidak pernah mau tahu. Mereka netral. Itu sebabnya aku percaya padanya. Apalagi sewaktu pulang, aku diberinya lima kilo kapas.

JONDUL:

Gagal sudah perjuangan kita.

SOMPENG:

Kalian telah berusaha membuat bendera, tapi kalah bersaing dengan bendera buatan luar negeri. Kalian pahlawan, korban dari persaingan perdagangan. Tapi jangan patah semangat. Hanya kitalah yang tahu persis di mana bendera kita diletakkan di Gedung Kebangsaan kita.

GARENG:

(dalam gulungan kain bendera) Sompeng.

SOMPENG:

Ya, bang. Aku di sini.

GARENG:

Masih menjahit?

SOMPENG:

Masih bang.

GARENG:

Menjahit apa lagi?

SOMPENG:

Menjahit harapan.

GARENG:

Oh, oh, (bergulung-gulung dalam kain bendera) Kau Jondul?

JONDUL:

Ya. Aku masih di sini, pak.

GARENG:

Kau sudah mulai mewarnai plastik itu?

JONDUL:

Aku akan mewarnai kehidupan, pak.

GARENG:

Ah, kau! (bereguling-guling dalam kain bendera) Barcep.

BARCEP:

Ya, kakek.

GARENG:

Bendera cahayamu sudah mulai bersinar?

BERCEP:

Belum terpasang, kek.

GARENG:

Sekarang semuanya sudah terang.

BARCEP:

Tapi masa depan masih gelap, kek.

GARENG:

Uh, uh, uh! (berguling-guling) Terlalu lemah suaramu, cucuku. Semakin sulit aku memahami kenyataan ini.

SOMPENG:

Bang. Bang Gareng. Istigfar bang. Istigfar. Sembahyang. Katanya kau akan sembahyang tahajjud sekalian. Bang. Bang Gareng.

GARENG:

(berdiri dan melepaskan kain bendera yang mengelimuti tubuhnya) Aku hanya perlu sepeda. Aku akan pulang kampung! Aku akan pulang! (Jatuh dan tak berkutik)

Dari Gedung Kebangsaan terdengar koor lagu-lagu perjuangan berkumandang. Gareng tiba-tiba berdiri.

GARENG:

He he. Kalian sangka aku mati karena mendapat saingan dengan bendera luar negeri! Tidak. Ayo, kalian. Ke sini. Mendekat padaku. Dekat. Saat detik kemerdekaan diulang sudah tiba.

(semuanya patuh)

Bendera itu dari kain. Kain dari benang. Benang dari,

SEMUA:

Kapas.

Gareng mengulang kata-kata itu berkali-kali dan dijawab oleh istri, anak dan cucunya dengan jawaban yang sama.

Mula-mula dengan penuh semangat, lama-lama menjadi sendu dan masing-masing menghapus air mata dengan punggung tangan. Mereka tidak menangis, tetapi air mata mereka tak teduh, diiringi lagu-lagu perjuangan yang terus dipancarkan dari Gedung Kebangsaan.

-tammat-

Padang, Agustus 1995


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: