Oleh: Wisran Hadi | 25 September 2008

KEARIFAN LOKAL DAN PENGELOLAAN PARIWISATA BERBASIS BUDAYA DI SUMATERA BARAT

Disiapkan sebagai materi DIALOG SENI BUDAYA dan PARIWISATA tgl. 14 Juli 2007 di Taman Budaya Sumatera Barat dalam rangkaian acara PEKAN BUDAYA SUMATERA BARAT 2007

Sumatera Barat dan Dunia Pariwisata

Sumatera Barat adalah sebuah propinsi, bagian dari negara kesatuan Republik Indonesia. Sumatera Barat adalah wilayah administrasi negara bukan daerah budaya. Jadi, tidak ada budaya Sumatera Barat, yang ada adalah budaya-budaya yang dianut masing-masing etnis yang mendiami wilayah Sumatera Barat. Oleh karena itu, di Sumatera Barat tidak hanya budaya Minangkabau saja yang ada, tetapi juga ada budaya Cina, budaya Mentawai, budaya Jawa, Sunda dan budaya suku lainnya yang bermukim di Sumatera Barat. Karena Sumatera Barat juga didiami oleh etnis-etnis tersebut dengan menjalankan dan mengamalkan budayanya sendiri-sendiri. Hal ini harus kita sadari lebih dulu sebelum melangkah membicarakan pariwisata berbasis budaya.

Ketika kita bicara tentang pariwisata berbasis budaya tentu juga harus disepakati pula lebih dulu, budaya mana yang dimaksud. Kalau kita sepakati pariwisata berbasis budaya Minangkabau, barulah tepat kita bicara tentang pariwisata berbasis budaya Minangkabau. Dalam hal ini kita harus berjelas-jelas dan berterus terang. Artinya, ketika kita bicara tentang budaya, perjelaslah keterangannya; budaya Minang, Jawa, Sunda, Mentawaikah? Akan tetapi karena pariwisata adalah produk politik, dan politik memang tidak pernah akan mau berterus terang, maka beginilah jadinya. Kita harus menyamakan dulu pengertian, budaya mana yang mau kita bicarakan.

Pariwisata berbasis budaya adalah kalimat yang terasa aneh. Sebab akan menimbulkan pertanyaan, seperti apa pulakah pariwisata yang tidak berbasis budaya? Tetapi tidak apa, sebab, dengan timbulnya kesadaran untuk menganjurkan Pariwisata berbasis budaya menjelaskan kepada kita bahwa selama ini, pariwisata kita tidak berbasis budaya, tetapi berbasis komersial semata. Kesadaran akan perlunya pariwisata berbasis budaya kita sambut dengan gembira. Dengan arti kata, pengelola pariwisata sudah sadar betapa pentingnya budaya dalam pariwisata. Pertanyaan berikutnya adalah; apakah yang dimaksud pariwisata berbasis budaya itu, budaya turis atau budaya masyarakat yang dikunjungi turis? Jawabannya tentulah; budaya masyarakat yang dikujungi turis, tetapi kenyataan di lapangan yang berlaku adalah keinginan untuk menyenangkan turis dengan memakai kebiasaan dan budaya turis itu sendiri. Akibatnya bisa kita lihat, kita harus berbudaya budaya negeri turis itu, berbahasa bahasa turis itu, berselera selera turis itu. Kita relakan diri kita untuk menghilangkan identitas kita demi menyenangkan hati turis.

Pada dasarnya pariwisata adalah produk politik. Kolaborasi antara pemegang kekuasaan dengan penjual budaya.Itulah sebabnya, kenapa pariwisata selalu dikaitkan dengan budaya agar masyarakat tidak merasa bahwa dunia pariwisata itu adalah dunia penjual jasa, dunia komersial, dunia untung rugi. Dengan slogan baru pariwisata berbasis budaya kita tentu dengan mudah dapat menerka apa yang diinginkan pengelola pariwisata. Pariwisata harus dapat menjual budaya dan budaya diusahakan untuk dapat diperjual belikan. Maka dari sinilah timbul masalah.

Pariwisata mensahkan segala bentuk kegiatan masyarakat dan memberikan stempel budaya kepada kegiatan itu. Baruak memanjat pohon kelapa, pacu itiak distempel sebagai budaya supaya dapat dijual. Padahal, jika mau serius belajar tentang kebudayaan, maka budaya suatu bangsa atau suku, mempunyai batasan, cangkupan dan aturan-aturannya sendiri. Akan tetapi, pariwisata tak memandang hal itu. Bahkan budaya bagi dunia pariwisata dipersempit pula lingkupnya. Budaya adalah dunia tari menari, dunia lomba pakaian, dunia dayang-dayang dan dunia masak-memasak..

Kearifan lokal.

Setiap budaya mempunyai kearifan-kearifan tersendiri. Ketika kita bicara tentang kearifan lokal, kita jadi harus membuat kesepakatan lagi; kearifan lokal budaya mana yang akan kita bicarakan? Kearifan lokal budaya Cina, Mentawai, Jawa, Sunda, Batak? Jika kita bicara tentang kearifan lokal budaya Minangkabau, tidak berarti budaya-budaya lain tidak punya kerifan. Ini harus disadari betul oleh kita yang sedang bicara tentang kearifan lokal ini. Kesadaran, bahwa Sumatera Barat bukan semata-mata milik orang Minangkabau.

Kearifan lokal terbentuk dari cara berpikir dan bersikap dari suatu masyarakat budaya serta bagaimana mereka merespon masalah-masalah yang timbul disekitarnya. Kearifan lokal terbentuk tidak dalam waktu yang pendek, tetapi dalam rentang waktu yang cukup lama, perenungan-perenungan dan pengujian-pengujian pada setiap kurun yang dilalui. Kebiasaan-kebiasaan tertentu juga dapat mencerminkan kearifan-keraifan lokal dimaksud.

Di dalam kebudayaan Minangkabau, sebagai salah satu budaya di Sumatera Barat, kearifan lokal itu tertuang dalam teks, tetapi terkadang sulit tercermin dalam perilaku. Di dalam teks, kearifan budaya Minangkabau bukan main baiknya, tetapi tidak dapat dirujuk dalam perilaku masyarakatnya.

Tau di rantiang ka mancucuak, tau di dahan ka maimpok” adalah sebuah kearifan lokal dari budaya Minangkabau. Akan tetapi sulit sekali ditemukan dalam perilaku orang Minangkabau itu sendiri. Sama halnya dengan tau dibayang kato sampai, sulit dapat dipahami lagi oleh orang Minang. Begitu juga dengan ungkapan mandi di ilie-ilie, mangecek di bawah-bawah, sulit ditemukan dalam masyarakat Minang yang gadang ota ini. Kearifan-kearifan lokal Minangkabau lebih banyak berdiam diri dalam teks sastra, tetapi sulit untuk mereka terapkan dalam kehidupan sosialnya. Banyak contoh-contoh lain tentang kearifan lokal Minangkabau ini, tetapi apa gunanya dijejer kalau tidak ditemukan di dalam kenyataan sosial hari ini.

Akan tetapi ada pula bagian-bagian lain dari keraifan lokal yang diselewengkan penggunaannya. Iyoan nan di urang laluan nan diawak telah menyebabkan egoisme muncul dalam diri seseorang. Indak lalu dandang diaie, digurun ditanjakkan, telah mendorong orang Minang untuk menghalalkan segala cara.

Pariwisata berbasis budaya

Pariwisata berbasis budaya tentulah maksudnya pariwisata yang mendasari tindak tanduk, laku perbuatan, gerak geriknya mengikuti norma-norma budaya masyarakat pendukungnya. Jika kepariwisataan di Sumatera Barat merujuk kepada keraifan lokal budaya Minangkabau, maka suka atau tidak, beruntung atau merugi, pariwisata harus takluk pada budaya Minangkabau itu. Bukan sebaliknya, budaya Minangkabau dipreteli untuk kepentingan pariwisata.

Jika memang demikian adanya, betapa gembiranya rakyat Sumatera Barat yang berbudaya Minangkabau itu. Pariwisata mereka dapat mengikuti nilai-nilai, aturan-aturan yang ada dalam budaya Minangkabau. Dengan demikian, pariwisata Sumatera Barat yang akan datang harus berlandaskan Adat Basandi Syara, Syara’ Basandi Kitabullah pula. Apa yang tidak ada di dalam budaya Minangkabau tetapi telah diada-adakan oleh pariwisata selama ini tentu harus siap untuk direvisi atau dibuang segera.

Di sinilah nanti kita akan melihat, apakah benar pariwisata Sumatera Barat berbasis budaya atau tidak. Budaya Minangkabau tidak mengenal dunia dayang-dayang. Ternyata pariwisata mengada-adakannya dengan promosi yang berlebih-lebihan. Batu uji adalah; maukah mereka meniadakan dunia dayang-dayang itu dan menggantikan dengan kegiatan yang lebih beradab, sopan dan tidak vulgar? Jika mereka masih meneruskan juga dunia dayang-dayang itu, samalah artinya mereka melakukan pembohongan publik, tidak sesuai apa yang dicanangkan dengan apa yang dilakukan. Tidak ada dalam adat dan budaya Minang tetapi tetap mereka pertahankan, sementara mereka mencanangkan pariwisata berbasis budaya.

Jika benarlah pariwisata Sumatera Barat berbasis budaya, tentulah semua produk kesenian tradisinya mendapat perlakuan yang sama dalam dunia pariwisata. Artinya, kesenian tradisi produk adat seperti randai, tari-tari tradisi, rabab, saluang dlsbnya harus diperlakukan seimbang dengan kesenian tradisi produk agama seperti salawat dulang, barzanji, bamundam, zikir dlsbnya. Namun jika pengelola pariwisata masih saja membeda-bedakan kesenian-kesenian tradisi dari kedua-dua produk ajaran itu; adat dan Islam, maka kitapun tentu dengan mudah mengatakan; pariwisata Sumatera Barat berbasis budaya itu hanya hanyalah sebuah retorika politik saja.

Sebagai pengantar dialog ini saya menutupnya dengan sebuah pertanyaan sederhana; benarkah-benarkah pengelola pariwisata Sumatera Barat mau menjadikan pariwisata berbasis budaya? Dan benarkah budaya yang menjadi rujukannya budaya Minangkabau? Jika benar, jaminan apa yang dapat diberikan pengelola pariwisata itu untuk merealisir slogan yang megah itu; pariwisata berbasis budaya.

Jangan sampai orang mengatakan nanti, bahwa pariwisata Sumatera Barat itu ibarat sebuah benda keramat, yang satitiak dapat dijadikan lauik, yang sakapa dapat jadikan gunuang. Artinya, jelas-jelas kita hanya punya secuil, tetapi dipromosikan secara berlebih-lebihan. Jika hal itu terjadi, jangan marah kalau ada orang mengatakan nanti; pariwisata Sumatera Barat berbasis budaya itu hanyalah ucapan orang-orang yang gadang ota saja.

***

Padang, 10 Juli 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: