Oleh: Wisran Hadi | 25 September 2008

Membezuk SASTRA PENJARA-nya Purnama Soewardi

Sangatlah banyak informasi yang ditemukan tentang beragamnya “nasib” para sastrawan ketika kebenaran yang mereka perjuangkan berbenturan dengan keserakahan kekuasaan dalam buku Sastra Penjara yang ditulis Purnama Suwardi. Semua sastrawan dunia dan Indonesia yang pernah “singgah”, “bermukim” dan “meninggal” dalam penjara diulas tuntas dengan berbagai aspek dan latar belakangnya. Tidaklah berlebihan kalau buku Sastra Penjara dapat dijuluki sebagai “asbabun nuzul“nya sastra dunia, sebab musabab dari lahirnya karya-karya sastra. Artinya, dengan membaca Sastra Penjara, pembaca sastra semakin paham tentang bagaimana sikap, komitmen sastrawan terhadap kebenaran yang mereka yakini.

Purnama Suwardi dengan lembut dan dengan bahasa yang sederhana dan terkadang sangat sugestif mengetuk lapis kesadaran kita bahwa sikap dan komitmen seorang sastrawan tidak hanya dapat dilihat dari karya-karya sastra yang mereka tulis semata, tetapi juga dari berbagai aspek dan latar belakang kehidupan mereka. Purnama Suwardi melalui Sastra Penjara-nya telah melambaikan seberkas api di ufuk sana untuk membantu peneliti, kritikus dan pembaca sastra memasuki gelapnya lorong-lorong kreativitas para sastrawan lebih dalam. Purnama dengan gayanya yang khas, menunjukkan kepada kita bahwa semakin didalami masalah-masalah penciptaan karya sastra, lahirnya tulisan-tulisan, pikiran-pikiran yang murni dan bernas di dunia ini akan semakin terasa jurang begitu lebar menganga antara kebenaran dan kekuasaan. Mungkin saja kedua kutub itu dapat dijempatani, tetapi jembatan itu jelas tidak sehalus titian serambut dibelah tujuh, jembatan antara sorga dan neraka dalam cerita-cerita agama. Hubungan keduanya begitu ambigu kalaulah tak mau disebut begitu rapuh. Kedua-keduanya sama berjuang dengan bendera masing-masing dan dengan cara sendiri-sendiri. Bila sesaat kedua pasukan itu; yang satu bersenjatakan hati nurani dan; yang satu lagi bersenjatan nafsu dan keserakahan saling berbenturan, pada titik persinggungan itulah terjadi tragedi kemanusiaan yang tidak kepalang tanggung. Oleh karena itu, orang-orang bijak selalu mengatakan – sastrawan yang mendekati kekuasan akan melahirkan penipuan, dan sastrawan yang menjauhi kekuasaan akan ditenggelamkan keterpencilan -. Sesuatu yang sangat dilematis untuk melakukan pilihan.

Penjara, memang tidak pernah menyenangkan bagi siapapun, apakah penjara itu berbentuk kamar yang sempit dan pengap, daerah-daerah pembuangan yang terpencil jauh, penyiksaan dengan berbagai tingkat kepedihan dan kesakitan, kerja paksa yang tidak mengenal matahari dan bulan saling beradu pandang, pengucilan yang menyulitkan si terkucil menentukan apakah mereka masih ada atau tiada. Penjara merupakan bagian dari arogansi pemegang kekuasaan terhadap kebenaran yang diyakininya sendiri. Penjara adalah dunia gelap yang diciptakan penguasa untuk para pejuang kebenaran, yang mereka yakini akan dapat membungkam dan menjadikan para sastrawan takluk pada kekuasaan yang sedang mereka genggam.

Akan tetapi, disukai atau tidak, disetujui atau tidak, penjara adalah sebuah dunia yang mempunyai berbagai sisi; baik dan buruk, menguntungkan dan merugikan. Dari satu segi, penjara menjadi semacam studio untuk para sastrawan bergulat dengan renungan-renungannya dalam mencari pencerahan hidup, kemudian menuliskan dalam berbagai bentuk gendre sastra. Bahkan banyak pula sastrawan yang dipenjarakan itu kemudian berubah menjadi filosof, pemikir kehidupan, keagamaan dan beragam keahlian dan berbagai disiplin keilmuan. Hamka misalnya, tak lagi menulis sastra di penjara karena diasyiki untuk melahirkan sebuah karya monumentalnya Tafsir Al-Azhar. Sebaliknya Pramudya Ananta Toer di seberang sana terus menulis novel-novelnya dalam pengasingan yang nun jauh di sana.

Dunia penjara yang demikian “menyeramkan” dapat pula menyebabkan sastrawan menjadi frustasi, sakit jiwa dan benturan-benturan psikologis lainnya. Sastrawan yang dulunya dikenal begitu lembut dalam karya-karyanya seperti tiba-tiba menjadi tegar dan pemarah. Sastrawan yang dulunya dikenal begitu menggebu-gebu, emosial dan sugestif seperti tiba-tiba menjadi lembut dan pasrah. Bahkan ada yang berdiam diri, mengasingkan diri dan memutus hubungan dengan dunia lainnya. Beragam keadaan kejiwaan yang menyerang para sastrawan adalah sebuah konfigurasi kejiwaan manusia dalam perjuangan meraih kebenaran yang diyakini. Ketika para sastrawan dengan bahasa yang lembut menegur sebuah orde kekuasaan yang telah lari jauh dari rel kebenaran, pada saat itu pula kekuasaan memperlihatkan sosoknya sebagai seekor serigala lapar memperlihatkan taring-taringnya yang tajam. Tubuh para sastrawan disobek-sobek oleh gigi-gigi tirani yang tak mengenal kata prikemanusiaan, keadilan, hak asasi, harkat dan martabat.

Purnama Suwardi sambil lalu mengingatkan, bahwa dalam memahami akting kekuasaan kita harus melihatnya secara terbalik dalam kacamata kebenaran. Bagi sebuah kekuasaan, sesuatu itu yang mungkin sebuah kesalahan, namun kesalahan itu bisa menjadi sebuah kebenaran dan begitu juga sebaliknya. Kekuasaan punya kecenderungan untuk korup dalam memberikan makna terhadap kejujuran dan kebenaran. Di manapun juga dan bagaimanapun juga corak sebuah kekuasaan, kekuasaan itu tidak pernah ramah dan akrab dengan kebenaran. Sejarah kemanusiaan yang panjang membuktikan hal itu. Antara kebenaran dan kekuasaan seumpama dua kutub yang sulit untuk dijembatani. Pada satu tebing, kekuasaan berdiri dengan pongahnya sambil menggenggam palu godam dan pada tebing yang berada di seberangnya kebenaran bersenandung dan melambai dengan kemesraannya. Malapetaka terjadi ketika para penguasa mengatas namakan kebenaran pula untuk mengukuhkan kekuasannya. Maka, dalam hal ini rujukan tentang kebenaran adalah salah satu yang penting untuk dibicarakan. Tapi semuanya serba terlambat. Belum sempat sastrawan menyuguhkan referensi tentang kebenaran macam apa yang mereka perjuangkan dan kekuasaan seperti apa yang mereka tantang, pihak pemegang kekuasaan sudah lebih dulu memukulkan martilnya.

Indonesia adalah sebuah negara yang penuh dengan penjara dan pemenjaraan, walaupun tidak pernah tercatat seorang penjahatpun sekaliber Al-Capoon yang dipenjarakan. Yang dipenjarakan selalu saja orang-orang yang memperjuangkan kebenaran namun dalam kondisi yang lemah dan tak bersenjata. Seakan kebenaran itu adalah sebuah dosa. Sebelum Indonesia diperintah oleh anak negerinya sendiri, pemenjaraan terhadap sastrawan pun telah berlangsung jauh sebelumnya yang dilakukan oleh pihak pemegang kebenaran lain, pihak penjajah. Sejak itulah barangkali “tradisi” pemenjaraan ini terus berkelanjutan. Mungkin tradisi itu akan terus berlangsung selama bumi ini masih terkembang.

Senarai nama para sastrawan yang dipenjarakan dan terpenjara sengaja dilumur bedakkan ke muka kita oleh Purnama Suwardi, agar kita tidak mungkin menoleh ke arah lain selain pada akibat-akibat yang mengerikan dari perbenturan antara seniman dengan pihak pemegang kekuasaan. Tetapi, disinilah dilema kehidupan, kita tak dapat memastikan seperti apa sosok kebenaran itu, dan seperti apa pula sosok kekuasaan yang serakah itu.

Persoalan yang cukup pelik dititipkan Purnama Suwardi setelah kita membezuk Sastra Penjara-nya adalah; apakah keberpihakan pada sastrawan yang dipenjara itu cukup wajar jika kita tidak mempunyai rujukan terhadap sebuah kebenaran?

Sekali lagi, Purnama menuntut kearifan kita.

20 Agustus 2005

*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: