Oleh: Wisran Hadi | 25 September 2008

MENGINVENTARISASIKAN MASALAH-MASALAH SOSBUD, IPTEK DAN SDM ORANG MINANGKABAU

Pendahuluan

Dialog Kebudayaan Minangkabau 2005 yang diselenggarakan sekarang dapat dikatakan sebagai ekspresi kecemasan dari sebagian besar orang Minangkabau yang peduli terhadap keterpurukan orang Minangkabau selama ini dalam berbangsa dan bernegara. Salah satu bentuk keterpurukan itu adalah – ketidakberdayaan orang Minangkabau muncul dan memegang peranan kembali di pentas nasional, sebagaimana dulu pernah dicapai ketika situasi Indonesia cukup kompetitif untuk meraih prestasi di segala lini sejak masa masa pra kemerdekaan sampai kukuhnya kekuasaan orde baru. Rentang waktu selama itu merupakan puncak prestasi orang Minangkabau muncul sebagai tokoh-tokoh pergerakan, politik, agama, ekonomi, pendidikan, budaya dan seni.

Tentu saja keterpurukan itu mempunyai berbagai sebab. Usaha untuk mencari penyebabnya bukanlah untuk menangisi sejarah atau berbangga dengan masa lalu, tetapi untuk mencari kunci persoalan, kenapa keterpurukan itu harus terjadi dan kenapa tidak juga kunjung dapat bangkit lagi. Karena tidak berdaya untuk bangkit kembali, maka kesuksesan yang telah diraih orang Minangkabau terdahulu jadinya seperti kesuksesan yang didapat secara kebetulan atau dalam istilah Minangnya “disasek an hantu”.

Dalam konteks inilah inventarisasi persoalan menjadi penting, guna melihat aspek-aspek mana sajakah yang telah mempengaruhi atau membuat keterpurukan itu, dapatkah persoalan-persoalan tersebut diatasi atau tidak. Agar pembicaraan ini lebih terarah dan tertata, dari persoalan-persoalan yang demikian banyaknya, dikelompokkan dalam tiga persoalan utama; masalah sosial-budaya Minangkabau yang kini sedang mengalami degradasi, pendangkalan dan mungkin juga berbagai perubahan sedang terjadi. Kemudian masalah ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sebagai tantangan zaman yang harus segera mendapat jawaban orang Minangkabau agar mereka tidak menjadi suku bangsa yang dipulaukan, tertinggal dengan suku bangsa lain. Seterusnya masalah sumber daya manusia (SDM) orang Minangkabau sekarang yang menyimpan berbagai masalah rumit yang harus segara diubah untuk bangkit kembali sebagai suku bangsa yang dikenal mandiri, terbuka, egaliter dan metropolit.

Selain untuk melihat berbagai masalah yang kini sedang mengurung kehidupan sosial orang Minangkabau, penginventarisasian ini diharapkan pula dapat membantu pihak-pihak lain (peneliti, pelaku budaya dan pembuat keputusan) mencari langkah-langkah konkrit atau modus lain untuk dapat bersama-sama ke luar dari kubangan keterpurukan dimaksud.

Mistar pengukur yang dijadikan sebagai tolok ukur penilaian dari keterpurukan orang Minangkabau itu berdasarkan kepada pencapaian orang Minang sebelum kemerdekaan, sesudah kemerdekaan sampai kepada masa awal pemerintahan orde baru. Rentang masa yang panjang ini dijadikan sebagai mistar pengukur karena pada masa itulah orang Minangkabau sukses meraih berbagai prestasi dalam kancah nasional dalam berbagai bidang. Mistar pengukur ini boleh disetujui dan boleh tidak, namun bagaimanapun, sebuah mistar pengukur perlu diletakkan terhadap sesuatu yang akan diukur, sehingga jelas sejauh mana kemunduran atau kemajuan itu telah tercapai. Setidak-tidaknya mistar pengukur tersebut dapat digunakan sebagai langkah awal untuk memulai sebuah pembicaraan tentang masalah-masalah keminangkabauan yang begitu kompleks dan luas.

Beberapa masalah yang akan diiventarisasi

Masalah yang akan diinventarisasi adalah masalah-masalah yang dihadapi orang Minangkabau sekarang, atau dapat dikatakan segala persoalan yang dilematis dalam kehidupan mereka. Jadi perlu ditegaskan di sini, bahwa pembicaraan ini berdasarkan kepada masalah-masalah yang dialami oleh masyarakat Minangkabau hari ini, bukan Minangkabau masa lalu. Pembicaraan seperti ini langsung menyangkut kepada substansi persoalan, bukan pada sesuatu yang diambangkan dalam kemasan teori-teori ilmu kemasyarakatan yang ada.

A. Sosial-Budaya

  1. Masalah pelestarian dan pengembangan. Sikap orang Minangkabau terhadap budayanya saat ini berada pada situasi paradoksal. Pada satu pihak budaya Minangkabau tetap harus dipertahankan atau dilestarikan, tetapi pada pihak lain budaya Minangkabau itu harus pula dikembangkan. Kata pelestarian bermakna mempertahankan, sedang kata pengembangan bermakna perubahan. Atau, boleh juga dapat dimaknakan, bahwa kedua kata itu bertujuan untuk membilah-bilah budaya Minangkabau mana yang akan dilestarikan dan mana yang akan dikembangkan. Dari pengalaman empiris, tidak semua dari budaya Minangkabau itu yang pantas lagi dilestarikan atau tidak relevan lagi dengan kondisi sosial masa kini. Sebaliknya pula, tidak semua budaya Minangkabau itu yang dapat pula dikembangkan.

Dalam masalah kebahasaan misalnya. Apakah bahasa Minangkabau akan dilestarikan atau dikembangkan? Dalam kenyataan hari ini, orang Minangkabau tidak lagi menjadikan bahasa Minangkabau sebagai bahasa pengantar, atau bahasa Minangkabau memang tidak mampu menjadi bahasa pengantar untuk kehidupan sosial masyarakat modern.

Dalam pelajaran Budaya Adat Minangkabau (BAM) yang sekarang diajarkan di sekolah-sekolah misalnya. Pelajaran itu diajarkan dengan bahasa Indonesia oleh guru-guru yang tidak dipersiapkan dengan pengetahuan yang cukup tentang keminangkabauan. Begitu juga buku ajarnya, disusun dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Minangkabau. Budaya Minangkabau yang bagaimana yang dapat diserap oleh anak didik, jika pelajaran budaya Minangkabau itu sendiri tidak memakai bahasa pengantar bahasa Minangkabau?

Banyak contoh lain lagi yang dapat dirangkum dalam sub topik ini.

  1. Masalah ABS-SBK yang diagung-agungkan. Orang Minangkabau sampai hari ini masih berada dalam kebimbangan, keraguan, tidak sepenuh hati menjalankan ajaran Islam secara penuh sebagai konsekwensi logis dari Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Kenyataan sampai hari ini, ABS-SBK masih sebatas wacana, belum sampai kepada penerapannya secara jelas dan terarah. Padahal, menurut kepercayaan orang Minangkabau itu sendiri, ABS-SBK sudah ada sejak penghujung Perang Paderi. Kenapa dalam rentang waktu yang sekian lama sampai hari ini, ABS-SBK tidak dapat diterapkan secara utuh? ABS-SBKnyakah yang salah atau orang Minangkabaunya yang tidak mau menjalankan agama secara benar?

Penerapan ABS-SBK secara benar punya konsekwensi yang jelas, yaitu orang Minangkabau harus berbenar-benar menjalankan syariat Islam secara keseluruhan. Namun, hal ini tidak dapat pula dilakukan sepenuhnya. Ninik mamak, alim ulama, serta politisi dan pejabat yang berasal dari Minangkabau itu benar yang sangat keberatan untuk menjalankan syariat Islam di Minangkabau. Keragu-raguan semacam ini menimbulkan dampak yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat Minangkabau baru. Banyak penafsiran tentang istilah “syara'” dan istilah “kitabullah” yang telah diselewengkan. Dampak berikutnya adalah, ketidaktegasan ninik mamak terhadap kemenakannya yang berganti agama.

Banyak dampak lainnya yang dapat kita rangkum dalam konteks ini.

  1. Dilema “tigo tali sapilin”. Dikotomi antara Ninik-mamak dan Alim-ulama yang masih juga belum dapat dijembatani. Alim ulama seakan tidak mau mendukung pelaksanaan adat secara benar, sedangkan ninik-mamak tetap mendua untuk menjalankan syariat agama Islam. Masing-masing punya persepsi yang berbeda-beda, termasuk dalam menafsirkan ABS-SBK. Sedangkan cadiak pandai diterjemahkan sebagai pihak penguasa dan politisi, bukan tokoh-tokoh masyarakat apalagi para pakar di bidangnya masing-masing.

Dampak dari masalah ini adalah rancunya berbagai pengertian. Sebagai contoh adalah gelar seorang penghulu yang dipanggil “datuk”. Di dalam adat Minangkabau, tidak semua datuk adalah pimpinan kaum. Seorang tungganai juga boleh diberi gelar datuk. Namun sekarang, datuk yang pimpinan kaum dan datuk yang tungganai sudah bercampur baur dalam anggapan umum. Akibatnya, masyarakat menjadi “kehilangan” rujukan, mana datuk yang sesungguhnya, mana yang hanya tungganai saja.

Begitu juga dengan alim ulama. Masyarakat Minangkabau yang sekarang tidak dapat lagi membedakan mana yang ulama, sech, kiai, dai, mubaligh, malin, pakih, ustad, garin dstnya. Setiap orang yang berdiri di podium masjid atau surau memberikan pengajian sudah dianggap sebagai kiai, sech atau entah apa lagi sebutannya. Lalu timbul berbagai pertanyaan, ulama mana yang dimaksudkan atas tuduhan bahwa kini tidak ada ulama di Sumatera Barat sudah tidak ada lagi? Mungkin saja ulama itu masih ada tapi tidak diberi ruang untuk memunculkannya sebagai ulama. Apakah masuk akal adanya program mengkaderkan ulama hanya dalam waktu dua atau tiga tahun saja dan hanya ditujukan bagi mereka yang tidak punya pekerjaan atau penganggur? Apakah ulama itu sebuah bidang kegiatan atau pekerjaan untuk mengatasi pengangguran?

Pejabat-pejabat pemerintah apakah tepat untuk disebut cadiak pandai? Kalau demikian halnya, di mana ruang untuk tampilnya pimpinan-pimpinan informal dalam masyarakat? Padahal tokoh-tokoh informal di dalam masyarakat itu adalah tokoh yang real, tokoh yang sebenanrnya tokoh. Dalam konteks ini, intervensi pemerintah yang begitu kuat ikut memberikan andil dalam kekacauan pengertian ini.

  1. Masalah jati diri. Orang Minangkabau sekarang, mungkin karena sifat turunan atau hasil dari pendidikan yang salah, mereka tidak berani lagi untuk mempertahankan pendiriannya. Mereka tidak mampu berkata ya atau tidak. Mereka kehilangan karakternya sebagai manusia yang egaliter. Mereka terkerangkeng dengan kepura-puraan; angguak anggak, gelengan amuah. Ketidakberpendirian ini terlihat dalam berbagai aspek; pendidikan, adat dan agama.

Jatidiri orang Minangkabau selalu diartikan secara dangkal. Rumah gadang, samba randang, baju kuruang, sawah ladang dstnya itulah yang dianggap sebagai jatidiri. Tapi tidak pernah jatidiri itu dikaitkan dengan etos kerja, karakteristik, perilaku, cara berpikir dan cara pandang. Tidak pernah jatidiri itu dikaitkan dengan ketaatan orang Minang dalam menjalankan agama atau adatnya. Jatidiri selalu diartikan pada sosok yang wujud. Pendangkalan pengertian jatidiri seperti ini perlu dikoreksi, agar orang Minangkabau tidak terlena hanya dengan asesoris budaya, seremoni-seremoni adat, makanan-makanan tradisi, tetapi harus didorong untuk mampu menangkap “roh” atau “semangat” kehidupan Minangkabau itu sendiri. Semangat merantau, mandiri, terbuka, egaliter adalah jatidiri yang harus dikembangkan tapi bukan samba randang!

Agar jangan terjadi salah kaprah terhadap pengertian jatidiri ini, hendaknya kita juga harus dapat membedakan mana nilai-nilai positif dari budaya Minangkabau itu untuk dijadikan sebagai jatidiri dan mana nilai-nilai negatif yang biasanya selalu digunakan untuk mengacaukan nilai-nilai positif itu tadi. Takuruang nak di lua taimpik nak diateh, iyoan nan diurang laluan nan diawak, angguak anggak geleang amuah, dsbnya itu misalnya, bukanlah bagian darijati diri orang Minangkabau.

Banyak sekali masalah sosial-budaya yang dapat diinventarisir, namun dari beberapa point yang disajikan di atas cukuplah kiranya untuk memberi rangsangan dalam meneliti berbagai persoalan sosial-budaya lainnya.

B. Ilmu pengetahuan dan teknologi

  1. Ajaran adat Minangkabau tidak menguntungkan untuk pengembangan IPTEK. Alam takambang jadi guru dan ABS-SBK pada hakekatnya adalah ajaran untuk harus berkompromi atau menyelaraskan kehidupan dengan alam. Ajaran keselarasan ini hanya berhasil dalam mengatur hidup bermasyarakat tetapi tidak berguna untuk memacu diri untuk mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Ajaran ini tidak mendorong masyarakat Minangkabau untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan arti kata kata, adat Minangkabau tidak mendorong orang untuk menjadi cerdas.

Lahirnya berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi didorong oleh suatu pemikiran bahwa manusia untuk keselamatan dan kelangsungan hidupnya harus dapat menaklukkan alam. Sedangkan ilmu itu sendiri bermula dari keragu-raguan, kesangsian untuk mendapatkan suatu kepastian. Hal itu tidak diajarkan oleh adat Minangkabau. Akan tetapi, jika ditelusuri dari sisi yang lain, pada dasarnya orang Minangkabau adalah manusia yang sangat peragu. Mereka tak pernah langsung mengatakan sesuatu iya atau tidak. Semua persoalan yang dihadapkan pada mereka selalu mereka mengatakan; tunggulah, baiyo kami daulu atau diparambunan dulu. Tidak pernah langsung mereka berani membuat sebuah keputusan. Sebenarnya, memiliki sifat peragu itu, adalah awal mula dari lahirnya ilmu pengetahuan, tetapi orang Minangkabau menjadikan sifat peragunya tidak untuk digunakan untuk menemukan ilmu, tetapi justru mereka lebih suka “mencikaraui” apa yang diperbuat orang lain.

  1. Orang Minangkabau hanya sebagai user (pengguna) ilmu pengetahuan orang lain. Islam telah mengajarkan orang Minangkabau mampu menulis dan membaca. Manfaatnya dapat dirasakan sampai sekarang. Ajaran-ajaran adat, tambo, cerita rakyat yang selama itu dituturkan secara lisan telah dapat ditulis kemudian barulah dapat diwariskan. Jika Islam tak mengajarkan tulis baca, semua ajaran adat Minangkabau ini dipastikan punah ditelan masa, karena dia hanya diwariskan berdasarkan kelisanan.

Bangsa Eropa (Belanda) juga telah mengajarkan orang Minangkabau menulis dan membaca. Manfaatnya juga dapat dirasakan, orang Minangkabau dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Di sini terlihat, bahwa orang Minangkabau dalam hal ilmu pengetahuan, mereka hanya pemakai atau user dari ilmu pengetahuan yang diantarkan budaya lain kepadanya. Mereka tidak diajarkan adatnya untuk menciptakan ilmu pengetahuan. Akibat berikutnya dari dilema ini adalah, orang Minang tidak pernah merasa tertantang untuk mencipta dan membangun metoda-metoda keilmuan. Dibanding dengan masyarakat Bali saja misalnya, secara tradisional mereka punya sistem irigasi yang disebut subak, sedangkan orang Minangkabau tidak punya sistem apapun, walaupun kedua suku bangsa itu sama-sama masyarakat agraris.

  1. Sistem pendidikan surau yang dipulaukan. Sistem pendidikan yang berlaku sekarang di seluruh Indonesia yang disebut dengan – sistem pendidikan nasional – itu, telah berhasil mencetak manusia Indonesia menjadi seragam dalam segala hal. Telah dilahirkan manusia pandai, patuh, seragam dan tidak mandiri. Semuanya mengarah untuk tergantung pada kekuasaan. Hal ini persis sama sebagaimana tujuan pendidikan di zaman penjajahan, bukan untuk menjadikan rakyat Indonesia menjadi mandiri dan cerdas, tetapi untuk menjadikan mereka tetap menjadi hamba sahaya pihak penguasa.

Sedangkan sistem pendidikan surau yang boleh dikata sebagai “khas”nya sistem pendidikan orang Minangkabau yang memakai sistem individual. Surau melahirkan manusia yang beragama, beradat, berkarakter, cerdas dan mandiri.

Akibat sistem pendidikan nasional tersebut, akhirnya orang Minangkabaupun menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi bukan berdasarkan kemampuan si anak, kemampuan keuangan orang tua, tujuan akhir yang ingin dicapai si anak, tetapi didorong untuk mencari pekerjaan. Banyaknya pengangguran, adalah bukti bahwa dorongan untuk bersekolah ke sekolah tinggi bukan untuk menjadikan mereka mandiri, tetapi menjadikan mereka selalu berada pada ketergantungan pihak lain. Dampak berikutnya adalah; banyak doktor yang dihasilkan, tetapi mereka tidak percaya kepada ilmunya, mereka lebih suka untuk berebut posisi jabatan dalam birokrasi kekuasaan. Para calon tokoh agama yang menuntut ilmu di berbagai institut agama, mereka lebih pede dan yakin dengan gelar akademik warisan budaya barat itu daripada memakai gelar yang umum dikenal dalam budaya Islam. Dan banyak lagi contoh lain yang dapat disertakan dalam sub bab ini.

  1. Bumerang dalam budaya Minangkabau. Orang Minangkabau belum mampu menjadikan kebudayaannya menjadi peradaban. Budaya Minang baru sebatas budaya. Sedangkan suatu peradaban merupakan gabungan antara pencapaian iptek dan budaya. Peradaban Islam misalnya, merupakan gabungan dari budaya masing-masing bangsa dengan semangat ilmu pengetahuan yang diajarkan Islam. Dari gabungan itulah lahirnya bermacam pemikiran, penemuan-penemuan, ilmu pengetahuan. Maka menjadilah semuanya itu dalam satu rangkuman yang disebut Paradaban Islam. Sedangkan budaya Minangkabau baru hanya dapat melahirkan kesusasteraan dalam bentuk dendang-dendang dan pepatah-petitih.

Sebagai contoh, pada pelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) yang kini diajarkan sekolah-sekolah. Pelajaran BAM tidak memberikan rangsangan keilmuan pada si anak, tidak dapat merangsang anak didik menjadi cerdas atau punya wawasan yang luas. Mereka dipaksa untuk memahami pepatah-petitih yang tidak relevant lagi dengan kehidupan keseharian mereka. Akibatnya, pelajaran BAM terasa membosankan dan akhirnya dibenci anak didik. Pada gilirannya nanti, anak didik demikian akan benci dengan kebudayaan Minangkabau itu sendiri. Pelajaran BAM di sekolah-sekolah kalau tidak segera dihentikan, akan menjadi “bumerang” bagi adat dan budaya Minangkabau itu sendiri.

Masih banyak masalah lain yang perlu untuk kita inventarisasi lagi.

C. Sumber Daya Manusia

1. Orang Minangkabau bukanlah manusia yang fanatik. Ajaran-ajaran adatnya mengajarkan mereka untuk menjadi manusia yang pragmatis – tumbuah rumpuik disiangi jaan manyadioan buaian sabalum anak lahie – . Artinya, mereka hanya lebih cenderung kepada sesuatu persoalan yang terdekat, bukan kepada sesuatu yang jauh ke depan. Hal ini sesuai dengan ajaran adat Minangkabau itu sendiri. Bahwa, adat Minangkabau berorientasi kepada wujud yang tampak, material. Sedangkan yang tidak tampak berada di luar wilayah adat. Masalah kehidupan sebelum manusia dilahirkan dan kehidupan akhirat tidak ada dijelaskan di dalam adat. Ajaran Islamlah yang mengajarkan tentang alam sebelum dan sesudah hidup. Seandainya Islam tidak segera datang ke Minangkabau, maka orang Minangkabau dipastikan akan mengikuti ajaran yang berpunca pada materialistik, kalaulah tidak mau dikatakan bahwa semua itu termasuk di dalam ajaran komunis.

2. Orang Minang adalah seorang generalis. Hal ini berdasar pada tabiatnya yang berguru kepada alam. Keselarasan, keseimbangan, perimbangan menyebabkan mereka harus mengetahui semua persoalan secara general, menyeluruh, bukan persoalan-persoalan detail. Oleh karena itu mereka lebih cenderung menjadi seorang yang generalis daripada seorang spesialist. Akibatnya, orang Minang tidak cenderung untuk menjadi peneliti, pengamat atau analis. Mereka lebih cenderung untuk menjadi manager, politikus, provokator atau dagang kelontong. Itulah sebabnya sekolah-sekolah kejuruan kurang diminati di Sumatera Barat sedangkan sekolah-sekolah umum selalu dijadikan primadona/. Menjadi peneliti, menjadi seorang spesialist, atau menjadi analis pada hakekatnya mereka akan dapat menghasilkan berbagai ilmu dan penemuan-penemuan, namun budaya Minangkabau tidak pernah mengajarkan orang untuk menghargai penemuan-penemuan atau karya orang lain. Itulah sebabnya mungkin, kenapa seseroang yang sudah menjadi ahli lari ke dunia kekuasaan, karena di dunia kekuasaan mereka mendapat penghargaan yang lebih.

3. Hanya menjadi penterjemah pemikiran orang lain. Ada tiga tahap dari basis lahirnya suatu budaya; 1. adanya para pemikir. 2. penterjemah pemikiran. 3. masyarakat yang melaksanakan. Orang Minangkabau berada pada dua sektor terakhir saja, penterjemah pemikiran dan masyarakat yang melaksanakan pemikiran. Mereka tidak sampai pada tahap sebagai pemikir, atau tidak mampu menjadi pemikir. Oleh karena itu, orang Minangkabau tidak pernah punya kontribusi pemikiran yang nyata dan jelas secara nasional. Orang Minangkabau mahir dalam menterjemahkan pemikiran yang datang dari luar. Seperti pada saat sekarang misalnya, masalah pluralisme agama sebagai produk pikiran “luar” Minang yang muncul dalam era globalisasi ini juga telah merasuk ke dalam pemikiran orang Minang. Orang Minangkabau itu tidak melahirkan pemikiran, tetapi menterjemahkan, menafsirkan dan kemudian “menjual”nya kepada orang Minang itu sendiri.

4. Masalah industri otak. Industri otak yang pernah dicanangkan oleh pemerintah daerah Sumatera Barat ternyata hanyalah wacana politik dari kalangan tertentu. Tidak pernah industri otak itu dapat diujudkan dalam bentuknya yang jelas. Munculnya berbagai perguruan tinggi dan sekolah-sekolah di Sumatera Barat dewasa ini, bukan didorong untuk mencerdaskan orang Minangkabau atau untuk membangun industri otak tersebut, tetapi didorong oleh semangat komersialisme pendidikan yang menjadi trend dunia bisnis sekarang. Dampaknya dapat juga dilihat dalam sikap orang Minangkabau itu sendiri. Untuk mencapai suatu tingkat pendidikan mereka harus mempunyai uang banyak cukup akibat dari komersialisasi pendidikan itu. Orang Minang yang pragmatis ini segera saja mencari jalan pintas. Kalau akan membayar juga untuk mendapatkan sebuah gelar akademik, tidak ada salahnya kalau gelar dapat dibeli. Oleh karena itu orang Minang yang telah membeli gelar akademik tidak merasa malu memakai gelar itu. Menurut mereka, orang kan tidak menanyakan ilmu, tetapi akan kagum dengan gelar.

5. Sikap tidak sportif. Orang Minang tidak pernah dapat menjadi seorang yang sportif, karena mereka masih terpaut dengan mamangan adatnya – indak lalu dandang diaie, di gurun ditanjakkan -. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai proses pemilihan kepala-kepala daerah akhir-akhir ini. Mereka tidak bersedia untuk kalah dan tidak rela untuk dikalahkan. Terjadinya kekacauan dalam Pilkada dan pelantikan kepala daerah di Sumatera Barat baru-baru ini adalah bukti nyata bahwa orang Minang itu tidak sportif. Kalau mereka berada pada posisi sebagai pemenang, mereka akan memakai mamangan adat yang lain pula – iyoan nan diurang, laluan nan diawak -, semua itu ditujukan untuk mempertahankan status-quo.

6. Rancunya pengertian terhadap seorang yang ditokohkan. Orang Minangkabau tidak pernah lagi melahirkan tokoh-tokohnya yang penting. Kalaupun ada yang disebut tokoh Minang pada masa sekarang, adalah mantan pamong. Pamong itu pada hakekatnya adalah orang suruhan. Seorang tokoh dan seorang suruhan punya sikap yang jauh berbeda. Seorang tokoh punya visi dan tanggung jawab moral terhadap masyarakatnya, berani untuk berkata ya atau tidak terhadap persoalan yang dihadapinya dengan mempertaruhkan keselamatan dan nyawanya. Mereka tak takut dipenjarakan, dikucilkan dan bahkan dibunuhpun mereka rela demi sebuah keyakinan yang dianutnya. Tapi seorang pamong, dia selalu berlindung dibalik setumpuk arahan, peraturan dan ketentuan-ketentuan lain. Mereka tidak berani bertaruh sebagaimana seorang tokoh. Mereka lebih mementingkan keselamatan diri sendiri.

Sekarang ini, bekas-bekas pamong itulah yang dianggap sebagai tokoh. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai “sesepuh”. Lalu timbul pertanyaan, dalam konteks adat Minangkabau yang manakah adanya kata sesepuh itu? Termasukkah mereka ke dalam institusi adat yang dikenal dengan “tigo tali sapilin”?

Kerancuan pengertian ini tentulah harus segera dijernihkan, agar orang Minangkabau tidak terombang-ambing untuk menentukan siapa dirinya sebenarnya. Kerancuan demi kerancuan jika terus berlangsung akan merebak pada kerancuan-kerancuan yang lebih fatal lagi.

Penutup

Tentu akan panjang daftar tentang berbagai persoalan yang terjadi di dalam masyarakat Minangkabau saat ini. Dari beberapa masalah yang dikemukakan itu saja, masing-masing point dapat dikembangkan lagi menjadi berbagai persoalan yang lebih detail. Bila inventarisasi persioalan dapat disusun, maka pada tahap berikutnya kita memilih persoalan; mana yang dapat ditunda dan mana persoalan yang mendesak harus diselesaikan dan dicarikan jalan ke luarnya.

Sebagai penutup, perlu diinok manuangkan apa yang kini menjadi selentingan pembicaraan sesama orang Minangkabau; awak ko, iyo lai sabana urang Minang atau indak?

*

Padang, 25 September 2005


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: