Oleh: Wisran Hadi | 17 November 2008

40 Tahun Harian Singgalang

40 Tahun Harian Singgalang; MASIHKAH ADA TALAGO DEWI DI PUNCAKNYA?

Oleh: Wisran Hadi

Bilangan 40 bagi jumlah umur seseorang adalah momentum penting dalam perjalanan hidupnya. Pada bilangan umur sejumlah itulah tingkat kematangan ditentukan, apakah seseorang akan tetap menjadi baik atau berubah. Sebagai sebuah analogi, Tuhan menobatkan rasulnya Muhammad saw sebilangan umur itu pula. Haruskah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan menunggu umur Muhammad sampai 40 tahun dulu baru dirasulkan? Tidak sama sekali. Jadi, dibalik bilangan angka umur 40 tahun itu ada sesuatu yang harus dapat dijadikan iktibar bagi manusia yang mau mengarifinya.

Dalam merangkum dan mengarifi analogi seperti itu, perjalanan sebuah penerbitan surat kabar seperti harian Singgalang dengan rentang waktu 40 tahun di Sumatera Barat, bukanlah sesuatu yang mudah begitu saja dilalui. Diakui sejarah, penerbitan surat kabar terdahulu dan terbanyak ada di Sumatera Barat. Namun sebanyak surat kabar itu yang mekar, sebanyak itu itu pula harus gulung tikar.

Pada pasang naik dan pasang surut itulah harian Singgalang terlihat seperti sepotong kulit kelapa yang gelisah, dinamis, timbul dan tenggelam dalam pusaran berbagai keinginan dan cita rasa masyarakat lingkungannya. Selama masa 40 tahun telah terjadi berbagai pergantian; sistem politik, interest pembaca, modus pemberitaan dan analisa, situasi-situasi yang tak dapat diramal yang mencuat dari berbagai kepentingan dan selera-selera temporer beberapa pejabat penentu yang pulang balik masuk daerah ini. Semua itu harus dihadapi Singgalang dengan berbagai langkah dan strategi. Terkadang sepertinya Singgalang sedang bermain catur di tempat yang gelap; bayangan buah catur tampak, tetapi tidak jelas pada petak mana buah catur itu berdiri.

Dari begitu kompleksnya persoalan apakah akan terus berlangsung atau tidaknya sebuah penerbitan surat kabar, apa yang dihadapi Singgalang selama rentang waktu perjalanannya yang panjang itu, mungkin dapat dijadikan pedoman, contoh atau setidak-tidaknya sebagai kaca banding dari penerbitan-penerbitan mass-media yang ada sampai sekarang. Walau tidak semua langkah yang sudah diakukan harian Singgalang adalah baik, menguntungkan dan dapat mendidik masyarakat menjadi pembaca yang cerdas, namun terlepas dari semua itu, yang jelas harian Singgalang sudah menjadi bagian dari sejarah rakyat Sumatera Barat dalam berbagai aspek kehidupan.

Singgalang adalah sejarah, hal itu tidak dapat dimungkiri. Ada dua hal penting yang telah dilakukan harian Singgalang dalam usaha harian itu menjadi dewasa, terbuka, ampuh terhadap kritik, kritis terhadap masalah-masalah sosial dan kebudayaan. Kedua hal tersebut sangat sulit dapat dilakukan mas-media lainnya, apalagi kedua aspek tersebut tidak secara langsung dapat memberikan keuntungan nyata dari sebuah bisnis surat kabar. Kedua hal tersebut itu adalah;

1. Singgalang memberanikan diri mengumpulkan, menarik dan mengajak kalangan cendekiawan, ilmuwan dan budayawan untuk berdiskusi, dialog, untuk saling beradu argumentasi terhadap semua persoalan sosial yang tengah berlangsung dalam kehidupan masyarakat. Kemudian secara perlahan, memberikan solusi-solusi terhadap berbagai permasalahan. Ada solusi-solusi yang belum dapat disiarkan karena masih dalam tataran wacana dan bahasan, dan ada hal-hal yang sudah sepantasnya dipublikasi. Keberagaman solusi tersebut tidak menyenangkan pihak-pihak tertentu, tetapi yang jelas, Singgalang telah memenuhi komitmennya, obligasi sosialnya; memberikan sumbangan sekecil apapun terhadap apa yang tengah berlangsung dalam kehidupan ini. Akibat dari pilihan ini, dua hal yang harus diterima Singgalang secara serentak; pertama, Singgalang dilihat sebelah mata oleh pihak-pihak tertentu, karena menganggap Singgalang sebagai sarang pemikirian-pemikiran kritis yang tidak menyenyakkan tidur para birokrat dan penguasa. Kedua, Singgalang disukai masyarakat yang cerdas dan kritis, karena telah memberikan berbagai alternatif dan kemungkinan terhadap persoalan yang tengah dan akan dihadapi. Pada aspek dua ini, Singgalang jadi berubah sosok; Singgalang tidak hanya sebuah surat kabar lokal saja, tetapi menjadi penyalur hasrat, penyampai uneg-uneg, dan institusi kontrol sosial yang berani dan terpercaya. Sehingga banyak orang berciloteh miring; Jika mau mendengar pikiran-pikiran rusak tetapi cerdas datanglah ke meja diskusi Singgalang. Banyak sekali tokoh-tokoh yang pulang balik ke meja diskusi dengan sajian nasi ramas dan segelas kopi yang selalu disediakan Basril Djabar untuk mereka sama-sama bertengkar dan makan siang, di antaranya; Nazir Basir, Basril Djabar, Chairul Harun (alm.), M.Yoesfik Helmy (alm), Abrar Yusra, Leon Agusta, Hamid Djabbar (alm), Darman Moenir, A.A.Navis (alm.) dan banyak lagi tokoh-tokoh lainnya. Kemudian disusul rombongan berikutnya, di antaranya; Adi Bermasa, Darlis Sofyan, Hasril Chaniago, Fachrul Rasyid, Zaili Asril, Khairul Djasmi, Indra Nara Persada dan pada lapis ketiga dijumpai nama-nama Yusrizal KW, Gus TF, dan sederetan nama-nama potensial lainnya. (Maafkan sajalah, karena banyaknya nama, saya tidak sanggup mengingat semua). Layaknya bukit barisan, pemikiran-pemikiran datang berlapis dan terakhir menggenang di Talago Dewi, kawah yang ramah di puncak gunung Singgalang.

2. Konsekwensi logis dari pemikiran-pemikiran maju, kritis dan rusak yang dimiliki Singgalang sebagaimana yang dianggap orang-orang tertentu waktu itu, telah menempatkan Singgalang menjadi barometer perkembangan kesusasteraan di Sumatera Barat. Dengan berbagai rubrik, artikel, ulasan, esei dan kritik yang selektif, tajam dan bermutu telah memberikan makna baru akan kehadiran dan peranan Sumatera Barat dalam perkembangan sastra dan budaya di Indonesia. Boleh dikata, hampir semua penulis sastra, penggiat seni, termasuk wartawan pernah singgah di harian Singgalang. Mereka membesar di sini dan kemudian menjadi besar di luar sana. Lalu, apa sesungguhnya yang diinginkan Singgalang dengan langkah seperti ini? Padamulanya, kegiatan sastra, budaya, diskusi-diskusi, dianggap sebagai pekerjaan sia-sia dan melelahkan. Namun kemudian, setelah politik memperlihatkan wajah buruknya, maka kebudayaan, seni dan sastra manjadi sitawa sidingin bagi masarakat pembaca. Banyak seniman dan tokoh-tokoh lain pulang balik ke meja redaksinya, dan Basril Djabar dengan setia menyediakan makan siang dengan sebungkus nasi ramas ditambah segelas kopi. Sebuah suasana yang dinamis dan kreatif, mempunyai kenikmatan tersendiri yang tiada tara, tanpa dihantui oleh apakah uang pembeli nasi ramas itu berasal uang korupsi atau bukan.

Tentu, tidak hanya kedua faktor itu saja yang menjadi penentu kenapa harian Singgalang tetap gagah berjalan di depan semua surat kabar yang ada di Sumatera Barat sampai hari ini. Banyak banyak faktor lain yang tentu saja harus dibicarakan pula dalam konteks yang lain pula secara berimbang. Dalam pembicaraan yang berimbang dan objektif itu nanti, pada gilirannya, akan dapat dijadikan momentum tersendiri pula; apakah Singgalang akan tetap menjadi imam atau mundur untuk menjadi makmum?

Persoalan yang tertinggal dari akhir tulisan ini adalah sebuah pertanyaan yang harus segera dijawab; masihkah Singgalang setelah berumur 40 tahun tetap menjadi leader dalam perkembangan dan kemajuan berpikir serta sekaligus menjadi barometer kesusasteraan Sumatera Barat sebagai dulu pernah dilakoninya dengan baik, yang menyebabkan menjadikannya sebuah surat kabar besar yang disegani dan terpercaya? Dalam konteks kapitalisme merajai langkah dan kehidupan hari ini, apakah harian Singgalang akan takluk kepada kekuatan bisnis penerbitan? Atau akan tetap menjadi Singgalang yang di puncaknya ada kawah pemikiran dan kebudayaan bernama Talago Dewi?

Selamat Ulang Tahun yang ke 40, Singgalang! **


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: