Oleh: Wisran Hadi | 17 November 2008

ABUNAWAS DAN MASJID TAQWA

Raja yang satu itu memang aneh. Baginda selalu ingin menambah koleksi bangunan-bangunan megah di sekitar istananya. Akan tetapi sampai sekarang, di depan istana, masih saja berdiri sebuah bangunan yang selalu ramai dikunjungi orang untuk beribadah. Oleh karena sang raja tidak mau dituduh sebagai perampok bangunan milik masyarakatnya, maka tugas untuk mencaplok bangunan itu diserahkan kepada Abunawas.

Abunawas dengan beribu akal bulusnya menancapkan sebuah paku besar di dinding luar bangunan. Mula-mula masyarakat menganggap hal itu sebagai kegilaan Abunawas saja. Namun dari hari ke hari Abunawas terus menggantungkan segala yang busuk-busuk pada paku besar itu. Orang-orang yang beribadah dalam bangunan tua kelabakan karena diserang aroma busuk.. Ibadat mereka menjadi tidak khusyuk, namun orang-orang tidak berani membuangnya karena paku besar milik Abunawas itu adalah atas persetujuan sang raja.

Orang-orang akhirnya tidak mau mengunjungi bangunan itu lagi, tidak mau lagi beribadat di sana. Berkali-kali orang mengadukan hal itu kepada sang raja, dan sang raja dengan sopannya mengatakan semua itu adalah ulah Abunawas. Karena tidak tahan oleh bau busuk, bangunan itu akhirnya dijual saja kepada kerajaan dengan harga yang sangat murah pula. Maksud sang raja tercapai dan beberapa bulan kemudian bangunan itu diruntuhkan dan di atasnya didirikan sebuah bangunan mewah yang baru. Bukan lagi untuk tempat beribadat tetapi untuk tempat mengumbar syahwat.

Masjid Taqwa yang terletak di pusat kota Padang adalah bangunan yang selalu ramai dikunjungi untuk beribadat. Didirikan oleh masyarakat Kampuang Jao dan sekitarnya sejak berpuluh tahun lampau. Semakin hari, kompleks sekitar bangunan itu semakin lama semakin ramai. Namun, sejak beberapa tahun belakangan, banyak orang mengeluh karena bisingnya klakson angkot karena semua angkot bermuara di depan masjid. Ditambah lagi kebisingan itu oleh suara hiruk pikuk mereka yang lalu lalang, susahnya memarkir kendaraan, keamanan dan berbagai kesulitan lainnya.

Berkali-kali pengurus masjid memohon kepada Pemko agar ikut membantu memberi ketenangan kepada orang-orang yang beribadah di sana. Mungkin Pemko punya pendapat lain, yang salah itu adalah, kenapa masjid didirikan di pusat kota. Risikonya tentulah harus menerima kebisingan kota dengan rela. Namun Pemko kemudian bermurah hati juga dengan meletakkan papan larangan di depan masjid, agar semua orang ikut membantu ketenangan orang yang menjalankan ibadah. Cuma papan larangan, tak ada sangsi, tak ada pengawasan.

Berkali-kali surat kabar ini menyuarakan agar Pemko memindahkan tempat angkot menurunkan dan menaikkan penumpang itu ke tempat lain, agar orang-orang yang beribadah di masjid itu benar-benar mendapat ketenangan. Tapi, seumpama paku besar Abunawas tadi, paku besar itu tetap juga ditancapkan di sana dan kebisingan semakin meningkat dari hari ke hari.

Lalu, yang cukup mengangetkan adalah isyu yang berkembang di tengah masyarakat, bahwa suara azan dari masjid terlalu keras sehingga menganggu pendengaran sang raja dan para abdinya. Masjid itu akan dibeli dan akan dipindahkan ke tempat yang lebih tenang. Sedangkan di tapak bangunan itu akan didirikan sebuah kompleks pertokoan lagi seperti yang sudah dibangun pada terminal angkot di Pasar Goat Hoat atau di bekas terminal Lintas Andalas yang kini telah menjadi Plasa Andalas.

Kini masyarakat bertambah gelisah, konon, Pemko akan mengizinkan lagi bus-bus antar propinsi memasuki kota dan salah satu titiknya mungkin di sekitar Masjid Taqwa pula. Mudah-mudahan ini hanya isyu dari para jamaah yang sudah sangat kecewa terhadap lambannya usaha Pemko memberikan ketenangan bagi mereka yang tengah beribadah di masjid itu.

Jika akan tetap begini juga keadaannya, sudah waktunya pengurus Masjid Taqwa bersiap-siap memindahkan masjid yang dicintai masyarakat ini ke tempat yang lebih aman, karena sampai sekarang si Abunawas kota Padang ini belum juga mau mencabut paku besar tempat menggantungkan benda-benda busuknya itu.***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: