Oleh: Wisran Hadi | 17 November 2008

Antologi Cerpen Soewardi Idris

Antologi Cerpen

PERGOLAKAN DAERAH

Soewardi Idris

Oleh:

Wisran Hadi

Soewardi Idris, adalah salah seorang wartawan, sastrawan, budayawan Indonesia terkemuka dari Sumatera Barat yang meninggal 13 Juli 2004 yang lalu di Jakarta, dalam umur 74 tahun. Dari sepanjang perjalanan kreatifnya, beliau telah menghasilkan beragam corak dan genre karya tulis. Salah satu bentuknya adalah cerita pendek. Banyak sekali beliau menulis cerita pendek dan telah dikumpul dalam dua kumpulan; Di Luar Dugaan, 1964; Istri Seorang Sahabat; 1964 dan sebuah novel Dari Puncak Bukit Kamang, 1964. Di samping itu beliau telah menulis sebanyak 13 buah biografi, 3 karya jurnalistik, 3 buah tentang adat dan budaya Minangkabau, 3 buah tentang sejarah dan juga cerita anak-anak. Semua itu telah beliau kerjakan dengan tekun dan tabah di selang-seling kesibukan-kesibukan keluarga, pekerjaan dan masyarakat lingkungan.

Antologi cerpen Pergolakan Daerah merupakan kumpulan dari seluruh karya tulis beliau dalam bentuk cerita pendek. Dalam kumpulan cerpen ini, tidak kurang dari 29 buah cerita pendek beliau yang terbagi dalam 3 bab; Lagu Tak Bersyair, Di Luar Dugaan, Istri Seorang Sahabat telah dikemas oleh Purnama Suwardi, seorang penulis yang taat, rajin dan yang telah melahirkan pula berbagai ragam buku, setelah beliau meninggal berjarak waktu 3 tahun lebih dari pengumpulan yang dilakukan. Alasan Purnama Suwardi melakukan pengumpulan ini merupakan presentasi dari sebuah kecemasan terhadap perkembangan bangsa ini; “Apa jadinya bangsa ini, kalau karya-karya sastra yang baik, yang telah ditulis dengan darah dan air mata oleh para sastrawan kita, akan hilang begitu saja diberondong arus penerbitan buku-buku pop yang tidak mencerdaskan,” ujarnya.

Jika kita menarik garis ke belakang, sekitar tahun-tahun 60-an, banyak karya-karya sastra dari sastrawan Sumatera Barat yang diterbitkan oleh NV Nusantara yang dipimpin oleh Rustam Anwar, seorang pengusaha grafika yang sangat konsern terhadap kebudayaan, kesusteraan dan kesenian lainnya. A.A. Navis, Soewardi Idris, A.Damhuri dan sederet nama lainnya adalah tokoh-tokoh yang ikut memperkuat buku-buku hasil dari penerbitan NV Nusantara tersebut.

Jika pembaca tidak keberatan, kumpulan cerpen ini dapat kita sandingkan dengan kumpulan cerita-cerita pendek A.A.Navis. Disandingkan dalam pengolahan dan penyampaian beberapa masalah dalam tema Pergolakan Daerah. Boleh jadi persandingan itu dapat juga dilakukan, karena kedua sastrawan besar Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat itu berada dalam satu kurun waktu; Soewardi Idris lebih muda 6 tahun dari A.A.Navis.

Ketiga pilar Sumatera Barat ini A.A.Navis, Soewardi Idris dan Roestam Anwar merupakan suatu gabungan kekuatan yang sangat membanggakan Sumatera Barat pada masa itu, kalaulah tidak berlebihan kita juluki dengan tiga tali sapilin. A.A.Navis dengan Robohnya Surau Kami, Soewardi Idris dengan Puncak Bukit Kamang, Roestam Anwar dengan penerbit NV Nusantara.

Dari karya-karya Soewardi Idris yang beragam itu, sesungguhnya pembaca akan mudah mengetahui posisi, peranan, fungsinya dalam berbagai percaturan hidup yang dilaluinya. Akan tetapi dalam kesempatan ini, saya hanya mengambil sebagian kecil saja dari karya-karya tulisnya yang banyak itu, yaitu kumpulan cerpen Pergolakan Daerah. Sebuah kumpulan cerita pendek yang termasuk sebagai sebuah buku kumpulan cerita pendek terbaik yang pernah ada di Indonesia.

Pergolakan Daerah dalam karya sastra

Diproklamirkannya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958 di depan ribuan massa di depan kediaman Gubernur Sumatera Barat di Padang, mungkin boleh disebut sebagai momentum yang sangat berarti dalam perjalanan kehidupan berbangsa. Terlepas apakah kita setuju atau tidak terhadap peristiwa demikian, terlepas pula dari siapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan, terlepas pula dari keinginan untuk ikut menyelidiki rentetan peristiwa tersebut untuk kepentingan penulisan sejarah, yang jelas realita objektifnya, peristiwa tersebut telah memberikan dampak yang sangat luar biasa bagi kehidupan masyarakat di Sumatera Barat khususnya dan di Indonesia khususnya.

Peristiwa besar bagi rakyat Sumatera Barat ini ada yang menyebutnya dengan skeptis; pemberontakan dan ada yang menyebutnya pergolakan. Kata pemberontakan mempunyai konotasi negatif, sedangkan kata pergolakan menyiratkan makna dinamika, kritik dan ekspresi ketidakpuasan. Soewardi Idris lebih memilih kata pergolakan daripada kata pemberontakan. Bukan hanya karena beliau itu seorang sastrawan yang dapat memilih kata dengan baik, terlebih karena keterlibatannya secara total dalam rentetan peristiwa besar itu selama lebih dari tiga tahun. Keterlibatannya itu sebagian dituangkan dalam bentuk cerita pendek dan sebagian lagi dalam bentuk penulisan esei, sejarah dan karya juurnalistik lainnya.

Cerita pendek sebagai salah satu genre dari karya sastra mempunyai kodrat hidup tersendiri. Sastrawan yang menulis cerita pendek tidak punya niat untuk menulis karya sejarah, kronologi peristiwa dan analisa-analisa politik serta tokoh-tokoh yang terlibat. Sastra dalam hal ini seperti cerita pendek yang telah ditulis Soewardi Idris, lebih memihak pada kehidupan manusia; tragik-tragik yang dialami, kenaifan, kealpaan dan juga renungan serta pemikiran-pemikiran yang timbul pada saat-saat peristiwa itu berlangsung. Karya sastra yang ditulis Soewardi Idris, bukankah karya sastra yang memihak, (kemudian pemihakan dalam karya sastra itu dimotori sastrawan-sastrawan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada masa sesudah itu, yang memberikan andil besar sekali dalam menyuburkan kehidupan Partai Komunis Indonesia).

Dari sepuluh cerpennya; Di Luar Dugaan, Semuanya Telah Terjadi, Sekarang Ia Sudah Sadar, Ia Akan Mengerti, Berkumpul Kembali, Aku Mengeluh Panjang, Istri Seorang Sahabat, Salah Cinta Di Simanau, Mata dan Peristiwa Di Bukit Subang terlihat jelas, betapa Soewardi Idris menyadarkan pembaca, bahwa apapun juga alasan dan namanya, terjadinya suatu perbenturan antar sesama, apalagi dalam kontak senjata yang berdarah-darah, tidak satupun pihak yang diuntungkan. Kalah jadi abu, menang jadi arang, kata orang Minang dalam petatah petitihnya.

Bagaimanapun juga kita berargumentasi, bahwa sastra Soewardi Idris tidak memihak, tidak seperti perilaku orang Minang yang suka mambalah batuang (membelah bambu), sebelah diinjak sebelah lagi diangkat, namun pada akhirnya cerpen-cerpen Soewardi Idris sempat juga ditarik dari peredarannya dan bahkan kopinya harus dihancurkan, sebagaimana yang ditulis A.A.Navis dalam salah satu tulisannya; Tingkah Laku Bangsa Kita Mengganggu Penciptaan (Harian Kompas, Selasa 14 Juli 1981, Jakarta).

Cerita-cerita pendek Soewardi Idris lainnya, berkisah tentang kehidupan sehari-hari selama beliau berada di Bukittinggi, Padangpanjang, Solok, Jogjakarta. Kritik-kritik sosial yang dilakukannya, dikemas dengan berbagai kelakar yang cerdas, dalam bahasa Indonesia yang rapi dan bersih, sekaligus tajam menukik ke lubuk hati, dengan dengan bisikan yang ramah mempertanyakan; sejauh manakah manusia dapat menyadari diri dari kekerdilannya di hadapan kekuasaan Yang Maha Pencipta, Allah Swt.

Soewardi Idris telah menceritakan banyak hal. Mulai dari petualangan-petualangan pandangannya, cara dia menyodorkan berbagai kasus untuk mematahkan kredo-kredo konvesional dan menutup suatu persoalan dengan membuka persoalan baru. Cerita-cerita pendeknya tentang pergolakan daerah (PRRI) yang ditulisnya secara jujur menyebabkan dia tidak mendapatkan publikasi yang layak, baik pada pasca PRRI maupun pada awal Orde Baru. Tentara diposisikan sebagai sesuatu yang penuh misteri, yang jika ada kebobrokan selalu berusaha untuk tidak diungkapkan.

Cerpen-cerpennya yang bertema pergolakan demikian secara implsit memberikan penyadaran kepada kita dengan berbagai pertanyaan; jika pergolakan itu suatu kesalahan, kesalahan kepada siapa ditimpakan? Apakah itu risiko dari suatu pilihan? Atau Takdir? Atau nasib? Soewarid Idris telah memperlihatkan sosoknya sebagai seorang yang selalu taat kepada ajaran, norma dan nilai agama, ajaran-ajaran adat. Nilai-nilai universal yang ditawarkannya adalah nilai-nilai yang jelas rujukannya.

Secara keseluruhan, cerita-cerita pendek Soewardi Idris, baik yang bertemakan pergolakan daerah, maupun kisah nyata sehari-hari yang polos, jujur dan sederhana, kita dapat merasakan bagaimana seorang Minang dalam konteks budayanya, telah menyentak pikiran, kecerdasan serta rasa humor kita dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Bagi saya, cerpen-cerpen Soewardi Idris adalah cerpen-cerpen Indonesia yang benar-benar bernafas Indonesia, dan kalau engle-nya lebih dipertajam, cerpen-cerpen Soewardi Idris terasa kental “Minang”- nya, baik dalam penceritaan, idiom-idiom Minang yang diIndonesiakan, penyelesaian konflik, serta cara atau trik menutup sebuah kisah yang disesuaikan sebagaimana sifat dan kondrat orang Minang itu sendiri – biarkan mereka menyelesaikan persoalannya sendiri-sendiri -. Namun, bila hanya dibaca sepintas, cerpen-cerpen itu seakan belum siap, padahal, memang segala sesuatunya bagi orang Minang tidak pernah selesai. Konon adatnya mengajarnya – sakali aie gadang, sakali tapian baraliah – maksudnya hakekat dari hidup ini adalah perubahan, bukan penyelesaian. Dan Soewardi Idris secara jelas sosoknya tampak dalam pola budaya demikian.

Terakhir, dedikasi saya kepada beliau; alm. Soewardi Idris, seniman prolifik Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat – terima kasih saya yang dalam atas segala penulisan yang telah dilakukannya dalam memperkaya khasanah budaya bangsa; dan kepada seluruh keluarga besarnya – semoga segala apa yang telah dirintis beliau dapat kita lanjut dimasa datang. Untuk pendewasaan kita bernegara dan untuk pembentukan peradaban dan tamaddun bangsa.

InsyaAllah.

Padang, 28 Desember 2007


Responses

  1. Ceritanya kurang😀

  2. assalamu’alaikum pak, saya mahasiswi sejarah UNP yang begitu tertarik dengan buku antologi cerpen dari Soewardi Idris. namun saya mengalami kendalabelum menemukan buku antologi ini di berbagai perpustakaan pusat dan secara online. bisakah bpk memberi saya solusi? terima kasih pak


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: