Oleh: Wisran Hadi | 17 November 2008

In Memoriam

In Memoriam

HAJI KAMARDI RAIS DATUK PANJANG SIMULIE;

JAAN TINGGAAN KAMI DI NAN LANYAH, PAK DATUK

Oleh:

Wisran Hadi

LIMBAGO, majalah adat dan kebudayaan Minangkabau, pada Oktober 1986 terbit untuk pertama kali dengan pimpinan redaksi H.Kamardi Rais Dt.P Simulie. Majalah minang di bawah pimpinan umum Drs. H.Hasan Basri Durin (waktu itu menjadi Pembantu Gubernur) merupakan satu-satunya majalah kebudayaan yang terbit setelah lama majalah bulanan Minangkabau tidak beredar lagi. Banyak tokoh-tokoh adat dan budaya yang diundang untuk terlibat di dalam penerbitan Limbago. Di bawah naungan Yayasan Ranah Minang, majalah bulanan Limbago itu sempat mencapai nomor penerbitan sampai 9 kali penerbitan. Ketika penerbitan nomor 10 mulai tersendat, sempat beliau berkelakar, yang kemudian kelakar itu menjadi sebuah kenyataan.

Kelakar beliau; “jika kita sanggup menerbitkan majalah ini sampai nomor 12, maka itu sudah reputasi luar biasa bagi orang Minang dalam menerbitkan sebuah majalah kebudayaan.” “Sebab,” kata beliau lagi, “majalah kebudayaan Minangkabau yang terbit sebelum ini cuma sanggup terbit 11 kali”. Dan memang kelakar itu menjadi sebuah kenyataan, bahwa majalah Limbago nomor 10 yang sudah dipersiapkan daminya, tidak sempat terbit-terbit lagi sampai hari ini.

Bahkan, sampai sekarang tidak satupun lagi orang-orang Minang berselera menerbitkan majalah adat dan kebudayaannya sendiri. Walaupun hampir setiap saat, orang Minang selalu mengatakan; “kita perlu mendidik dan mengajarkan adat dan budaya Minangkabau kepada anak kemenakan kita”. H.Kamardi Rais Dt.P.Simulie bersama Drs.Hasan Basri Durin telah memulainya, sekaligus membuktikan apa yang menjadi buah kelakarnya.

Penerbitan majalah bulanan “adat dan kebudayaan Minangkabau” Limbago pada masa itu termasuk sesuatu yang dinanti-nantikan, karena keadaan masyarakat Minangkabau yang semakin hari semakin mencemaskan dalam menjalankan adat dan budayanya sendiri. Terbitnya majalah Limbago menjadi sebuah pencerahan. Namun apa hendak dikata, sebagaimana yang dikatakan Pak Datuk juga (saya memanggil beliau dengan kata ini); “Urang awak ko labiah suko mangecek daripado mambaco,” kata beliau dengan nada yang hampir putus asa, ketika Limbago nomor 10 itu tidak kunjung dapat diterbitkan lagi.

H.Kamardi Rais Dt.P.Simulielah mengajak saya untuk ikut terlibat dalam penerbitan majalah ini. Sejak itu, selama lebih dua tahun saya selalu bersama beliau. Pada masa-masa itulah saya belajar dengan sungguh-sungguh tentang dunia jurnalistik. Boleh dikata, keterlibatan saya dengan dunia jurnalistik digiring oleh dua situasi; pertama, ajakan Uda Bas (H.Basril Djabar) untuk ikut bergabung dengan harian Singgalang (3 tahun lebih saya menjadi salah seorang anggota redaksi di sana) dan kedua, ajakan Pak Datuk untuk ikut memulai menerbitkan majalah Limbago, dari persiapan awal sampai nomor terakhir.

Pada masa itu saya masih menjadi “anak bawang” dalam dunia jurnalistik. Walaupun bekal saya sebagai pelukis, penulis drama, cerita pendek dan juga coba-coba menulis puisi, ternyata jauh berbeda dengan kehidupan seorang jurnalis. Pak Datuklah yang dengan amat bijaksana menuntun saya untuk mampu membedakan, bagaimana menulis karya jurnalistik dengan karya sastra.

Boleh dikata, dua tokoh besar Sumatera Barat, (alm.A.A.Navis dan alm. H.Kamardi Rais Dt.P.Simulie) adalah guru-guru saya yang satu sama lain sangat berbeda watak dan caranya memberikan tuntunan. Dari A.A.Navis saya mendapat pelajaran bagaimana menyusun kalimat dan memilih kata yang tajam, cerdas dan efisien, dari H.Kamardi Rais Dt.P.Simulie saya mendapat pelajaran bagaimana menyusun kalimat yang mengalir bening dan memilih kata yang lembut dengan makna ganda. “Awak mandapek urang indak kailangan,” katanya sekali waktu.

H.Kamardi Rais dalam hidupnya telah membuktikan dirinya tidak hanya sebagai seorang jurnalis, tetapi beliau adalah penulis dan tokoh yang prolifik di Indonesia sampai akhir hayatnya. Jadi, kepenghuluan beliau, tidak hanya pada kemampuannya berpetatah-petitih, sebagaimana layaknya datuk-datuk yang kita kenal selama ini, tetapi kepenghuluannya adalah pada bagaimana dia memilih posisi yang tepat untuk tetap berada di hulu segala persoalan. Tidak heran, jika beliau tampak pada segala momentum; pada berbagai peristiwa adat, pada berbagai persoalan politik, dan pada berbagai masalah jurnalistik.

Pilkada boleh melahirkan seorang walikota, bupati atau gubernur. Pemilu boleh melahirkan beratus anggota calon legislatif dan presiden. Namun, momentum apakah yang mungkin dapat melahirkan seorang pengganti Kamardi Rais Dt.P.Simulie?

Tidak satu pun!

“Jaan tinggakan kami di jalan nan lanyah”, pak Datuk.

*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: