Oleh: Wisran Hadi | 17 November 2008

LUNANG; SEBUAH LEGENDA YANG DIPERPANJANG

Catatan singkat yang tertinggal dari kunjungan 2 hari ke Lunang, 20 tahun lalu;

Oleh: Wisran Hadi

Karena pacar Pagaruyung gempar !

Yang berpacaran adalah Dang Tuanku, putra mahkota keraja­an Pagaruyung dengan Puti Bungsu, anak mamaknya sendiri. Yang menjadikan Pagaruyung gempar bukan hanya karena Puti Bungsu akan dikawinkan dengan orang lain, tetapi adalah; tiba-tiba saja Puti Bungsu sudah berada di Pagaruyung pada saat hari perkawinannya dilangsung­kan. Semua itu “ulah” Cindua Mato.

Walaupun sebenarnya dalam cerita itu Cindua Mato memang disuruh melarikan Puti Bungsu dari Ranah Sikalawi. Yang menyuruh adalah Dang Tuanku sendiri, agar Puti Bung­su tidak dikawini orang lain. Imbang Jayo, calon suami Puti Bungsu, bukan sembarang orang pula. Dia orang penting, putra mahkota Kerajaan Tiang Bungkuk. Dengan bernaung di bawah kekeramatan nama ayahnya, Imbang Jayo men­cari Puti Bungsu ke Pagaruyung, tetapi sayang, dia terbunuh.

Tentu saja Tiang Bungkuk berang. Satu-satunya anak yang akan menggantikannya menjadi raja telah dibunuh di Pagaruyung. Bisa dibayangkan apa yang dilakukan Tiang Bungkuk. Pagaruyung dibumi-hanguskan. Cindua Mato ditangkap. Bundo Kanduang (ibu Dang Tuanku), Dang­Tuanku sendiri serta Puti Bungsu dicari. Tapi bagaimana mungkin Tiang Bungkuk dapat menangkap ketiga tokoh keramat itu, karena mereka su­dah “mengirap” ke langit. Mengirap ke langit bukan berarti bahwa tokoh itu adalah burung, atau dewa. “Mengirap” adalah istilah dalam cerita rakyat yang dimaksudkan “pergi dengan tergesa” atau bahasa Minang lainnya “mangirok”. Dan ke manakah mereka pergi?

Cerita rakyat Minangkabau “Cindua Mato” yang termasyhur itu memang tidak menjelaskan ke mana perginya ketiga tokoh itu.

Karena tidak jelas ke mana perginya, maka perlulah kiranya untuk diusut. Maklumlah, yang pergi tanpa bekas itu adalah Bundo Kanduang, Dang Tuanku serta Puti Bungsu, tokoh penting, pucuk pimpinan kerajaan Pagaruyung. Para ahli legenda apalagi ahli sejarah tidak akan dapat mencarinya. Ya, bagaimana mungkin, namanya saja cerita rakyat, legenda. Bisa iya dan bisa tidak tokoh-tokoh demikian ada di dunia ini. Kalau pembaca mau tahu ke mana perginya ketiga tokoh itu, datanglah ke Lunang.

Rupa-rupanya, ketiga tokoh itu, menghindarkan diri ke Lunang. Dan agar terhindar dari pencarian dan pengejaran Tiang Bungkuk, Bundo Kanduang “mengubah namanya menjadi “Mande Rubiah”. Dan dari Mande Rubiah inilah konon asal muasal Mande Rubiah yang se­karang.

Dari cerita rakyat ke mitololgi

Cindua Mato adalah judul sebuah cerita rakyat yang berlatarbelakang adat dan sejarah Minangkabau. Tetapi jelas, bahwa cerita rakyat bukanlah sejarah. Cerita rakyat ini populer dalam kalangan masyarakat adat, tetapi tak bergema dalam masyarakat agama. Sebagai sebuah cerita rakyat yang termasyhur, Cindua Mato de­ngan tokoh-tokoh cerita seperti; Bundo Kanduang, Dang Tuanku dan Puti Bungsu berobah “sosok”nya menjadi tokoh-tokoh legendaris dan bahkan sudah dijadikan mitos. Sebagian orang Minang sukar membedakan apakah cerita rakyat Cindua Mato sebuah cerita rakyat, legenda, mitologi atau sejarah. Semuanya berpadu menjadi sesuatu “yang dipercaya” bahkan mungkin “diyakini”.

Walaupun beberapa ahli telah pula mencoba mendudukkan cerita rakyat Cindua Mato sebagai sebuah “cerita rakyat”, namun “keyakinan” sebagian masyarakat itu tak kunjung dapat tergoyahkan, maklumlah taraf “yakin” dalam diri seseorang menyangkut masalah hidup-mati. Selanjutnya, tokoh Cindua Mato sendiri dalam cerita rakyat itu dijadikan pula sebagai “prototype” seorang Minang, sebagaimana layaknya tokoh “Hang

Tuah” yang dijadikan prototype seorang Melayu Semenanjung.

Di dalam masyarakat tradisi, seperti Minangkabau misalnya, hal seperti ini banyak sekali terjadi. Sebuah batu di pinggir pantai, yang karena bentuknya mirip “sebuah kapal yang membatu”, dija­dikan sebagai bukti visual dari cerita Malin Kundang. Sewaktu Malin Kundang itu menjadi bahan pembicaraan kalangan tertentu, masyarakat yang telah terlanjur “yakin” mengutuki kalangan yang meragukan “kehadiran Malin Kundang” itu. Hal yang sama masih terjadi zaman Marah Rusli. Gua batu di puncak Gunung Padang telah dijadikan pula sebagai bukti “lokasi” dari novel Siti Nurbaya. Lokasi itu “sudah dianggap” sebagai tempat Siti Nurbaya bermain dan berpacaran. Sampai zaman modern seka­rangpun, hal itu dilanjutkan. Lokasi itu dikekalkan sebagai “Taman Siti Nurbaya” dan dijadikanlah sebagai objek pariwisata. Tapi bukti sejarah apa yang dapat mendukung bahwa lokasi itu -benar-benar se­buah lokasi cerita Marah Rusli? Dan bukankah cerita Marah Rusli hanya sebuah kisah (fiksi) atau orang kini mengatakan sebuah “roman”?

“Keyakinan” yang lebih ekstrim lagi terjadi terhadap tambo, kisah asal usul nenek moyang orang Minangkabau leng­kap dengan lokasinya. Dan siapakah yang mampu menggugat “keyakinan” demikian, biar oleh kalangan sejarawan atau para pakar lainnya sekalipun? Ini masalah keyakinan, bukan masalah benar atau tidaknya.

Akan halnya Lunang dan masyarakat sekitarnyapun begitu juga. Cindua Mato bagi mereka bukan lagi sebuah cerita rakyat, tetapi su­dah dijadikan sebuah sejarah. Sejarah pasti punya kelanjutannya. Dan kelanjutan sejarah Minangkabau di dalam cerita rakyat Cindua Mato ada di Lunang.

Dan akan dijadikan objek pariwisata jugakah Lunang seperti lokasi tempat Siti Nurbaya di Gunung Padang? Jawabnya ya, karena pemugaran yang telah dilakukan pihak P dan K terhadap “titisan Bundo Kanduang” di Lunang itu memberikan indikasi yang kuat sekali.

Tulisan ini bukan untuk ikut-ikutan mem­perpanjang sebuah legenda, bukan pula ingin membantah kenyataan sosial hari ini masyarakat Lunang, tetapi semata-mata memberikan gambaran tentang apa yang terjadi pada sebuah nagari di Minangkabau, atau sebuah desa dalam daerah Sumatera Barat. Gambaran umum ini dirasa perlu, karena Lunang sudah menjadi buah mulut sebagian ma­syarakat, sebagai sebuah peninggalan sejarah yang “penting”, karena di sana dite­mukan kuburan dari tokoh-tokoh cerita rakyat Cindua Mato itu, seper­ti kuburan Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Puti Bungsu.

Terbelakang karena terasing

Lunang, adalah sebuah “nagari” yang terisolir, letaknya jauh di selatan Minangkabau (Sumatera Barat). 40 km. lagi ke selatannya sudah merupakan daerah perbatasan antara Sumatera Barat dan Bengkulu. Lunang terletak dalam kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan. Keterisolirannya pupus dengan dibukanya jalan raya semasa pemerintahan Gubernur Harun Zain. Lunang kemudian menjadi nagari yang mulai terbuka, adalah dengan ditempatkannya transmigran pada lokasi; Lunang I, Lunang II dan Lunang III. Ketiga Lunang itu tidak kurang dihuni oleh 1000 kepala keluarga berdasarkan catatan tahun 1987.

Sebagai sebuah nagari, Lunang terdiri dari tiga kampung; Kumbuang, Lunang dan Sindang. Kemudian setelah nagari disulap men­jadi desa-desa oleh Peraturan Pemerintah maka Lunang terpecah menjadi tujuh desa; desa Kampung Dalam, Rantau Kataka, Sindan,-, Tanjung Beringin (desa ini merupakan lokasi transmigran; Lunang I, II dan III), Ampang Tangah, Kumbuang I, Kumbuang II dan Kumbuang III.

Desa Kampung Dalam hanya dihuni oleh lebih kurang 60 ke­pala keluarga dan di daerah ini dijumpai sebuah rumah gadang yang disebut “Rumah Gadang Mande Rubiah”.

Sebagai sebuah nagari yang jauh dari pusat adatnya Minangkabau, kemudian jauh dari aktifitas sosial dan kota-kota besar, jauh dari pusat pemerintahan daerah, Lunang menjadi jauh tertinggal. Tentu saja masyarakatnya tetap berada dalam situasi “ketradisional­annya” yang, dampak negatifnya adalah; kurangnya pendidikan, kesehat­an, informasi. Hal ini akan menyebabkan pula kurang timbulnya rasio­nalisasi dalam berbagai aspeknya. Dalam situasi demikian, sangatlah mudah untuk membangun hal-hal yang irrasional, apalagi kalau sebuah “mitos” disodorkan dalam kemiskinan cara berpikir.

Apa yang terjadi pada masa itu di Lunang dapat dikatakan sebagai “kemampuan akhir” dari sebuah masyarakat tradisi yang terasing untuk menampilkan “sosok” dari sebuah mitos dalam usaha mereka memperoleh seorang panutan dalam masyarakat.

Cerita Cindua Mato bagi masyarakat Minangkabau di luar Lunang, mereka sudah dapat mem”bilah-bilah”, mana yang dongeng, mana yana berlatar belakang adat, mana yang berlatar belakang “se­jarah” dan kesimpulannya adalah – cerita rakyat Cindua Mato bukan­lah karya sejarah. Tetapi tidak demikian halnya bagi masyarakat Lunang. Mereka menjadikan cerita Cindua Mato sebagai sejarah dan merekapun yakin akan kelanjutan sejarah itu adalah di Lunang dan semuanya merupakan realitas sosial kehidupan mereka sampai hari ini.

Titisan Bundo Kanduang

Menurut apa yang dipercayai masyarakat Lunang, setidak-­tidaknya berdasarkan kisah yang dituturkan secara langsung oleh Maridun Rajo Intan (62 tahun), bekas anggota Buterpra dan mantan Wali Nagari Lunang selama 15 tahun, dan menurut cerita Haji Dukun yang terkenal dengan nama Bujang Sabaleh (jari tangan beliau sebelas buah) yang bergelar H. Sutan Maruhum (63 tahun) yang tinggal di Pasar Sebelah di Indopuro, dengan tegas mengatakan bahwa Lunang adalah kelanjutan dari “sejarah” Cindua Mato.

Sebagai sebuah sejarah, tentu harus didukung bukti-bukti. Maka bukti-buktinya adalah; kuburan Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Puti Bungsu dan Cindua Mato berada di Lunang. Sedangkan rumah ga­dang di Lunang, adalah kelanjutan rumah gadang yang dibuat Bundo Kanduang setelah dia merobah namanya menjadi Mande Rubiah. Dari apa yang dituturkan kedua tokoh masyarakat itu (keduanya masih pu­nya hubungan famili dengan Mande Rubiah yang sekarang) maka kelan­jutan “sejarah” Cindua Mato adalah begini;

Setelah Pagaruyung ditaklukkan Raja Tiang Bungkuk, Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Puti Bungsu dan Cindua Mato menghindar ke Lunang. Mereka bersembunyi di balik nama “Mande Rubiah”. Kedatangan tokoh-tokoh penting itu disambut oleh dua orang penghulu di Lunang yang bernama Datuk Patih Ampang Lunang dari suku Caniago dan Datuk Bandaharo dari suku Melayu Gedang.

Bundo Kanduang pun meninggal. Kebesaran dan kekeramatan Bundo Kanduang itu segera dipindahkan kepada ibu Cindua Mato (da­lam cerita rakyat Cindua Mato nama ibu Cindua Mato adalah Kambang Bandahari, menurut penutur nama kecil Bundo Kanduang adalah Reno Sori). Dari ibu Cindua Mato itulah secara turun temurun “kebesaran” dan “kekeramatan” Bundo Kanduang sampai kepada Mande Rubiah yang sekarang.

Tetapi yang membuat kita ragu adalah keterangan dari penu­tur itu juga kepada pihak Musium Adityawarman Padang. Kepada pihak Musium Adityawarman (waktu itu Kepala Musium Adhityawarman adalah alm. Bpk. Bustami) dikatakan bahwa Mande Rubiah yang sekarang ada­lah turunan langsung Bundo Kanduang. Sedangkan sewaktu kami berkunjung ke sana dan me­nanyakannya langsung, dikatakan sebagai turunan dari ibu Cindua Mato. Mudah­-mudahan ini hanya kealpaan penutur saja. Tetapi apa yang ditulis oleh Khaterin Strenger, seorang Canada yang membuat film semi dokumenter tentang Bundo Kanduang dan Lunang, menuliskan bahwa Mande Rubiah yang sekarang adalah turunan Bundo Kanduang.

Boleh jadi, yang dibawa menghindar ke Lunang itu tidak hanya ketiga tokoh penting yang disebutkan di atas itu saja. Juga ada ibu Cindua Mato. Juga ada kuda, kerbau dan ayam. Ada dua tanduk kerbau yang besar di rumah gadang Mande Rubiah sekarang, dikatakan sebagai tanduk kerbau di Binuang. Dan harap pula dimaklumi pembaca, bahwa rumah gadang Mande Rubiah sekarang ataupun rumah-rumah lainnya di Lunang tidak mencirikan Minangkabaunya; tidak bergonjong, begitulah. Tetapi itu konon, adalah usaha Bundo Kanduang untuk merahasiakan dirinya. Yang perlu diketahui lagi adalah, bahwa rumah itu “seperti” rumah Bugis. Sehingga pertanyaan-pertanyaan lain terpaksa muncul; kenapa berbentuk rumah Bugis dan seterusnya, sukar untuk dijawab karena jawaban dasarnya adalah; merahasiakan identitas Bundo Kanduang. Dan yang merahasiakan itu adalah orang Lunang sendiri, yaitu Datuk yang disebutkan tadi.

Tabir rahasia mulai disingkap

Adalah Maridun, yang waktu itu menjadi anggota Buterpra di Lunang didatangi “seorang dari Jakarta”. Orang dari Jakarta itu menjanjikan akan mengusulkan agar pemerintah mengeluarkan peraturan supaya kuburan-kuburan tua tidak boleh dialihkan di tempat lain. Setelah peraturan itu keluar, maka mulailah timbul keberanian meng­ungkapkan rahasia yang selama ini disimpan di Lunang. Dan dengan tanggapan yang baru pula pihak P dan K pada tahun 1955 memugar kuburan-kuburan itu. Kemudian pada tahun 1981 dilakukan rehabilitasi yang menyeluruh dan serius. Sekarang, rumah gadang Mande Rubiah itu sudah menjadi semacam museum kecil.

Terbukanya tabir rahasia Lunang ini menimbulkan berbagai pertanyaan dari berbagai pihak. Pertanyaan pokok adalah; jika benar bahwa Bundo Kanduang hijrah ke Lunang, kenapa masyarakat Minangkabau yang juga meyakini “Cindua Mato” tidak menyebut-nyebut tentang Lunang. Apa mereka ikut juga merahasiakan. Pertanyaan berikutnya adalah, kenapa para Datuk dan Penghulu di Minangkabau tidak menyebut-nyebut Lunang pula. Sedangkan daerah‑daerah lain atau boleh dikatakan semua nagari di Minangkabau itu mereka ketahui asal-usulnya.

Sekarang, rumah gadang Mande Rubiah selalu dikunjungi orang. Baik mereka yang ingin melihat Lunang atau, “jejak” Bundo Kanduang, maupun mereka yang minta obat kepada Mande Rubiah untuk penyakit apa saja. Namun yang masih tetap tinggal sebagai rahasia mungkin;

1. Ranji (silsilah Mande Rubiah) dan tambo tentang Lunang. Kedua sumber ini sudah dijajaki oleh pihak Musium Adityawarman namun Sutan Maruhum belum mau memberikan untuk dipelajari. Se­hingga pihak musium ragu; apakah memang benar ranji dan tambo itu ada.

2. Mungkin karena umur yang masih muda, Mande Rubiah yang seka­rang (bernama Rakina, umur 24 tahun, beranak dua orang laki laki) tidak banyak bicara tentang sejarah keluarganya. Setiap pertanyaan diajukan oleh siapa saja, selalu yang menjawah Maridun familinya. Pak Maridunlah yang lancar dan fasih menu­turkan kisah, sejarah serta kekeramatan Mande Rubiah.

3. Begitu juga obat yang diberikan Mande Rubiah kepada pasiannya. Obat air putih dari sebuah tiang keramat di rumah gadang Man­de Rubiah, bukan Mande Rubiah itu sendiri yang mengambilnya dan ramuannya pun bukan dibuatnya sendiri. Mande Rubiah cukup menyentuh dan memberikan saja kepada pasien. Sedangkan yang membuat ramuan dan mengambil airputih da’ri tiang keramat itu diberikan oleh ayah Mande Rubiah sendiri.

4. Mande Rubiah yang sekarang (menurut pak Maridun) adalah keturunan dan generasi ke tujuh dari Bundo Kanduang. Jika setiap generasi diberi alokasi waktu 50 tahun, maka Bundo Kanduang tentu berada di Lunang 350 tahun yang lampau. Berarti tahun 1578 dari tahun dari sekarang. Dengan demikian, Bundo Kanduang versi Lunang adalah sesudah masuknya Islam ke Minangkabau. Tentu saja keyakinan sebagian orang yang mengang-gap Cindua Mato terjadi sebelum Islam menjadi batal. Atau bisa jadi perjalanan Bundo Kanduang dari Pagaruyung ke Lunang memakan waktu ratusan tahun pula.

5. Kebisuan di kalangan para penghulu di Lunang. Setiap hal yang ditanyakan tentang Mande Rubiah tidak pernah dijawab tuntas oleh para penghulu di sana. Jawaban selesai dengan keterangan Pak Maridun juga. Mungkin hal seperti itu merupakan rahasia., tetapi mungkin sekali sebagai “etik” dalam sebuah nagari tertentu.

“Mande Rubiah” memang tidak dibesarkan masyarakatnya, tetapi dihormati, kata Pak Maridun mengunci persoalan.

Adat di Lunang

Selanjutnya dituturkan Pak Maridun, bahwa Mande Rubiah mempunyai perangkat adatnya 8 orang penghulu. Dan setiap penghulu mempunyai perangkat lagi yang berjabatan sebagai; Pemegang Syarak, Dukun dan Panggao (punggawa, dubalang). Kedelapan penghulu dimaksud adalah ;

1. Suku Melayu Durian penghulunya bernama Dt. Sri Maharajo.

2. Suku Caniago Bungo penghulunya Datuk Ampang Lebih.

3. Suku Caniago Buah, penghulunya Datuk Rajo di Hulu.

4. Suku Melayu Gedang, penghulunya Dt. Rajo Nan Sati.

5. Suku Melayu Kecik, penghulunya Datuk Singa Matahari.

6. Suku Melayu Tengah, penghulunya Datuk Kecik.

7. Suku Melayu Gedang, penghulunya Datuk Mudo.

8. Suku Melayu Kecik, Datuk Tio.

Konon, sebagian besar penghulu itu dulunya berasal dari Sungai Pagu.

Sedangkan jabatan Mande Rubiah sendiri tidak diturunkan atau diwariskan secara patrilineal ataupun matrilineal. Tetapi ja­batan itu turun dengan sendirinya kepada seseorang anggota keluarga rumah gadang itu. Turun dengan sendirinya ini dimaksudkan adalah, jika turunnya kepada laki-laki, maka dia diberi gelar Malin Daulat atau dipanggilkan Lebai. Jika turunnya kepada perempuan diberi gelar Mande Rubiah.

Mande Rubiah yang sekarang menerima gelarnya Mande Rubiah sewaktu berumur 4 tahun, saat kakeknya Lebai Daulat meninggal. Yang turun itu adalah “kekeramatan,” seperti mampu mengobati orang sakit dan sebagainya.

Mengenai pengangkatan penghulu, Lunang punya cara tersen­diri. Mereka tidak perlu memotong kerbau untuk menobatkan seorang penghulu. Cukup dengan selamatan dan menyembelih seekor kambing dan memberitahukannya kepada Mande Rubiah. Oleh karena itu, gelar kepenghuluan di Lunang terus berkelanjutan. Tidak seperti penghulu-penghulu di Luhak ­Nan Tigo misalnya; persyaratannya harus memotong kerbau dan membutuhkan banyak biaya. Akibatnya banyak gelar adat yang disimpan/dilipat.

Lunang sebagai Problematik Sosial

Terbukanya Lunang dari keterasingan, memudahkan masyara­katnya melihat daerah lain. Apalagi dengan adanya transmigrasi di Lunang I, Lunang II dan Lunang III.

Jika dicoba sesaat merenungi Lunang dan kemudian memban­dingkannya dengan nagari-nagari di Luhak Nan Tigo atau di Rantau Minangkabau yang lain, Lunang benar-benar memberlukan uluran tangan dari saudara-saudaranya itu. Sampai sekarang misalnya, hanya satu atau dua orang dari Lunang yang mencapai pendidikan tinggi seting­kat sarjana muda. Begitu juga anggota masyarakat Lunang, membisu, diam, tersenyum getir dalam tubuh kurus mereka yang kepayahan men­cari sesuap nasi.

Para ibu-ibu duduk di halaman, di tangga rumah kayu, hanya memakai kutang, anak-anak bermain telanjang. Hanya bila bepergian saja mungkin mereka berpakaian yang agak pantas. Dalam soal agama, boleh dikatakan semua masyarakat Lunang masih patuh menjalankan ibadat secara tradisional, suluk dsbnya.

Barangkali, inilah resiko yang harus ditanggung oleh se­buah nagari “yang jauh” dari pusat pemerintahan daerah.

Sebagai “bahan” pembicaraan, Lunang akan menarik karena banyak tantangan yang harus dihadapi. Kemampuan individual atau SDMnya mungkin, bagian yang menentukan untuk kebangkitan sebuah masyarakat desa. Namun tak pula dapat kita menutup mata, “semangat” mereka untuk hidup. Tanpa tolehan pemerintah, mereka berusaha menahan erosi arus sungai yang melanda desanya. “Pak, kami perlu beronjongan untuk pinggir sungai supaya rumah-rumah kami tak digusur arus”, kata salah seorang dari mereka dalam pertemuan kami dengan para penghulu itu.

Selanjutnya, apa yang menjadi persoalan dalam kehidupan adatnya perlu pula pembuktian. Jika benar kuburan itu adalah ku­buran manusia, setidak-tidaknya harus dilakukan penelitian yang cermat dan jika perlu dilakukan eskavasi. Atau dijelaskan secara historis dan ilmiah berapa umur batu-batu yang berada di sana. Tanpa itu, masyarakat Lunang akan tetap berada dalam ke­terbelakangan, berada dalam khayalan-khayalan historical, dan tentu saja semua itu merontokkan semangat untuk menantang hidup yang ra­sional di hari esok.

Jika berlaku pepatah Minang yang mengatakan; bak urang badunsanak, sakik surang sakik baduo, misalnya, “sakit” Lunang ini dapatkah dirasakan oleh saudaranya di nagari-nagari yang lain. Pembuktian akan hal itu memang perlu waktu. Tapi jika rentang waktu untuk sebuah pembuktian terlalu lama, cerita tidak hanya lagi menjadi mitos saja, tetapi sudah meningkat menjadi “keyakinan”

Akankah sejarah menyalahkan masyarakat yang demikian, seperti masyarakat di Lunang ini, misalnya ?

Padang, April 1988

(Wisran Hadi).


Responses

  1. .waALLAAHUALAMBISAWAB..Hanya tuhan sajalah yg mengetahui.tetapi sebagai hamba tuhan,kita wajib menghormati,.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: