Oleh: Wisran Hadi | 17 November 2008

MURID-MURIDNYA ABUNAWAS

Di dalam kisah Seribu Satu Malam ada seorang tokoh yang paling suka memamerkan kehebatannya dihadapan raja dan rakyat, Abunawas namanya. Dikatakannya kepada raja, dia sanggup memindahkan sebuah bangunan besar seorang diri, asal saja orang lain mau meletakkan bangunan itu di punggungnya. Karena tak seorangpun yang sanggup meletakkan bangunan itu ke punggung Abunawas, maka kehebatan Abunawas semakin dipuji raja dan menjadi buah mulut rakyat banyak.

Kehebatan Abunawas itu juga mengilhami tokoh lain, seperti Nasyruddin yang kemudian menjadi hebat karena terkenal suka menggelincirkan logika. Dia terpaksa mencari cincinnya di tengah jalan raya, padahal cincinnya hilang di sebuah kamar yang gelap. “Sengaja kucari di tempat yang terang, karena di dalam kamar itu gelap sekali,” katanya ketika orang bertanya kenapa dia mencari cincin yang hilang itu di tempat yang terang.

Abunawas ternyata banyak memberikan pelajaran kehebatannya kepada pejabat-pejabat atau penguasa kita sampai hari ini. Cara murid-murid Abunawas itu mengatasi sesuatu persoalan yang terjadi di tengah masyarakat selalu berlawanan dengan logika. Misalnya, ketika prostitusi semakin hari semakin menjadi-jadi murid-murid Abunawas itu bukannya berusaha mengantisipasi prostitusi yang terus berkembang, tetapi justru menyediakan alat bagi mereka yang melakukan prostitusi secara aman dengan membuat ATM Kondom! Oleh karena belum ada undang-undangnya, majalah Playboy harus diterima kehadirannya. Soal protes masyarakat itu kan bak ibarat pepatah “anjing menggonggong maksiat terus maju”.

Ketika PLN tidak mampu menagih rekening ke kantor-kantor pemerintah, murid-murid Abunawas itu tidak berusaha secara gigih melakukan tagihan atau mengajukan penunggak itu ke pengadilan, tetapi menaikkan TDL. Tak sampai di situ, merekapun minta tambahan subsidi pula karena menganggap rugi terus.

Ketika seorang murid Abunawas gagal mengatur kemacetan lalu lintas di dalam kota, bukan kemacetan itu yang diatasi, tetapi mendirikan mall dan supermarket. Walaupun ternyata kemudian, justru karena adanya mall dan supermarket itu pula kemacetan bertambah-tambah macet.

Ketika seorang murid Abunawas bicara tentang demam berdarah, dia bukan berusaha meningkatkan kebersihan kota, tetapi memerintahkan anak-anak sekolah bercelana panjang. Dengan alasan agar kaki anak-anak itu tidak digigit nyamuk siang hari. Bagaimana dengan anggota tubuh atau orang lain yang bukan anak sekolah, tidaklah menjadi persoalan benar.

Ketika seorang murid Abunawas yang kebetulan menjadi tokoh pejuang gender bicara tentang peningkatan dan pemberdayaan perempuan di Sumatera Barat, dia mengaitkan antara kenyataan sosial di lapangan dengan tataran ideal budaya sebuah masyarakat. Katanya runsing, kalau memang sudah ber ABS-SBK, kok masih ada juga kekerasan terhadap perempuan? Sama halnya dengan semasa orde baru dulu, orang-orang sudah ditatar P4 kok masih banyak juga terjadi korupsi. Yang mereka salahkan ajaran ABS-SBK, penataran P4 nya tetapi bukan oknumnya. Mereka berusaha menggeneralisasikan kasus perkasus. Menurut mereka itu adalah kajian ilmiah.

Ketika seorang murid Abunawas yang lain memamerkan bagaimana cara hidup hemat BBM, bukan penggunaan BBM gratis untuk aparat pemerintah yang dikuranginya tapi dia sengaja mengundang wartawan untuk memotretnya naik sepeda ke kantor. Diiringi dibelakangnya oleh mobil dinasnya sendiri. Besoknya dia naik mobil lagi ke mana-mana.

Ketika sekolah-sekolah sedang berada dalam keadaan morat marit, beberapa murid Abunawas berkeinginan untuk membangun sebuah pesantren yang terbesar di Asia Tenggara. Bukan membantu sekolah yang morat marit itu yang dilakukannya.

Ketika murid-murid Abunawas itu gagal mengurus uang dan perbelanjaan, dia bukannya berjuang agar uang itu segera didapatkan tetapi memutuskan untuk meniadakan sebuah pesta rakyat yang sudah diwariskan turun temurun. Tapi karena rakyat sudah bosan dengan gaya muridmurid Abunawas itu, rakyat bersikeras untuk terus melakukannya. Hebatnya, murid-murid Abunawas dengan pongahnya berkata, “kami akan berikan perlindungan hukum untuk melaksanakan acara itu”.

Banyak sekali murid-murid Abunawas itu sekarang dan mungkin akan semakin banyak lagi. Jika cara berpikir seperti murid-murid Abunawas itu tidak segera dibasmi, negeri ini akan dijuluki Negeri Seribu Satu Macam karena sang guru sudah punya negeri yang bernama Seribu Satu Malam.

Ahlan wasahlan!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: