Oleh: Wisran Hadi | 17 November 2008

ORANG JEMPUTANnya Emeraldy Chatra

Bedah buku ORANG JEMPUTANnya Emeraldy Chatra

Oleh:

Wisran Hadi

I.

Hampir semua orang Minang kini kapadaran, tidak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan terhadap perubahan sosial yang sangat besar, terutama dalam masalah regulasi seksualitas dan poligami yang mempunyai dampak sangat mencemaskan terhadap perilaku, akhlak, etika dan moral orang Minangkabau itu sendiri terutama pimpinan-pimpinan kemasyarakatannya baik formal maupun informal. Sehingga nilai-nilai budaya dan agama yang tertera dalam buku-buku tentang adat dan budaya Minangkabau yang bertebaran selama ini, seakan sudah menjadi masa lalu yang tidak punya kaitannya lagi dengan realita objektif hari ini.

Emeraldy Chatra (EC) seorang peneliti sosial yang cerdas dan jeli dari FISIP UNAND telah mengangkat masalah tersebut dengan segala dampak dan kompleksitasnya dalam buku Orang Jemputan – Regulasi seksual dan poligami di Minangkabau. Sebuah buku yang berisi tidak hanya data dan informasi menarik dan aneh-aneh, tetapi sekaligus EC memperlihatkan banyak sekali tikungan-tikungan persoalan yang ditawarkan kepada pembacanya. Sementara di kiri kanan setiap tikungan yang dipaparkan, telah siap pula jurang-jurang menganga yang dapat menjebak siapa saja untuk bicara dalam berbagai pemahaman, disiplin ilmu dan penafsiran-penafsiran lainnya.

EC memulai penawarannya dari beberapa titik persoalan yang jika dihubungkan satu sama lain akan menjadi sebuah perspektif bangunan yang mengarah kepada pertanyaan utama; apa salahnya kalau kita menoleh kepada sesuatu yang pernah dilakukan masyarakat sebelumnya, jika memang sesuatu itu dapat menjadi sitawa sidingin terhadap apa yang mencemaskan kita hari ini?

II.

Tradisi Orang Jemputan (OJ) menurut EC bukanlah sesuatu yang baru dalam masyarakat Minangkabau. Bahkan kebiasaan itu mungkin telah berjalan semenjak pra Islam. Seterusnya tradisi OJ dilegitimasi oleh ajaran Islam dengan batasan-batasan tertentu. Tradisi OJ juga mengalami pasang surut disebabkan berbagai masalah politik dan ekonomi. Namun kemudian tradisi OJ seakan tercerabut dari akarnya akibat berbagai persoalan internal di kalangan para pemuka adat dan pemuka agama dan pengaruh serta tekanan-tekanan politik.

Dengan bahasa yang lancar dan pemikiran yang sistematik, EC

telah memaparkan berbagai data dan informasi yang kadang-kadang

dapat membuat kita tapurangah. Ternyata yang merusak tatanan

adat dan budaya Minangkabau itu adalah orang Minangkabau itu

sendiri. Sehingga tradisi OJ yang padamulanya merupakan solusi

terhadap timbulnya masalah pelacuran, kemudian dibenci sebagai

perilaku yang tidak bertanggung jawab.

Apa yang didengung-dengungkan hari ini tentang keterpurukan posisi perempuan Minangkabau, menurut EC, semua itu adalah tipudaya untuk meraih simpati beberapa organisasi atau tokoh perempuan. Padahal semua itu merupakan perpanjangan tangan dari liberalisme yang sengaja didatangkan untuk menghancurkan budaya-budaya etnik tertentu di Asia, sekaligus untuk penghancuran nilai-nilai agama dan nilai-nilai budaya. Plurasime, globalisasi, dsbnya adalah pisau-pisau bermata dua untuk penghancuran dan pengaburan nilai-nilai.

III.

Buku OJ yang ditulis EC disusun dalam rentang waktu yang cukup panjang, empat tahun lebih. Boleh jadi buku tersebut dianggap sebagai sebuah buku yang membuka borok sosial masyarakat Minangkabau dari satu periode ke periode berikutnya, yang menyebabkan banyak orang tidak menyukainya, terutama tokoh-tokoh konservatif dan kaum feminis radikal. Ketidaksukaan akan timbul disebabkan EC pada setiap tahapan persoalan yang dikemukakan selalu menyuguhkan persoalan sampingan yang dapat dijadikan lagi sebagai wacana untuk munculnya persoalan berikutnya yang arahnya mengkritisi keterlanjuran masuknya paham monogami yang dikukuhkan oleh pemikiran agama luar Islam dan pendidikan barat.

Begitu juga agaknya, pihak kaum adat yang masih berkutat pada paradigma pemikiran legendaris, akan sangat tidak menyenanginya karena ada semacam pertanyaan yang diajukan EC dan bahkan dapat dianggap sebagai sesuatu yang sangat kontroversial; jika Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah tidak relevan lagi dengan kenyataan sosial masyarakat Minangkabau hari ini, kenapa tidak ada pemikiran untuk mencari ganti yang lebih tepat lagi. Atau, kaum perempuan (terutama istri-istri) harus rela menerima poligami untuk menghindari setiap suami menjadi menipu atau menjadi hipokrit dalam kehidupan perkawinannya. Yang mungkin lebih menyakitkan kaum perempuan terhadap salah satu pernyataan EC adalah; bahwa yang membuat perempuan teraniaya adalah kaum perempuan itu sendiri. Bahwa, monogami adalah produk agama luar Islam untuk menusuk jantung keIslaman orang Minangkabau.

Akan tetapi, buku ini juga akan mempunyai banyak pembaca yang menyukai. Dengan cerdiknya EC menggiring pembaca agar lebih kritis terhadap persoalan-persoalan yang tengah dihadapi masyarakat Minangkabau hari ini. Penawaran EC untuk menerima poligami sebagai solusi terhadap maraknya prostitusi, sebagai pembatas agar pemimpin-pemimpin masyarakat tetap berada dalam koridor akhlak dan moral, karena semua kerusakan moral berpunca dari perilaku pemimpinnya. Dengan tegas EC menulis, bahwa operasi Pekat yang dilakukan aparat pemerintah ke hotel-hotel atau menangkap pasangan-pasangan bercumbu di taman-taman bukanlah tindakan yang edukatif dan bahkan tidak produktif sama sekali. Sama halnya dengan teriakan-teriakan kaum feminis terhadap pemberdayaan perempuan, yang semua itu tak lebih adalah dusta sosial yang justru dapat menestapakan kaum perempuan itu sendiri.

Mungkin apa yang dikatakan EC benar, tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk pihak lain memberikan koreksian kembali. Penghargaan saya yang tulus kepada EC yang telah memberikan berbagai alternatif pemikiran, sekaligus mungkin juga dapat menggelincirkan pikiran pembacanya.

*

Catatan

Tulisan ini (tentu saja) hanya ditujukan kepada mereka yang telah membaca buku ORANG JEMPUTAN Regulasi Seksualitas dan Poligami di Minangkabau oleh Emeraldy Chatra.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: