Oleh: Wisran Hadi | 17 November 2008

Pengantar buku Fachrul Rasyid HF

PENGANTAR dari WISRAN HADI

Untuk buku;

Refleksi Sejarah Minangkabau

Dari Pagaruyung ke Semenanjung

Sejarah sebagai sebuah pohon kearifan yang terus berbuah lebat untuk dipetik guna mengarifi kehidupan hari ini merupakan bagian terpenting dari catatan perjalanan hidup dan kehidupan manusia tak henti-hentinya ditulis. Baik sejarah itu ditulis dalam bentuk karya ilmiah, ditulis dalam bentuk karya sastra, atau ditulis dalam bentuk karya jurnalistik. Satu sama lain dari penulisan sejarah demikian mempunyai berbagai-bagai kelebihannya.

Penulisan sejarah dalam bentuk sebuah karya ilmiah, mengikuti berbagai tahapan; mulai dari cerita-cerita masyarakat setempat, asumsi-asumsi sementara, menetapkan teori dan titik pandang terhadap objek sejarah, dilanjutkan dengan metode-metode penelitian serta berbagai perlakuan terhadap ketersediaan data, bukti-bukti tertulis atau tidak tertulis, persepsi masyarakat lingkungan dan bermuara pada suatu kesimpulan. Semua aspek disigi, terkadang penulisan tersebut menjadi kehilangan misi. Penulisan begini secara ilmiah dapat dipertanggung jawabkan, tetapi terkadang terjebak oleh teori-teori kesejarahan yang dipakai penulisnya dan sulit untuk mengaitkannya dengan kenyataan yang ada. Sering terjadi, sejarah yang ditulis dengan cara demikian tinggal sebagai kronologi dari catatan-catatan perjalanan atau peristiwa. Seakan, tidak terlihat benang merah masa lalu itu dengan kenyataan hari ini.

Penulisan sejarah dalam bentuk sebuah karya sastra bertolak pada keterkaitan peristiwa-peristiwa dengan latar belakang budaya dari tokoh-tokoh yang acting dalam untaian sebuah peristiwa sejarah. Dalam karya sastra, tokoh-tokoh sejarah tersebut manjadi lebih manusiawi; punya berbagai rasa, kecenderungan, kenaifan dan keunggulan-keunggulan yang luar biasa. Shakespiere penulis drama Inggeris legendaris itu telah menulis Cleopatra ratu Mesir, Hamlet pangeran dari Denmar, Machbeth dan beberapa karya sastranya yang lain, kemudian Jean Giredaux penulis drama Prancis kontemporer telah menulis Perang Troya Tidak Akan Meletus, dan semua itu berlatar belakang sejarah. Diikuti kemudian hari oleh sastrawan Minangkabau dengan menulis karya sastra tentang Imam Bonjol, Tuanku Koto Tuo, Yang Dipertuan Sembahyang dan banyak lagi. Jika boleh dijejer; maka penulisan sejarah secara ilmiah membuat kita dapat memahami berbagai peristiwa dan keterkaitannya satu sama lain, sedangkan penulisan sejarah dalam karya sastra membuat kita tahu tentang perilaku manusia yang telah membuat peristiwa-peristiwa itu terjadi.

Sedangan penulisan sejarah dalam bentuk sebuah karya jurnalistik mengikuti pula berbagai tahapan dan metode. Penulisan begini mengikuti metode penulisan aktual dengan prinsip dasar jurnalistik 4W1H (apa, di mana, bagaimana, mengapa dan siapa). Penulisan sejarah dalam bentuk karya jurnalistik bertolak dari peristiwa hari ini kemudian mencarikan sandaran atau background kesejarahannya, kemudian menarik benang merahnya dari titik-titik masa lalu itu, sehingga bila garis-garisnya diperpanjang menjadi bangunan peristiwa hari ini. Artinya, penulisan begini, dimulai dengan peristiwa hari ini dan ditutup dengan kejadian-kejadian masa lalu. Prinsip sebab akibat menjadi begitu penting, sehingga tidak jarang penulisan sejarah dalam karya jurnalistik membuat pembacanya jadi pulang balik antara persoalan hari ini dengan peristiwa masa lalu. Yang tidak dapat dihindari dari penulisan begini, adalah subjektif penulisnya. Subjektivitas dimaksud mencangkup; visi dan misi penulisnya, komentar dan kritik terhadap berbagai persoalan. Bisa jadi, penulisan begini seakan menghindar dari bahan mentah kesejarahan itu sendiri dan lebih menekankan persoalan pada; sekarang begini, apa kaitannya dengan masa lalu.

Buku Refleksi Sejarah Minangkabau Dari Pagaruyung ke Semenanjung yang ditulis Fachrul Rasyid HF adalah sebuah karya jurnalistik murni. Berangkat dari persoalan-persoalan hari ini dengan prinsip-prinsip dasar 4W1H kemudian menarik benang merahnya ke belakang, ke peristiwa-peristiwa masa lalu. Sehingga kita segera memahami bahwa apa yang terjadi hari ini, tetap punya keterkaitan dengan masa lalu. Artinya, masa lalu tidak tinggal sebagai masa lalu saja, dan hari ini tidaklah hari ini saja. Dalam analog yang lebih jauh adalah; Fachrul Rasyid tidak memutus hubungan antar peristiwa, tidak memutus hubungan antara sebab dan akibat, atau dengan redaksi yang lebih tajam lagi; Fachrul Rasyid tidak memutus hubungan antara Khalik dengan makhluk, antara pencipta dengan ciptaannya. Sebuah konsep dari sikap kepenulisan yang agamis sekali.

Kekhasan dari Refleksi Sejarah Minangkabau Dari Pagaruyung ke Semenanjung terlihat dari urutan peristiwanya. Fahcrul Rasyid memulainya dari peristiwa-peristiwa aktual yang terjadi di Istano Silinduang Bulan Pagaruyung, dan berakhir dengan berbagai peristiwa di Negeri Sembilan – Semenanjung. Peristiwa-peristiwa hebat lainnya yang terjadi antara kedua lokasi peristiwa tersebut disuguhkan sedemikian rupa sehingga pembaca seperti mengikuti sebuah peta perjalanan; dari istana raja, sampai ke luhak nan tigo (daerah inti Minangkabau), rantau pesisir barat, sampai ke Minangkabau timur, Selat Malaka, Johor dan Negeri Sembilan. Oleh karena itu, berbagai peristiwa kontemporer dari dearah-daerah itu ditulis dengan gaya khas Fachrul; analisa jurnalistiknya yang tajam dengan data-data terpercaya, terbuka yang disampaikan dengan bahasa yang lugas dan jelas. Hal semacam itu semakin meyakinkan kita bahwa dia tidak berlagak seperti seorang ilmuwan atau sejarawan, tidak petentengan sebagai seorang sastrawan, tetapi dia tetap kukuh berdiri sebagai seorang wartawan.

Selain itu, Fachrul Rasyid juga menyuguhkan berbagai peristiwa yang mungkin luput dari catatan penulis sejarah. Terutama pada beberapa kejadian yang dialami Sukarno selama di Sumatera Barat, keberadaan masjid raya Ganting, keterlibatan tentara Gurka dalam membantu TRI (Tentara Rakyat Indonesia), bagaimana Belanda menata Padang sebagai sebuah kota pantai, kemudian dilecehkan oleh pihak penguasa yang datang kemudian dan beberapa persoalan lain yang dapat membuat merah telinga mereka membacanya. Tapi itulah Fachrul Rasyid, seorang jurnalist Indonesia terkemuka, wartawan senior majalah Gatra, yang punya komitmen yang jelas pada kebenaran sejarah, kesucian agama dan keagungan budayanya.

Refleksi Sejarah Minangkabau Dari Pagaruyung ke Semenanjung walaupun sebagai sebuah buku format dan ukurannya kecil, tetapi isinya mempunyai jangkauan yang jauh sampai ke relung-relung pemahaman kita yang paling dasar. Kita memerlukan penulisan sejarah seperti ini; memberangkatkan sejarah mulai dari peristiwa-peristiwa aktual sebagai bagian dari peristiwa masa lalu. (Wisran Hadi)

***

Padang, 23 Agustus 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: