Oleh: Wisran Hadi | 17 November 2008

TAMAN BENDERA DI TENGAH KOTA

Taman bunga di tengah kota adalah sesuatu yang selalu diinginkan setiap warga karena mereka ingin dan mendambakan keindahan, kesejukan dan kesegaran yang alami, natural. Namun, taman bendera di tengah kota, adalah suatu yang menyesakkan pemandangan, tidak akan dapat menciptakan kesegeran kepada masyarakatnya. Kalaupun tercipta suatu keindahan dari susunan bendera, itupun keindahan yang tidak natural, sengaja dibuat bukan untuk kepentingan kesejutan dan keindahan, tetapi untuk kepentingan-kepentingan lain yang tidak ada kaitannya dengan kesehatan, kesejukan dan keindahan alam.

Taman bendera itulah kini yang marak muncul pada setiap simpang, pada setiap jalan-jalan yang ramai dilalui. Bahkan Taman bendera itu telah mengalahkan dan mengusik keindahan taman kota yang pada dasarnya belumlah indah benar. Apalagi kalau ditambah dengan umbul-umbul iklan, neon sign iklan yang berderet-deret sepanjang jalan, maka jadilah semua itu sebagai sesuatu yang tampak carut marut.

Bagi mereka yang memiliki bendera, apakah itu pemiliknya partai, perusahaan, biro jasa periklanan, tentulah tidak perlu benar mereka memikirkan persoalan keindahan. Asal saja semua permohonan pemasangan benda-benda tersebut dikabulkan oleh Pemerintah Kota, maka mereka akan buat dan dirikan apa yang mereka kira bermanfaat untuk kepentingannya.

Marilah kita berjalan-jalan sebentar pada sepotong jalan utama kota Padang, Jalan Khatib Suleman. Mulai dari Simpang Oke (simpang di depan kantor DPRD) sampai ke simpang Telkom), kita akan melihat bukti dari sebuah penataan kota yang carut marut itu dalam masalah pemasangan iklan, bendera, umbul-umbul dan neon-sign. Konon, jalan itu adalah jalan protokol, jalan yang akan dilalui tamu-tamu dalam dan luar negeri. Tetapi di jalan itu pulalah bermunculan taman bendera, taman umbul-umbul perusahaan, yang semuanya benar-benar menyiksa kita untuk lewat di sana.

Keindahan yang didambakan bagian tertamanan Dinas Tata Kota dengan menanam tanaman, bunga-bunga, lampu jalan, lamu hias, sirna, rusak dan seakan dizalimi oleh taman bendera dan umbul-umbul. Kita tidak lagi melihat keindahan itu sebagai sebuah tatanan yang telah dikerjakan dengan baik, tetapi kita jadi terkesan; manakah yang lebih dipentingkan oleh Pemko Padang? Keindahan yang dipeliharanya atau taman bendera yang hanya untuk kepentingan perusahaan pemasang iklan dan partai-partai politik?

Pemilu masih beberapa bulan lagi dilaksanakan. Selama rentang waktu itu, semua partai akan jor-joran memasang bendera mereka pada jalan-jalan yang ramai dilalui. Pemko Padang dan Pemko kota-kota lainnya tentu akan kewalahan dengan desakan partai-partai agar mengizinkan mereka memasang benderanya.

Masyarakat yang selama ini hidup dan bernafas di kota-kota tersebut, tidakkah selayaknya juga harus dipertimbangkan kepentingannya. Kenapa harus kepentingan partai-partai dan iklan-iklan perusahaan itu saja yang dipentingkan? Yang temporer sifatnya? Begitu sudah miskinkah pemko, sehingga lebih mengharapkan uang masuk dari perizinan pemasangan iklan dan bendera daripada mengutamakan kesejahteraan dan kenyamanan warganya?

Dan kepada angku-angku pengurus partai, jangan kira dengan pemasangan bendera yang ribuan jumlahnya akan serta merta partai angku-angku menjadi partai yang akan dipilih oleh pemilih pada pemliu mendatang? Sosialisasi partai melalui bendera-bendera-bendera sagadang aleh meja itu dengan tonggak-tonggaknya yang bisa rebah dicabut anak-anak adalah cara dari sistem sosialisasi dalam teori komunikasi yang sudah kadaluarasa. Maysrakat cerdas tak akan pernah kagum dengan sebuah partai melalui bendera-benderanya. Namun, jika partai-partai tetap akan menzalimi kenyamanan masyarakat dengan bendera-bendera demikian, percayalah, akan terjadi sesuatu yang kontra produktif nantinya.

Masyarakat pemilih saat ini sudah tidak mungkin lagi dibodohi. Bendera tidak menimbulkan pengertian yang utuh terhadap sesuatu yang dibenderai. Bendera sudah tidak lagi berbunyi bagi masyarakat, terkecuali bagi perusahan-perusahaan pembuat bendera, sablon-sablon, dan percetakan digital. Bendera-bendera memang pernah dipergunakan untuk kepentingan politik terutama negara-negara otoriter, komunis dan sosialis.

Jadinya, kita akan dapat indikasi kebodohan dan otoritrian suatu kekuasaan pada bendera itu; semakin banyak bendera dipajang sebuah partai, semakin besar kecenderungan partai itu memperbodoh masyarakatnya. Partai besar, produksi bermutu, tak memerlukan bendera-bendera berjibun untuk mengkampanyekan dirinya. Masyarakat sudah lama tahu, mana partai sesungguhnya dan mana yang patai!

Ketika kemiskinan belum bisa kikis dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat lebih memilih patai daripada partai. Betapun busuk dan pahitnya, patai halal untuk dimakan. Sebaliknya, betapapun indahnya janji dan rencana sebuah partai, partai tetap menjadi sebuah alat kekuasaan yang menjerat masyarakat untuk kepentingan kekuasan itu sendiri.

Taman Bendera dalam kota adalah sebuah ironi; saat masyarakat mendambakan kesehatan jiwa dengan adanya taman-taman kota yang indah, sejuk dan menyegarkan dengan bunga aneka warna dan tanaman-tanaman yang hijau rimbun, pada saat itu mereka disakiti, diteror dan ditakut-takuti dengan Taman Bendera dari sekian puluh partai yang saling berebut kekuasaan.

Sayangnya, walikota kita lebih memihak pada partai dari pada masyarakat yang telah memilihnya dulu dalam pilkada.

Kapankah Taman Bendera bisa berbunga? Tak akan pernah.***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: