Oleh: Wisran Hadi | 17 November 2008

UTAKNYO PACALIAK AN KA KAMI LAI

Memajang paspoto bewarna ukuran raksasa sepanjang jalan, pada setiap simpang, bengkolan, bahkan sampai ke pinggir pagar kuburan, tidak otomatis akan menjadi perhatian yang menguntungkan dari masyarakat yang dituju dengan bentuk sosialiasi wajah diri demikian. Justru membuat masyarakat bertanya-tanya; sebelum ini, di manakah makhluk-makhluk yang terpambang itu berada? Adakah mereka berada di sekitar kita, di kampung kita, di negeri kita atau dalam kehidupan kita? Bahkan sudah ada yang menjurus kepada keadaan yang anti klimaks. Muak dengan foto-foto berwajah angker dan seram itu.

Kalaupun gambar orang pada paspoto besar full color itu berwajah manis, kemayu atau tersenyum, namun mata, pandangan, pelototan dari wajah di foto itu mengisyaratkan sesuatu yang misteri kalaulah tidak mau mau dikatakan licik, galir, dan bahkan mengerikan dengan menyisakan pertanyaan; apakah nanti setelah mereka terpilih tidak seperti orang-orang nan taralah yang telah terlanjur dipilih seperti empat tahun sebelum ini?

Katanya, setiap orang tidak mau kehilangan tongkat dua kali. Namun, ungkapan kehilangan tongkat itu, kan khusus bagi orang-orang tua yang selalu berjalan pakai tongkat. Tapi bagaimana dengan mereka yang berjalan tidak pakai tongkat. Tentu alternatif lain lagi yang mereka pilih; golput.

Masih mending kalau yang dipajang itu adalah foto-foto bintang film, foto model, ratu-ratuan atau artis lainnya. Selain foto itu tidak berpretensi untuk mengikat kita dengan sebuah opini; pilihlah saya, artis atau bintang filem yang dipajang itu wajahnya pun cantik, senyumnya menawan, laki-lakinya ganteng, berkarakter. Artinya tidak merusak pandangan dan citarasa serta tidak menurunkan selera makan kita.

Tapi bagaimana dengan foto-foto besar yang kini berserakan sepenuh negeri di seantero Sumatera Barat ini? Sudahlah foto-foto itu merekam wajah-wajah yang pretensius, sekaligus juga mencerminkan arogansi-arogansi tersembunyi. Apalagi di bawah foto-foto itu dilengkapi dengan embel-embel sederetan gelar akademik yang tidak ada kaitan keilmuannya dengan keterpajangan foto-foto itu. Sehingga saya tidak bisa memaharahi seorang ibu yang berciloteh dalam telepon; E, pak! Baa kok buruak-buruak se kini poto bintang pilem awak? Apo pilemnyo tu? Bilo Mainnyo tu? Dan seterusnya..

Yang diperlukan masyarakat umum dari semua insan yang akan maju dalam pemilihan anggota legislatif yang akan datang, bukanlah lagi pembodohan-pembodohan, tetapi pencerahan. Pilkada-pilkada yang baru lalu telah memperbodoh masyarakat dengan janji-janji sang calon yang tidak dapat dipacik, apakah mereka benar-benar akan melaksanakan janjinya nanti atau tidak. Janji (menurut mereka adalah program) tidak dapat diuji kelayakannya dan kepatutannya dalam pelaksanaannya. Sehabis pilkada-pilkada pembodohan itu selesai, selanjutnya (untuk beberapa bulan mendatang sampai pemilu) masyarakat diserang lagi dengan hal yang sama; janji-janji, ditambah foto dan gelar-gelar akademik yang tidak relevan.

Agak hati kita, pemajangan foto-foto makhluk yang tidak jelas di mana dia, bagaimana pikirannya, bagaimana sikap dan komitmennya terhadap kebangsaan ini, terhadap keberpihakannya kepada masyarakat ini, simpati dan empatinya terhadap kemiskinan ini perlu dipertanyakan kembali. Apakah mereka sedang melakukan eksebisi fotografi atau mampalagak an bara banyak pitih dalam saku?

Masa pemilihan calon legislatif masih panjang. Mulai dari saat sini, sebaiknya para calon itu mensosialisasikan pemikiran-pemikirannya, gagasan-gagasannya, analisa-analisanya secara tertulis. Mungkin dalam bentuk diskusi terbuka, tulisan dan karangan-karangan di berbagai mass-media. Masyarakat memerlukan pencerahan, dengan sesuatu yang harus tahan uji dan harus diuji.

Akan tetapi kalau para calon itu masih juga bertahan dengan bahasa lisannya, semua itu tak lebih dari ota gadang para penganggur yang kini sedang mengintai sebuah pekerjaan terhormat; jadi anggota dewan. Gaji gadang, tingga di Jakarta, sakali-sakali pulang kampuang sebagai turis atau sinterklas.

Sebelum tulisan ini ditutup, saya baru saja menerima telepon dari seorang ibu yang sewot terhadap pembodohan melalui foto-foto itu; E, pak! Kok bantuak urang-urang gadang tu kan lah samo-samo tahu awak. Utaknyo pacaliak an ka kami lai! Jaan-jaan beko kami mamiliah urang nan lai bapakalo tapi indak bautak!

Astagfirullah! Terlalu benar si ibu itu.

Maafkan saya. ***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: