Oleh: Wisran Hadi | 23 November 2008

MEMBONSAI KEPAHLAWANAN MOH. NATSIR

Komentar utk Harian Singgalang, Senin 24 Nov.2008

Oleh:

Wisran Hadi

Ada dua imej (hantu gadang) yang bergetayangan dalam kepala sebagian besar tokoh politik baik di Sumatera Barat atau di luarnya, baik yang bercokol di dalam partai atau di luarnya, terhadap ketokohan Moh. Natsir dalam kaitan penghormatan yang diberikan negara kepada beliau sebagai pahlawanan nasional.

Pertama, dengan resminya Moh.Natsir dinobatkan sebagai pahlawan nasional, momentum tsb. dianggap sebagai kemenangan kelompok Islam, apalagi bila mereka mempertajamkan englenya; kemenangan Masyumi. Sebuah partai besar penuh wibawa yang dengan paksa disuruh membubarkan diri oleh sebuah tirani kekuasaan sekuler dan anti agama. Kini sosok-sosok bayangan partai itu akan segera bangit di belakang bayangan tokoh utamanya yang telah diresmikan sebagai pahlawan nasional. Sekaligus pula kebangkitan ini dianggap dapat memberikan ”nafas baru” bagi partai-partai Islam untuk menanggalkan selimut jumudan arogansi kekuasaannya.

Kedua, dengan resminya Moh.Natsir diresmikan sebagai pahlawanan nasional, dianggap pula sebagai “pembenaran” atau “pengakuan” terhadap keberadaan perjuangan PRRI. PRRI tidak akan lagi dianggap sebagai sebuah pemberontakan sebagaimana yang terus dilansir dan dihembus-hembuskan pihak-pihak tertentu dalam sebuah kerangka besar; pembunuhan karakter tokoh-tokoh Indonesia terpenting. Pemberontakan harus direvisi istilahnya menjadi gerakan, bukan pemberontakan. Gerakan masyarakat Sumatera Barat untuk tetap berada dalam Persatuan Indonesia, bukan Kesatuan Indonesia.

Kedua-dua hantu gadang yang “menakutkan” pihak-pihak tertentu itu, menyebabkan timbulnya berbagai reaksi dengan berbagai variasi pula. Agar kebangkitan-kebangkitan tersebut tidak bangkit, usaha pencegalan terhadap kebangkitan tersebut yang dianggap usaha yang “ramah lingkungan” adalah dengan melakukan sebuah modus baru pula; membonsai kepahlawanan Moh.Natsir.

Pembonsaian tersebut dapat dilihat dari beberapa indikasi, di antaranya; kecenderungan beberapa partai tertentu mengklaim Moh.Natsir sebagai tokoh partai mereka. Ucapan selamat yang memenuhi berhalaman-halaman surat kabar merupakan bukti tak terbantah dari tindakan tersebut. Padahal sejarah mencatat, Moh.Natsir pendiri Masyumi, dan tidak ada partai lain yang didirikan beliau selain itu. Moh.Natsir mendirikan partai, bukan berlindung di balik kebesaran sebuah partai. Moh.Natsir adalah tokoh milik Indonesia, milik Dunia, dan sangat konyol kalau itu hanya diklaim sebagai milik beberapa partai gurem oleh segelintir politisi amatiran atau oportunis.

Pembosaian tersebut juga dapat dilihat dari tindakan sebagian masyarakat dan tokoh-tokoh politik tertentu untuk memperkecil ruang lingkup (skop) kepahlawanan Moh.Natsir. Seandainya, ini hanya andaian; Basril Djabar memperingati hari Pahlawan di Subarang Padang (kampungnya Basril Djabar), yang juga punya keterkaitan jelas dengan peresmian penobatan Pahlawan Nasional Moh.Natsir, tentu masyarakat sekitar akan bertanya (hanya bertanya, hanya); keuntungan apa (politik, bisnis, relasi, dlsbnya) yang akan diraih Basril Djabar dengan peringatan yang diadakan di kampungnya itu?

Diakui, bahwa pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Moh.Natsir adalah sebuah produk politik. Tetapi, pantaskah gelar yang demikian tingginya dipolitisir lagi oleh para oportunis yang tak memahami nilai-nilai kepahlawan?

Kita angkat topi kepada tokoh-tokoh, akademisi, sejarawan, budayawan, wartawan, mass-media cetak dan elektronik baik yang berada di Sumatera Barat atau di Jakarta yang selama 10 tahun lebih berusaha mengapungkan nama Moh.Natsir agar Indonesia dapat memberikan perhargaan yang layak atas jasa-jasanya. Selama 10 tahun itu, tidak terbetik berita bahwa yang ikut mengapungkan namanya adalah partai-partai politik itu. Namun, setelah semua usaha berhasil, justru yang mengklaim lebih dulu adalah partai-partai tertentu itu. Di manakah mereka bersembunyi selama 10 tahun itu?

Dan pada hari-hari mendatang ini, nama Moh.Natsir akan dijadikan komoditas politik lagi ditingkat tokoh-tokoh partai di belakang dan di bawah meja DPRD Sumatera Barat. Akankah mereka mampu memberikan persetujuan untuk menghormati kebesaran kepahlawanan Moh.Natsir dengan memberikan nama masjid raya Sumatera Barat yang belum punya nama itu dengan nama Masjid Raya Moh.Natsir, sebagai yang diusulkan Fachrul Rasid HF dalam komentarnya kemarin di harian ini? Saya hampir yakin, mereka hanya akan mampu memberi nama masjid itu; Masjid Raya Tanpa Nama. Bukankah Tanpa Nama adalah juga nama? Ya kan.

Tugas Moh.Natsir untuk membesarkan dan memperkukuh persatuan Indonesia berakhir bersama hari wafatnya. Perjuangan yang begitu berat dialami sampai akhir hayat. Semoga Allah swt. menempatkan beliau bersama orang-orang yang dicintai, dikasihi, diredhai dan diapuniNya. Namun di balik semua itu, masa kita hanya mau mencuri dan mengambil keuntungan-keuntungan pribadi, keuntungan-keuntungan partai tertentu dari perjuangan Moh.Natsir yang demikian luas dan universal cangkupannya?

Akan tetapkah kita berkolaborasi, memanipulasi, sambil menari dan bernyanyi-nyanyi di atas jasad pahlawan kita sendiri? ***


Responses

  1. Sungguh Natsir seorang pahlawan besar, saya termasuk orang yang tidak akan berbeda pendapat dengan apa yang yang “Guru” sebutkan. Barangkali yang sangat prinsipil dari masalah ini bukan Natsirnya, apa yang menjadi kecemasan saya adalah soal pola pikir manusia yang sungguh sulit sekali mencari arti dari sebuah nilai. Dan ini sangat halus sekali,
    Ahhh… andai semua orang bisa mencari nilai implisit dalam hal apapun seperti yang “Guru” lakukan, bangsa ini akan dipenuhi hikmah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: