Oleh: Wisran Hadi | 26 September 2009

MALU

MALU

Mas Sam mengepit beberapa buah surat kabar di ketiaknya  dengan wajah cemberut, seakan ada persoalan yang menyakitkan hati. Setelah duduk di atas bendi, surat kabar itu dibantingnya ke tempat duduk sebelah Muncak.

“Lihat gambar-gambar di surat kabar ini Muncak! Ini foto seorang pejabat yang ditangkap karena dituduh korupsi. Dia tersenyum dan melambaikan tangan seakan tak bersalah sama sekali. Tidak ada lagi rasa malu. Bayangkan Muncak! Sedangkan pelacur saja tertangkap masih dia merasa malu ketika difoto wartawan. Tapi pejabat-pejabat ini, benar-benar bebal!  Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini, Muncak! Akan jadi apa negeri kita ini, Muncak!”  kata Mas Sam melepaskan sakit hatinya.

“Mas Sam jaan marabo-rabo se dulu, bata puaso Mas Sam beko,” jawab Muncak dengan tenang. “Soal malu itu kan urusan awak surang-surang, karano nan punyo kamaluan tu awak surang-surang pulo,” lanjut Muncak sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Mas Sam menjadi semakin naik pitam. “Muncak jangan berolok-olok. Aku serius. Bayangkan! Mereka jelas jelas melakukan korupsi tapi kita masih belum boleh mengatakan mereka itu koruptor! Kita hanya boleh menyebutnya tertuduh. Tertuduh. Bukan koruptor.”

“Kalau mereka tu lai punyo kamaluan tantu lai ado raso malunyo,” jawab Muncak sambil menghalau kudanya. Bendi semakin kencang dan kedua orang itu terangguk-angguk duduk karena menempuh jalan yang berlubang-lubang.

“Jadi menurut Muncak mereka yang tidak punya rasa malu itu sama artinya dengan tidak punya kemaluan? Uh! Bahkan lebih besar kemaluan mereka daripada kita! Itu sebabnya mereka selalu mencari perempuan.”

“Bilo kemaluan mereka rusak, maka rusak pulolah raso malunyo. Kan baitu,” jawab Muncak.

“Itu teori dari mana pula Muncak pinjam? Ah, kusir bendi kok berteori-teori segala!”

Tapi kan alah kecek Tuhan. Jika aku akan menghancurkan suatu kaum, maka terlebih dulu aku cabut rasa malunya. Kalau tak ado lai raso malu, apo sajo akan dikarajokan manusia. Tamasuak mangarajoan bini urang, mintuo, anak tiri, pembantu. Sadonyonyo dikarajoan. Abih raso malu, urang ko barubah jadi binatang.

“Ya, ya. Memang begitu keadaan kita sekarang. Kita sudah tidak punya rasa malu lagi. Itu artinya kita sudah berada di pinggir jurang kehancuran.  Lalu apa yang kita lakukan agar bangsa ini selamat?”

Pelok i latak kamaluan masiang-masiang, sahinggo timbua rasa malu tu baliak,” kata Muncak berpetuah.

“Maksud memperbaiki itu, memperbesar atau memperpanjang?”

E, Mas Sam. Sakik hati buliah. Tapi jaan porno! Mamperbaiki tu mukasuiknya,” tiba-tiba roda bendi sebelah kiri masuk lobang. Muncak terkejut, begitu juga Mas Sam. Setelah Muncak berhasil mengeluarkan bendinya dari lobang itu dia melanjutkan kalimatnya. “Kudo! Jaan sumbarang lubang se dimasuk i!” gerutunya pada kudanya yang mulai berlari lagi.

“Betul juga. Bendi saja masuk lobang kita sudah ketakutan, apalagi..” sambung Mas Sam sambil melihat ke belakang, ke lobang besar tempat roda bendi Muncak tadi terbenam.

“Sakali lai masuak lubang  mungkin patah roda bendi den!” balas Muncak.

“Lobang yang mana lagi Muncak? Bicara terus terang sajalah,” desak Mas Sam yang tak mengerti dengan lompatan pikiran Muncak.

“Lubang karambie tokeang!” tawa Muncak terkakah-kakah.

*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: