Oleh: Wisran Hadi | 4 September 2010

Matahari Malam

Opini POS METRO PADANG

MATAHARI MALAM

Oleh: Wisran Hadi

“Matahari malam” di masyarakat di belahan utara Kanada atau di daerah kutub sana, adalah sebuah realita. Matahari yang menurut jadwal harus terbenam ternyata tidak kunjung terbenam, dan malah berjalan melingkar di langit selama beberapa bulan.

Ketika matahari malam ini dicoba diterjemahkan, sastrawan Kanada menganggap hal itu sesuatu yang sangat lumrah sekali, realistis, ada dalam kenyataan. Tak perlu berpayah-payah mencari makna dan penafsiran lainnya. Namun sastrawan dari daerah tropis atau khatulistiwa tetap menganggap matahari malam sebagai sebuah ungkapan, karena seumur hidupnya tidak pernah menemukan matahari malam. Artinya, mereka tidak punya rujukan, atau tidak menemukan realita demikian.

Hal yang sama juga terjadi pada orang Minangkabau yang tidak belajar dengan baik petabumi Sumatera Barat. Ada nagari atau kampung dengan nama-nama seperti; Sikilang, Aie Bangih, Taratak, Aie Hitam, Sialang, Balantak Basi, Sipisak, Pisau Anyuik, sebagai sebuah realita sampai hari ini. Oleh karena mereka hanya tahu bahwa nama-nama tsb. adalah batas-batas wilayah Minangkabau dalam ungkapan karya sastra, mereka langsung saja menganggapnya sebagai suatu yang bukan realita. Seterusnya, terjadilah penafsiran. Menafsirkan bahwa batas-batas wilayah Minangkabau itu hanyalah sesuatu yang tidak pasti, fiktif, dan hanya diungkap dengan kata-kata sastra yang kabur makna.

Hal yang sama terjadi dalam memahami Minangkabau. Minangkabau sebagai wilayah budaya, sebagai sebuah sistem, kelompok etnis, adat dan budaya, dianggap saja bahwa Minangkabau itu adalah sebuah benda, objek tak bernyawa. Begitupun mereka yang mendalami Minangkabau dari studi literatur, duduk merenung di belakang meja, lalu dengan mencari dukungan teori-teori sosiologi, menjatuhkan vonis bahwa Minangkabau sedang berada di persimpangan, mendekati kehancuran, terjadi pendangkalan dan berbagai kecemasan-kecemasan lainnya.

Oleh karena “engle” yang berbeda antara orang Minang yang berada di belakang meja dengan orang Minang yang tengah bertungkus lumus dengan berbagai persoalan keMinangkabauannya sehari-hari, maka perbedaan pendapat, perbedaan penafsiran seterusnya menjurus pada perbedaan sikap dan visi, tidak dapat dihindari. Kegoncangan dipastikan terjadi apabila setiap pihak berusaha merebut tangan kekuasaan untuk saling memaksakan keinginan. Semua kita tahu, sepanjang sejarahnya Minangkabau sudah diterjemahkan, ditafsirkan dengan berbagai visi, misi dan gerakan, baik yang lunak maupun yang keras.

Dalam konteks akan diadakannya Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) yang digagas oleh sebuah organisasi orang Minang di rantau yang selalu dihinggap traumatik “home sick”,  beberapa orang sudah siap pula mengancang-ancang dirinya untuk jadi tumbal atau untuk jadi pahlawan dan menobatkan mereka sebagai tokoh-tokoh yang selalu memikirkan “Minangkabau” sepanjang hayatnya.

Dari analogi matahari malam tersebut, kita jadi tertanya-tanya, apakah penggagas, fasilitator KKM itu melihat masyarakat Minangkabau sebagai “matahari malam”nya orang  Kanada, atau Minangkabau ini dianggap sebagai “matahari malam”nya orang di daerah khatulistiwa. Berhentilah bermimpi, saat penderitaan rakyat masih belum teratasi. Berhentilah berwacana, saat rumah-rumah masih reot dilanda gempa. Berhentilah bermain semantik, saat rakyat merasakan hidupnya semakin terjepit.

***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: